
Happy Reading
Rifa'i mendekati nenek Sarifah dan duduk berjongkok di atas lantai.
Mencium tangan dan kening nenek Sarifah. Nenek Sarifah menyambutnya.
Nenek Sarifah pun mencium kening Rifa'i dan memeluk Rifa'i, Anin merasa kalau dirinya sudah di lupakan oleh Rifa'i. Anin tersenyum smirk, dengan begitu Raihan merasakan adanya getaran di hatinya, seketika melihat wajah Anin.
“ Rif, ini siapa kamu? ”
“ Ini istriku bang, namanya Anin. ”
Akhirnya Rifa'i pun mendekati Anin dan duduk di sebelah Anin,
“ Kamu udah punya istri Rif, kok nikah nggak undang aku. Kamu udah lupa sama aku? ”
“ Ya nggaklah bang. Cuma ngundang beberapa aja, nanti kalau resepsi pernikahan aku undang, masalahnya ini lagi kayak gini. ”
“ Keburu hamil Rif, mending resepsinya di siapkan Rif. ”
“ Nggak nanti aja bang. Biar sekalian calon anakku lahir, ”
“ Hahaha... Iya, ”
Anin pun menyalimi tangan nenek Sarifah dan dengan senang hati nenek Sarifah menyambutnya.
“ Nak kamu emang nggak salah pilih istri, istri kamu emang cantik sama baik, nak. ”
Nenek Sarifah mengelus pelan kepala Anin, Anin tersenyum.
“ Hahaha bener Rif, sampe aku terpana lihat Anin. ”
Deg...
“ Kamu ini bang, udah punya aku nih. Kapan juga abang bisa nyusul? ”
“ Hahaha calon aja belum punya Rif, apalagi permintaan ayah sama ibu? Mana kuat perempuan bisa mendekati aku Rif. Soalnya syaratnya berat, wajib bener-bener tulus. Nanti di uji laboratorium Rif... Hahaha, ”
“ Emangnya penyakit atau materi buat uji laboratorium, perempuan lho bang masa kayak gitu... Bisa-bisa nanti perempuannya takut sama kamu bang, ”
Mereka pun tersenyum bahagia dan nenek pun mengulas senyuman.
“ Gimana kabar mamah sama papah nak? ”
“ Allhamdulilah semuanya baik nek, ”
“ Kalau gitu nenek mau istirahat dulu ya, udah waktunya untuk istirahat nek. Mbak... ” Ucap Raihan dengan memanggil mbak Dania sebagai pengurus nenek Sarifah.
“ Iya tuan, ” jawab mbak Dania
“ Tapi nak. Nenek mau sama nak Rifa'i dulu, ”
__ADS_1
“ Nek, nenek istirahat dulu. Apa kata dokter? Nenek harus banyak-banyak istirahat, ” jelas Raihan.
“ Bener nek, nenek istirahat dulu. Nanti baru kita main lagi, ” Ucap Rifa'i.
“ Mbak jangan lupa nanti makannya pakai bubur sama obatnya harus di minum, ya mbak! ” Ucap Raihan dengan mengingatkan mbak Dania.
“ Baik tuan, ”
“ Mari bu! ”
Mbak Dania pun menggandeng nenek Sarifah ke kamarnya.
“ Bang kabar om sama tante gimana? ”
“ Ya allhamdulilah sama-sama baik Rif, kalau gitu kita makan dulu yuk! Udah siang ini jugaan, sekalian sholat dzuhur di masjid. ”
“ Iya, ”
Rifa'i menggandeng tangan Anin, Raihan pun menggelengkan kepalanya.
“ Hahaha jomblo ngenes kek gini ya, di lupakan juga pada akhirnya. ” Ucap Raihan dengan menarik kursi dan menghempaskan bokongnya di kursi.
“ Sampai gandengan tangan tanpa kenal lepas, hahaha... Di kamar mandi terus di toilet pun gandengan tangan. ” Lanjut Raihan.
“ Enak aja kamu ini bang... Emangnya apa? Gini-gini juga menghargai seorang istri, emangnya kamu bang dulu, suka gonta-ganti pasangan. Terus ini ujung-ujungnya jomblo malahan, hahaha... ”
“ Kalau ngomong enak banget... Emang kamu nggak pernah gitu, yang namanya gonta-ganti pasangan. Dulu aja seringan kamu Rif, ”
“ Udahlah ngaku aja jomblo, emang kalau jomblo. Dikit-dikit melirik pasangan lain, pingin kepikiran nikah terus. Tapi, nggak ada pasangannya. Sekalian itu sama tembok aja, pasangan yang bener-bener romantis. Hahaha.... ” Ucap Rifa'i dengan menerima piring yang sudah berisi lauk dan nasinya, yang di ambilkan oleh Anin.
“ Sekalian ini... ”
Raihan menyerahkan piringnya, kemudian di terima oleh Anin. Rifa'i pun mengambil piring yang sudah di bawa oleh Anin dan di letakkannya di hadapan Raihan.
“ Ini... Enak banget kamu bang... Sono nikah, nanti biar aku bicara sama tante dan om kalau kamu mau nikah bulan depan... Sekalian biar bisa mengambilkan kebutuhan kamu bang. ”
“ Eet jangan lah Rif! Aku ini nggak mau kalau nanti ayah sama ibu jodohkan aku lagi, nanti kamu yang jadi bahan taruhan di hadapan ayah sama ibu. Biar kamu sekalian di tanyakan panjang kali lebar, nggak tau aja ayah sama ibu kalau bicara... Bisa-bisa telinga pengang.. ”
“ Iya bener... Kalau bicara melebihi berat beras aja... Satu ton jadikan satu mulut.. Beuh, ”
“ Hahaha... ”
Anin cuma menggelengkan kepalanya atas kelakuan mereka berdua, yang cukup bikin orang naik darah kayaknya kalau ketemu orangnya secara langsung.
Raihan pun mencaruk nasi dan lauknya.
“ Bang gimana kerjaannya? Jangan setiap hari ke rumah sakit, ingat cari jodoh bang! Nanti bisa-bisa kamu tua di rumah sakit lho bang, nggak ada yang mengurus lagi. ” Ucap Rifa'i.
“ Alah kamu jangan kayak gitu Rif! mentang-mentang udah punya istri aja kayak gitu. Nanti kalau aku udah nikah, jangan lupa amplopnya isinya uang segepok ya, Rif!
Hahaha... ”
__ADS_1
“ Tenang nanti aku kasih uang koin aja, dimasukkan di dalam kotak. Terus kan kotaknya penuh, beuh berat kalau bongkar nanti, Hahaha... ”
Mereka pun makan bersama dan makanan yang di hidangkan pun cocok sekali di mulut Anin dan Rifa'i.
Setelah makan, akhirnya mereka sholat berjamaah di masjid bersama anak-anak panti.
Selesai sholat berjamaah, mereka akhirnya kembali ke rumah nenek Sarifah.
“ Rif kalau mau istirahat itu kamarnya ya, udah di siapkan. Kalau mau nonton TV, itu ada. Boleh semuanya, anggap aja rumah sendiri. ”
“ Iya... Lha kamu mau kemana bang? ”
“ Aku mau ke rumah sakit bentar, mau ambil berkas dulu. ”
“ Nah itu dia. Emang ya, nggak ada waktunya buat di rumah dulu. Pantes aja nenek kesepian, cucunya aja meninggalkan neneknya. Terus kapan dapet jodohnya kalau gitu? ”
“ Enak aja kamu Rif, namanya juga sibuk. Banyak kerjaan di rumah sakit, terus apalagi asistenku juga di pindahkan sama ayah suruh pulang ke rumah sakitnya. ”
“ Sabar aja bang... Kuat, semangat buat kerja rodinya... ”
“ Alah kamu mau ngejek aku... Udah aku juga terima... Kalau sekali lagi kamu ngomong gitu, aku mau ambil gunting apa nggak silet buat buka mulut kamu itu. Biar nggak ngejek aku terus. ”
“ Iya... Iya, tapi lucu juga... Hahaha, ”
“ Sinting amat ya kamu Rif, nin aku masukkan dia ke rumah sakit jiwa boleh? ”
“ Iya bang boleh kok... Sekalian itu tangan sama mulutnya suruh lakban sama di iket tangannya. Hahaha, ” Anin pun angkat bicara.
“ yang kok gitu kamu, awas nanti malem. ”
“ Huhuhu andalannya cuma nanti malem. Palingan dia yang kalah sama istrinya. Di suruh keluar terus tidur di luar, kedinginan. ”
Akhirnya Raihan pun ke kamarnya, sebelumnya menghindari serangan Rifa'i yang bisa saja kena pukulan ataupun kena tonjokan nya.
“ yang boleh ya, ”
Anin menggedikan bahunya, tanda berarti tidak boleh.
“ Boleh lah... ”
“ Oke... Boleh, tapi harus di kamar. ”
Karena hasrat suaminya, akhirnya mau nggak mau Anin menurutinya.
Bersambung...
-Jangan lupa like dan komennya ya❤❤❤
-Kalau mau mampir ke instagram, boleh follow instagram author. Saling follback😜😜
@dindafitriani0911
__ADS_1