Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
– S2 – Episode 53. Rahasia Apa?


__ADS_3

-Apakah ada yang di rahasiakan selama ini? Ataukah ini masalah rumah tangga ku, bisa jadi nanti Pakde akan menjawabnya.-


« Anin Fitri Ani »


Happy Reading


Anin menyiapkan beberapa baju untuk besok ia pakai di kantor, semua bajunya tidak ada yang bagus untuk di pakai di kantor, tapi kalau di kantor enaknya pakai celana panjang.


"Assalamu'alaikum, nak. Pakde boleh masuk?"


"Iya, pakde. Masuk saja! Pintunya nggak di kunci kok," Pakde masuk ke dalam dan tersenyum melihat semangat Anin yang luar biasa untuk bekerja di perusahaan yang nggak tau asal-usulnya.


"Nak, makan dulu... Kamu dari tadi kok di kamar saja, nggak suntuk apa?"


"Nggak Pakde, aku coba mau siapkan beberapa barang. Siapa kali nanti bisa kepakai atau nggaknya nanti." Tutur Anin dengan mencari bajunya yang buat besok.


"Kamu cari apa? Kok bingung," pakde menatap gerak-gerik Anin yang bingung mencari barang, entah itu apa yang di cari?


"Pakde, ini apa? Baju yang kemarin itu kan aku udah setrika terus udah aku masukkan ke lemari, tetapi kok nggak ada ya Pakde." Jawab Anin, dari lemari atas sampai bawah ia cari, tapi nggak ketemu-temu.


"Coba cari satu-satu nak! Apa pakde panggilkan bude buat suruh mencari baju kamu itu?"


"Nggak usah Pakde. Nanti Bude kecapean gimana? Soalnya tadi kan Bude sempet bilang capek, terus ngeluh sama Pakde tadi." Ucap Anin, dia tidak mau kalau Budenya ngamuk. Karena dari tadi pagi, Bude membuatkan pesanan kue yang begitu banyak, sekitaran 50 kotak boxs dan itu makanannya berbeda-beda, harus ada 5 makanan yang berbeda.


Biasanya, Anin yang membantunya dan membungkuskan kue-kuenya. Hari ini emang Anin melamar pekerjaan dan hari ini juga kue itu pesan dengan sendirinya. Kan jadinya, kasian Anin sama Budenya.


"Yaudah, kalau begitu cari satu persatu ya nak. Jangan sampai nanti kamu kecapean buat mencari satu barang saja!"


"Iya Pakde, insya Allah nggak capek kok. Asalkan Pakde nyemangatin aku, nggak papa kan Pakde. Pakde emang penyemangat bagiku." Puji Anin, Pakde mengelus tangan Anin dan sebenarnya ada yang ingin dia bicarakan sekarang, tapi dan tapi sepertinya besok-besok saja.


Karena hal ini menyangkut masa depan Anin, Pakde nggak mau sampai merahasiakan ini semua sampai kebawa mati dan sangatlah sulit bila nanti sudah sakit-sakitan, waktunya sekarang lah yang pas untuk berbicara.


"Nak,"

__ADS_1


"iya... Pakde, ada apa?"


Anin melanjutkan cari barangnya sampai dapet, jangan sampai besok memakai baju yang tidak sopan dan membuat para kaum laki-laki bisa tertarik dengan Anin!


"Begini, pakde mau bicara soal rahasia yang menyangkut masa depan kamu nak."


Anin terdiam sejenak dan mendongakkan kepalanya ke arah mata Pakdenya.


"Sini dulu nak!" Ajak Pakde menipuk ranjang, Anin mendekati Pakde dan duduk di atas ranjang.


"Ada apa Pakde? Rr-aaa-haa-sssi-iiaa, apa?" Dengan terbata-bata Anin mengucapkannya dan menatap manik mata Pakdenya.


"Apa ini membahas masa lalu ataukah rumah tangga ku bersama mas Rifa'i dahulu." Batin Anin dengan dag-dig-dug-der hatinya sekarang. Takutnya Pakde akan membongkar rahasia selama menjalankan rumah tangga bersama Rifa'i.


"Astagfirullah, bapak. Bapak ternyata di sini, ibu cariin dari tadi." Bude masuk ke kamar Anin dan Pakde menghela napasnya.


"Ada apa kalian berdua ini? Kok kayaknya ada yang di rahasiakan ini yang pasti."


"Bude dengarkan dulu ya! Perkataan apakah yang akan di ucapkan sama Pakde." Ucap Anin, Anin memberikan jalan untuk Bude duduk di tepi ranjang.


"Nggak, itu apa? Tadi, itu Anin katanya ada barangnya yang hilang gitu."


Pakde langsung keluar dengan sedikit berlari, Anin kesal dengan Pakdenya, udah di tunggu tapi main kabur saja. Awas sekalian nanti minta uangnya dan bisa bongkar apa rahasianya?


Apakah karena Bude masuk ke kamar begitu? Ya, nggak mungkin kan tadi aja mau ngomong kayak nggak kayak iya. Modelnya setengah, setengah.


Bude melayangkan tangannya ke udara, seraya Pakde untuk berhenti tapi kalah cepat dengan Pakde. Pakde sudah mengeluarkan motornya dari garasi dan keluar entah kemana?


"Yaelah padahal mau di suruh beli bakso mercon di perempatan jalan, kan seger panas-panas begini. Jadinya, pingin yang anget-anget." Ucap Bude dengan menyesal, Anin mengangguk dan mendekati Budenya yang di meja makan. Dia tadi mengintil Budenya yang keluar, mengejar Pakde tadi.


"Bude mau makan bakso?"


"Iya, kamu mau belikan?"

__ADS_1


"Hooh, boleh juga bude aku mau."


"Uang kamu?"


"Hehehe, ya nggak lah Bude. Mana ada uang kantongku, baru besok mulai kerja." Jawab Anin, Bude mengeluarkan uang biru dan mata Anin langsung membiru.


"Jangan di habiskan! Ini sisanya buat besok kamu, uang jajan besok. Dan setengahnya lagi buat beli bakso mercon empat bungkus."


Hah, yang ada nggak cukup. Anin bisa tombok uangnya lah. Aduh, ini Bude bisa nggak kalau pesan bakso itu tiga mangkok.


"Emangnya yang satunya buat siapa Bude?"


"Buat satiman-"


"Ha... Siapa itu Bude?"


"Iya, Bude lah siapa lagi kalau bukan Bude yang makan. Kamu mau dua mangkok?"


Anin mengangguk dan merenges, rasanya tengkuk belakangnya gatal.


"Berarti nama Bude satiman...."


Anin langsung menancap gas pergi dan Bude baru saja mau marah. Masih terpendam amarahnya, belum mbleber kemana-mana.


.


.


.


Bersambung


Jangan lupa berikan Like dan komennya yang positif 😊😊😊

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir dan memberikan dukungannya 🙏💕


__ADS_2