
Anin bergumam sendiri sambil memomong putranya yang bisa dilihat masih menutup matanya enggan untuk membuka. Anin menggoyang sekaligus ia memegang dot yang berisi susu yang ia peras tadi.
Aksa yang masih mengurus di bawah, ya akan mengadakan acara aqiqah buat putranya beberapa hari lagi. Ia mencari hewan yang bisa buat aqiqah nantinya, menanyakan persoalan itu dengan orang yang lebih paham.
“Huft! Nak, kamu ganteng amat sih!” Saking ingin menggigit pipi mungil si putra itu akhirnya Anin meletakkan putranya ketika suara gesekan pintu terdengar, di sana ada dua orang yang lagi berjalan ke arahnya.
Kedua orang tua itu pun menghampiri Anin, tersenyum senang melihat keponakannya sudah melahirkan dan di box bayi itu putranya sangat tampan serta membuat perempuan berkerudung layaknya ibu-ibu, menggendong cucunya.
Anin memberikan ruang untuk mereka, Anin duduk di tepi ranjang sambil melihat budenya yang mengangkat putranya itu. Ia meregangkan tubuhnya yang rasanya hampir copot, berdiri terus dan ia merasakan ada yang aneh di tubuhnya. Serasa bocor, Anin beranjak berdiri.
“Pak, kita punya cucu. Akh, MasyaAllah cucu nenek ini paling ganteng.” Sambil memuji dan pakde di samping bude itu mencium pipi cucunya.
Tangan bude melayang begitu saja menyadari hal itu karena kumis tipis pakde mengenai setiap sudut pipi cucunya itu, saat begitu pakde meringis dan menatap datar istrinya.
“Kalau mau pegang nanti, sensitif masihan apalagi kulitnya masih tipis!” dengus bude membawa cucunya itu di pelukannya sampai pakde menghela napas sendiri.
Dalam hatinya, pria tua itu mendumal sampai-sampai mendapatkan seringaian yang muncul di tepi bibir istrinya. Berarti istrinya tahu isi hatinya, pakde berdecih di dalam hati.
Pria tua itu berjalan tanpa menatap istrinya lagi, padahal ia ingin sekali menggendong tapi apa boleh buat itu semua akan mendapatkan kata-kata rohani jika ia tak menurut.
Kini bude, perempuan itu duduk di tepi ranjang dan menatap ponakannya yang kebingungan. “Ada apa?” pertanyaan itu membuat Anin---perempuan itu tak hentinya kebingungan dengan cairan berwarna merah menempel di sprei ranjang.
Namun, bude berdehem pelan dan pakde langsung mengerti. Ia menggantikan peran istrinya untuk menggendong cucunya itu.
Bude menatap ponakannya dan ia mengeluarkan decakan yang keluar dari mulutnya, Anin mendengarnya sedikit sensitif sendiri.
“Bude nanti biar Anin bersihkan sendiri!” Anin menolak sebelum budenya yang akan turun sendiri dan bude merubah senyumnya menjadi lengkungan yang membentuk di sudut bibirnya.
“Ya sudah bude bantu saja! Emang kamu bisa?” tanya bude dengan diakhiri sindiran halus. Anin---perempuan itu mengangguk saja, toh ia sudah pasti akan mandiri ke depannya masa iya mau bergantung dengan perempuan tua itu yang bisa saja mengurus.
Tapi, ia tak mau membebani pundak mereka lagi.
Sekarang, Anin berganti sendiri di kamar mandi. Budenya membagi tugas untuk pakde yang membersihkan ranjang itu, mengganti yang sudah disiapkan dan bude menyuruh saja.
Kesal yang terukir di wajah pakde, sebenernya ini istrinya siapa? Kok ia yang mengurus, suaminya pergi kemana?
Memang pakde dan bude datang ke rumah ini tak ada yang menyambutnya di bawah tadi hanya sapaan hangat dari para pembantu yang sedang melaksanakan pekerjaannya.
Pakde melakukan ini sedikit terpaksa dan melihat istrinya yang menjaga cucunya itu seperti teralihkan dunianya. Pakde memasangnya dengan rapi, ia jago kalau masalah beginian sebab kalau sudah selesai dan rampungan pasti akan disuruh beginian.
Kalau masalah nyuci baju plus setrika baju, ia pokoknya anti yang namanya memegang barang seperti itu. Mau bajunya kucel, dilihat nggak enak tetap saja ia pakai.
“Oh iya Pak, kalau Anin jadi ibu berarti kita jadi nenek sama kakek? Akh, ya Allah. Kapan ya bisa punya anak terus bisa dipanggil ibu sama bapak, liat anak kita nangis terus masyaAllah sadar diri kalau udah nggak bisa dikasih keturunan.” Sendunya terakhir kata dan pakde menatap hanya bisa apa dirinya, mau bagaimana itu urusan Allah dan hambanya.
Kalau bisa istiqomah berarti nggak salah kalau Allah bisa mengasihi mereka keturunan dan memberikan kepercayaan kepada mereka agar bisa menjadi orang tua, walau mereka ingin mengadopsi tapi semuanya terlambat.
Tapi tak ada kata terlambat, sebisa mungkin jika mengadopsi anak sebagai jalan satu-satunya ya nggak papa.
__ADS_1
Anin yang mendengar mau melangkah masuk lagi ke kamar itu terenyuh, mendengar ucapan dan sepertinya bude memang ingin merasakan bagaimana menjadi seorang ibu.
Iya kalau Anin menyetujui mereka dari dulu, mau ngadopsi jika ingin memiliki anak dan bisa menjadi anak adopsi itu sama rata, maka nggak papa. Apa salahnya mencoba.
Anin masuk ke dalam kamar, sehabis membersihkan tadi ia sebenarnya risih sendiri dengan apa yang dikatain suaminya kemarin. Seperti menakuti, aduh ancaman lagi yang mengenyangi pikirannya.
Setelah sembuh katanya mau gempur punya anak lagi.
Tapi, Anin---perempuan itu belum bisa sepenuhnya menjaga anaknya dengan baik atau tidak kalau ia lalai. Gunanya apa jika dia belum bisa menjadi ibu yang baik, sebaiknya dipikirkan matang-matang.
“Ugh bude, pakde. Lagi ngomong apaan sih?” Anin pura-pura tak tahu saja, baik ia nanya terlebih dahulu sebelum mengatakan yang ia dengar.
Bude serta pakde menggeleng, mereka sama-sama saja tidak ingin membuka pendapat mereka. Namun, semuanya terlambat jika Anin sudah mengetahui, mereka tidak bisa mengelak lagi.
***
Sementara Aksara, laki-laki yang berperawakan tinggi itu sudah sampai di kandang perternakan milik rekan kerja samanya itu. Ia sampai di kandang kambing, yang ber puluhan kandang di sana. Aksa hanya ingin membeli dan bisa melihat perkembangan perternakan.
Siapa tahu ia kegoda buat menanam saham di sana.
Aksa sambil melihat dan ditemani karyawan yang berkerja, “Kalu yang ini bisa ditawar nggak?” Aksa mencoba untuk menawar, ia masa mau jadi bahan percobaan, percaya begitu saja. Tapi, Aksa nggak lama dia jika menawar.
Masa iya orang kaya nawar sih, nggak gitu pula jika permintaan harga pasar segitu ya segitu nggak bisa yang namanya membohongi ataupun menaikkan harga jualnya.
Karyawan itu menggeleng, “Ini kambingnya kualitas baik pak.” Aksa mendengarnya hanya berdecak, type pemasaran model apa begini? Dikembangkan kek seolah menarik gitu.
“Ya sudah, saya milih yang harga sedikit murah tapi berkualitas. Ada nggak?” Aksa mencoba menarik untuk diperhatikan ini perternakan sedikit bermain ya, dari tatapan Aksa saja sudah bisa dilihat karyawan ini pintar menyembunyikan apa yang terjadi.
“Jadi tidak?” suara itu mengejutkan Aksa yang sedang melamun dan berniat membeli itu hanya angan-angan saja, ia menggelengkan kepalanya sebagai tanda jawaban.
Ada helaan napas yang tersengar, Akan sudut matanya berkerut. Heran saja, toh ia cuman pembeli mau di paksa bukan berarti ia menjadi raja untuk pembeli kali ini.
“Maaf saya harus pergi dulu,” pamitnya dan Aksa berjalan keluar dari wilayah perternakan itu, ia melihat perternakan itu sepertinya orang yang bervakat selubung antara pembeli yang dijadikan korban.
Iya yang diliat Aksa kali ini.
Aksa mengarah ke mobilnya, di sana sopir setianya menunggu di depan mobil. Aksa menghembuskan napas perlahan.
“Nggak capek emang?” Aksa bertanya, kedua mata Aksa menatap jengah kepada sopirnya yang hanya menggeleng. Mereka itu sudah dilatih buat menjawab, tapi ya sudah lah Aksa tak mempermasalahkan.
“Ya sudah nanti saya kasih bonus,” mumpung baik. Aksa kalau nggak melihat bawahannya yang nggak pernah senyum dihadapannya memang begitu, sebenarnya mau menyogok atau bukan.
Aksa masuk ke dalam mobil, ia sudah lelah tapi jika ia tak perjuangkan ini sama saja ia membohongi istrinya yang kemudian ia bertengkar, kan nggak jadi lagi.
***
“Nin, kemana suami mu itu? Kok jadi suami nggak di samping istrinya sih!” Bude sudah kesal menunggu. Anin mendengarnya hanya diam, ia tidak tahu juga.
__ADS_1
Anin sejak tadi berada di kamar, mau suaminya pergi itu urusan suaminya.
Di sini ia bersama budenya, budenya sedang menggantikan popok yang habis mengompol sepertinya. Dan Anin mengamati setiap pergerakan budenya, di sini yang cocok siapa sih yang jadi ibu benar-benar ia merasa masih gadis saja.
Pakde, laki-laki itu menghilang dari ruangan itu tapi tadi sempat izin dulu sebelum pergi.
Akhirnya pakde, laki-laki itu ada pekerjaan jadi harus balik ke kantor dan mengerjakan file yang belum sama sekali disentuhnya, membuat salinannya katanya.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu berhasil mengarahkan mereka ke pintu, Anin menghela napas pelan. Ia melangkah ke pintu, di sana ada pembantu yang tersenyum ke arahnya dan ia membalasnya.
“Maaf Bu, mengganggu jika di bawah ada tamu, bu.” Ucap pembantu itu, perempuan itu mengernyitkan dahinya. Siapa yang datang? Kalau seumpama mertuanya, kenapa nggak langsung ke kamar contoh pakde sama bude.
Anin mengangguk, perempuan itu menutup pintu kamarnya dan ia sempat heran.
Ia pun berjalan lebih dulu daripada pembantunya yang sedang ada di belakangnya.
Sampai di bawah anak tangga, pembantunya lebih dulu ke dapur.
Di sana ada badan yang membelakangi Anin yang sama sedang turun dari tangga, tatapannya tak begitu Anin fokuskan.
Anin, kemudian berdehem dan si tamu itu menoleh, membalikan badannya.
Pria tua itu, berjas hitam dan berdasi yang senada. Semuanya serba hitam, sampai Anin bingung sendiri. Kok bisa pecinta hitam, Anin melangkah lebih dekat. Menemui tamunya dan menyalami, sebagai tuan rumah sebaiknya menemuinya.
Pria itu tersenyum dan ternyata ini anaknya, semakin gembul saja putrinya. Tampaknya persis dari istri pertamanya.
“Maaf pak,” Anin menyalami dan pria tua itu menerimanya.
Pria tua itu di dalam hati berkata, jika itu benar! Maka ia akan membongkar hari ini juga mau dia gegabah yang penting bisa sedikit menaruh kepercayaan kepada putrinya ini.
“Ehm, bapak siapa ya? Tamunya mas Aksa, mas Aksa belum pulang soalnya.” Serentetan yang di jawab oleh putrinya kali ini, ya pria itu Revino dan pria itu sebenarnya ada gejolak untuk memeluk putrinya, mengelus kepalanya.
Menyalurkan sebagai ikatan batin seorang ayah dan anak yang seharusnya dilakukan seperti apa. Revino tersenyum, “Nggak kok nak. Saya di sini mau melihat istri dari rekan kerja sama saya, ya suami kamu.” Sedikit bergetar nadanya dan Revino menetralkan napasnya sebelum dicurigai oleh putrinya.
Bodoh sekali ia.
----
Hahaha, maaf kalau tersendat di sini! sampek sini dulu ygy🙂.
Mau lanjut keburu dah ngantuk, Siap-siap mau sahur☺ buat yang mau puasa tarwiyah.
Hehehe, ya udah pay-pay.
__ADS_1
Jangan lupa follow ig din biar dapet info😊.
@dindafitriani0911