Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
Season 3- Episode 76


__ADS_3

...Hallo.......


...Apa kabar?...


...Nyapa lagi....


...Hm typo komen ya!...


...Jan lupa Komen dan Like!...


...Errr......


...***...


...Happy Reading......


...***...


Mentari mulai menampakkan dirinya demi sedikit, nampak dari pandangan mata terdapat embun-embun yang masih enggan pergi dari kabut embun itu dan membasahi tumbuhan yang ada di sekitarnya.


Kicauan burung terdengar di atas pohon dan berbondong-bondong dengan kelompoknya mengepakkan sayap bersama-sama segera melakukan aktivitas.


Namun, satu pasangan ini belum memberikan tanda-tanda untuk mengerjapkan matanya agar melakukan aktivitas seperti biasanya.


Suasana rumah masih adem, tampaknya jelas di mana para pembantu dan pengawal melakukan pekerjaannya masing-masing. Menyiapkan segala keperluan yang ada di dapur.


Seorang perempuan yang sedang ingin membuka matanya itu langsung mengerjapkan matanya, menatap sekelilingnya dan melihat jam yang di atas dinding.


Perempuan itu mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu, ia melirik ke arah suaminya dan suaminya itu masih mengurungkan niat untuk bangun di pagi hari. Anin menggerakkan tubuhnya yang serasa ada yang aneh, ia pun menggerakkannya.


Tangannya sekarang beralih ke kepala Aksa suaminya, “Mas... Bangun!”


Anin membangunkan suaminya dengan mendekati wajahnya ke wajah suaminya itu, hembusan napas sangat kentara menerpa wajah suaminya. Dan Aksa terasa ada yang menganggunya, ia mulai mengerjapkan matanya dan sekarang wajah mereka benar-benar dekat.


Anin lantas membuang wajah Aksa dengan menampar Aksa pelan, “Hah ..., ya maaf.” Perempuan itu kini mulai beringsut turun dari ranjang dan beranjak berdiri.


“Kalau mau nampar, jangan bikin onn lagi ya!” Aksa mengedipkan matanya dan ia segera bangun dari ranjang, beranjak pergi menuju kamar mandi yang menyatu di kamar.


Anin terkejut, matanya sempurna melek.


Ia mengerjapkan matanya dan tersenyum kecil, “Baru tahu kalau itunya onn, ya bukan salah ku juga kali. Tapi, ya nggak papa. Sekalian mandi,” Anin melangkah, kaki yang masih keadaan bengkak itu membuat dirinya sedikit meringis.


“Sakit kali ya,” ucapnya melihat kakinya seperti digebuki semalam utuh dan nyatanya Anin melihatnya seperti miris dengan kakinya.

__ADS_1


Kakinya sudah menginjak lantai, ia akan mengambilkan keperluan suaminya untuk bekerja hari ini. Katanya ada beberapa pekerjaan, suaminya akan cuti jika hari minggu atau tanggal merah tiba. Sekali saja Aksa akan menemani istrinya, kesempatan tak datang dua kali maka sebab itu Aksa tidak akan pernah menyiakan.


Anin mengambil satu persatu, dia menggerakkan kepalanya yang sedikit berat. Anin keluar, melangkah dari ruang ganti, dia melangkah keluar dari kamar.


Anin menarik handle pintu, “Anin...,” panggil suaminya dari dalam kamar mandi.


Perempuan hamil itu menghela napas, ia berjalan menuju ke kamar mandi setelah namanya dipanggil suaminya. Apa kata bude sama pakdenya ia akan turuti, tidak kemauan sendiri? Ia akan coba kalau masalah memanggil dirinya begitu dari dulu, selalu berjanji untuk menuruti apa kata hatinya.


“Dalem mas, kamu ngapa? Butuh sesuatu?” tanyanya dan Anin mengetuk pintunya agar suaminya di dalam terdengar dengan suaranya, hanya gemercik air yang dinyalakan sementara Aksa kemana kok dia habis manggil hilang begitu saja suaranya.


Anin menunggu lama, ia sampai kesemutan berdiri. Lalu, ia berpikir jika suaminya hanya gabut memanggil dirinya tadi sampai-sampai ia menunggu di depan pintu kamar mandi, mungkin apa pendengaran Anin yang terganggu.


Anin, wanita itu berjalan keluar dari kamar. Ia segera menyiapkan makan pagi hari ini, dengan langkah berat dan ia sudah tak kuat menuju ke dapur. Akhir dia duduk di tepi tangga, wanita itu bernapas terengah-engah.


Melewati sepuluh anak tangga, perutnya semakin membuncit dan semakin berkembang. Anin mengelus perutnya yang berbalut kain baju daster di dalam itu, perutnya bergerak-gerak.


Dia tersenyum bahagia, “Dede kamu sehat-sehat ya di dalam. Ibu lagi mau nyiapin makan pagi kita bersama,” Anin beranjak berdiri dengan pegangan tangga ia bertumpu sebab perempuan itu tidak kuat lagi untuk mengangkat berat tubuhnya.


Anin melangkah, melewati beberapa pembantu yang sedang membersihkan rumah ini dan ia menyapa sekali lagi ia menyapa terlebih dahulu ketimbang pembantunya, Anin perempuan itu pernah berkata kenapa nggak menyapa selagi punya mulut yang masih bisa digunakan buat bicara.


Seenggaknya nyapa nggak ada lima menit.


Dapet pahala juga.


Dia menatap ke arah meja makan, di sana sudah tersaji beberapa makanan dan para pembantu yang ditugaskan buat memasak masih memasak di ruang yang berbeda.


Anin sungguh tidak percaya jika semuanya dikerjakan oleh orang lain, sementara dirinya tak ada perjuangan buat membahagiakan suaminya secara lahir.


Suara langkah kaki dibaluti sepatu pantofel hitam mengkilap itu melangkah dengan langkah lebarnya menuju perempuan yang sedang diam menatap makanan di atas meja makan.


Tangan besarnya mendarat di matanya, menutupi mata Anin.


Anin terkejut, ia membukanya pelan dan Aksa terkekeh pelan.


Pelakunya suaminya sendiri, Anin lantas mencubit tangan suaminya dan mengatupkan bibirnya. “Kalau mau ngejutin jangan di sini! Nanti anak di dalem ini nangis.” Marah Anin, pada kenyataannya Aksa malah tambah tertawa keras.


“Kamu tadi niat mandi apa nggak? Kok cepet amat,” Anin terheran dan ia bingung kepada suaminya yang gantinya cepat. Tapi, jika mandi lamanya bikin muterin seluruh lapangan sepuluh kali belum selesai-selesai.


“Ahahah, iya tadi aku manggil. Jadi nggak jadi buat minta tolong, udah selesai sebenarnya dan apalagi kamu di depan pintu, aku nggak jadi keluar.” Anin mengangguk, ia melangkah memutari meja makan.


Salah satu jalannya ia duduk di sebelah suaminya, tapi Aksa sudah terlebih dahulu menyamai langkahnya. Ia peka terhadap situasi istrinya yang kesulitan melangkah. Ia melebarkan telapak tangannya dan menengadahkan tangannya untuk Anin.


Anin menerimanya, ia tersenyum tipis dan Aksa membantu untuk di kursi yang di tengah-tengah itu dan Aksa menarik kursinya agar istrinya bisa duduk.

__ADS_1


Aksa membantu Anin, Anin duduk di kursi itu dan Aksa di kursi yang lain melainkan di sebelah Anin. Ia tak mau jauh dari Anin, Aksa menatap istrinya yang susah untuk berdiri lagi.


“Udah nggak usah, mending aku aja! Kamu duduk,” perintahnya dan laki-laki itu mengambilkan nasi serta lauk untuk dihidangkan di piring. Ia menggantikan posisi Anin yang sedang mengandung itu.


***


Setelah kegiatan acara makan paginya tadi, Aksa sekarang ada di ruang tamu menunggu jemputan dari sopirnya dan Anin, perempuan hamil itu sederhananya ia melihat beberapa ikan hias yang di pajang di akuarium yang ada di ruang tamu.


Aksa sesekali berdecak, melihat tingkah aktif istrinya. Terlalu ngilu buat dilihat, Aksa ingin memberhentikan tapi jika mengingat perkataan dokter, Aksa tidak jadi dan menimang keputusannya.


Anin, wanita itu senang jika ikannya bertambah lagi karena ia menghitungnya satu persatu. Aksa, laki-laki itu tak pernah yang namanya berpikiran untuk memelihara. Ia tak suka mengurusi seperti itu, seleranya masing-masing.


Aksa males jika diberi kepercayaan buat menjaga dan merawat. Ia tak pernah yang namanya merawat hewan, alangkah tanda kutipnya kalau mati berarti ia orang yang gagal buat menjaga dan merawat hewan itu.


Setelah semuanya sudah terpenuhi di dalam hatinya sekarang moodnya lebih baik dari sebelumnya. Anin melihat jika suaminya belum berangkat juga, “Kamu nggak berangkat, mas?” tanya Anin melangkah mendekati ke arah suaminya.


Aksa mengangkat kepalanya yang awalnya melihat lembaran kontrak kerja sama itu di tangannya dan ia menutup kembali.


“Iya mau berangkat ini,” Aksa meletakkan map-map itu di atas meja, biarkan nanti asisten pribadinya yang akan mengambilkan. Ia sekalian mau menunggu asisten pribadinya, ternyata orangnya yang ditunggu sudah ada di depan pintu.


Anin tersenyum, menyapa asisten sekaligus menjabat sebagai ketua pengawal di sini. Aksa mengganti, iya dia lebih memilih yang muda dan jiwanya masih dewasa tidak bapak-bapak ya tidak bujang-bujang.


Kali ya mau diembat.


Astagfirullah, istighfar banyak!


Anin menatap kagum, sampai Aksa merhatiin dirinya dari samping badan istrinya itu dan Aksa melayangkan tangannya ke pundak istrinya.


Anin menaikan bahunya ketika disentak oleh tangan besar suaminya.


“Zina mata itu namanya!” celetuk Aksa melihat asisten pribadinya sudah siap membawakan berkas-berkasnya lewat tatapan mata Aksa, asisten pribadinya itu pergi dari ruang tamu itu.


Anin menggelengkan kepalanya karena ia terlalu menghayal tinggi jadi begini.


“Hm ya sudah, nggak terlalu panjang juga aku. Aku mau pergi dulu, assalamu’alaikum...,” Aksa menyalami Anin, Anin mencium tangan suaminya dan Aksa membalasnya dengan kecupan di pipi lalu beralih ke perut, mengelus perutnya istrinya yang terlihat gemok itu.


"Wa'alaikumsalam," jawab Anin.


Bersambung...


Okee, makasih buat yang dah mampir🤗.


See you next episode ya...

__ADS_1


Jangan lupa follow IG Din buat dapet info up apa nggak ☺.


@dindafitriani0911


__ADS_2