Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
Episode 93. Tanggal Pernikahan


__ADS_3

Menentukan hal seperti tanggal pernikahan, bukan hal yang sepele dan mudah untuk di dapatkan. Sepertinya, harus menurut adat istiadat maupun budaya sekitar orang situ.


"Bagaimana? Sudah ada atau belum, Pak?" Setelah acara di bubarkan, dan selesai acara pun mereka berdiskusi tentang tanggal pernikahannya.


Segera di tentukan, supaya tidak rumit-rumit untuk menemukan arah jalannya pernikahan.


"Kurang lebih seminggu ini,"


Ha?


"Yang beneran, Pak?" Ujar Ayah Aksa. Memastikan apakah benar? Jika, benar bukan salahnya, kalau harus mendadak seperti ini.


"Nggak ada bulan depannya lagi, Pak? Apa nggak setengah bulan, deh. Ini terlalu kedekatan waktunya, mepet sekali." Aksa inginnya rehat dulu sebentar, dan tidak selalu seperti ini.


Ia tidak bisa jika waktu pernikahan selalu mepet, dan dirinya pun tidak sanggup.


"Ya, kalau nggak mau berarti tahun depan dong. Ya nggak malu emangnya? Lamarannya sekarang, tahun depan nikahnya?"


Bapak satu ini, membuat Aksa pusing. Gemeteran, jika ingin menikah tetapi kenapa harus tahun depan?


Ia malu, menanggung ini. Apalagi lamarannya sudah terlaksana dengan baik di hari ini, dan tanggal pernikahan?


Kenapa tahun depan? Nggak sekalian seabad langsung, biar nggak terlalu menunggu lama untuk rapuh dan runtuh.


"Sudah nanti, biar Ayah saja yang meng-handle, cukup kamu urusi pernikahan ini! Ayah akan berbicara dan bisa nanti, ada waktu untuk preweddingnya sekalian menyiapkan itu dengan baik-baik." Pakde dan Bude, menurut. Tidak ada pepatah sekata yang beralasan keluar dari mulut mereka.


"Sekali lagi ya minta maaf, saya cuma menyampaikan ini dengan tanggalan saya. Dan kalau kalian ke sana, sini pastinya akan tetap sama tanggalan nya."


"Iya, saya menerima. Nggak mau saya menunggu tahun depan, segera menikah akan baik hasilnya. Dan tidak terlalu lama untuk menunggu," Anin berdiam.


"Gimana dengan keluarga pihak perempuannya? Apakah setuju?"


"Baik Pak, iya terima kasih kalau sudah menetapkan tanggalnya dengan hasil yang tidak tepat, tapi mau gimana lagi?" Jawab Pakde.


"Kok gini amat ya," sesal Aksa.


"Hahaha... Sudah terima saja!"


Setelah itu, akhirnya mereka menerima dan mereka pun di ajak makan bersama. Dan sudah malam, ini akan menjadi tempat penginapan mereka.


"Ya Allah secepat itu kah aku harus menikah dengan mas Aksa... Apa kata orang-orang nanti di kantor? Apalagi orang-orang kantor yang di undang cuman orang-orang itu, dan temanku yang ada di bawah itu gimana perasaannya nanti?" Anin mengusap selimutnya dan beranjak bangun, sebelah kamar ada Bude dan Pakdenya. Sebelah sananya lagi, kamar Aksa.


Anin memikirkan, cepat atau lambat pula berita itu terbongkar di seluruh kawasan majalah maupun koran, dan teman-temannya juga akan mengetahui jika ia menikah dengan bos mereka di perusahaan.


Semoga saja teman-temannya bisa menerimanya dengan ikhlas, walaupun awalnya sakit hati mendengar kabar ini.

__ADS_1


Anin membuka sosmed dengan cepat, dan benar berita dalam sekejap pun langsung ada yang memberitahukan.


Link dan itunya yang pasti orang-orang yang tadi, dan ini?


Grup whatsapp pun penuh dengan canda tawa, ada yang menghina Anin, mencaci sampai ingin rasanya Anin menyumpalkan tai kambing. Biar jadi kayak bulet-bulat, lonjong.


Hati Anin sakit, apalagi jika ini adalah grup semua karyawan, ia belum keluar dari grup itu dan tidak ada yang tau, maupun atasan, dan manager perusahaan, beda grup whatsappnya. Secara ini membahas kepentingan pribadi.


"Hah... Sabar nin, kuaattt..."


Bagaikan lidah yang menempel kuat-kuat, pekat dan cekat sekali rasanya. Tenggorokan serasa ingin minum, tetapi sakit sekali hatinya.


Pastikan aman terkendali jika dia masuk ke kantor nanti, dan undangan?


Wah, undangan pastinya akan tersebar di beberapa majalah dan link-link yang ada di pemberitaan, dan dapat di ketahui berita itu akan menjadi pembicaraan yang hangat sekali. Saking hangatnya, Anin tidak bisa membayangkan.


"Aduh, nggak usah buka handphone. Mending sekarang di kamar mandi!" Anin lantas bangun dari ranjang, ingin melangkah tetapi ada suara ketukan pintu membuatnya beralih ke arah pintu.


"Siapa yang datang? Ini masih jam delapan, pastinya nggak ada orang yang iseng ya." Niat membuka, tetapi ia urung.


Dadanya semakin sesak nanti, ketika ada orang lain yang mengatakan, dan berita itu sudah tersebar kemana-mana.


Anin melangkah lebar menuju kamar mandi, menghidupkan kran kamar mandi.


***


Aku bukan laki-laki yang selalu berharga di setiap perempuan, tetapi aku bisa untuk menghidupi dan melayani setiap apa yang di butuhkan oleh sosok perempuan yang ku cintai, sebagai umi untuk anak-anak ku, dan berharap semoga kamu bisa menjadi istri yang ku harapkan. Ridho mu juga ridho ku, balikan semuanya hanya pada Allah swt.


Aku memang memikirkan, ini apa cara yang tepat untuk hidup sesudah masa lajang ku aku lepaskan.


Apalagi dengan perempuan yang sudah mempunyai suami, dan semuanya di luar nalar ku.


Ketika aku bertemu sosok perempuan yang sudah membuat ku jatuh cinta dengan perempuan itu.


Kenapa perasaan ini tiba-tiba saja muncul, sampai saat ini?


Aku salah ternyata perempuan yang sudah mempunyai suami, dan sudah bercerai akan selalu seperti semulanya lagi.


Bercerai, cerai, cerai, talak, talak...


Nggak, salah aku pinginnya rumah tangga itu selalu nyaman dan hangat. Tetap saja, pengaruh di dunia nyata memang sungguh tidak bisa di abadikan lagi, nafsu dan seberat apapun masalahnya sepertinya tidak ada satu orang pun yang bisa melewatinya, dan sembilan puluh sembilan persen, orang itu di sebut suami yang hebat.


Pintu kamarku terbuka lebar, ada dua orang yang sudah berumur dan bisa di katakan mereka berdua menyayangi sejak kecil dan berada di kandungan ibu, mereka mampu bertahan hingga kini karena mereka ingin melihatku bahagia bersama perempuan yang mencintai ku.


"Bu, Yah."

__ADS_1


Aku memeluknya, ibu dan ayahku hanya tersenyum tipis. Ada derai mata yang tidak di bendung dari mata ibu, perempuan yang melahirkan ku dan saat ini pula beliau harus bisa melepaskan ku untuk perempuan lain.


Perempuan yang pertama, dan selalu memprioritaskan keluarga, bukan pekerjaan.


Ayah, yang selalu banting tulang untuk mencari nafkah dan menghidupi keluarga, walaupun lelah dan letih yang beliau rasakan hingga sekarang, tetap saja mempunyai waktu untuk keluarganya.


Yang beruban, sudah keriput, dan awal seperti semula, usiaku sudah benar-benar matang untuk menikah.


"Nak, maafkan ibu sama ayah nak. Kalau selama ini belum bisa membahagiakanmu, tetapi kamu sudah sukses dengan cara mu sendiri." Ibu meneteskan air mata.


Ayah yang di samping ibu, menguatkan hati ibu. Ya, Aksa suskes dengan caranya sendiri. Kuliah, dengan gelar menjadi seorang CEO, dan merintis perusahaan dari awal, dulunya aku di bantu oleh seorang kakek-kakek, yang entah sekarang beliau ada di mana?


Aku selalu mengingat beliau, dan entah kenapa beliau berjasa atas semuanya. Memberikan modal untuk membangun usaha kecil-kecilan dan aku membangun perusahaan cukup tidak mudah, semuanya di lewati hingga sekarang.


Cita-cita ku ingin membahagiakan orang tua, dan bisa memberangkatkan ayah sama ibu ke tanah suci kota Mekkah. Untuk itu aku dari sekarang punya nazar, dan aku akan tepati itu semua.


Akan berangkat bersama dengan istriku, dan bisa menjadi kenangan yang terindah untuk selalu di ingat sepanjang masa.


Mereka, sudah menjalani itu tidak mudah. Sekarang mereka, orang-orang yang di segani oleh masyarakat, dan bisa menjadi panutan masyarakat. Setiap keagamaan, ada acara di masjid maupun itu bersedekah, mereka lakukan dengan ikhlas tanpa ada sedikitpun rasa untuk di balaskan lagi.


Maaf jika aku belum bisa menjadi anak baik, dan aku seorang anak yang tidak bisa mengaji maupun sholat itu kadang di laksanakan dan kadang-kadang pula lupa.


Apa aku pantas untuk menjadi anak dari seorang haji dan hajjah, jika sikapku belum sempurna di dunia ini?


Tidak, aku harus menyempurnakan itu dengan belajar dari mereka.


Aku tidak boleh membanggakan diriku, selagi diriku masih ada salah dan belum sempurna. Setiap orang di dunia ini tidak ada yang sempurna, sempurna di dunia tetapi di akhirat?


Tidak.


Orang tuaku saja tidak pernah namanya membanggakan hasilnya maupun hasil yang ku dapat, mereka selalu mengingatkan. Ingat di dunia ini cuma ada tiga waktu, dan itu berharga untuk setiap hidup masing-masing. Pahala, kurang, mau gimana lagi? Yang di banggakan apa coba? Orang tuaku juga belum sempurna karena aku belum menyempurnakan dari setengah pahala mereka.


"Yah, bu. Bagaimana besok kita lakukan prewedding? Buat undangannya," aku memilih untuk hari besok, karena undangan yang tersebar pun banyak.


Dan aku tidak bisa bayangkan, jika undangan yang begitu banyak di buat satu hari.


Pastinya tidak bisa.


"Iya, nak. Ayah sudah mengurus semuanya, dari pernikahan dan itunya sudah di urus kok. Kita tinggal jadinya saja, nggak usah repot-repot ke sana-sini." Ayah pastinya sudah menyuruh orang-orang yang sudah di percayai untuk mengurus pernikahan ku ini.


Author POV- Sambung episode selanjutnya-


Bersambung...


Jangan lupa like dan komennya 😊

__ADS_1


Terima kasih 😌🙏


__ADS_2