
...Hallo.......
...Apa kabar?...
...Nyapa lagi....
...Hm typo komen ya!...
...Jan lupa Komen dan Like!...
...Errr......
...***...
...Happy Reading......
Pria berbadan menjulang tinggi dan berbadan jangkung itu keluar dari kamarnya, ia lagi ingin keluar saja dari kamar. Katanya suntuk, kebanyakan tidur pula.
Pria itu adalah Aksa, yang baru saja tertidur dengan lamanya sampai ia tidak tahu jika hari ini akan diadakan meeting dan ini sudah sore, seharusnya tadi pagi tapi Aksa tertidur sampai Anin kesal sendiri membangunkan Aksa seperti membangunkan sapi kebo.
Aksa mengucek matanya, “Huh jam berapa ya?” Aksa menatap jam ada di nakas dan membelalakkan matanya ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul lima sore, membuat Aksa merasa bersalah dari melewatkan jam sholatnya. Ia sungguh manusia berdosa sekali, Aksa pun mengambil handuk untuk mandi sore agar terlihat segar.
Sementara Anin gabut dia, sekarang perempuan hamil itu lagi menikmati acaranya hari ini menonton film drakor rekomendasi dari video fyp di handphonenya tadi dan katanya sih menantang.
Ia semula pagi sudah bangun, Anin jalan-jalan di pasar tanpa suaminya. Dan suaminya itu dibangunkan tidak bangun-bangun, sempat ia khawatir sama suaminya.
Ia harus berpikir positif jika suaminya tertidur lama dan hampir saja ia menyalahkan suaminya itu, apakah suaminya koma sampai tertidur begitu lama dari malam jam dua belas sampai jam lima sore ini.
Karena suaminya tidak bangun, pada akhirnya sore ini ia siram dengan air tapi tidak jadi seketika tersenyum senang melihat suaminya sudah memunggungi dirinya yang melihat ke arah jendela.
“Kalau nangis jadi agak nyesek dong.” Sesal Anin yang hampir saja mau menyalakan laptop Aksa yang ia curi tadi sore di ruang kerjanya, entah nanti suaminya mau marah. Anin bakalan hadepin katanya, dan suaminya juga ada banyak uang masa iya beli laptop untuknya tidak bisa.
Perempuan itu kini menyalakan laptopnya dan mencari aplikasi yang ia inginkan, tidak sesuai harapan yang ada ia tidak menemukan aplikasi itu. Anin memicingkan mata tak suka, ia menggelengkan kepalanya.
“Sia-sia jugaan mau cari,” kesal Anin mematikan laptop itu dan meletakkan di atas meja.
Anin mengamati setiap sudut ruangan, terdapat ada sebuah kotak yang belum dibuka dari kemarin. Berarti kemarin suaminya nggak ngeh buat ngasihin dia kotak itu mungkin. Anin melangkah untuk mengambil box itu dan ia meraih box itu di atas nakas.
Anin mengerlingkan matanya tatkala ada tulisan untuk istriku, “Anin...” suara itu membuat Anin memberhentikan untuk membuka box yang ia pegang dan Anin mengembalikan( lagi ke tempatnya. Siapa tahu tadi Aksa yang mengamati dirinya itu.
“Aku mau tanya—”
“Udah bangun to ternyata, hm ... awalnya mau bangunin kamu, eh udah di sini.” Anin berpura-pura begitu, ia sudah memotong pembicaraan Aksa dan Aksa mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
“Hm, laptop di ruang kerja ku mana ya?” Aksa bertanya.
Anin melirik ke arah meja, ia sepertinya enggan untuk memberi tahu maka dari itu Anin melangkah mendekati suaminya dan meraih tangan suaminya.
“Kamu belum makan, mas. Sebaiknya makan dulu, baru sambung kerjanya.” Anin mengalihkan dan Aksa mengangguk saja, toh dia sudah lapar berat jadi harap-harap buat mau menanyakan pekerjaannya tadi pagi sebab itu ia harus makan dulu sebelum beraktivitas.
“Udah mandi to ternyata, ya sudah.” Anin tak jadi melanjutkan katanya dan ia menggandeng suaminya ke ruang makan, sampai ruang makan masih kosong keadaan meja.
Aksa menatap istrinya, “Kosong.” Kata Aksa meminta penjelasan kepada Anin.
“Iya lah, ya namanya masih dalam perjalanan. Masih masak bibi katanya tadi,”
“Kalau gitu mending aku ke ruang kerja dulu deh, oh iya laptopnya mana?” tanya sekali lagi Aksa, ia sudah tidak sabar melihat emailnya yang pasti penuh notifikasi dari kantor, ia saja tadi habis sholat membuka handphone pun diberitahu sama sekretarisnya.
“Ya, ada di meja.” Balas Anin yang tidak memikirkan jika ia sudah membobol angka-angka yang pastinya muncul di setiap aplikasi.
Aksa menatap bingung, “Bukannya laptop itu ada passwordnya, kok bisa bobol sih, sayang.”
“Ya nggak tahu, aku nemuin passwordnya di meja tadi.” Anin menjawab apa adanya.
Aksa menghela napas, lagi-lagi bisa menjadi masalah hanya pekerjaan dan Aksa menatap Anin dengan tatapan dalam membuat Anin tidak bisa menatap manik Aksa yang hampir Anin jantungan.
“Kalau apa-apa itu izin dulu, biar nggak jadi masalah gini!” ketus Aksa dan Anin mendengarnya sakit dirinya, langsung kemakan sama hatinya. Hatinya jedug-jedug rasanya, tremor tangannya.
“Hm, iya. Aku mau ke ruang kerja dulu,” Aksa beranjak pergi dari sana meninggalkan luka untuk Anin yang ingin diberikan penjelasan mengenai masalah yang diterima oleh Aksa yang tiba-tiba mengucapkan seperti itu.
Anin merasa bersalah itu pun membuatkan teh hangat dan ia akan membawanya ke suaminya di ruang kerjanya serta roti yang sudah ia isi dengan selai.
Anin tersenyum tipis, matanya menjadi bengkak dan kakinya beberapa hari ini benar-benar diuji dia. Ya, kakinya benar-benar bengkak dan membiru. Ia mencari di handphone, menghasilkan jika itu tidak perlu dikhawatirkan ataupun ditakutkan bakal terjadi apa-apa.
Ia saja mengadu sama Allah, kenapa jadi kakinya bengkak. Perasaan ia tidak pernah melakukan hal yang membuat dia kerja berat, ia takut disalahkan kalau begini.
Anin berjalan menuju ke ruang kerja suaminya itu, Anin tak peduli jika suaminya marah mengenai masalah tadi dan ia hanya meminta maaf kepada suaminya agar tidak berkelanjutan marahnya.
Anin mengetuk pintu ruang kerja Aksa, ia meraih gagang pintu dan sedikit terbuka. Akhirnya ia masuk tanpa disuruh orang yang ada di dalam. Sekarang orang yang di dalam ruang kerja itu sedang menatap layar laptop dan ruang kerja yang amat gelap hanya sedikit pencahayaan, ada jendela yang menampilkan keadaan matahari tenggelam ke arah barat.
Anin masuk dengan nampan di tangannya dan ia meletakkan di meja yang ada di ruang kerja Aksa tanpa mencampuri meja yang ada berkas-berkas yang menumpuk takutnya nanti malah bisa menjadi alarm bahaya hanya gegara berkas.
“Hm mas, ini teh sama roti. Dimakan dulu,” perintah Anin dan Aksa hanya melirik sekilas.
Anin hatinya berdenyut, ia beranjak pergi dari ruangan Aksa sampai di depan pintu ingin meraih gagang pintu pun suara berat Aksa mengalihkan dia untuk keluar dari ruangan ini.
“Sayang,”
__ADS_1
“Iya dalem mas, kamu mau apa?” suaranya begitu ia lembutkan dan Aksa tersenyum senang.
Menampilkan senyum lebarnya, “Nggak marah ‘kan?”
“Hah siapa yang marah, bukannya kamu mas?”
Aksa menggeleng, ia melangkah lebih mendekati istrinya. Istrinya berjalan menuju depan meja kerja Aksa, “Kalau marah mana bisa. Hm, ini kamu yang buat?” Aksa mengarah kepada piring yang ada rotinya itu dan memakannya.
Anin hanya menganggukan kepala, “Ya. Kalau belum kenyang bisa makan kok, udah mateng sayurnya tapi mau disiapin dulu.” Jawab Anin menggerakkan kepalanya yang agak sedikit pusing.
Aksa yang memerhatikan itu pun peka terhadap istrinya, “Kamu mau apa? Pusing?”
“Nggak kok, cuman nggak enak aja badannya.”
Anin mengelus pundaknya dan Aksa pun langsung menggendong tubuh Anin menuju ke kamar mereka, ia membuka pintu ruang kerjanya dan menuju ke kamarnya.
Aksa menghirup udara dalam-dalam. “Kalau badan nggak enak, nggak usah itu dan ini. Pekerjaan rumah sudah ada yang mengerjakan, mereka dibayar soalnya. Dan harusnya bisa mengabdi kepada tuan dan nyonya mereka,” kata Aksa dan Anin senyumnya memudar ketika Aksa begitu berkata. Seenaknya diukur dengan uang.
Ya, Anin maklumi jika mereka sudah digaji dan harusnya ada yang buat mereka tak makan gaji buta.
Bener juga perkataan suaminya, tapi ya Anin tak suka dengan ucapannya.
Mengabdi? Bukannya bekerja ya, mengabdi seperti orang yang dihormatin gitu.
Anin hanya menerima keputusan suaminya, ia menghela napas ketika ingin mual rasanya.
Jadi begini perjuangan seorang ibu untuk melahirkan anaknya, Anin merasa berdosa telah menyiakan hidupnya dengan ibunya yang sekarang tertinggal kenangan saja dan abadi di dalam hatinya, nama dan kenangan yang akan abadi dalam hidupnya.
Ia bisa mengambil contoh kecil dari ibunya yang tidak pernah didampingi oleh suaminya ketika ibunya mengandung dirinya.
Masya Allah perjuangan yang amat berat, suami sudah ada di sampingnya kadang suka ngeluh apalagi ibunya yang tak tahu di mana ayahnya berada.
Anin benci sama ayahnya, yang meninggalkan ibunya tanpa memberikan kejelasan.
Bersambung...
Okee, makasih buat yang dah mampir🤗.
See you next episode ya...
Jangan lupa follow IG Din buat dapet info up apa nggak ☺.
@dindafitriani0911
__ADS_1