
Happy Reading
"Nggak papa daripada sama perempuan ini, mending aku buang jauh-jauh itu warisan. Jugaan nggak ada gunanya." Ucap Rifa'i di dalam hati dengan melirik Anin begitu kejam.
Anin menunduk dan tidak berani ngomong apa-apa. Papah Rahmat menanda tangani materainya dan Papah Rahmat tersenyum senang, akhirnya dia bisa menyerahkan semuanya untuk Anin, sebagai rasa kesalahannya, yang tidak punya malu yaitu anaknya.
"Kalau begitu saya permisi dulu Pak, saya mau ngurus yang lain dulu." Pengacara papah Rahmat pergi dan tinggalah mereka bertiga.
"Pah, aku mau pulang." Rifa'i berdiri dan Papah Rahmat berdiri.
"Mau kemana kamu? Duduk dulu! Papah mau ngomong tentang perceraian kalian, gimana talaknya?" Rifa'i duduk dan Anin sebenarnya dia ingin berbicara sekarang.
"Nak, kedatangan kamu ke sini mau apa?"
"Gini Pah, ini aku bawa surat ini." Anin merogoh amplop yang ada di tasnya dan di letakkan dekat Papah Rahmat.
"Apa ini?"
"Baca dulu Pah!"
Pertama-tama ada tulisan kop suratnya yaitu Rumah Sakit H*****.
Dan papah Rahmat membuka semuanya, ada di sana tulisan positif hamil.
"Allhamdulilah, papah punya cucu."
Rifa'i terkejut dan merebut kertasnya, benar isinya positif hamil.
"Kenapa Anin hamil? Di saat begini, ya Allah... Apa aku harus mencabut omonganku?" Ucap Rifa'i di dalam hatinya dengan menyesal.
"Selamat pagi om." Putri yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah dan memecahkan suasana yang masih tegang bagi Rifa'i.
Putri menyalami tangan papah Rahmat, tetapi Papah Rahmat menolaknya dan memilih menjauh.
Putri melirik Anin yang duduk dan menundukkan kepala, "eh ada si perempuan yang di jadikan istri buangan ni. Apalagi nggak bisa hamil, apa yang mau di harapkan lagi dari perempuan ini?" Putri menyindir Anin dengan kencang. Membuat darah Papah naik seketika dan menampar pipi halus Putri.
"Plakkkkk..." Bunyi yang sangat kencang, membuat Anin iba dan merasa kasian kepada Putri, tetapi dia memang pantas mendapatkan seperti itu.
"Kenapa kamu ngomong seperti itu?" Papah Rahmat tidak terima dan Putri terkejut, mendekati Rifa'i.
__ADS_1
Putri menangis untuk mencari perhatian kepada Rifa'i, Rifa'i membantu Putri untuk berdiri dan duduk di sofa.
"Apa maumu? Saya nggak akan memberikan restu saya kepada kamu dan saya nggak setuju kalau kamu menjadi menantu saya! Kamu itu mempunyai akal bulus yang nggak bisa di ketahui orang lain. Saya tau itu semua," papah Rahmat mulai naik darah dan memuncaki pertandingan.
"Mas aku mau kamu pilih dia atau aku?" Putri benar-benar sudah muak dan ingin segera pergi dari rumah ini.
"Jawab mas!" Putri menangis dan menyeka air matanya, sedangkan Anin hanya diam. Dia bisa menerima apa yang akan di katakan Rifa'i?
"Ini apa?" Putri menyerobot kertasnya dan membaca demi kata perkata.
"Ooo, jadi perempuan ini hamil. Palingan hamil sama orang lain nih yang pasti, nggak mungkinlah masa beberapa hari udah nggak melakukan itu-itu." Putri tertawa di dalam hati dan meremas kertasnya, membuang kertasnya ke hadapan Anin.
"Siapa perempuan ini sebenarnya?" Anin membatin di dalam hati dan melirik Putri dengan sinis.
"Oh iya kita belum kenalan ya, nama aku Putri Johnson. Kamu namanya siapa?" Dengan wajah pura-pura tidak tau dan Anin terkejut dengan nama belakangnya, yang selalu wara-wiri di televisi namanya itu.
Ya, Putri Johnson merupakan anak tunggal dari konglomerat yaitu Revino Dalbert Johnson dan Kylie Olivia Johnson. Beritanya yang selalu wara-wiri kemana-mana.
Ada juga yang membahas, bagaimana bisa orang-orang yang di sekitar seperti wartawan, mereka tidak tau dengan wajah asli Revino Dalbert Johnson? Yang mereka tau cuma media sosial yang selalu menggembor-gemborkan beritanya.
Katanya ada juga yang mendapati Revino Dalbert Johnson sekarang entah hilang kemana? Seperti bak di telan bumi.
Yang hidup cuma istrinya dan anaknya.
"Apa bener kamu hamil?" Rifa'i angkat bicara akhirnya, dengan tatapan dingin dan tajam. Membuat semua memandang ke arahnya, Anin menganggukkan kepalanya.
"Mas jangan percaya sama dia! Pasti ini akal-akalannya, dia hamil sama laki-laki lain mungkin, ataupun itu." Putri mencoba beberapa kali untuk memengaruhi Rifa'i dan Rifa'i mencoba berpikir jernih.
"Apa yang di katakan Putri ada benarnya atau tidak? Aku harus bagaimana? Apa aku harus menarik ucapanku yang sebelumnya? Berilah jalan yang benar, ya Allah." Rifa'i meminta petunjuk di dalam hatinya dan memandang Anin yang sedikit berisi badannya.
"Aku udah memilih untuk tetap bersama Putri, karena dia memang benar-benar mencintaiku daripada kamu." Anin terkejut dan Papah Rahmat juga, kepalanya serasa ada guncangan yang hebat. Papah Rahmat limbung dan pingsan di atas lantai, Rifa'i dengan cepat bergerak.
"Pah... Papah kenapa?" Rifa'i menggerakkan badan Papahnya, tidak bergerak sama sekali, tetapi nadinya tidak teratur.
"Mang... Mang Jalal, Mang Darso..." Rifa'i memanggil mereka dengan cepat mereka menghentikan makannya, mang Darso tersedak-sedak dan dia akhirnya minum sedikit, dengan terbatuk-batuk.
Ya allah sungguh miris...
"Cepat bawa ke rumah sakit!" Mang Darso dan Mang Jalal memapah Papah Rahmat ke mobil, sebelumnya sudah di siapkan di teras.
__ADS_1
Membuat semua orang bergerak cepat di rumah, sedangkan Anin dan Putri ada di sana.
"Kamu nggak boleh kemana-mana! Jangan ikut! Kalau kamu ikut akan membuat semuanya jadi kacau dan berantakan." Ucap Putri dengan melangkah cepat, Anin menangis dan limbung tubuhnya ke sofa, untung saja di bantu Bi Ijah dan Bi Isah.
"Non, non yang sabar ya. Non harus kuat, jangan sampai non lemah gara-gara kejadian tadi non!"
Ucap Bi Ijah dengan mengelus-elus punggung Anin dan Bi Isah mengambilkan minum untuk meredakan semuanya.
"Di minum dulu non!" Bi Ijah membantu untuk memegang gelasnya dan Anin meneguknya.
"Kenapa? Kenapa Tuan Rifa'i memilih Mbak Putri ketimbang Nona Anin?" Ucap Bi Isah dengan memikir-mikir dan Bi Ijah mencubit tangan Bi Isah.
"Awww... Kamu ini–."
"Ssssttt... Udah, diem bentar napa!" Bi Ijah pusing karena Bi Isah blak-blakan langsung dengan keadaannya seperti ini.
Emang Bi Isah biangnya kerusuhan, kalau masak dia emang jagonya masak, tapi kalau soal ngomong juga.
Anin menangis dengan keras dan terdengar oleh semua orang yang bekerja di sini, nggak papa asalkan nggak itu-itu. Yang penting rumah aman dari emosi Anin.
"Sabar Non, non harus kuat! Kalahkan semuanya Non, kita hempaskan. Jangan sampai kita di jadikan bahan buat kue non!" Bi Isah menyemangati Anin dan Bi Ijah meliriknya dengan tatapan kejam.
Ingin sekali memotol mulut Bi Isah.
"Aku mau pulang, nggak kuat aku di sini." Anin berdiri dan melangkah keluar, tetapi di cegah oleh Bi Ijah.
"Jangan non! Kita semua sayang sama non, non jangan pergi! Bibu di sini kesepian non, kalau nggak ada non. Siapa lagi yang mau bantu Bibu Non?" Bi Ijah setiap hari kerjaannya nggak beres, selalu ngeluh dan ngeluh. Apalagi suaminya yang selalu kena omelannya?
"Nggak bu, aku nggak kuat. Aku urus aja anak ini sendiri, jangan harap kalian semua bertemu dengan saya kembali!" Anin melangkah dengan sedikit berlari dan membuka gerbangnya, memberhentikan taksi. Anin masuk ke dalam taksi dan semua orang yang bekerja di rumah Papah Rahmat melihatnya dengan tatapan sedih.
Karena Anin adalah perempuan yang berjasa bagi mereka, selain Mamah Hajar yang sudah tutup usia. Mereka ingin mempunyai kehadiran bos mereka yang baik.
"Kenapa aku ingin sekali bertemu dengan mas Rifa'i? Aku rindu ucapan lembut mu mas dan usapan kamu mas, tetapi di mulutku serasa kamu laki-laki bajingan nggak punya harga diri mas sebagai laki-laki. Kenapa? Ya Allah kuatkan hambamu ini." Anin menangis dan rintik-rintik hujan mulai membasahi bumi, menangislah Anin. Saksi bisunya ada sopir taksi dan hujan ini.
Sulit untuk jauh dan sulit untuk mendekat.
Apa yang di harapkan lagi? Dunia emang ada sempitnya kadang meluas hatinya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Rating Lima, dan Komentar Positif ☺☺☺
Terima kasih semua yang mau menunggu kelanjutan cerita ini🙏💕