
Happy Reading 📖
Setelah pulang dari sholat tarawih di masjid, Anin leyeh-leyeh duduk di kursi dan menatap televisi.
"Nin, makan lagi ini lho daripada lemes begitu." Tawar bude dengan menyampirkan kerudungnya dan mengucir rambutnya seperti ekor kuda.
"Iya bude, kekenyangan nggak bisa sahur nanti. Malah tidur terus," jawab Anin dan Pakde menyenggol tangan Anin.
"Kamu kenapa kok sepertinya ada yang mau di sampaikan tapi kayaknya nggak mau di sampaikan gitu." Ucap Pakde membuat bude bertanya-tanya di dalam hati.
"Iya, ada apa nak?" tanya bude, semakin memojok dan Anin menghela napasnya begitu panjang sampai semua orang terbau dengan kebususkan mulut Anin.
Yang bau seperti pete.
"Begini bude, Pakde. Aku tadi sempet bertemu sama papah," membuat bude menyemprotkan perkataan kepada Anin.
"Anin kamu ini gimana sih? Itu masih kamu anggap sebagai papah, udahlah nin kejar masa depanmu. Bentar lagi juga ada laki-laki yang akan melamar mu, masa kamu membiarkan masa lalu mu akan menjemput kamu juga." Ujar bude dan Pakde juga menatap tajam ke arah Anin.
"Benar perkataan bude mu nin, Pakde udah nggak setuju kamu bahas masa lalu mu. Apalagi kamu ini sudah di buang secara permanen, maksudnya secara resmi dari keluarga mereka Nin." Ucap Pakde dengan menyetujui perkataan bude.
"Ya Allah sepertinya mereka sudah nggak percaya lagi dan apa aku harus menolak secara mentah-mentah terhadap papah. Aku malu karena waktu itu aku menjadi menantunya pura-pura baik. Nanti mikirnya malah ke situ lagi. Gimana yah?" Anin bertanya-tanya di dalam hati, apalagi picingan mata bude dan Pakde sepertinya tidak suka betul sama keluarga itu.
"Kamu mau bahas sampai mulut kamu penuh dengan air liur, bude sama pakde nggak izinkan kamu buat bertemu dengan bapak itu. Bude udah nggak sudi punya keluarga seperti itu." Ucap bude dengan geram dan memungkinkan untuk sunggut-nya bisa berdiri.
"Iya 'kan besok sudah puasa bude. Sebaiknya puasa itu saling memaafkan dan memahami keadaan yang sebenarnya bude, pakde. Kasian papah, tidak ada teman untuk bercanda tawa. Dan papah juga merindukan hal kasih sayang dengan salah satu keluarganya bude, pakde." Ujar Anin membuat Pakde memicing tidak suka dan memilih untuk meninggalkan Anin bersama Bude.
"Anin, bude sama pakde sudah sepakat dari dulu. Kalau kamu mau pergi silakan! Tapi, jangan harap kamu kembali lagi ke sini! Bude tidak akan membalikkan hati bude untuk mu. Maupun semua pendapat yang kamu lontarkan, bude dan Pakde tidak akan pernah sesekali pun akan memutus sama mengubah pendapat kita."
Deggghhh...
Begitu perkataan yang menusuk di hati, sampai bude bisa mengucapkan perkataan yang tidak di pungkiri kembali.
Apakah papah akan selalu menerima Anin?
Jangankan papah sendiri, papah saja sudah sakit-sakitan!
Apa Anin harus menemui Putri dan Rifa'i, untuk mengatakan keadaan sebenarnya tentang Papah? Anin ragu soalnya, papah dengan cepat pasti akan mengetahui. Kalau janji yang selalu di ingat dan di simpan di hati, menjadi simpang siur bagi Anin.
__ADS_1
"Iya bude," jawab Anin. Anin sudah pasrah, jika baginya meninggalkan rumah ini. Maka dia akan tinggal dimana?
"Hem kamu tidur saja, besok bangun sahur lebih awal sedikit. Jadi, tidur juga lebih awal nak. Bude mau buatkan kopi Pakde dulu." Anin mengangguk dan mengambil telengkung yang dia letakkan di kursi.
"Hem, tidur aja lah. Dari tadi udah nguap-nguap aja." Anin melangkah masuk ke kamar, menguap beberapa kali. Matanya udah 2 watt lagi untuk hidup dan telengkung ia cantolkan di lemari menggunakan hanger.
Dan, langsung naik ke atas ranjang.
Menyelendot di kepala ranjang dan mengambil handphone di laci.
"Ya Allah banyak banget notifikasi dari Pak Aksa, maaf ya Pak. Tadi, nggak sempet buat pegang handphone." Ucap Anin dengan duduk dan sambil mengetikkan sesuatu.
From Pak Aksa : Kamu dimana aja nin? Kok dari tadi di chat nggak di bales.
Me : Iya, maaf Pak saya tadi nggak sempat buat pegang handphone. Sekali lagi maaf ya pak.
Cepat sekali mengetik nya, palingan sudah punya stok ide buat membalas pesan whatsapp.
From Pak Aksa : Baiklah saya maafkan, oh iya pesan dari grup sepertinya kamu belum baca. Jadi baca sekarang ya! Penting sekali pesannya soalnya.
Hah, pesan apaan. Waduh, segitu banyaknya. Baru aja masuk ke grup yang sudah ada atasan sekaligus manager-manager.
What ini? Anin terkejut kalau dirinya besok akan di angkat menjadi sekretaris pribadi Pak Aksa. Pantas saja Pak Aksa bilang kalau ada yang penting, wihhh... Jadi berita hot terpanas di kantor ini lah.
****
Anin saking keasikan chating bersama Aksa nggak tau waktu, ini sudah jam 11 lebih dan Anin masih bersemangat untuk membalas pesan.
From Pak Aksa : Kamu tidur lah, besok sudah mau puasa ini. Lagian nanti kamu mau sahur dan harus bantu ibu kamu buat masak apa nggak!
Wah, Anin lupa kalau dirinya besok di suruh buat membantu budenya.
Me : Iya Pak, saya lupa. Tadi, di suruh tidur cepat. Malah sekarang keasikan sama bapak. Jadinya lupa tidur, ya udah Pak. Saya ucapkan selamat malam Pak, tidur dulu ya pak.
Setelah begitu Anin mematikan data dan langsung cepat ke kamar mandi. Menggosok gigi, dengan cepat dan naik ke ranjang.
Berdo'a terlebih dahulu sebelum tidur, itulah hal rutin yang selalu Anin lakukan setiap hari.
__ADS_1
"Bissmillah..." Anin menarik selimut dan selamat bertidur Anin.
***
"Sahur... Sahur... Sahur... Sahur," Ucap toa yang di masjid. Karena orang yang membangunkan sahur selalu mendapatkan pahala yang berlipat ganda.
Anin nggak bangun-bangun sampai di gedor beberapa kali sama bude-nya, padahal janji Anin dari kemarin sudah di ingatkan beberapa kali sama bude-nya.
"Aninnnnnnnnn..." Teriak bude dengan keras dan Anin mengerjap beberapa kali.
"Astagfirullah astagfirullahalazim ya Allah." Sampai mengucap beberapa kali dan membasuh wajahnya terlebih dahulu di kamar mandi.
"Iya bude sebentar," ucap Anin dan berjalan sempoyongan, membukakan pintu dan bude sudah mengucurkan keringat yang begitu deras di wajahnya.
"ASTAGFIRULLAHALAZIM Anin, kamu itu janjinya nggak bisa di percayai. Sudah sekarang kamu bantu bude, tinggal masak aja. Bude serahin sama kamu," ucap bude dan Anin mengangguk mengerti.
Memakai kerudungnya dan berjalan, membuntuti budenya di belakang.
"Untung aja Pakde nggak kebangun nin, kalau nggak. Pakde nggak akan sahur," ujar bude membuat Anin semangat untuk memasak.
Dan ia langsung mengambil wajan dan di letakkan di kompor, "minyaknya sedikit aja."
"Baik bude." Sahut Anin.
Setelah beberapa menit kemudian, semuanya telah tersaji di depan mata. Anin menyiapkan minum dan piringnya.
Sedangkan, bude membangunkan Pakde untuk segera sahur.
Semua orang sudah di depan meja makan dan Pakde yang di ambilkan sama bude lauk, nasi, dan sayur mayurnya.
Bersambung...
Jangan lupa like dan komennya teman-teman
😊😊😊
Selamat berbuka kalian yang sudah berbuka, da juga yang menunggu juga harus sabar ❤️❤️❤️
__ADS_1
Terima kasih 😌🙏