Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
Season 3- Episode 72


__ADS_3

...Hallo.......


...Apa kabar?...


...Nyapa lagi....


...Hm typo komen ya!...


...Jan lupa Komen dan Like!...


...Errr......


...***...


...Happy Reading... ...


...***...


Aksa sekarang dihadapannya ada satu orang tua yang sama sedang memohon kepadanya untuk menemukan dirinya dengan istrinya.


Aksa sampai beberapa kali berdecak agar orang dihadapannya itu tidak mengemis untuk menghalalkan segala cara agar bisa mendapatkan hati anaknya sendiri.


Anak yang dibuang.


Anak yang nggak pernah diliat sampai dimana dia lahir pun tidak tahu belang hidungnya sama sekali.


Aksa sempat berpikir ini orang apa bukan. Keji amat, sebanyak-banyaknya masalah kalau anak ya harusnya diakui dong bukannya malah menyiakan.


“Tuan Revino saya bukannya tidak mau, sebaiknya anda harus jujur sendiri. Tapi, kalau menurut saya lebih baik anda nggak usah bertemu selamanya dengan anak anda.” Aksa mendesis, ia kalau jadi istrinya seperti ini mungkin nggak pernah akan ia akui sebagai ayahnya sendiri apalagi ini ayah mertua, tidak pokoknya.


Bukan berarti Aksa sebagai menantu tidak membantu, mengingat itu semua bukti dari kelamnya masa lalu mereka. Masa iya Aksa ikut-ikut terbawa dalam masalah mereka.


Atensi Aksa berubah tertuju pada handphone yang di samping laptop di meja dan ia mengambilnya dengan langkah panjangnya. Melihat tertera nama istrinya, ia mengangkat teleponnya.


“Halo. Ada apa?” tanya Aksa tanpa mengucapkan salam.


Aksa tidak mengucapkan salam bukan berarti Anin marah, hanya saja diawali dengan salam kan enak.


“Assalamu’alaikum, mas. Kamu ada di mana sekarang?” suara di seberang telepon.


Aksa terkekeh, sementara laki-laki yang sedang bangkit itu duduk di soffa dan menyimak pembicaraan Aksa.


“Wa'alaikumsalam. Eh sayang, mau apa kok nelpon?” Ia tak menjawab pertanyaan istrinya, melainkan sekarang dia giliran memberikan pertanyaan.


Matanya tak terhenti dengan laki-laki yang sedang mengeratkan tangannya satu sama lain untuk menumpu kepalanya.


“Heh berdosa kali, jangan panggil kek gitu! Yang ada garuk-garuk badan nih,” canda Anin di seberang sana dan Aksa tertawa keras.


“Mana yang gatel, sekalian nanti bawa gorokan kotoran sapi itu.”


“Ah iya. Nanti kita berangkat bareng-bareng, heheh ... oh iya mas sekarang jadwalnya buat chek-up ke dokter buat mastiin kandungan ku.” Ucap Anin dan Aksa mendengarnya melotot.


Kok bisa dia lupa chek-up istrinya hari ini, dasar suami durhaka mungkin kali ya!

__ADS_1


Begitu ya nyindir laki-laki di depannya ini, Aksa saja sudah bosen orang ini tak mengangkat kakinya segera pergi dari ruangannya dan membahas kerja sama. Ia sudah putuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan perusahaan yang dikendalikan oleh laki-laki yang berinisial Revino itu dan Revino masih setia menunggu.


“Iya aku akan pulang,”


“Oke ditunggu, sekalian nanti cari bakso.” Ucap istrinya.


“Iya, ya sudah ini ada urusan dulu yang belum diselesaikan. Oke, assalamu’alaikum istri ku yang gendut dan gemok.” Kata Aksa dan Anin di seberang berdecak.


“Iya, nanti pulang aku gorok kamu mas, wa’alaikumsalam.” Jawab istrinya dan Aksa menyunggingkan senyumnya, ia mematikan sambungan teleponnya.


Aksa kembali menatap orang yang mengaku sebagai ayah mertuanya, bersedekap dada dan mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuk jarinya.


“Gimana tuan? Apa anda masih kekeuh buat menemui istri saya?”


“Iya. Karena saya berhak sebagai ayah, dan istri kamu adalah darah daging saya. Nggak mungkin dia juga tidak mengakui saya sebagai ayahnya, hati pasti akan tergerak buat mengakui saya ayahnya.” Tekad Revino dengan mata tajamnya, di situ menyimpan sebagai kesedihan yang mendalam.


Mengingat jika istrinya sudah meninggalkan dirinya, padahal dirinya akan sukses dan balik ke istri serta anaknya. Bagaimana juga sudah terjadi, nasi sudah menjadi bubur.


Berharap suatu saat nanti ia akan diakui sebagai ayahnya, walaupun ia harus berjuang untuk mendapatkan hati anaknya.


Mau dititik menyerah, sampai titik kematian ia akan perjuangkan.


Aksa menghela napas kasar, tatapan Revino kembali ke lantai.


“Nak, tolong! Ayah bisa bantu kamu apapun itu, syarat apapun.” Dan jujur pandangan apa ini. Mengemis dan seorang Revino, laki-laki yang tak mengenal tolong kenapa sekarang mencari pertolongan dengan orang yang masih di bawahnya.


Meski ia sebagai menantu, tetap harus menjunjung orang yang di depan mukanya ini.


“Ck. Saya nggak suka ya ada orang yang mengemis buat mohon-mohon.” Kesal Aksa.


Dosa nggak sih ngelakuin orang begini?


Aksa lantas membantu laki-laki ini untuk beranjak dan membuat tatapan itu, hati Aksa tergerak.


“Putri saya sedang mengandung. Alangkah sebaiknya saya menemuinya,” keinginan Revino sangatlah besar untuk menemui putrinya.


“Ya nggak bisa gitu tuan. Kalo seumpamanya istri saya yang memikirkan banyak hal, terus tuan bisa bertanggung jawab?” Aksa di dalam hati sampai-sampai berkali-kali mengucap istighfar untuk menghindari apa-apa dengan istrinya.


Revino dengan tatapan dingin serta datarnya pun menghela napas, “Jangan seperti itu nak! Inget jangan ngucapin apapun, meninggalkan jejak apapun. Apalagi yang dihadapan kamu ini sebagai ayahnya, kalau anaknya dikatakan seperti saya sakit mendengarnya nak.” Ucap Revino sebagai peringatan.


Aksa hanya mengangguk tipis.


Iya, di dalam hatinya.


Sebagai suami seharusnya ia membantu bukannya menjauhkan dari jangkauan laki-laki di depannya ini, istrinya putrinya sampai kapanpun.


Mau nggak diakui itu masalah nanti.


Ia pikirkan kembali, masalahnya ia juga berdosa jika seperti ini.


Sedikit mengulik tentang kehidupan mereka. Sebenarnya yang terjadi hanya kesalahpahaman, menurut Aksa agak rumit permasalahan mereka.


Tentang selingkuh ninggalin anak, jelas itu pribadi Aksa akan jadi laki-laki terburuk mendengarnya. Sebagai kaum lelaki harusnya tanggung jawab lah, kok pas besar baru menemui putrinya.

__ADS_1


Kemana saja dahulu, susah terus nangis sampai nggak makan.


Aksa menghela napas, Tuhan saja maha memaafkan maka sebagai kaum manusia seharusnya bisa legowo memaafkan kesalahan apa yang terjadi di masa lalunya.


Ia cuman sebatas menantu.


“Oke, sebagai menantu yang baik sih saya bisa membantu tuan. Lain hal jika masalah memaafkan atau tidaknya itu keputusan putri tuan.” Putus Aksa, mendengarnya Revino tersenyum lebar tak perangkat ia perlihatkan senyumnya untuk menantu kebanggaannya ini.


Ia harus berterima kasih dengan menantunya kali ini.


“Terima kasih nak, kamu memang menantu baik.” Puji Revino menjabat tangan Aksa, lantas Aksa mencium tangan mertuanya. Ia harus menjadi orang yang baik bukan orang yang nggak bisa memaafkan.


Revino tidak ada salah, kenapa dia jadi pendendam.


“Iya tuan,” senyumnya canggung dan Aksa memakai jasnya.


Ia akan segera pergi untuk mengantarkan istrinya chek-up hari ini.


“Oh iya jangan panggil tuan ya! Ayah manggilnya biar enak,” pinta Revino mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes begitu saja, membuat Aksa sedikit ada rasa hati.


Revino tidak ingin ia dihormati sebagai orang asing ataupun partner kerja sama Aksa. Melainkan mertuanya Aksa. Putrinya, istri dari Aksa.


Ia memegang pundak mertuanya, “Iya yah. Maaf kalau Aksa beberapa pertemuan kita nggak mengenakkan ketika bertemu.” Sungkan Aksa dengan meminta maaf dan Revino mengangguk.


“Ayah titip putri ayah dulu, kalau nanti ada waktu ayah sempatkan lagi buat berkunjung ke rumah kalian buat mendekatkan ayah ke putri ayah.” Kata Revino dengan memeluk menantunya sebelum ia pergi.


“Iya yah, pintu rumah akan terbuka lebar buat ayah kok. Oh iya yah, Aksa mau nganterin istri Aksa buat chek-up ke dokter kandungan dulu di rumah sakit.”


Revino tersenyum tipis, “Oke. Ayah juga mau ke kantor, ada pekerjaan yang belum diselesaikan.” Sama-sama ada urusan dan akhirnya mereka berdua pergi bersama, keluar dari ruangan Aksa bersama.


Sampai di depan kawasan perusahaan Aksa, mereka berpisah di parkiran mobil mereka berada.


Aksa sedikit lega, sebab ia tak salah memaafkan orang yang nggak pernah bersalah kepadanya.


“Huh, sekarang harus menanyai Anin dulu. Biar agak nggak terlalu curiga,” kata Aksa membuka pintu mobil kemudian, ia hari ini memang tidak menggunakan sopir pribadinya melainkan ia menyopir sendirinya.


Aksa mulai menjalankan mobilnya, ia hampir saja menabrak mobil mertuanya kalau nggak melihat di depannya karena ia masih memasangkan earpod di telinganya.


Ia lupa untuk meminta sekretarisnya menggantikan pekerjaannya sementara hari ini.


Aksa menghela napas, “Hampir lecet. Bisa aja suruh ganti rugi, ya Allah...” pasrah Aksa dengan muka sedikit memucat dan ketika sudah keluar dari gerbang. Ia pun menjalankan kecepatan sedang.


Tak terasa ia sudah menjalankan mobilnya sekitar kurang lebih tiga puluh menit sampai rumah, ia harus melewati kemacetan panjang tadi katanya ada operasi patuh. Untung saja Aksa terlewati, mungkin polisinya ngerti kalau dia sedang keadaan tertekan dengan waktu.


Agak harus cepet sebelum kena ultimatum istrinya.


Bersambung...


Okee, makasih buat yang dah mampir🤗.


See you next episode ya...


Jangan lupa follow IG Din buat dapet info up apa nggak ☺.

__ADS_1


@dindafitriani0911


 


__ADS_2