
...Hallo......
...Hai ada apa dan di mana?...
...hehehe..., ya udah nyapa aja....
...Happy Reading.......
...***...
Suasana ruangan dari CEO perusahaan itu semakin mencekam, ketika ada seorang laki-laki yang tak mengingat jika usianya itu sudah tua. Namun, lagi-lagi masih bisa dikatakan umuran dua puluhan.
Dengan kaki disilangkan, laki-laki itu menatap bawahannya. Ia menghela napas gusar, “Kau nggak bisa begitu ngurus laki-laki bangsat tu. Bedebah kamu!” Hardiknya keras dengan mengode seseorang untuk maju melaksanakan perintahnya dari tatapan laki-laki itu.
Laki-laki itu tak lain Revino yang sedang mengurus kepentingan yang ada di kantor, kata menantunya sedikit ada masalah. Dan ini ternyata masalahnya, buruk sekali jika anak buahnya tak bisa diandalkan.
Revino malas membuang waktu yang tak berharganya untuk mencampuri urusan ini, ia pun membenarkan posisi jasnya, ia membenarkan dasinya yang sedikit mengendur sebentar dan beranjak berdiri, pergi dari ruangan itu.
“Hm, kalau sudah selesai jangan lupa suruh orang membersihkan ruangan ini!” Pesannya kepada anak buahnya yang lain.
Laki-laki itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, menambah ke sana tampan, berkharisma dan bisa dikatakan sugar dady.
Pandangan laki-laki itu tajam tak luput dari tatapan karyawan dan karyawati yang bekerja di sana, sambil menyapa dan laki-laki itu tidak membalas dengan jawaban.
Kalau sudah begini iya harus kena siap mental.
Bapak muda tapi umur sudah berumur itu menemui menantunya yang sedang rapat dengan klien dari Amerika, ia memantau setiap pergerakan menantunya. Tapi, ada kesalahan yang membuatnya sedikit ingin mengulik dari besannya itu. Perusahaannya tak jauh berkembang pesat, sama halnya mereka bersaing di dunia bisnis.
Sekarang besannya itu sudah sehat, kembali bekerja. Ia belum pernah melakukan kerja sama, tapi sebisa mungkin ia akan menemuinya hari ini membahas tentang pernikahan anaknya yang sekarang menjadi istri Aksa.
Lebih tepatnya dia kepo.
Sampai kalau ada masalah, ia tak segan-segan untuk membunuh menantunya itu dan ia tidak akan memikirkan bagaimana nasib ke depan putrinya.
***
__ADS_1
Aksa, laki-laki itu sedang memikirkan gimana caranya istri dia harus melahirkan secara cesar dan ia sudah ngilu sendiri melihat perjuangan istrinya tadi.
Tetapi, istrinya sudah membuat keputusan bulat jika operasi caesar bakal mati, ya mati nggak usah nyalahin kehendak Tuhan yang sudah digariskan seperti itu. Kalau mau melahirkan normal, anggap aja bonus yang Tuhan berikan lewat dia buat lahiran normal.
Tak jarang jika mau mati mendadak di pertengahan jalan, mereka berdebat hanya gara-gara beda pendapat.
Aksa, ia sedang ada di ruangannya dan suara ketukan pintu membuatnya teralih, mengangkat kedua tubuhnya yang awal dia berbaring di soffa untuk merebahkan tubuhnya.
“Masuk aja!” perintahnya dan Aksa beranjak berdiri, duduk di kursi kerjanya dan ia menatap orang yang datang itu, orang yang berambut klimis dan hitam mengkilap. Papahnya, ya orang itu papahnya yang mendatangi dirinya di kantor.
Aksa lantas berdiri, ia menyalimi tangan papahnya dan papahnya tersenyum hangat kepadanya.
“Kapan papah dateng? Kok nggak bilang,” tanya Aksa dan Aksa bertanya sedemikian karena papahnya sedang berada di luar negeri seperti biasa menjalani acaranya yang nggak tahu itu namanya apa.
Papahnya tersenyum, berjalan mengitari seluruh ruang kerja Aksa.
“Nggak salah emang papah mengunjungi kamu di sini?” tangannya sambil mengelus setiap kaca meja kerja putra semata wayangnya itu dan Aksa menghela napas pelan.
Aksa menatap lamar papahnya, “Kalau papah ke sini ngajak mamah nggak? Karena istri ku sepertinya butuh temen buat bicara, pah.” Ucap putra semata wayangnya itu dan papah tertawa pelan.
Ya, mamah Aksa sudah divonis tidak bisa hamil lagi pada saat itu. Mereka hanya berpisah semuanya pada Tuhan, akhirnya mereka harus menjaga putra mereka sampai benar-benar mereka bisa membimbing Aksa menjadi suami yang baik untuk istrinya.
Bukan tangan mereka, mereka memang tak hanya cuek. Kepribadian dari kedua orang tua Aksa tak pernah yang namanya mengajari, ataupun membimbing hanya saja melihat perkembangan anaknya sudah sepatutnya bangga menjadi orang tua.
“Iya, lahirannya tinggal dua minggu lagi.” Jawab Aksa sambil menimang apa yang dikatakan papahnya dan papahnya menyentuh bahu Aksa, mata Aksa lantas menatap manik mata papahnya yang jaraknya beberapa centi saja.
“Nak, jangan sia-sia kan anak kamu itu! Sebaiknya kamu menjadi orang tua yang patut dibanggakan dan kamu jangan seperti papah sama mamah, hanya lewat melihat dan tidak membimbing, setiap anak berbeda-beda nak!
Seharusnya kamu jadi orang tua yang bisa membimbing, mengawasi sampai sejauh mana kenangan yang kamu dapatkan.
Papah hanya berpesan, jangan ikut campurkan jika ada orang ketiga di dalam rumah tangga kalian. Sama satu lagi, anak kamu menjadi tuntutan kamu untuk menjaganya baik, melindunginya dan semua kenangan akan tercetak jelas di mana anak kamu sudah dewasa.” Ucap papahnya panjang lebar memberikan sedikit tuntutan sebagai orang tua, agar tidak terjadi lagi di masa depan yang akan datang.
“Wuih handal papah bisa ngomong panjang,” apresiasinya dengan begitu Aksa tersenyum dan papahnya mengatupkan bibirnya.
“Kalau mau ngapresiasi papah pingin tinggal sama kamu, nak. Papah kangen sama kamu, nak.” Ucap papahnya dan Aksa menatap papahnya, papahnya memang pernah mengganggu permasalahan rumah tangganya tapi mereka saling percaya jika ada yang mengikut campur permasalahan mereka.
__ADS_1
“Hahah, iya-iya maaf papah ngomong gitu. Papah juga sudah pesen rumah dekat dengan kamu, biar bisa mamah ngunjungin tiap hari istri mu.” Ucap papahnya diselingi candanya dan Aksa salah tingkah sendiri.
Papahnya tersenyum bangga, “Nak kamu kok bisa bangun perusahaan bisa begini lagi. Papah minta pajero apa kamu beliin?” membuat Aksa terkekeh dan Aksa menepuk jidat sekali lagi melihat tingkah watadosnya papahnya itu.
“Lah papah sendiri emangnya nggak mampu buat beli? Buktinya ada mobil-mobil clasic yang papah koleksi di garasi mobil itu, maksudnya papah aja punya basement buat mobil.” Aksa menertawakan papahnya kali ini yang memelas buat harga mobil segitu doang bagi papahnya tak ada apa-apanya.
“Aish nak, katanya mamah kamu ... temen-temen arisannya itu pada pamer nak. Terus mamah yang jelas gosong dong, apalagi banyak yang pamer tentang mobil lagi. Aduh, mamah yang jelas itu nggak mau kalah sama temen-temennya.” Ucap papahnya membuat Aksa tak lagi bisa menahan tawanya yang meledak begitu saja.
Aksa terdiam dahulu, “Mau cerita panjang lagi pah. Enak kali kita ke kantin dulu, pah. Soalnya otak sama perut nggak bisa diajak bercanda,” ujar Aksa mengkambinghitamkan perut dan otaknya.
Papah tersenyum dan melepas jasnya, menampilkan badannya yang bisa dibilang masih rata-rata mungkin ini efeknya ketika tidak pernah nge-gym melainkan hanya memikirkan cara untuk mengimbangi perusahaan anaknya.
Masih di bawah, jauh sekali keberhasilan papahnya.
Tapi, Aksa tak berat-berat juga ia menerima tawaran kontrak kerja sama dengan papahnya.
“Udah lama nggak nge-gym lagi pah?” selanya di perjalanan menuju lift.
Papahnya hanya mengangguk, kembali tatapan itu datar nanti dingin membuat Aksa ketar-ketir sendiri kalau ada di dekat ayahnya. Ayahnya yang ia kenal dalam jati dirinya terkenal humoris dan receh dengan keluarganya tapi tidak bagi orang-orang asing yang tak mengandung siapa dirinya.
“Kalau gitu papah masih dalam tahap posisi bank-krut ya, pah?” tanyanya mengangkat tangannya untuk menggaruk lehernya yang tidak gatal itu, keceplosan begitu saja alangkah indahnya bisa papahnya diajak receh jika di luar ini papahnya hanya melirik tanpa membalas ucapan anaknya.
Aksa menghela napas pelan, tak terdengar oleh papahnya jika deru napasnya naik-turun dari tadi. Aksa melangkah lebih lebar ketika lift sudah berada di kantin, ia mengikuti langkah kaki panjang papahnya. Papahnya memang tinggi, sampai Aksa tidak bisa menyamai peringkat papahnya yang tinggi itu, palingan bedanya sekitar sepuluh centi saja.
Tapi, Aksa selalu menganggap papahnya ini berbeda.
***
Wokee...
Saia mau bilang jan lupa dukungannya!
heheh, jangan lupa follow IG din biar dapet info.
@dindafitriani0911
__ADS_1