Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
– S2 – Episode 66.Paket aneh


__ADS_3

"Wah curhat ini orang." Anin tertawa guling-guling karena Ulfa baru saja di putuskan oleh pacarnya gegara dia kentut di hadapan orang tua pacarnya sendiri. Apalagi kentutnya seperti endog bosok.


Akhirnya Ulfa menghubungi Anin, menceritakan sampai nangis-nangis.


"Gimana ini... nin hiks... hik," ucap Ulfa dari balik handphone dan menangis kenceng. Anin menggeleng pelan, tertawa, dan menutup mulutnya.


"Kamu ini juga aneh, tapi hebat kamu mempunyai pacar langsung putus gegara kentut kamu itu." Salut Anin, Anin menertawakannya sekali lagi. Jangan sampai bude dan Pakdenya dengar pembicaraannya bersama Ulfa kali ini.


Bisa saja Pakde dan Bude menyebarkan berita ini, sebelumnya harus ngakak dulu.


"Ih kamu ini, teman yang nggak baik buat tempatnya curhat. Awas aja besok!" Acam Ulfa dengan video call dan ada saja tingkah Anin yang bisa di rekam oleh Ulfa.


"Hehehe, maaf lah Ulfa. Besok 'kan udah janji mau traktir bakso buat aku." Kekeh Anin, dengan begitu Ulfa matanya berbinar.


"Ya, tapi nggak jadi." Ucap Ulfa dengan kesal, sepertinya ada masalah.


"Lah, katanya mau traktir aku. Kok nggak jadi," Anin juga mendadak kaget karena Ulfa tidak jadi memboyong ke warung bakso ataupun di pedagang bakso kaki lima.


Itu juga menurutnya sudah enak, nggak perlu yang mahal dan berkelas. Anin dulunya memang orang tidak punya, tapi dia akan menghargai setiap orang, jika ada orang yang membagi rezekinya untuk orang lain. Allhamdulilah, katanya. Bersyukur karena masih banyak orang di luaran sana belum makan satu hari dan orang yang membutuhkan biaya yang cukup banyak.


"Kayaknya sih, katanya mak aku di suruh pulang ke kampung. Engkong sakit keras, terus besok aku pulang ke kampung." Ujar Ulfa dengan sedih, mengingat katanya kakeknya sakit dan Ulfa masih kecil yang mengurus engkong bersama mbah buyutnya. Sekalian istri dari engkong, nenek.


"Turut prihatin Ulfa, aku nggak tau. Pantes aja kamu dari tadi kek ada yang mau di ceritain. Kalau mau itu, yaudah kamu siap-siap sana! Biar besok nggak telat atau kamu kelupaan barang gitu. Mudah-mudahan kakek kamu bisa sembuh ya, bisa pulang ke rumah dan bahagia dalam keadaan masa-masa terakhirnya. Dimana anak bersama cucunya bisa berkumpul." Ucap Anin dengan turut prihatin atas semua yang terjadi.


"Makasih ya nin. Aku tutup dulu teleponnya, sampai berjumpa kembali nanti kalau aku udah pulang. Aku udah izin sama manager kita, katanya di kasih waktu satu minggu buat pulang kampungnya." Jelas Ulfa dengan menutup sambungan sepihak.


"Anin.... Anin...." Panggil bude dengan teriakan satu kali, satu ucapan langsung menggelegar kemana-mana.


Anin beringsut turun dari ranjang dan memakai sandal. Menarik handle pintu dan budenya tersenyum gembira.

__ADS_1


"Ada apa bude? Kok manggil Anin," tanya Anin dengan menempel di tepi kusen pintu dan bude mengasihkan paket untuk Anin.


"Tadi ada kurir katanya ini buat kamu, tapi entah siapa yang ngirim? Orangnya nggak mau di sebutin namanya, namanya privasi katanya. Orang kok gitu amat yah, mau ngirim paket aja harus di privat dulu. Dan kurirnya ngomong ini paket spesial kayaknya. Dalemnya gimana nanti kalau paket spesial? Jangan-jangan nih orang mau nipu-nipu lagi, sekarang kan zaman dah canggih terus orangnya nge-prank kita gimana? Wah, patut di curigai ini!" Ucap bude, benar sekarang mah zamannya zaman edan.


Yang di pikirkan cuma bohongin orang, terus isi dalamnya kalau ada apa-apa siapa yang mau tanggung jawab?


Misalnya itu isi ada barang berbahaya, nah yang mau tanggung jawab yang punya ekspedisi pastinya.


Tapi, nggak papa lah. Salahnya sendiri, ekspedisinya menyimpan nama orang yang mengirim barangnya.


"Yah bener bude, yaudah kalau gitu kita buka di depan biar nggak jadi apa-apa." Ujar Anin dengan membawa paketnya ke depan rumah.


"Coba bude ambil air, gunting, pisau, sama cutter. Biar lebih enak bude, sama sekalian apa ya pokoknya buat pelindung lah bude!" Bude mengangguk dan sesuai perintah Anin, bude akan mengambilkan barang yang aman buat jaga-jaga.


***


"Assalamu'alaikum," pakde pulang dengan langkah berat tanpa berat lagi karena masalah kantor belum selesai-selesai dari hari kemarin. Besoknya akan di lanjut kembali, sampai benar-benar stabil keuangan kantor. Pakde juga kena kasus seperti ini, karena dia juga bertanggung jawab apa yang selama ini berjalan dengan baik dan lancar. Sekarang pakde harus tetap mengawas dari segi apapun.


Beliau di angkat jabatannya sebagai pemegang kendali semua keuangan kantor, pakde yang memegang dan mengendalikannya.


Baru kemarin naik jabatan, apa jangan-jangan ini ada kaitannya?!


Dia naik jabatan terus ada yang iri dan membalaskan dendamnya.


"Wa'alaikumsalam pakde." Jawab ramah Anin dengan tersenyum dan tetap mengawasi paketnya.


Pakde mengeryitkan keningnya dan menghampiri Anin di kursi teras depan.


"Paket dari siapa? Apa untuk pakde?" tanya Pakde, dia menarik kursi dan medudukinya.

__ADS_1


"Lah gr amat lu mas, ini aja buat Anin. Noh, tadi ada paket juga untuk bapak. Dari Pak Darmawan, itu semua paket buat lebaran nanti." Mata Pakde kerlap-kerlip, seperti frozen.


"Bener-bener adik yang baik itu anak. Emang rezeki tak akan kemana. Bentar lagi mau puasa terus sekalian ada paket buat lebaran, nanti bapak akan belikan Darmawan kue lebaran yang enak di toko itu." Senangnya hati Pakde sekarang. Mendapatkan paket dari adik panti asuhannya. Mereka dulu tinggal sepanti.


"Allhamdulilah pakde dapat paket, InsyaAllah nanti kalau dah lebaran bisa buat selfie ria. Di posting di Faceb**k apa nggak IG. Hahaha, biar jadi terkenal nanti." Ucap Anin, wah nyebut nama merek nih Anin.


"Yeah bener juga ni keponakan," ucap pakde masuk ke dalam rumah dan mengambil paketnya.


"Ini semua udah ada di sini. Yuk, buka!" Anin mengangguk dan tidak bisa di bayangkan kalau ada apa-apa nanti.


"Gimana bude takut?"


Ide cemerlang bude bergerak, masuk ke dalam rumah dan menyeret pakde untuk membuka paketnya.


Masa laki-laki nggak jago seperti ini.


"Buka dulu bapak yang ini! Nanti kalau ada apa-apa tinggal itu." Pakde memutar bola matanya dan mengambil cutter, membukanya dan satu langkah bude mundur, dua langkah mundur lagi. Sama halnya dengan Anin, dia takut sekali.


***


"Hahaha... Benar-benar kamu memang licik, ot*k kau berjalan," ucap Putri dengan mendukung seseorang laki-laki yang memegang rokok di gengaman tangan kirinya dan menatap jam tangannya.


"Aku sebentar lagi akan pergi, tolong kalian persiapkan keberangkatan ku sekarang! Aku nggak mau telat." Kekasih gelapnya Putri, dia memang sekarang menjalin hubungan dengan laki-laki yang sadis dan bisa diajak kerja sama.


Memanfaatkan laki-laki itu dengan sangat baik dan bisa menyerahkan semua apa yang ada di hati laki-laki itu.


Bersambung...


Jangan lupa Like dan komennya yah 😊😊😊

__ADS_1


Tanks 😙😙😙


__ADS_2