
Happy Reading
Pagi hari ini, Anin siap-siap ke pasar bersama Budenya. Anin mengambil tas belanjanya dan menyalimi Pakdenya.
"Yang bener kalian pakai sepeda ke pasarnya? Bukannya nanti Anin bisa capek." Ucap Pakde dengan khawatir sama keadaannya Anin bersama kandungannya.
"Insya Allah nggak papa Pakde. Nanti bisa istirahat dulu kalau capek." Jawab Anin mengambil sandalnya dari rak-rak an.
"Yaudah jalan aja kalau begitu. Daripada bapak nggak percaya, ibu akan menjaga Anin kok Pak. Nanti kalau ada apa-apa Ibu pasti telpon
bapak, jadi bapak harus siap."
"Apa yang siap?" Tanya Pakde, nggak masuk akal yang di omongkan Bude.
"Iya gitulah. Yaudah Assalamu'alaikum... Bapak jaga rumah, oh iya satu lagi jangan sampai rumah berantakan lagi!" Ucap Bude, melangkah keluar dan Pakde mengangguk.
"Selamet kalau begitu, aku bisa bebas." Ucap Pakde, melangkah ke kursi dan mengambil toples yang berisi kacang kulit.
***
Anin pun melangkah, mengayuh sepedanya dengan pelan-pelan, sedangkan Bude ada di belakang Anin.
"Allhamdulilah, untung saja nggak lupa naik sepedanya. Dari kejadian itu, akhirnya nggak lupa dan sekarang naik sepeda yang bagus lagi. Impian banget..." Ucap Anin dengan tersenyum dan tertawa riang.
Bude yang di belakangnya menatap depannya dengan senang dan bahagia, " Maafkan aku ya mbak, kalau aku belum bisa membayarkan semuanya. InsyaAllah bapak sama aku bisa membayar kejadian masa lalu." Ucap Bude di dalam hati dan mengelap keringat yang membasahi keningnya.
"Hm, beli minum dulu kali ya. Kasian Bude, keringatnya sudah merembes keluar begitu saja. Bude, beli minum dulu ya! Bude di sini saja! Anin mau beli minumnya di warung itu." Ucap Anin dengan mengayuh sepedanya.
"Iya nak, hati-hati! Bude mau ke pasar dulu, nanti kamu nyusul saja. Tinggal bentar lagi sampai di pasar." Ucap Bude mengayuh sepedanya menuju ke pasar dengan beberapa meter saja.
Anin menaruhkan sepedanya dan melangkah masuk ke dalam warung.
"Bu, beli jus jeruk ya, satu saja ya!"
"Baik mbak." Ucap pemilik warungnya.
__ADS_1
Akhirnya pemilik warung membuatkan sesuai pesanan. "Pak, ini gimana? Ibu mau buang air besar dulu nih. Bapak jagain dulu warungnya ya, jangan main handphone terus sama nge-gamenya itu di kurangin!" Ucap Ibu, pemilik warung itu dengan menasehati suaminya yang masih tetap fokus... Eeh, mau buang hajat malah menasehati orang.
Anin menunggu sejak tadi, perasaannya dari tadi pagi nggak enak dan setiap melamun, memikirkan yang di luar dugaan.
Pemilik warung kembali dan menyerahkan minumannya untuk Anin minum. Membawa minumannya dan meletakkan di samping meja Anin biar lebih nyaman. "Makasih mbak." Ucap Anin, Anin menyeruputnya dengan sedotan dan mengelap di bagian tepi bibirnya.
"Mbak iki teko endi wae? Kok koyo'e kesel terus kui keringete metu kabeh." Ucap pemilik warung dengan logat bahasa jawa, Anin sebenarnya ngerti tapi agak sedikit lupa, InsyaAllah bisa jawab. (Mbak ini darimana saja? Kok kayaknya capek terus itu keringatnya keluar semua.)
"Tadi habis jalan-jalan sama Bude, Bude sekarang ada di pasar, belanja gitu... Setiap hari juga orangnya belanja ke pasar." Jawab Anin merasakan sedikit mulas dan serasa kembung perutnya, ada yang aneh menurutnya tapi dia biarkan terlebih dahulu. Apa ini kontraksi menurutnya? Tapi, secara itu tidak masuk akal.
"Oalah, jadi Budenya setiap hari belanja. Ya, aku inget kalau gitu, orangnya pendek terus setiap hari di antarkan motor sama suaminya."
"Iya paling mbak," jawab Anin dengan tersenyum dan memijat keningnya yang pusing, tetapi pemilik warung tetap mengajaknya mengobrol.
"Kamu kenapa mbak? Kok kayaknya ada yang aneh, bentar jangan-jangan mau keluar ini bayi. Yaudah mbak kita ke klinik terdekat dulu mbak, mbak sudah waktunya untuk lahiran ini." Ucap pemilik warung dengan mengambil tasnya dan menggandeng Anin, keluar dari warung... Memberhentikan sebuah mobil, untung saja mobilnya nurut kalau nggak. Bisa bahaya....
"Pak ke klinik terdekat saja ya! Ini mau lahiran mbaknya, kasian nanti."
"Baik Bu." Mobil berjalan dan Anin peluh dengan keringat yang menetes keluar dari keningnya.
"Maaf mbak, tolong ini mbaknya mau lahiran! Jadi, harap bantuannya!"
"Baik Bu, kalau begitu ibu tunggu di sini, biar kami akan memeriksanya bu."
"Mari bu!" Ajak suster dengan menggandeng tangan Anin dan Anin memegang tangan suster itu dengan kuat karena sepertinya perutnya sudah di aduk-aduk, Anin masuk dan di sana ada seseorang dokter yang akan memeriksa Anin.
"Tidur di ranjang dulu bu!" Ucap Dokter lelaki itu dengan tersenyum dan ramah sekali.
"Baik dok." Anin di bantu suster untuk tidur di atas brankar.
Dokter memulainya dan menatap Anin dengan gelengan kepala, apa maksudnya?
"Gimana dok?"
"Maaf mbak sepertinya mbak habis keracunan ya... Dan ini semua mbak nggak merasakan gimana gitu?"
__ADS_1
"Nggak dok, saya cuma pusing dan perut saya di aduk-aduk rasanya." Jawab Anin dan Dokter pun membenarkan posisi tidur Anin, agar tidak menyakiti sang calon anak. Padahal kenyataannya calon anak yang di kandungnya beberapa menit tadi sudah tidak bernyawa dan meninggalkan dunia ini selamanya, tidak jadi lahir ke dunia. Cuma beberapa hari lagi Anin akan lahiran, tetapi Allah sayang sama calon bayinya.
"Hm, mbak nggak merasakan ada yang gerak-gerak gitu di perut nggak mbak?"
"Tidak dok, maksudnya gimana ya dok? Saya nggak ngerti."
"Yaudah nanti saya akan merujuk mbak ke rumah sakit di kota ya. Agar cepat selesai ininya."
Dokter membuatkan rujukan ke rumah sakit besar di kota, agar di tangani sama dokter-dokter yang sudah handal dan lengkap semua alatnya kalau di kota.
Anin bingung dan percaya dengan dokternya, dia menunggu informasinya. Dokter laki-laki itu keluar dan menyerahkan rumah sakit rujukannya.
Dokter memilih untuk menutup jadwalnya hari ini, mengantarkan bersama susternya dan akhirnya Anin di antarkan pemilik warung tadi.
Mobil sudah sedia, mereka menuju ke rumah sakit kota, sebelumnya Anin di infus terlebih dahulu agar tidak lemas pada saat di operasi nanti.
Beberapa menit, akhirnya sampai di rumah sakit ternama di kota, Rumah Sakit A**** Y***.
Setelah semuanya terbereskan dan Anin mendapatkan kamar.
Anin menunggu perkembangannya, bisa-bisa nya dia di rumah sakit besar ini. Nanti biayanya gimana? Uang yang di tabungannya pasti akn terkuras dan bolong sebelah tabungannya.
"Sebenarnya saya itu kenapa dok? Kok di bawa ke rumah sakit terbesar di kota, bukannya di klinik juga lebih mudah untuk mengeluarkan bayinya dok." Ucap Anin, melenceng lagi ini mulut yang pasti.
"Begini mbak, saya sebenarnya mau jelaskan dari tadi... Bahwa anak yang di kandung mbak sudah meninggal dan akibat dari keracunan tadi mbak. Jadi, harap sabar dan ikhlas ya mbak." Ucap Dokter itu dengan mengurus perjalanan operasi dan menanggung jawab semuanya.
"Innalillahi Wa innalillahi roji'un... Ya Allah, mbak... Kenapa mbak miris amat hidupnya." Ucap pemilik warung yang di pasar tadi.
Dengan tatapan kosong dan mengelus-elus perutnya, menangis Anin. Dia tidak mau kehilangan semuanya, apakah semesta tidak ingin menjadikan anak ini sebagai uji coba permainan... Ya Allah...
Bersambung...
Jangan lupa Like, Komentar Positif, dan Rate Lima ☺💞😙
Hehehe makasih kalian semua yang sudah mampir dan memberikan dukungannya 🙏💕
__ADS_1