
Sesampainya di resort, dan beberapa penyambutan pun di lakukan.
Anin terpukau, kenapa bisa seperti ini? Sedangkan dirinya bersama keluarga, itu cuma ada beberapa orang yang mendampingi.
"Hah, gimana ini Bude? Sepertinya acaranya sudah di mulai." Bisik Anin, dengan berjalan gontai dan di gandeng oleh Budenya.
"Iya, nggak tau. Tapi, Pakde sudah mengurus juga seserahannya yang ada di mobil. Kita coba tanya dulu sama orangnya." Balas Bude dengan berbisik.
"Oke."
"Maaf Pak, permisi..." Sapa Anin.
"Iya, ada apa?" Bapak itu bertanya dan Anin tetap tersenyum, walupun hatinya bakal di rendam air panas rasanya.
"Ini Pak, apa ini acara lamarannya Pak Aksa dan Anin ya? Saya masalahnya kurang paham." tanya Anin dengan sopan.
"Iya, ini acara lamarannya Pak Aksa dan Ibu Anin. Oh iya, kalian ini tamu ya? Silakan di sana kalau mau duduk!" Bapak itu pun menunjuk ruangan untuk tamu dan Bude memberikan kode untuk menyegerakan pertanyaan, di mana ruang gantinya dan langsung saja bicara ke intinya.
"Pak, saya calon perempuannya, Pak. Saya mau tanya di sebelah mana ruangannya ya, Pak?" Bapak itu menatap Anin tidak seperti tatapan biasa, dan melihat atas sampai bawah.
"Ini bapak kok ngeliatin ponakan ku seperti itu, pingin ku sundul itu bokongnya biar tau rasa. Aduh, ini tamunya pada terhormat juga orangnya, ya namanya orang berbisnis. Terus, dari pihak perempuan pun tidak ada orang yang mendampingi. Waduh, salah kaprah lagi ini." Ucap Bude di dalam hatinya.
"Sebentar, bu! Saya tanya dulu sama pihak di dalam bu."
Bapak itu pergi, dan Anin mundur selangkah. Mensejajarkan kakinya sama kaki Bude.
"Bude, ini gimana? Masa sampai ketat gini pengawasannnya, sama kayak ujian nasional Bude." Ujar Anin.
Bude terkekeh, mengusap kepala Anin dengan kelembutan dan Anin tertuju pada pandangan Aksa yang mengobrol dengan orang-orang yang di undang.
"Bude, lama banget ini." Sambil memukul-mukul tangannya. Dan menggerakkan kakinya yang sudah di tutupi dengan sandal.
"Entah. Sepertinya acaranya di mulai sejak tadi nin, bapaknya juga kemana lagi?"
Bapak tadi nggak muncul-muncul, sampai Bude pun mengambil kursi untuk di duduki.
"Ke sana yuk! Capek nunggu si bapak tadi," Bude menunjuk ke ruang untuk tamu.
"Iya, yuk! Aku juga lelah nunggu bapak tadi, masa di suruh menunggu bukannya di suruh masuk. Oh iya Bude, Pakde ada dimana?"
"Ha, iya Pakde kemana ya? Kok nggak ke sini-sini." Bude dan Anin berjalan ke ruangan yang di khususkan untuk tamu undangan.
Anin dan Bude satu meja, tidak ada seorangpun mendampingi mereka.
"Enak sepertinya makanannya, lapar ini." Ucap Bude dengan mengelus perutnya.
__ADS_1
Yang berbunyi, cacingnya keluar semua.
"Hahaha, jangan mikirin makan dulu Bude! Ini juga acara belum ada penyambutan juga." Ucap Anin, Bude membuka tasnya dan melihat jam, jam berapa ini.
Sudah jam satu siang, acara pun belum di mulai juga. Dan salah satu tamu menghampiri mereka.
"Selamat siang bu, boleh gabung?" Lah ini malah ngajak gabung, bukannya di suruh pindah ruang. Anin menggeleng, mau tertawa tapi juga dirinya nggak di anggap sebagai pihak perempuannya juga.
"Siang, iya silakan saja Bu! Oh iya ini kapan ya acaranya di mulai?" tanya Bude sembari meminum minuman yang sudah di sediakan di sana.
"Iya, katanya sih masih menunggu pihak perempuannya sih. Lama-lama nunggu dari tadi, dan sebenarnya acaranya sudah di mulai, tetapi pihak perempuannya pun belum datang-datang. Ya sudah, kita pakai acara ngobrol santai dulu." Ucap salah satu tamu yang bergabung di meja Bude dan Anin.
"Makanannya enak-enak ini, mah." Gumam Bude, terdengar di telinga Anin.
"Bude-bude, kayak nggak pernah makan kue kayak gini. Tapi, beda juga sih kalau di desa pernikahan pestanya kuenya itu-itu saja, sudahlah ini acara lamaran bukan pernikahan. Nanti apa yang terjadi juga kalau pernikahan, resepsinya pun sama juga." Ucap Anin di dalam hatinya.
Sementara Pakde sudah bergabung di acara, dan mencari keberadaan Bude dengan Anin.
Entah kemana? Kehilangan jejaknya, ketika Aksa menatap Pakde dengan tatapan heran, akhirnya Aksa pun menghampiri Pakde.
"Pakde, kemana si Anin? Kok belum ke sini, emangnya nggak barengan tadi?" tanya Aksa, Pakde tersenyum.
"Nggak, nak. Tadi sih ke sininya bareng, tapi Bude sama Anin sudah masuk duluan, tapi mereka sekarang juga di mana? Pakde pun nggak tau, tadinya Pakde mengurus seserahan yang ada di dalam mobil." Jawab Pakde.
Aksa dan Pakde mencari, di sekitar ruangan untuk tamu. "Sepertinya itu!" Aksa pun benar pandangannya ketika Anin menengok ke arahnya.
"Nin..." Seru Aksa.
"Eh kok ke sini Pak, bukannya ada di sana..." Ucap mbak-mbak yang gabung di sini.
Anin terkejut ketika ada Aksa di sampingnya, dan Bude memegang tangan Anin.
"Iya, ini saya ke sini cuma mau memanggil pihak perempuannya, dan ini pihak perempuannya sudah ada di sini." Jawab Aksa, Anin menundukkan kepala.
"Ini?" tanyanya kembali, seolah tidak percaya adanya pihak perempuannya.
Tatapan itu berubah menjadi mengejek.
Bobot, bebet, dan bibit pun tidak sama. Melihat keluarga ini, serasa tidak ada apa-apa nya dengan keluarga Aksa.
"Maaf ya, saya mau mbak jangan terlalu merendahkan begitu! Sepertinya mbak mau merendahkan keluarga dari calon istri saya." Kata Aksa saling pandang dengan menyeringai.
Lalu, mbak-mbak itu pun menjauh dan pergi sebelum terkena perkataan yang lebih menyakitkan lagi, apalagi juga dirinya tidak selevel dengan keluarga ini.
"Duduk dulu Bu, Pak!" Seru Aksa dengan mempersilahkan mereka.
__ADS_1
"Iya ini nggak papa di sini emangnya mas?" tanya Anin, ia pingin memastikan apakah pantas ada di sini?
"Nggak apa-apa, nanti baru ke sana!" Balas Aksa, Anin melanjutkan minumnya dan Bude sama Pakde memilih untuk meja berbeda, sedangkan mereka berdua di tinggal di sana.
"Gimana perjalanannya tadi sama sopir itu?" Aksa memilih minuman yang belum terminum oleh orang lain, memilih kuenya untuk ia makan bersama Anin.
"Hah..." Anin hembuskan napas kasarnya.
"Kenapa? Kok sepertinya ada yang---"
"Iya, sopir mu itu nggak datang-datang dan aku sama Pakde, Bude akhirnya memilih untuk naik mobilnya Pakde saja." Jawab Anin, Aksa mengeryitkan keningnya.
"Kok bisa?" Anin menggedikkan bahunya.
"Benar-benar," dengan sorot amarah dari matanya dan Anin ngeri sendiri.
Memang marah tidak ada tandingannya juga ketika ia bertemu pas awalan di kantor itu.
Tapi marahnya pun tidak seperti itu, ini lebih kejam. "Nggak usah marahnya di sini! Palingan ada kendala di mobilnya, mas." Ucap Anin dengan memberikan penjelasan, agar tidak memarahi sopir yang di suruh untuk menjemput Anin.
"Lah, itu dia!" Ucap papah dan mamah, yang mendekat ke mereka.
"Hayo... Nggak ke sana, nak? Itu juga para tamu sudah menunggu, yuk ke sana! Ketimbang kelamaan, oh iya Anin maunya ganti dulu atau seperti ini saja?" tanya mertuanya dengan lembut dan mendekat ke arah Anin.
"Emangnya nggak papa kayak gini, Bu? Nanti kalau dandan lama lagi, waktunya juga akan terbuang." Ujar Anin, mamah Aksa mengangguk.
"Emangnya kenapa sayang? Kok mukanya di lekuk gitu, oh itu... Nggak usah di pikirkan sayang, yuk ke sana! Aksa, kamu urus dulu itunya ya!" Ucap mamah dengan memberikan kode.
Mamah pun menggandeng calon menantu untuk ke tempat yang luas lagi.
Papah tertawa, menepuk punggung Aksa.
"Di suruh mamah mu untuk menyiapkan cincin, udah siap emangnya?" tanya Papah.
"Iya sudah siap dari awal lah. Masa belum, ah mamah sama papah ini bisa aja." Papah kemudian memeluk Aksa dari samping, menggandengnya.
Acara pun di mulai dengan sambutan yang meriah, dan para tamu awalnya ada perkataan yang agak menyelekit juga, akhirnya mereka menyetujui. Meskipun terpaksa.
Ada yang berkata, barang second kok di ambil?
Bersambung...
Like dan komennya 😊😊
Terima kasih.
__ADS_1