Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
– S2 – Episode 86. Masa Depan Harus Cerah


__ADS_3

Anin pelan-pelan mengeluarkan kakinya dari ambang pintu rumah Putri dan Rifa'i, benar-benar kehadirannya tidak ada gunanya di sini. Dia kepingin semuanya berubah dari awal. Tidak seperti ini jalan ceritanya.


"Huh dasar orang yang nggak peka dengan keadaan sekitar. Udahlah, yang penting aku dah sampaikan tetapi Putri menolak. Hem, biarkan saja. Tapi, aku nggak boleh gitu. Aku harus cecar kemanapun dia akan pergi dan tolakan itu benar-benar akan melebur lambat laun dari mulut Putri sendiri." Ujar Anin dengan marah-marah, pelan-pelan dia melangkah ke tangga dan di hadapannya sekarang di depan pun sudah ada Rifa'i yang baru saja mau turun dari mobil.


"Astagfirullah, ngagetin aja." Ucap Anin, Anin pun berhenti dan menatap yang turun dari atas sampai bawah. Mulutnya membuka sampai huruf O keluar.


"Assalamu'alaikum," Seru Rifa'i dengan membenarkan jasnya.


"Wa'alaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh," Jawab Anin. Rifa'i menatap heran dan yang di tatap pun tidak memerhatikan sekali jika yang menatap sampai terbirit-birit pingin masuk ke dalam rumah.


"Kamu ke sini ada apa? Urusan apa?" Tanya Rifa'i, dengan cepat Anin mengalungkan tasnya yang hampir jatuh.


"Eh, iya lupa lagi. Ini apa tadi ke sini mau menyampaikan beberapa hal, tapi yang penting intinya sekarang adalah papah minta di temenin berbuka. Itu saja, saya mau kembali ke kantor dulu karena urusan saya belum selesai. Assalamu'alaikum." Kata Anin sambil melangkahkan kaki untuk pergi.


"Wa'alaikumsalam," Rifa'i pun berbalik badan dan melongo karena ucapan yang membuatnya ingin segera menanyakan kepada istrinya sendiri.


"Mas, udah pulang?" Tanya Putri dengan mendekati Rifa'i, Rifa'i mengangguk dan Putri membantu membawa tas kerja Rifa'i dan ia letakkan di meja rias yang ada di kamar.


"Mandi dulu mas, biar lebih seger. Eh, tapi jangan minum air! Ini 'kan puasa, nanti puasanya malah batal. Aku mau siapkan baju dulu buat kamu," Bagi Rifa'i tidak apa-apa, pikirannya sudah di racuni dengan pembicaraan tadi.


Anin tidak mau menemuinya dan memberikan waktu sedikit buat mengobrol, mengobati rasa sesak yang di dalam dada.


"Nggak boleh gitu, udahlah nanti aku tanyakan aja sama istriku." Ucap Rifa'i di dalam lubuk hatinya. Putri balik badan, suaminya belum juga berdiri.


Mengernyitkan keningnya dan membuka suara, "mas kok belum ke kamar mandi?"


Istrinya sudah tanya, Rifa'i menyunggingkan senyuman.


"Iya, maaf lagi capek jadinya agak sedikit lemas." Jawab Rifa'i, dia melepaskan dasinya dan melipat baju sampai ke lengan.

__ADS_1


Putri akhirnya ingin membuka suara tentang hal tadi, apapun yang terjadi harus di selesaikan bersama-sama. Jangan sampai ada yang di sembunyikan secara diam-diam tanpa berkerja sama juga masalah tidak akan selesai-selesai.


"Mas," Seru Putri. Putri duduk dengan tatapan yang tidak enak.


"Iya ada apa?" Rifa'i membuka koran dan membacanya.


"Ini aku tadi sempet berbicara sama Anin, terus Anin bicarakan kalau papah lagi sakit mas dan minta di temenin selama bulan puasa ini." Ucap Putri, Rifa'i meletakkan korannya dan menatap tajam ke arah Putri.


"Jadi, ini yang di bicarakan oleh Anin tadi?" Memastikan betul atau tidaknya.


Putri mengiyakan dan Rifa'i menghela napasnya, dia menggusak wajahnya.


Seperti rasa ada penyesalan yang datang di akhir, Putri takut jika ada perkataan yang kurang berkenan. Tapi, itu semua memang kenyataannya seperti itu.


"Maaf," Baru sadar jika emosinya tidak bisa di kendalikan dengan sendirinya. Akhirnya, Rifa'i mengucapkan istighfar beberapa kali agar pahalanya tidak berkurang karena marah-marah dengan istri. Apalagi menyakiti hati seorang perempuan, dia tidak akan kembali dengan masa lalu.


Karena masa depan lah yang akan selalu mengimbangi segala cara untuk melakukan yang terbaik. Bukan untuk kembali jalan yang benar-benar membuatnya berujung pada perceraian.


Menghidupkan shower dan melakukan rutinitas mandinya.


***


Anin perjalanan kembali ke kantor lagi, tetapi si bos nggak berhenti-hentinya menelepon. Anin sampai jera, padahal pingin dia free aja satu hari.


"Bu, di angkat aja dulu. Ketimbang nanti bosnya marah," Ucap sang sopir taksi yang memutar arah jalan ke arah kantor.


Anin menggeleng, "saya nggak mau nanti di tanyain panjang lebar dengan bos saya Pak. Kebanyakan tanya orangnya mah. Hampir aja kadang saya mikirin dulu alasannya gimana-gimana dulu." Ucap Anin dan sopir pun tertawa.


"Heh, ada yang lucu emangnya Pak. Kok bapak ketawa," Baru ngeh Anin karena menghibahkan si bos. Lucu sekali nanti si bos ketimpuk sama buku nanti gara-gara Anin mengomongkan kejelekan beliau sendiri.

__ADS_1


"Astagfirullahalazim, udahlah Pak. Saya, mau berhenti di sini aja Pak. Daripada di depan lobby kantor nanti saya di tanya dengan resepsionis kantor lagi." Ucap Anin dengan mengeluarkan uang lembar dua yang berwarna merah.


"Eh matur suwun, nggak ngerepotin kan?" Tanya basa-basi sang sopir.


Anin menggeleng, "udahlah Pak paling nggak bapak bisa menimbun itu dosa. Yang penting nggak ketumpuk dosanya." Ujar Anin membuat sang bapak terkekeh.


"Bukannya nimbun itu ketumpuk mbak, hahaha..." Anin apesnya salah lagi ngomong, alah biarin aja lah daripada nggak dapet hiburan.


"Bu," Sapa karyawan dan Anin mengangguk, ramah sekali. Sayang seribu sayang ada aja yang tidak suka dengan kehadirannya juga di sini. Anin pun mengerti, tasnya masih terasa berbunyi sepertinya Aksa telepon terus. Tanpa ada kata lelah untuk memencet berkali-kali.


"Allhamdulilah sampai di ruangan. Astagfirullah," Ia terkejut karena sejak tadi dia tidak memerhatikan sekitar kalau ini ada kaitannya dengan rapat. Maka dia harus hadir dengan tepat waktu, tanpa ada kata meleset.


"Kapan bapak ada di sini? Bukannya mau pulang ke kampung Pak?" Tanya Anin melangkah selangkah ke kursi.


"Siapa yang menyuruh kamu duduk, saya sejak tadi menunggu kamu sampai waktu saya terbuang karena kamu saya mau marah sama karyawan. Untung di ingatkan, jika tidak puasa saya jadi sia-sia, tanpa mendapatkan pahala dan dosa saya tambah banyak. Maka, dari itu kamu yang membuat dosa dan tidak ada gunanya juga---" Ucapan Aksa di sela oleh Anin, belum juga selesai ngomong udah di potong aja kayak nggak terima gitu perlakuannya.


"Saya sebenarnya malas mau jadi sekretaris bapak itu, tapi karena paksaan yang begitu membuncang di hati saya. Jadinya saya turuti, dan saya nggak suka namanya di suruh dengan kegiatan yang harus mengejar deadline waktu cepat. Nggak ada dalam kamus saya, kecuali benar-benar terdesak. Saya juga dari dulu jam tujuh itu berangkat. Lah, ini setengah tujuh aja udah di suruh sampai ke sini." Oceh Anin dan Aksa penyeru di hatinya pun ikut seimbang, mau marah tapi takut dosa. Kesabaran juga keikut sama namanya terlalu baik.


Mending baik daripada suka marah.


"Hem, oke saya maklumi. Tapi, sekali lagi kamu bemacam-macam dengan apapun yang ada di hati, urungkan niat dulu setelah bekerja baru selesaikan. Oke?" Hahaha... Akhirnya ngalah juga dia. Batin Anin yang menderu-deru.


Happy Reading 📖


Maaf teman-teman atas keterlambatan up-nya selama ini 🤧🤧🤧 karena ada yang harus di urus di dunia nyata...


Mulai seterusnya, entah kapan yang penting ada waktu untuk up akan author up.


Mau ngumpulin babnya dulu ya, kalau dah banyak baru di up... Apalagi bentar lagi mau lebaran, jadinya sibuk-sibuk ngurusin rumah 😁😁😁

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mau menunggu 😌🙏


__ADS_2