Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
– S2 – Episode 62. Ke Ladang


__ADS_3

Happy Reading


Keesokan harinya, hari minggu. Anin libur kerja, akhirnya bisa mengakhiri dengan penuh kegembiraan. Padahal Anin masih karyawan baru, tapi apa mau buat?


Minggu jika ada pekerjaan, di kerjakan di rumah sampai besoknya lagi bertemu di kantor. Itulah yang ada di peraturan sebagai karyawan.


"Bude," Anin membawa keranjang pakaian dan setelah selesai menjemur baju.


Budenya memasak, mencicip masakannya sedikit di sendok dan ia rasakan.


"Ada apa?" tanya Bude, Bude pun mematikan kompornya.


"Aku nanti mau jahitin baju, terus tokonya ada dimana? Soalnya di sebelah sana itu kalau jahitin baju luama banget. Jadinya, nggak bisa di pakai buat hari besoknya lagi." Ujar Anin, bajunya kepanjangan dan kebesaran di badan Anin.


Anin memilih untuk di jahit dan di rapikan sedikit. Biar keliatan cantik, rapi, dan indah kalau di pandang.


"Coba aja sebelah pasar tradisional itu Nin. Kayaknya kalau di sana itu sehari juga selesai, sekalian belanja di pasar Nin." Bude menuangkan sayurnya ke mangkok dan mencuci wajannya.


"Ooh di sana, orangnya agak ganjen itu yang laki. Apalagi lirikan istrinya itu." Anin mengambil tempe goreng di atas meja dan memakannya.


"Katanya mau cepet, di sana orangnya nggak ramah tapi kalau ngerjain cepet tanggep." Ucap Bude, Bude mencuci piring kotor dan gelasnya.


"Udah nggak masuk angin lagi 'kan?" Lanjut Bude, Anin mengangguk.


"Yaudah nanti sekalian di ladang buat cari angin. Pakde sebentar lagi juga panen padi, padinya udah kuning. Kamu nanti mengantar sarapan ini ke ladang Pakde ya!" Bude selesai mencuci piring dan gelas, dia mengambil rantang di lemari.


"Oke Bude. Tapi, aku mau makan dulu. Laper ini soalnya," ucap Anin mengambil piring dan mencaruk nasi putih.


Mengambil beberapa lauk dan menaruhnya di atas meja, berjalan mengambil gelas dan ia isi air putihnya untuk di minum nanti.


"Makan yang banyak, biar cepet gemuk. Kalau gemuk biasanya embul-embul gitu." Kata Bude dengan mengambil sambel terasi dan mengambil tempe goreng.

__ADS_1


"Ini, Bude mau nyiram kembang dulu. Sendok sama minumnya udah di jadiin satu sama rantangnya. Pakde nanti di ingetin kalau rantang sama sendok dan botolnya harus di bawa pulang. Kalau nggak suruh Pakde nggak usah pulang," Bude pun pergi keluar dari pintu belakang.


Anin menyantap makanannya dengan lahap tanpa ada sedikitpun yang tersisa.


"Allhamdulilah... Kenyang juga, sekalian pergi ke penjahitnya yah, oke lah... Ambil dulu bajunya dan naik sepeda ontelnya Pakde di gudang. Masih bagus terus catnya aja nggak luntur." Anin melangkah ke kamar dan mengambil bajunya, Anin memasukkan bajunya dengan cepat.


Anin membawa rantangnya serta baju yang ia akan jahit. "Bude aku berangkat..." Anin berteriak agar si Bude dengar.


Nggak dengar sama sekali, palingan Bude ngobrol sama tetangga sebelah.


Sepedanya Anin keluarkan dan dia naik, mencantolkan rantangnya yang sudah ada plastik dan plastik yang berisi baju.


Kayuh dengan pelan.


Anin menyapa orang-orang yang ia kenal dan begitu pula ibu-ibu yang masih pulang dari belanja.


Sampailah di ladang.


itu dia. Akhirnya ketemu juga, Anin mendekati di gubuk. Pakde ada di sana, mengobrol dengan kakek tua itu.


"Assalamu'alaikum pakde."


Anin pun menyalami pakde dan kakek itu.


"Wa'alaikumsalam. Udah masak bude mu?" tanya pakde dengan tersenyum, menerima rantangnya.


"Ini katanya bude tadi rantang---"


"Iya pakde tau."


Pakde membuka rantangnya dan matanya berbinar karena ada sambal terasi kesukaan pakde.

__ADS_1


"Ehm, pakde. Aku mau ke pasar dulu ya, aku mau jahitin baju ini yang kebesaran terus kepanjangan." Ucap Anin membuat Pakde menatap Anin.


"Mau dimana kalau jahitin baju?"


"Katanya bude di sebelah pasar tradisional itu ada penjahit terkenal cepet tanggep gitu pakde. Aku juga nggak tau, tapi katanya orang-orang orangnya ganjen yang laki. Terus, perempuannya agak sadis pakde."


Anin duduk di sebelah pakde.


"Monggo Pak, maem barengan." Ucap Pakde menawari kakek itu dengan logat bahasa Jawa. (Ayuk Pak, makan barengan)


"Sampun dahar, Pak." Jawab kakek itu (Sudah makan, Pak.)


"Yo wis, saya mau makan dulu Pak." (Ya udah)


"Pakde gimana?" Anin menunggu Pakdenya tidak sabar dan Pakde keselek karena Anin berbicaranya dengan nada tinggi.


"Uhukkkk... Uhukkkk..."


Pakde meminum airnya dan bernapas lega.


"Kamu ini. Ya udah kalau mau kamu itu, pakde mau berkata apa juga kamu tetap ngeyel."


Anin berjalan ke arah tempat di letakkan sepedanya semula dan mengayuh sepedanya.


Lupa izin atau gimana, tapi yang penting di bolehkan.


Bersambung


Maaf sikit, jangan lupa Like dan komennya yah 😊😊😊


Makasih ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2