
...Hallo.......
...Apa kabar?...
...Nyapa lagi....
...Hm typo komen ya!...
...Jan lupa Komen dan Like!...
...Errr......
...***...
...Happy Reading......
Anin, perempuan itu kini sudah berhasil diuji coba kesabarannya telah menunggu suaminya satu jam. Ia lelah duduk terus sampai beberapa kali mengumpat. Mengolok.
Astagfirullahalazim.
Dosa istri makin menggunung.
“Ashh, kenapa kok belum pulang juga sih?” desah Anin berjalan-jalan sembari menunggu dan sekian lama akhirnya perempuan itu tidak sia-sia untuk menunggu terlalu lama.
“Assalamu’alaikum, aku pulang.” Aksa menyembulkan kepalanya dari pintu utama rumah mereka.
Anin menghampiri suaminya, tatapannya berubah menjadi ceria ketika Aksa membawa sebuah box, entah itu apa yang penting nggak sia-sia jika menunggu lama.
“Wa’alaikumsalam, kok pulang lama amat?” tanya Anin yang melipat tangannya di depan dada itu dan matanya tak lolos dari pandangan Aksa yang sedang mencari alasan.
“Iya tadi ada banyak yang belum dikerjakan, terus ada orang yang meminta untuk bertemu dengan ku. Jadi---”
“Udah, kita ke dokternya sekarang aja!” potong Anin cepat.
Ia malas terlalu berumit-rumit untuk mendengar cerita panjang Aksa.
Aksa, suaminya itu mengangguk setuju. Ia setuju, karena tidak terlalu banyak mengeluarkan tenaga dan Aksa menggandeng tangan istrinya.
Anin menerima uluran tangan Aksa.
“Hm, nanti sekali beli bakso ya? Boleh ‘kan?” Anin takut jika Aksa tidak mengizinkan.
Sebab Aksa, suaminya itu terlalu protektif untuk masalah makanan Aksa lebih teliti.
Masalahnya ini menyangkut kandungan Anin.
“Kalau masalah itu aku nggak ngelarang, mengingat kamu kepingin jadi ya mau gimana lagi harus diturutin.” Anin mendengarnya berbinar dan mengusap pelan lengan suaminya.
Aksa, dia menyeringai dan ia berjalan menuju mobilnya berada sekarang. Aksa memilih untuk membawa sopir kali ini, Aksa lebih leluasa lagi kalau dirinya nggak ada beban untuk menyopir mobil.
“Bawa sopir, mas?” tanya Anin sambil mengerutkan keningnya.
Aksa mengangguk, “Iya tadinya mau disopir sendiri, nggak sanggup ngeliat kamu.” Ucapnya dan Anin senyumnya merekah hari ini.
Ia seperti ada di langit, oh sky aduh ngefly kek mabok rasanya.
__ADS_1
Padahal kalau orang yang dah tahu bucin akut, ini hal biasa jika didengar.
Mobil mereka kini berjalan dengan kecepatan sedang dan menuju ke dokter kandungan yang dituju, rumah sakit salah satunya yang akan dituju.
Dokter, sudah janji dengan Aksa jika jadwal pemeriksaan harus selalu diinformasikan kepadanya jika dokternya tidak sibuk. Ya, dokter yang dipilih Aksa ini adalah temannya.
Laki-laki dokter itu, Aksa sudah mempercayai semuanya dengan dokter itu.
***
Setibanya di rumah sakit, Anin lebih dulu mampir ke kantin rumah sakit. Ia benar menahan lapar dari rumah dan ujungnya Aksa yang sekarang disuruh untuk ke ruangan dokternya tapi Aksa orangnya keras kepala.
Baiknya ia menunggu istrinya untuk makan di kantin.
“Kamu nggak pesen apa-apa gitu?” Raut wajah Anin berubah melihat suaminya menggelengkan kepala. Anin menghela napas, sama saja tidak berubah.
Aksa itu tidak mau yang namanya mau makan di tempat-tempat yang nggak direkomendasikannya dan harus feel -nya itu mateng.
Mau makan serasa mubazir kalau nggak dimakan.
Aksa melirik sekilas, ia membutuhkan waktu untuk perkenalan dengan makanan yang ada di depannya. Tidak ada yang menggugah selera makannya saja, Aksa hanya menatap diam.
Anin menoleh, “Kalau mau makan ini!” seru istrinya yang menawarkan makannya.
Sejak tadi suaminya hanya melirik dan Anin kepikiran buat untuk menawarkan tapi tak guna juga. Anin melanjutkan makannya, sementara suaminya itu diam-diam menelan ludahnya melihat kini makanan yang di depan itu seperti menggiurkan.
Anin tersenyum tipis tak terlihat.
“Ada yang aneh tapi apa?” diam-diam menyindir dan Aksa mengerjapkan matanya melihat sekelilingnya, tidak ada yang aneh.
Anin terkekeh, ia sampe terbatuk-batuk. Aksa melotot, ia mengambilkan minum untuk istrinya dan bisa sedikit meredakan tenggorokannya yang menelan sisa-sisa makanan.
“Ya udah sekarang kita chek-up dulu.” Ajak Aksa, ia keliatannya tidak ingin terjadi apa-apa oleh istrinya sendiri.
Anin berdecak kesal, ia pun meminum dan menghabiskan sisa makanan yang belum habis.
Aksa menarik pinggangnya untuk tetap berada di jangkauannya.
Ia lebih menerapkan keposesifannya sekarang, menuju tak terduga.
Anin berdecak kagum, melihat orang yang ada di depannya lurus belok samping. Bolehkan dia menikah dengan laki-laki tadi yang lewat. Ia berarti cewek matre ya, satu saja nggak cukup buat dirinya.
“Liat apa sih saya kan lebih menarik ketimbang yang kamu liat,” kasar tingkat percaya tingginya makin nambah. Anin memutar bola matanya, “Kalau ditambah ngeliat orang kek kamu tiap hari ya makin eneg,” jawab Anin memasuki ruangan dokternya. Mereka memang sudah ditunggu oleh dokternya sejak tadi.
Aksa berdecak pelan, “Iya kalau nggak sayang lagi tinggal ngucap kata–”
Anin, perempuan itu kini berdecak dan memotong cepat.
Anin mendelik tajam. “Kalau ngomong aneh mending keluar deh!” usir Anin, ia tak mau jika teman Aksa ini seorang dokter tapi turah lambe.
“Iya deh iya, keceplosan tadi.” Aksa tertawa, ia pun masuk ke dalam dan di sana ada seorang laki-laki yang bersnelli putih itu masih menatap layar komputer.
“Assalamu’alaikum, pak ustaz.” Suara itu membuyarkan dokter itu yang kini tersenyum ke arah Anin dan Aksa.
Dokter itu kini berdiri, “Wa’alaikumsalam pak CEO yang kecebur got, tingkat pd-nya level tinggi ngalahin boncabe.” Sindir dokter itu dengan mata tak suka, memandang ke arah lain dan memainkan mulutnya.
__ADS_1
“Lah matamu kemana ges? Gue nggak kecemplung gitu ‘kan, ngawur aja lu mah!” Sanggahnya, ia membantu istrinya untuk naik ke brankar.
“Huh ruangan kecil aja sok-sok ‘an nyindir pak CEO kecemplung got.” Sambung Aksa sambil memajukan bibirnya dan ia geram jika disindir oleh temannya yang mletre otaknya ini.
Mana nggak nikah-nikah, betah aja ngejomblo sampe uban pun mulai keluar.
“Wah kan bukan rumah sakit ku, coba aja lu bangun dah. Ketimbang ngenyek gini,” protes dokter itu yang mulai memeriksa Anin dengan begitu matanya kini beralih ke Anin yang sempat ingin menampol suaminya dengan stetoskop.
Dokter itu sempat tertawa di dalam hati, orang ini kalau diajak debat bakalan nggak terima.
“Kalau adu mulut mending di lapangan deh,” saran Anin dan pria yang bersnelli putih itu terkekeh. “Nah bener kata istri mu, Aksa.” Balas pria itu dengan tatapan tak luput dari pria yang kini mengerutkan sudut bibirnya.
Disertai sunggingan senyumnya, pria yang terganggu menggunakan nama dokternya itu pun selesai memeriksa Anin.
“Mau di USG apa nggak?”
Pria yang disebut suaminya itu menggeleng keras, “Gimana kondisi bayinya?”
“Lah kenapa kok nggak di USG, kan bisa ngeliat janin anak kamu gimana. Berudu itu tumbuh baik nggak, terus kelaminnya apa.” Bertubi-tubi dokter itu menjelaskan dan Aksa memukul tangan dokter itu yang mulai nggak enak dari tatapan dirinya.
Yang jelas istrinya nggak boleh diapa-apain.
“Dokter cabul, istri orang mau diembat. Mending nikah sono, dapet istri terus anak. Maka tiada hari tanpa bahagia, nikmat mana yang kau dustakan. Masya Allah...” ucap Aksa mengompori temannya kali ini, ia juga tidak habis pikir dengan jalan pikiran temannya satu ini.
Jodoh udah di depan mata, tinggal ngelamar terus nikah kan caranya nggak rumit amat. Dia juga dah sukses dengan di depannya gelar yang begitu amat disegani banyak orang.
Dokter spesialis kandungan.
Masa iya perempuan nggak tergila-gila dengan jabatannya.
Dokter itu lantas duduk di kursi kebanggaannya, “Huh siapa sih yang nggak pingin nikah. Masalahnya jodoh dah di depan mata, eh diembat yang lain.” Sesalnya dan Aksa melotot tajam.
“Yang bener lu, perempuan itu cantik lho masa iya diembat sama orang lain.” Kekehnya sambil memberikan sedikit bumbu.
Dokter itu berubah masam wajahnya, Anin yang melihat gerak-gerik mereka bergidik ngeri. Ini dua orang mau pacaran di sini, sementara dirinya disuruh minggir gitu. Padahal sebentar lagi situ dah jadi bapak buat anak-anaknya.
Ya Allah.
Anin menggelengkan kepalanya, “Udah sih. Biarin aja yang penting bentar lagi nyebar undangan, siapa tahu gitu.” Cerca Anin yang menunggu mereka kelamaan kalau sudah bertemu pada akhirnya membahas jodoh, itu tidak penting bagi suaminya. Ngapain ngurusin temannya, toh lauhul mahfudz sudah ada yang ngatur.
Di atas sudah kehendak maka nasib tidak ada yang bisa nentuin.
Allah lah yang berkuasa.
Jodoh emang seumur sehidup, dan jabatan, uang, kekayaan itu semua hanya titipan semata.
Kalau jodoh berarti nggak bisa diapa-apain, hanya Allah yang bisa menentukan.
Bersambung...
Okee, makasih buat yang dah mampir🤗.
See you next episode ya...
Jangan lupa follow IG Din buat dapet info up apa nggak ☺.
__ADS_1
@dindafitriani0911