
Happy Reading
Selesai memakan bakso, Anin pun kembali ke mejanya bersama teman-temannya. Dia mengerjakan pekerjaannya sangat rapi dan pandai mengolah suasana. Sampai temannya kagum dengan pekerjaannya, cepat selesai.
"Nin, ini gimana? Aku nggak bisa ini," Temannya pun mendekati Anin, tiba-tiba ada seorang manager bagian marketing lewat.
"Wah, ada temen baru, pintar, dan segalanya di taklukkan inih... Bisa di panggil sama managernya ini mah, nggak taat pada aturan." Cerocos perempuan yang berpakaian kurang bahan, Anin saja menatapnya dengan geli dan bergidik, sama dengan teman Anin. Mereka sama-sama geli dan malah fokus dengan pekerjaannya.
"Mau apa sebenarnya ibu ke sini itu? Mbok ya, itu-itu di tutupin, jangan buka masalah di sini bu! Kita ini anak baik-baik, bukan kayak ibu itu. Ngaca dirilah, jangan sampai kayak manager kita nanti!!! Di ketawain sama seluruh karyawan mau?" Ucap sinis salah satu karyawan yang satu bagian dengan Anin.
"Ehm, nama kamu siapa?"
"Saya Anin bu, nama ibu emangnya siapa?" Tanya Anin dengan baik dan tersenyum, perempuan itu menatap Anin dengan pandangan tak biasa, sepertinya wajahnya nggak asing.
"Ternyata ini Anin, yang dulu tetangga ku itu. Hahaha... Sekarang dia nggak sekaya dulu ya, selalu meloroti harta suaminya sampai sekarang mereka berpisah. Emang dasar!!! Ujungnya adalah bercerai, maafkan aku ya yang selalu mengganggumu dalam suka dan duka, aku terlalu kejam." Ucap perempuan busuk itu di dalam hati, seperti sampah busuk yang nggak tau malu. Berhamburan keman-mana, mereka memilih untuk melanjutkan pekerjaannya, daripada berurusan dengan manager satu ini.
"Udahlah bu, jangan kemari lagi! Kita munek-munek liat ibu, macam nggak ada kerjaan apa?"
"Eh, kalian itu sopan ya sama saya. Karena saya itu juga atasan kalian,"
"Atasan baju bu, nggak tau malu apa? Ke sini cuma di ejek saja malah di banggain. Orang macam apa lah kayak gini, biar nanti saya dandani ibu ya kalau nanti ibu nggak punya make-up apa nggak baju, saya pinjemin kok. Mumpung baik bu, rezeki jangan di tolak!"
Dengan begitu mereka tertawa, perempuan itu menggebrak meja dan meninggalkan ruangan ini, lewat begitu saja, tanpa permisi apa nggak salam.
Menahan malu dan ingin marah, silakan! Siapa yang salah? Dan siapa juga yang membuat gara-gara di sini? Bisa dihajar satu ruangan pokoknya.
"Saya akan laporkan kalian, karena sudah merendahkan harga diri saya di sini." Ucap perempuan itu dengan memencet layar handphone, menelepon asisten kantor ini. Selain asisten pribadi, ada juga yang selalu menongolkan wajahnya, yaitu asisten khusus kantor ini.
__ADS_1
Yang selalu berangkat setiap hari, memastikan keadaan kantor ini dengan keadaan kondusif, aman dan tentram. Tidak ada kebencian dan dendam yang selalu terbawa dalam arus yang tidak baik.
"Selamat pagi Pak..."
"Pagi, ada apa kamu telepon saya? Bisa nggak kamu nggak telepon saya, kalau kamu ada laporan temui saya di ruangan, bukan main telepon begitu. Saya tunggu kamu di ruangan saya!"
'Tutttt...' sambungan telepon di matikan, manager itu mendesis dan menghentakkan kakinya.
***
Beberapa jam telah berlalu, Anin sudah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, bahkan dia sekarang sudah di perbolehkan pulang dengan managernya.
"Teman-teman, aku pulang dulu. Selamat bekerja, semangat terus... Supaya bisa pulang," Ucap Anin dengan menyemangati mereka.
Anin keluar dari kantor, dia terkejut karena ada Putri dan laki-laki yang masih muda, sekiranya sih masih muda tapi kok kayaknya itu bapaknya. Masa iya, Putri jalan sama bapak-bapak. Yang ada kan lucu, laki-lakinya tua dan perempuannya muda.
Anin memberhentikan taksi dan taksi pun berhenti, "pak, tolong ikuti mobil itu ya pak! Jangan sampai lolos dari pemandangan!"
"Oke, mbak. Yang itu kan?"
"Iya, agak di lambatkan dikit ya pak, soalnya saya nggak mau kalau mereka curiga!"
"Baik mbak," Taksi pun berjalan dengan mengikuti mobil yang di tumpangi Putri dan bapak-bapak yang di sampingnya tadi.
Mereka masuk di sebuah perhotelan, di sana banyak orang yang memasang tenda beserta orang-orang yang mempercantik hotelnya. Anin memindik seperti maling, "sepertinya ini mau nikah mbak. Kok ada pasang tenda terus pasang dekorasi pengantin gitu mbak." Ucap sopir taksinya dengan membelokkan taksinya di tempat sepi.
"Iya Pak benar, coba bapak keluar dulu Pak. Tanya siapa yang mau nikah, saya akan bayar bapak dia kali lipat dari harga ongkos taksinya pak!"
__ADS_1
"Baik mbak, mbak tunggu di sini dulu! Saya akan tanya orang sekitar, buat memastikannya."
Sopir taksi keluar, Anin mulai curiga dengan pemasangan tenda ini, katanya cinta mati sama Rifa'i. Tetapi, mana buktinya? Bukti macam sapi ompong, selalu bikin merumitkan masalah.
Sopir taksi balik lagi ke dalam taksinya, sekarang sopirnya ikut campur dengan urusan pribadi Anin, nggak papa yang penting dapet uang.
"Gimana pak?"
"Katanya mbak, ini apa tadi yang nikah itu Putri dengan Rifa'i begitu mbak, katanya yang masang tenda itu. Saya sendiri mau tanya memangnya kenapa kok kita mengejar mereka mbak?"
Bagaikan api menyambar, hatinya sekarang berapi-api sampai panas dan tidak terima, beberapa hari lalu bercerainya sekarang udah ngembat mau nikah sama Putri, benar-benar nggak bisa di percaya lagi.
Biar lah kenangan akan pergi dari pandangannya sekarang, daripada dia sakit hati, mening jalankan kehidupan baru supaya nggak selalu mengurusi hal pribadi mantan suaminya itu.
"Jalan Pak!"
"Baik mbak," Jawaban sopir taksi itu belum di jawaban, sopirnya kepo juga dengan masalahnya apa?
"Yo wis lah ben, penteng di kei duet. Mangan, turu, ngiseng. Hahaha... Urep nggak enek
artine." Ucap sopir taksi itu di dalam hati dengan logat bahasa Jawa.
Bersambung...
Jangan lupa berikan Like dan Komentar positifnya 🤗🤗🤗
Terima kasih yang sudah memberikan dukungan dan yang sudah mampir ke sini 🙏💕
__ADS_1