
Happy Reading
Operasi akhirnya berjalan dengan lancar, tetapi Anin harus menunggu masa pemulihan terlebih dahulu. Bude sama Pakde menunggu di luar, mereka berdua bingung, mau pulang atau mau menunggu di rumah sakit.
"Pak, ibu mau ke kamar mandi dulu ya."
"Mau kemana bu? Bapak ikut, kalau ibu kemana-mana nanti ada apa-apa gimana?"
"Nggak usah lah Pak, bapak tunggu di sini saja! Nanti kalau dokter butuh apa-apa gimana?" Ucap Bude dengan meletakkan tasnya dan melangkah menuju kamar mandi.
Pakde memijat keningnya dan ada orang yang menepuk bahunya. Pakde mendongakkan ke atas, ternyata dokter.
"Ada apa dok?"
"Begini Pak, maaf sekali sebelumnya pasien mengalami koma Pak. Jadi, pasien harus di rawat di sini terlebih dahulu, kami akan mengecek perkembangan. Bagaimana keadaan kedepannya. Kalau nanti ada perkembangan kita akan bawa ke ruang rawat." Ucap dokter, Pakde mengangguk dan dokter itu pun pergi.
Pakde frustasi, karena Bude belum balik-balik juga dan keadaannya makin genting begini.
"Pak, kenapa?" Bude yang mengelap tangannya di celananya dan duduk di samping Pakde.
"Bu, Anin koma."
"Astagfirullahalazim Pak, ya Allah." Bude terkejut dan bunyi napasnya terengah-engah.
"Sabar bu, kita masih di uji untuk kesabaran dan menerima semuanya. Jangan sampai kita menyerah! Kalau kita menyerah berarti kita kalah bu, seperti itu perilaku yang kita hindari, sebelum semuanya sudah di takdirkan Allah untuk begini, kita harus terima bu." Ucap Pakde dengan mengelus bahu Bude dan Bude menangis sesegukan.
__ADS_1
"Iya Pak, Ibu ngerti. Tapi, kasian juga Anin. Gimana kabarnya? Terus nanti kalau dia kehausan di sana gimana?"
"Eehh, kok Ibu gitu. Ini-nih kayaknya ibu kebanyakan makan ilmu dari film, jadinya seperti ini. Emang orang koma itu kemana-mana arwahnya, ya nggak lah. Cuma tidur sebentar saja, tutup mata." Ucap Pakde dengan memberikan pengertian, tapi juga salah penjelasannya. Haha...
"Yaudah Pak, kamu belikan Ibu makanan ya. Soalnya laper ini, mau makan tapi di rumah sakit. Rasanya munek-munek, mau muntah. Karena baunya rumah sakit yang campur obat-obatan terus ya kayak gini lah. Bau-bau yang nggak sedap seliweran gitu." Ucap Bude dengan membuka tasnya dan mengambil handponennya.
"Kalau gitu kita berdua ke kantin, kan baunya enak bu. Bau makanan, jadi laper. Yuk!!!"
"Apanya yang yuk?! Nanti kalau Anin sadar gimana? Kita di cari dokter. Ha... Cobalah mikir dulu pak."
Mereka berdua bertengkar dan menimbulkan suara keras, membuat suster menegur mereka.
***
Rifa'i yang ada di kantor, menatap sebuah jendela yang besarnya segaban dan memutar kursinya.
Akhirnya dia menelepon Anin, karena dia tidak mau kenapa-napa dengan Anin dan calon bayi yang di kandung Anin, misalnya emang bener kalau itu anaknya. Dia akui dan akan mengasuh anaknya kalau besar nanti.
"Kok nggak di angkat ya, kenapa? Bukannya Anin itu selalu menyanding handponennya dalam keadaan apapun."
'Tok-tok'
Suara ketukan pintu, membuat Rifa'i menatap pintu dan meletakkan handponennya.
"Masuk!"
__ADS_1
Ada seseorang yang masuk ke dalam yaitu Papah Rahmat dan Papah Rahmat melangkah dengan biasa.
Duduk di sofa dan Rifa'i menghampiri papahnya.
"Ada apa pah? Kok papah ke sini."
"Nggak papa, papah mau ajak kamu ke rumah Anin. Soalnya papah kangen sama istri kamu, papah mau bawain barang buat calon cucu papah ini." Ucap papah Rahmat dengan menunjukkan barangnya dan Rifa'i mengangguk.
"Yaudah pah, kalau begitu aku juga mau ke sana. Soalnya dari tadi perasaan ku nggak enak." Ucap Rifa'i dengan mengambil jasnya dan memakainya.
Mereka pun berangkat dan mereka memang menjadikan para perempuan di kantor berdandan. Karena ketampanan mereka tidak ada yang mengalahkan, sampai cucu dan cicitnya nanti.
Primadona... Haha...
"Kalian mau saya pecat atau gimana? Malah mentingkan kegantengan daripada pekerjaan kalian, nanti buat laporan cepat nggak bisa." Ucap managernya dengan sadis dan melangkah keluar dari ruangan.
"Alah begitu, namanya juga manager. Bisa kali aku jadikan manager, nanti kan bisa ketemu setiap kali meeting sama Pak Rifa'i." Ucap perempuan satu itu yang dengan PD mengucapkan seperti itu.
"Kamu itu nggak ada apa-apa nya ketimbang aku. Ngaca diri lah! Itu kaca segede gaban, ngaca di situ-tu!"
Pengawal dari papah Rahmat melerai pertengkaran mereka semua yang ada di bagian marketing. Sampai mereka berdesis dan melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
Bersambung...
Jangan lupa Like dan Komennya ya 😊😊😊
__ADS_1
Terima kasih telah berpartisipasi kecemplung ke sini dan memberikan dukungannya 🙏💕