
Pria dewasa dan sudah berumur itu sedang termenung di ruang kerja mansionnya dan ia sekarang benar-benar malas jika ingin ditemukan oleh keluarga mertuanya.
Papahnya akan terbang dari Amsterdam sana dan papah mertuanya itu belum menikah juga, sebab istrinya ya bukan istri sih cuman mengangkat istrinya sebagai anak angkatnya saja.
Maksudnya itu semua papah angkat, tapi keluarga kandung dari istrinya itu juga akan datang malam ini sebab mereka ingin mengumpulkan keluarga saja biar tambah ramai.
Pria berumur itu pun merubah gesture badannya menatap ke arah kaca yang bening itu, pemandangannya kini meredup ketika ia menatap langit yang biru itu tidak ada mendung sama sekali.
“Maaf sayang, kalau aku nggak bisa ngejelasin apapun kepada kamu pada saat itu. Kalau kamu masih disini mungkin kita akan kembali dan bisa bahagia dengan anak kita, walau Putri anakku itu tidak mendukung ku.” Ucap Revino, Revino berdiri. Ia tak bisa lama-lama untuk duduk karena punggungnya sudah kebas rasanya.
Revino melangkah keluar, ia melihat jika pengawalnya mengikuti dirinya.
“Sudah cukup di sini! Saya mau keluar, siapkan kalian untuk keluar bersama saya hari ini!” ia malas jika mempunyai pengawal yang selalu patuh terhadap dirinya, pengawal lebih dulu membungkukkan badannya dan Revino memberikan kode untuk segera pergi.
Ia melanjutkan langkahnya untuk menuju ke kamarnya yang berada di tengah-tengah ruangan itu diapit oleh kedua ruang itu.
Revino mendorong handle pintu, ia sudah lengket badannya serasa ingin begerak melangkah saja malas. Terlalu, kalau sampai cucunya lahir, ia hanya apa? Ia saja tidak pernah yang nyaman dengan seorang bayi.
Suara handphone membiarkan langkahnya terhenti, ia memastikan siapa yang menelepon terlebih dahulu. Ternyata asisten pribadinya, ia pun mengangkat teleponnya, ia sudah menyuruh anak buahnya untuk laporan kepadanya.
Ia sudah mengutus kepercayaannya.
“Hallo tuan, maaf mengganggu.”
Suara diseberang sana, Revino menutup pintunya dan melangkah mendekati sofa yang ada di kamarnya. Kamar yang bernuansa gelap dan semuanya menjadi gelap, hal itulah pria dewasa itu mendapatkan ketenangan di hatinya.
“Iya, ada apa?”
“Begini tuan jika putri anda sudah melahirkan, saya mengabarkan begitu tuan.” Katanya itu dan Revino mengerjap pelan.
Matanya yang tak lagi muda itu berbinar, “Kamu yang bener kalau ngomong!” gatau memastikan saja kalau putrinya benar-benar melahirkan cucunya.
“Iya tuan,” Revino memutuskan sambungan teleponnya dan tak sopan saja belum ngomong banyak main putus sambungan aja. Pasti begitu si seberang telepon nggak terima.
Revino mengucap syukur bisa diberikan kehidupan, walaupun ada kemungkinan kecil jika ia diakui oleh putrinya jika ia ayahnya.
Dering handphone kembali terdengar, ia mengerutkan keningnya ketika nomer dari menantunya itu dan ia secara memencet tombol ikon hijau.
Revino tak sabar gimana cucunya itu, Aksa di sana memang melakukan vid- call. Ia tak mau jadi menantu durhaka yang nggak tahu diri, dan Aksa menampilkan senyum di layar handphonenya.
Revino sudah menduga jika menantunya ini kurang ajar apa, masa putrinya sedang melahirkan tak ada yang mengabari dirinya.
“Kalau jadi menantu tuh yang baik.” Ucap Revino menatap Aksa yang sekarang mengalihkan kameranya ke cucunya itu yang sedang mengulet di box-nya.
Aksa tak menjawab, hanya mengunyel pipi putranya yang tampan. Terlihat jelas tangannya mengunyel pipi anaknya.
Revino menatap kagum, ia ingin menggendong cucunya yang tampan itu dan tak pernah ia merasakan menggendong
seorang bayi.
Revino tersenyum, “Itu---”
Ucapan Revino terpotong ketika Aksa sudah menghela napas. “Assalamu’alaikum ayah mertua ku, serta kakek buat cucumu yang ganteng ini.” Suara itu dan tidak mengalihkan kameranya.
Untuk itu Revino menjawabnya, tak mau jika ia dikatain mertua kurang baik nanti tak patut dicontoh apalagi dia menyerobot ucapan menantunya tadi.
Ia sadari emang orangnya agak suka gitu, nggak suka basa-basi.
“Wa’alaikumsalam nak, apa kabar dengan putri ayah nak? Ayah mau lihat,” diam-diam hatinya terenyuh ketika menatap layar handphonenya di mana Aksa mengarahkan kameranya ke istrinya yang sedang menutup matanya.
Pantas saja Aksa menelepon dirinya, iya Aksa mendapatkan nomer telepon Revino tak main-main mencari nomer telepon ayah mertuanya itu seperti hacker yang bisa menghack segalanya.
__ADS_1
“Yah, eum. Maaf aku nggak bisa jadi menantu yang baik, kalau Anin melahirkan dengan normal tapi sekarang katanya dokter boleh pulang. Kalau ayah mau ke rumah, boleh kok ke rumah. Pintu rumah bakal terbuka lebar untuk ayah,” sekarang kamera itu dialihkan dan ayah Revino menghela napas.
Aksara sudah menjadi seorang suami yang
baik, menemani istri yang
sedang melahirkan dengan sisa-sisa perjuangan untuk melahirkan
normal. Semuanya butuh proses, Revino akui ia tak bisa seperti itu.
Maka dari itu ia bisa memberikan penghargaan kepada menantunya.
Ia pria yang nggak bisa disebut ayah.
Ayah, nggak pantes dalam namanya.
Ia tetap menjadi pria yang bangs*t nggak
tahu diri. Sudah menanam benih tapi meninggalkan begitu saja.
Sekarang benar-benar yang
ia rasakan hanya bisa meminta maaf kepada putrinya.
Padahal kini ia mau melihat anaknya itu, ia tidak bisa mengunjungi sekarang sebab dipastikan kegiatan hari ini padat apalagi dengan acara keluarga nanti malam. Mau tak mau ia harus menginjakkan kaki di rumah itu lagi. Bikin sakit hati lagi, Revino mengangguk saja.
Tanpa menanggapi perkataan Aksa yang mengabarkan jika anaknya melahirkan normal.
“Iya nak, makasih sudah setia menjaga putri ayah. Jaga putri ayah ya, nak.” Katanya dengan nada sedikit bergetar dan Aksa hanya mengangguk.
Aksa pun mematikan sambungan telepon, mungkin ada urusan jadi Aksa mematikan. Hal lumrah bagi Revino, ia tak mempermasalahkan. Dan Revino berjalan menuju ranjang, ia membuka lemari kecil yang disebut nakas itu, di bawah ada laci dan ia membukanya.
Mengambil sebuah foto pernikahannya dengan istrinya yang diakui sah secara agama dan negara, semantara ini ia tak pernah mendaftarkan pernikahannya ke negara.
sah.
Dan sekarang apa yang
terjadi.
Sama sekali tidak pernah mengajukan, hanya saja rumor beredar ia sudah menikah tak ada yang bisa mengulik kehidupan pernikahannya sampai ia sudah bosan. Ia akan mengumumkan nantinya, iya ia menikah secara tidak dapat dipastikan lagi mereka menikah itu bukan secara agama juga.
Semua itu palsu, Revino sudah tak memikirkan masalah itu. Yang penting ia sekarang menjalani kehidupannya yang lebih baik lagi, ia akan datang pada waktu yang tepat jika itu benar-benar dia diakui sebagai ayah. Tak ayal jika ia tidak memimpikan untuk menjadi seorang ayah di sisa kehidupannya.
Tok.
Tok.
Suara itu mengedarkan pandangannya di mana suara itu seperti orang mengetuk pintu kamarnya, ia menatap malas dan ia beranjak dari ranjang. Meletakkan foto itu kembali ke nakas, ia berjalan menuju ke pintu.
Ia membukanya di sana ada seorang pria yang berhasil rapi dengan dasi yang melilit di lehernya maksudnya untuk merapikan jasnya. Dia seorang asisten pribadinya yang diutus sebagai kepala pengawal juga, bercabang pekerjaannya.
Asisten pribadinya itu menundukkan kepalanya, “Hm ada apa?”
“Maaf tuan, semuanya sudah disiapkan. Kita tinggal ke sana,” lapornya dengan menundukkan kepalanya dan Revino memegang handle pintu keras. Sampai urat-urat terlihat, “Saya bilang nanti! Urusan ****** tua itu belum kelar. Jadi, jangan harap aktivitas lain bisa saya kendalikan. Nanti saya akan ke sana,” jawabnya dengan mata tajam dan tanpa begitu Revino mendorong pintunya kuat-kuat, hingga pintu bersuara kencang.
Mungkin kalau asistennya di situ akankah ia kuat, dibanting begitu saja.
Oh kasian, ia menatap miris dan melangkah lanjut ke bawah.
Melakukan pekerjaannya, ia sudah terlalu pusing. Mau resign tapi inget resiko kalau ada apa-apa dengannya dan keluarganya, dipastikan ia akan menyesal untuk resign.
__ADS_1
Revino bersiap-siap, ia tak jadi mengikuti alur yang dibuat tua bangka itu yang sebentar lagi hampir punah dan bisa dikatakan bau tanah. Revino melakukan aktivitas mandinya sementara itu handphonenya berkali-kali berdering, pastinya ia tak mendengar itu dan ia menyalakan kran kamar mandi. Cukup di sana sederhana kamar mandi yang dibilang bisa jadi kelas bawah kalau dibandingkan kekayaannya.
Setelah selesai mandi, ia bersiap-siap dan semuanya sudah rapi. Sekarang ia hanya memakai kaos serta celana panjangnya, ia menatap dari pantulan kaca.
“Mau pakai pakaian yang di kantor itu terlalu formal, bener-bener bikin frustasi dah.” Ilang sudah sama pantulan kaca, jika dirinya itu seribu pintu kulkas.
Revino merapikan rambutnya dan menyisirnya.
Setelah rampung, ia berjalan menuju pintu dan menarik handle pintu, di sana sudah ada asisten pribadinya yang berdiri, menunggu dirinya.
“Maaf, tuan. Saya mau bilang kalau tadi pak tua itu meminta bertemu sekali lagi. Menjelaskan apa yang ada,” katanya dan Revino hanya tak peduli.
Sekarang ia nggak bisa diganggu gugat, apalagi perjalanan ke rumah yang bikin dirinya cepat-cepat pulang dan belum lagi acara penyambutan. Bikin memakan waktu yang banyak, maka sebab itu ia akan tepat waktu.
Revisi berjalan dengan langkah tegasnya dan wibawa, sampai di bawah ia melihat seorang pengawal sedang disiksa oleh temannya dan mengakibatkan semua darah memuncrat kemana-mana.
Revino berdecih pelan, akibat salah satu jika berkhianat siap-siap disiksa.
Pria berkepala lima itu pun melewatinya dan ia akan menuju di mana semuanya sudah disiapkan di depan halaman rumahnya itu. Mobil ada tiga berjajar, dua mobil mengikuti dari belakang.
Yang dinamakan ajudan maka setia menemani majikannya kemana-mana.
***
Kurang lebih memakan waktu satu jam lamanya di perjalanan, akhirnya sampai di rumah besar yang ia bangun dengan usahanya sendiri dan bantuan orang lain. Itu semua memakai uangnya, ya walau ini cuman rumah tapi bisa dikatakan mansion.
Tapi tak kalah jauh jika mansionnya yang besar itu, mungkin sekitar lima rumah itu lebar dan panjangnya. Revino turun dari kereta besinya, ia menundukkan kepala agar tidak kejendot kepalanya di mobil.
Asistennya itu di samping pintu, ia memerhatikan.
“Kau bisa kembali!”
“Baik tuan, maaf jika saya lancang. Boleh saya keluar cari makanan?” tanya asistennya itu ragu tanpa menengadahkan kepalanya untuk menatap Revino, si tuan yang suka pemarah dan sombongnya minta ampun itu hanya menatap datar lalu menganggukan kepala.
Akhirnya ia bisa bernapas lega ketika tuannya masuk ke dalam rumah tanpa salam atau apapun itu.
Revino melihat seluruh ruangan, tak ada yang berubah di sana ada wanita yang tidak ia pedulikan selama ini terlihat menyambutnya dan sedikit tergesa untuk menghampiri suaminya.
Revino menatap dingin dan datar, ketika sudah di dekatnya istrinya itu tidak berani menyentuh dirinya. Ia sudah pernah menanti jika ia anti yang namanya didekati oleh seorang perempuan murahan dan nggak pantes untuk hidup di dunia. Pernah dikatakan seperti, sebegitu rendahnya dirinya.
Tapi, tak apa semuanya hanya karena memperjuangkan cintanya kepada suaminya yang bisa membuatnya tergila.
“Kemana Putri?” tanya Revino mengedarkan pandangannya, sejak tadi ia tak melihat seorang Putri yang duduk manis biasanya di sofa dan menunggu dirinya pulang ke rumah ini.
“Putri sama suaminya masih dalam perjalanan,” balasnya dan Revino kemudian berjalan ke arah dapur, di sana pembantu sedang mempersiapkan semua hidangan.
Tak dipungkiri semuanya itu uang yang ia tranfer dan digunakan untuk dihamburin buat makanan yang nggak pantes di mata dan lidahnya.
Tidak membuat lidahnya sekali mengecap jika makanan itu enak.
Membuat dirinya hanya ngamuk berakhir emosi dengan wanita yang nggak diharapkan untuk menjadi seorang istri yang baik untuknya.
Lah lu perlakuin dia macam hewan, mana bisa dia memperlakukan kamu sebagaimana kamu haluin buat menjadi yang terbaik!
---
Aish maaf kemarin nggak up, oke ini udah banyak jangan tanya kapan double up kak!
Ndak ada, kalau bisa diusahain dari kemarin tapi keburu ngantuk jadilah banyak ini.
Bisa jadi dua bab kalau dibagi.
__ADS_1
Hahaha, iya udah jangan lupa follow Ig Din!
@dindafitriani0911