
Happy Reading
“ Udah nggak usah terlalu begitu yang, serahkan semuanya pada Allah, yang. Kalau kita di kasih kepercayaan untuk menjadi orang tua, InsyaAllah Allah akan memberikan jalan terbaiknya. ” Ucap Rifa'i dengan menyakinkan.
“ Iya, ” Jawab singkat Anin dan Rifa'i pun tersenyum. “ Eh mas, sate mas. Soalnya udah laper ini, ” Ucap Anin dan Rifa'i mengangguk.
Akhirnya mobil pun berhenti di warung sate,
“ Pesen berapa yang? ” Tanya Rifa'i membuka pintu mobil. “ Ehm, tiga puluh ribu dulu. Nanti kalau kurang tambah lagi, daripada mubazir nanti. ” Jawab Anin,
Anin pun keluar dari mobil dan Rifa'i melangkah ke warungnya.
“ Mau beli apa Pak? ” Mamang satenya pun membungkus satenya untuk orang lain.
“ Beli sate kambing Pak, satenya tiga puluh ribu aja Pak. Makan sini, ” Mamang satenya mengangguk.
“ Iya Pak, kalau begitu di tunggu dulu Pak. ”
Rifa'i melangkah ke Anin berada, Anin menoleh dan tersenyum kepada Rifa'i.
“ Mas gimana? Udah, ”
“ Udah, ramai juga ini warung. Kayaknya enak, tapi ya, nggak tau. Kita nilai nanti, ”
“ Iya, di tunggu aja. Tadi sturk belanjanya mana mas? Aku mau lihat, ” Rifa'i pun mengeluarkan dompetnya dan mengambil struk belanjanya.
“ Ini, tadi itu belanja banyak emang? Kayaknya semuanya totalnya lebih banyak gitu. ” Rifa'i heran dengan struknya.
“ Ha, masa iya mas. Coba di hitung dulu, ” Anin pun mulai menghitung dan benar saja Anin merasa kejanggalan dengan struknya.
“ Eh coba, tadi kan diskon 20%, tapi kok bayarnya mahal juga. Aduh, di tipu ini sama malnya. Bener aja, masa iya di pasar aja harganya mahal, tapi kok di mal diskon gitu. ”
Rifa'i menggelengkan kepalanya dan memilih untuk diam.
“ Hm bener juga ini, huh emang ya. Dasar itu mal nggak punya akhlak pokoknya. ” Anin marah-marah dan menguel-uel struknya.
“ Eh jangan di uel-uel! Nanti bisa buat pelajaran, kalau diskon itu nggak bakal jadi. Kalau barangnya mahal terus nggak ada, itu pasti penipuan. ” Nasehat Rifa'i dan Anin mengangguk.
“ Ya udah, kalau gitu. ” Anin pun pasrah dengan harganya yang begitu mahal daripada di pasar.
__ADS_1
“ Ehm, jangan cemberut! Cuma gara-gara diskon aja. Udah daripada cemberut mending makan sate. Kayaknya bentar lagi, mateng itu. ” Rifa'i mencoba untuk menenangkan hati Anin.
Anin duduk dan menunggu satenya.
Mamang satenya pun membawa 2 porsi sate, nasi, dan acarnya. “ Silakan Pak, bu. Maaf lama, ramai kayak gini. Nggak ada yang bantu, anak pergi ke kampung. Jadinya, kerepotan sendiri.
Tahun baru anak pulang kampung, sedangkan bapaknya jualan sate. ” Mamang satenya curhat dengan Anin dan Rifa'i.
“ Iya Pak, emang kampung mana Pak? ” Tanya Rifa'i dengan menata piring yang ada satenya.
“ Ehm di bandung Pak, makanya itu. Saya mau ke sana, tapi nggak ada ongkos buat pulang. Belum juga pesanan makin banyak. Mau pulang udah ada uang, tapi uangnya buat anak saya. ” Jawab mamang satenya. Rifa'i mengangguk dan mengerti.
“ Kalau begitu saya permisi dulu Pak, mau layani pembeli lain dulu, soalnya masih ada pesanan lagi. ” Rifa'i mengangguk dan mamang satenya pun kembali.
“ Kasihan ya mas, lelah juga kayaknya. ” Anin merasa miris dengan mamang satenya. Rifa'i mengangguk, “ Iya. Namanya juga keadaannya begini, yang. Mamang satenya banyak pesanan, mau gimana lagi? ” Rifa'i mengerti itu semua.
“ Iya, ” Anin mulai merasakan satenya dan ternyata cocok di lidah Anin.
“ Hm, enak juga ya. Pantes aja pesanannya banyak. Sampe sambel kacangnya aja rasanya lumer di lidah, mas. ” Anin menyomot lagi satenya dan Rifa'i menggelengkan kepalanya.
Akhirnya Anin kekenyangan dan sampai matanya memerah, gara-gara sambel kacangnya pedas dan manis. Perpaduan antara cabai dan kecap bango.
“ Udah yang, mas mau bayar sekalian mau bungkuskan mamah sama papah. Apa nggak nanti di makan di rumah, ”
“ Hm, mas aku mau ke mobil dulu ya. Aku tunggu di mobil aja, ” Anin pun melangkah dan keluar dari warung.
“ Seperti biasa kalau kekenyangan ngantuk jadinya, ” Anin dari tadi merasa risih dengan orang yang memperhatikannya sejak tadi.
“ Itu orang kenapa? Kok dari tadi ngamati aku aja, kayak orang mau mencelakai aku. ” Anin pun menghampiri orang tersebut.
“ Eh Pak, kayaknya bapak dari tadi memperhatikan saya, bapak mau mencelakai saya. ” Anin mulai ancang-ancang dan bapak tersebut tersenyum.
“ Neng bapak ini cuma melihat warung satenya, bukan kamu neng. Saya mau beli dari tadi, tapi masih rame, neng. ” Jawab bapak dengan tertawa.
“ Kenapa nggak ngomong dari tadi Pak? Ah, jadi malu saya. Maaf ya, Pak. Saya terlalu sensitif dengan orang yang memerhatikan saya, ”
Anin pun menyalimi bapak tersebut, akhirnya bapak tersebut menerima maaf dari Anin.
“ Kalau begitu saya permisi, sekali lagi saya minta maaf, Pak. ”
__ADS_1
“ Udah nggak papa, neng. Namanya juga orang kalau begitu, orangnya suka hati-hati dengan orang lain, neng. ” Anin pun tersenyum dan mengangguk.
Anin kembali ke mobil dan ternyata Rifa'i sudah ada di mobil. “ Kamu kenapa? Kok kayaknya sama bapak itu, lagi berantem apa gimana? ” Rifa'i memakaikan seatbeltnya dan menjalankan mobilnya.
“ Eh itu, tadi aku kirain bapak tadi itu mau celakai aku. Eh, ternyata lagi nunggu sepi warung satenya. ”
“ Ha, kok bisa, yang. Kamu ini, jangan terlalu sensitif dengan orang di sekitarmu! Bisa jadi orang itu mau apa? Kalau orang itu mau mencelakai kamu, kenapa orang itu nggak langsung gerak cepat? Begitu, yang. ”
“ Hm, kayaknya iya. Tapi aku itu terlalu sensitif dengan orang yang pengen mencelakai orang aja, mas. ” Anin pun mengerti dan dia tidak terlalu bisa untuk melepas semuanya.
“ Mas, mampir dulu ke masjid. Sholat dzuhur dulu, ” Rifa'i membelokkan mobilnya dan berhenti di masjid. Karena adzan dzuhur berkumandang,
Anin mengambil mukenanya di kursi belakang dan keluar dari mobil. Anin melangkah ke tempat wudhu untuk wanita.
Anin selesai wudhu, akhirnya dia masuk ke masjid. Semuanya sudah siap dan berkumpul, akhirnya iqomah pun di kumandangkan dan mereka pun sholat berjamaah bersama-sama.
Setelah mereka sholat berjamaah, Anin dan Rifa'i melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.
Sampailah mereka di halaman rumah, Anin keluar dahulu, sedangkan Rifa'i memarkirkan mobilnya di dalam garasi mobil.
Anin masuk ke rumah, dan mamahnya ada di dapur. “ Assalamu'alaikum mah, ” sapa Anin dengan melangkah ke dapur.
“ Aduh udah pulang nak, cepet banget nak. ” Mamahnya pun duduk di kursi makan dan Anin pun menghempaskan bokongnya ke kursi.
“ Nggak kok mah, cuma belanja dikit tadi. ”
Anin menuangkan air putih dan meminumnya. Mamah Hajar memotong-motong buah apel dan di letakkan di piring. “ Mah, papah kemana? Katanya tadi mau ngumpul sama temen papah, mah. ” Anin tidak melihat batang hidung papah Rahmat.
“ Papah lagi meeting katanya, ”
Bersambung
Hm, kemana aja kok ngilang?
Hehe, maaf kemarin nggak ngilang, cuma kelelep dari bumi halu aja. Mau up, eh ternyata hujan. Emang, kalau hujan bikin males. Apalagi di hujani komentar, beuhh maaf ya 🤣🤣🤣
Mampir juga ke instagram :
@dindafitriani0911
__ADS_1
Jangan begitu! Hm, kalau gitu boleh minta like sama komentar positif aja ya.
#Terima kasih