Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
– S2 – Episode 42. Barang Murah, Langsung Segar Matanya.


__ADS_3

Happy Reading


Anin sudah melihat-lihat ikan hiasnya, cukup menarik, membuat Anin memegang ikan hiasnya dan bergeliat-liat.


"Ehm, pah aku mau ke sana dulu, kayaknya tanamannya menarik juga pah." Papah Rahmat tersenyum dan mengekor di belakang Anin.


***


Setelah beberapa jam, Anin izin pulang karena hari sudah sore dan mau petang.


Anin sampai di rumah, Pakde dan Bude juga sudah ada di rumah.


"Assalamu'alaikum Bude, Pakde." Anin masuk ke dalam rumah dan menyalimi tangan Bude sama Pakdenya.


"Wa'alaikumsalam nak, kamu kemana saja nak? Kok baru pulang. Bukannya kamu di rumah tadi, terus tadi siapa kalau bukan kamu." Bude langsung duduk dan mendekati Anin, Anin tersenyum.


"Gini Bude, tadi aku ke rumah papah terus di sana aku kebanyakan makan sama seneng di sana. Banyak yang nggak aku ketahui tentang rumah Papah sebenarnya."


Bude tersenyum dan menengok ke arah Pakde, Pakde mengangguk. Ada sebuah pertanyaan yang ingin mereka tanyakan kepada Anin.


"Bagaimana nak, kamu sudah menemui Rifa'i apa belum? Kalau belum juga nggak papa." Tanya Bude dengan mengelus tangannya, takut nanti ada sesuatu. Bisa jadi tangannya bergetar terus seperti handphone berbunyi.


"Iya Bude, tadi aku sempat menemuinya tapi dia menerima kalau anak ini sudah lahir, tapi dia menyatakan akan mengurus persidangan perceraian nanti setelah dia mengucapkan talak ke-tiga sama aku Bude." Terkejut lah mereka berdua, Bude memikir-mikir jika nasib anaknya bagaimana? Setelah orang tuanya menyatakan cerai beneran.


"Nak, kamu nggak memikirkan bagaimana nasib anak kamu nanti? Apa nggak di pertimbangkan dulu nak, sebelum kita melakukan persidangan? Kamu harus memikirkan baik-baik, seperti nasibnya anak kamu nanti." Ucap Pakde memberikan penjelasan agar Anin mengubah keputusannya, tetapi keputusan itu sudah bulat, dia tidak akan merubahnya dengan satu kata sekalipun.


"InsyaAllah aku siap menerima resikonya Bude, Pakde. Kalau nanti anak ku udah lahir, aku akan menyembunyikan cerita ini. Jangan sampai anak ini seperti bapaknya." Ucap Anin dengan mengelus perutnya dan menatap Pakde sama Budenya.


"Iya sudah kalau itu keputusan kamu, kami cuma bisa membantu dan memberikan pencerahan nak. Kamu kalau mau pertimbangkan lagi juga nggak papa. Kami akan siap menunggu keputusan apapun yang kamu minta." Ucap Pakde dengan menerima pernyataan Anin, apa dayanya memberikan pencerahan tapi tidak sama sekali Anin merubah keputusannya.


"Hm, Bude sudah masak apa belum?" Tanya Anin, mengalihkan pembicaraannya, dia mencerna perkataan Pakdenya, tetapi nggak nyumpel di hatinya, dia tidak akan merubah semua keputusannya.


"Sudah tadi, Bude baru saja selesai masak. Kamu mandi dulu gih, Pakde sama Bude akan tunggu kamu. Sebentar lagi juga mau maghrib, sekalian sholat berjamaah nanti." Ucap Bude dengan mengaduk sayurnya dan mematikan kompornya.

__ADS_1


"Iya Bude, aku mau mandi dulu."


"Pakai air hangat ya nak. Jangan pakai air dingin, nggak baik buat kandungan kamu! Apalagi sebentar lagi mau maghrib." Ucap Bude dan Anin mengangguk.


Masuk ke dalam kamar, membuatnya sedikit kesusahan untuk duduk di ranjang.


"Pingin duduk, tapi nggak bisa lagi. Yaudah mandi dulu lah, jangan duduk! Nanti bisa pamali apa nggak bisa bahaya buat kandungan." Ucap Anin mengambil handuk dan melangkah ke kamar mandi, menjalankan rutinitas mandinya dengan cepat.


Setelah beberapa menit di dalam kamar mandi, Anin selesai mandinya dan ganti bajunya. Dia memakai kerudung dan keluar dari kamar.


"Bude, kemarin rotinya masih kan?"


"Masih kok, di dalam lemari itu. Ambil saja! Kalau kurang nanti suruh Pakde buat beli." Pakde terkejut, melongo seketika.


"Ibu ini, emangnya bapak pembantu Ibu gitu. Setiap hari di suruh itu-ini."


"Hehehe maam Pak, nanti malem Ibu ini ya pak... Drama lagi, bikin itu soalnya."


"Udahlah Bu, Bapak lagi pusing kok ya Ibu malah pikirannya kemana-mana." Anin tertawa karena tingkah mereka, di depan ponakannya lagi.


Adzan maghrib berkumandang, Anin mengambil air wudhu dan setelah wudhu, dia mengambil mukena yang ada di lemari, di cantolkan di sana. Masih wangi dan rapi, begitulah Budenya.


Anin sambil menunggu iqomah di masjid, Anin berdzikir, meminta petunjuk agar di beri jalan untuk memudahkan rumah tangganya.


***


Selesai sholat maghrib berjama'ah tadi, Anin bersama mereka melakukan kegiatan makan malam di rumah bersama-sama. Indahnya keluarga yang sempurna, andaikan bisa seperti itu.


"Nak, kamu mau ini?" Bude menawarkan udang rebon yang sudah di jadikan sambal merah, ihh kepingin juga... Haha...


"Nggak Bude, ini juga sudah cukup. Buat besok juga nggak papa..."


Mereka melanjutkan makan, tanpa sepatah kata yang di ucapkan mereka kalau kegiatan makan di mulai.

__ADS_1


Setelah makan, Pakde menonton TV, Bude menghangatkan sayurnya yang masih utuh tadi untuk besok pagi.


"Hoalah, jan-jan bikin jengkel aja. Siapa tadi yang menang? Ah..." Ucap Pakde dengan keras dan hampir membanting remot.


"Ini-nih iklan terus, bentar lagi mentang-mentang mau puasa, itu iklan sarung di keluarin. Hm, Bu kalau lebaran nanti bisa pakai sarung itu kayaknya. Bagus dari kayaknya dari segi sisi dan kainnya juga bagus."


"Alah kemarin saja di belikan sarung yang merknya mahal saja nggak di pakai. Giliran ini yang murah pingin beli, ada-ada saja bapak ini. Bapak yang ke tokonya saja! Daripada Ibu yang beli, kan nggak jadi kepakai lebaran tahun kemarin."


"Emang harganya murah bu? Siapa tau harga murah terus barang bagus, di jamin langsung hatinya adem sama seneng Bu."


"Iya barang murah langsung seger matanya. Awas aja kalau di belikan nggak di pakai!"


Bude memegang spatula, siap-siap memukul dan mensmash bapak.


"Udahlah masalah sarung nanti, belum juga lebaran..."


"Sekali-kali lah bu, masa beli sarung pasti lebaran. Emang apanya yang selalu di banggain kalau beli sarung pasti dekat sama hari lebaran. Ibu ini aneh emang." Ucap Pakde, mereka berdebat terus sampai sukses.


Sampai mereka bener-bener lelah gara-gara membahas masalah sarung, beli pas sebelum lebaran kalau hari yang lainnya tidak boleh.


Bersambung...


Jangan lupa Like, Komentar Positif, dan Rate Lima☺🤗❤


Terima kasih yang sudah mampir dan memberikan dukungannya 🙏💕


Maaf kemarin nggak up, ada kepentingan yang author jalankan, belum lagi up di aplikasi tetangga sebelah dan sebelahnya lagi.


Kalau mau dapet info ataupun gimana, boleh follow instagram author.


@dindafitriani0911


Author udah seneng kalau ada yang mampir sama memberikan dukungannya, yang penting kalau mau dukung author lewat Like dan Komentar Positifnya ya... Biar semangat lagi

__ADS_1


🤭🤭🤭


__ADS_2