
Happy Reading
Esok harinya, Anin di perbolehkan untuk pulang ke rumah dengan menjalani kontrol beberapa kali di rumah sakit dan obat untuk menangkal sakit perutnya, yang kadang-kadang masih terasa.
Anin di bantu oleh budenya, keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Pakde membawa tas dan membawa beberapa barang yang di bawa di rumah sakit kemarin. Bude membawa Anin ke kamar, untuk istirahat dan biar badan Anin bisa normal kembali.
"Nak, kamu istirahat dulu! Bude mau buatkan kamu bubur dulu buat makan siang kamu nanti. Kalau nanti nggak makan kamu jadi lemes dan nggak berdaya lagi menghadapi semua kenyataan yang ada." Bude mengelus pipi Anin dan tersenyum memberikan semangat untuk Anin.
"Oke Bude, emangnya nggak papa kalau Anin merepotkan Bude?"
Bude menggeleng dan menggenggam tangan Anin, menyapu rambut Anin, yang sebelumnya Anin mencopot kerudungnya.
"InsyaAllah nggak kok nak, Bude malah sangat senang bisa bertemu denganmu. Walaupun kemarin Bude sama Pakde nggak jaga kamu, tapi Bude dan Pakde itu sayang banget sama kamu." Ucap Bude dengan setulus hati dan segenap jiwanya.
"Berarti kemarin itu Bude pulang sambil tidur-tiduran di rumah bude?"
"Hehehe bukannya gitu nak. Maaf kalau Bude sama Pakde terlalu begitu, nggak sesuai harapan kamu."
"Nggak kok, malahan aku seneng bisa di jagain sama mas Rifa'i dan papah. Itu aja udah menjadi penghangat dan nyaman bagiku, tetapi sekarang mereka sudah nggak semestinya bisa ke sini. Karena perutku sudah benar-benar rata sekarang Bude." Ucap Anin dengan terisak dan Bude ikut terbawa suasana, Bude bisa merasakan bagaimana kehilangan anak itu? Sama berarti kita selalu terbayang-bayang, bagaimana bahagianya bermain satu keluarga, membuat jauh berbeda rasanya.
Bude ingin seperti itu dari dulu, tapi semua udah kehendak Allah SWT, kalau belum juga di takdirkan dan di titipkan seorang anak berarti bukan rezekinya. Tapi, kalau Allah benar-benar sudah mempercayai pernikahan Bude, menyegerakan do'a yang selalu di panjatkan Bude dan Pakde selama ini akan di kabulkan.
__ADS_1
"Jangan begitu nak! Setiap saat pasti Allah akan mengganti semuanya, kalau pernikahan kalian ingin kalian pertahankan. Kalau sebaliknya? Berarti, kamu benar-benar harus melepas semuanya nak!" Pakde yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka berdua benar-benar terhura di ambang pintu dengan mengemut jempolnya.
Anin mengangguk dan melamun, sekarang benar-benar dia tidak punya siapa-siapa lagi yang ingin dia pertahankan dari rumah tangganya. Anak sudah di ambil oleh Allah SWT dan di tempatkan sisi terbaik oleh Allah SWT, maka dari itu apakah Anin akan melepas pernikahannya begitu saja?
"Kamu istirahat, jangan banyak pikiran! Nanti bisa sakit lagi lho, kalau nanti sakit Bude dan Pakde nggak mau ya... Kalau itu-utu lagi karena kita berdua nggak tahan namanya dengan baunya rumah sakit, apa kamu mau sakit lagi? Kamu ini kalau mau sakit jangan ajak-ajak sekitar ya suruh jaga kamu sampai dua puluh empat jam lagi. Gimana betahnya kalau kayak gitu?" Anin menepuk punggung budenya dan tertawa.
"Haha... Maaf Bude kalau merepotkan selama di rumah sakit. Jangankan mau nginjak kaki rumah sakit Bude, pas lewat aja sombong amat ke plakat rumah sakitnya aja. Haha..."
"Allhamdulilah, ponakanku udah bisa tertawa lagi dan tersenyum lagi. Pakde sampai terkejut kalau Bude bisa menghibur dirimu nak. Aduh, nanti malam bapak akan beri kejutan buat Ibu pokoknya, makan romantis apa gimana? Hhhhh, ingat masa muda dulu ini mah... Aduhh..." Ucap Pakde di dalam hati dan mengetuk-ketuk ambang pintunya, Bude kaget kalau ada Pakde di balik ambang pintu.
"Pak, bapak di situ kenapa? Kok nggak masuk." Tanya Bude, Pakde tertawa di dalam hati dan ingin mengungkapkan rasa hatinya untuk Bude, seperti anak muda zaman sekarang.
"Kalian ini bikin bapak jadi bahagia dan senang punya kalian. Bapak sayang sama kalian, melebihi dunia ini." Bapak mendekati bude dan memeluknya dari samping.
"Baiklah kalau begitu, berarti Pakde sayangnya cuma sama Bude inih. Kamu nggak mau di sayang kok sama Pakde." Ancam Pakde, Anin menggeleng-geleng atas tingkah Pakde nya yang selalu berlebihan menurut Anin.
"Kamu istirahat yang baik nak, jangan terlalu difosir untuk mengejar waktu!"
"Iya bude, aku akan selalu inget kok. Kalau begitu Bude sama Pakde bisa keluar dulu! Anin mau tidur nyenyak, nanti kalau bubur sudah matang bisa di bawa ke sini Bude." Anin melanjutkan istirahatnya dan Bude sama Pakde keluar dari kamar Anin.
"Pak kasian juga Anin. Udah suaminya nggak bertanggung jawab terus nanti dia bisa hidup pakai apa? Kalau suaminya nggak nengok ke dia, apa bapak akan selamanya ingin memenuhi kebutuhan Anin?" Tanya Bude dengan melotot, Pakde sungguh tidak berani menatap manik Bude yang tatapan setajam seribu silet menurut Pakde.
__ADS_1
"Jawab!!??"
"Duhhh... Duhhh... Ibu jangan teriak! Bapak juga denger kalau ibu ngomong."
"Terus apa keputusannya?"
Pakde beringsut ke ranjang dan menatap semua tata letak barang di kamar.
"Maaf Ibu, kalau bapak selama ini punya salah banyak sama Ibu ya. Maaf sekali, sebelumnya Pakde udah berjanji sama bapak Anin, kalau akan menjaga dengan baik dan kalau nanti bapaknya Anin pulang, dia akan merawatnya balik Bu." Ucap Pakde dengan menutupi wajahnya sama bantal agar tidak kena gebukan kasur dan singanya Bude.
"Tapi kapan Pak? Kapan adek bapak itu pulang? Ibu kalau kayak gini nggak betah Pak, bapak bisa pulang kan ibu ke kampung Pak, ibu mau ketemu sama emak dan bapak. Kalau kamu nggak bisa mengambil keputusan yang tepat." Ucap Bude dengan keras dan menutup pintu dengan keras, membuat suaranya hampir meledak di jantung Pakde.
"Astagfirullah... Kejam amat kamu bu,"
Bersambung...
Jangan lupa Like dan Komentar Positifnya
😊😊😊
Dengan cara itu bisa membuat author bahagia 🤧🤧🤧
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya dan yang sudah mampir 🙏💕