
Assalamu'alaikum...
Yak-yak, Episode 71 dipindah di sini ya gess. Nah, kalau gak nyambung boleh tuh ke judul Samawa Till Jannah
Season 3 biar enak dari Episode 1-70 di platfrom ini juga.
Boleh pencet profil Din!
Oke, sekarang bisa dibaca lagi kalau nggak bosen mantengin mereka π€£!
Hehhehe...
Jangan lupa Likemen!
...Typo tolong komen!...
...Happy Reading...
...***...
Anin, dirinya sudah menyiapkan makan malam kali ini dan ia menatap teman kecilnya itu yang masih menempel di tubuh pakde nya sampai budenya cemburu.
Bisa dijelaskan jika teman kecilnya itu sudah menganggap pakde Anin sebagai ayahnya sendiri walaupun sudah punya papah tapi menurutnya masih kurang kasih sayangnya.
Pakde ingin gerak sebenarnya dari tadi melihat tatapan menghunus yang diberikan istrinya, tatapan kecewa terlihat. Emang dulu yang memanjakan anak itu ya suaminya, tapi mau gimana lagi.
Sudah menjadi kebiasaan.
Oke, sebenarnya ada masalah kok sifat manjanya nggak ilang kenapa coba. Anin sampai terbingung, pakde tidak bisa mengucapkan apa-apa.
Ia juga rindu dan serasa rindunya membuncah di dada pasti akan senang hatinya jika melihat anak titipan itu kembali ke tanah air.
βNak papah sama mamah gimana kabarnya?β
Sambil mengelus rambut ikal perempuan itu, perempuan itu memang seperti anak lelaki gayaannya kalau ngomong saja sama persis dengan laki-laki.
βLah barusan papah sama mamah nelpon, kalau mereka bakal ke Indonesia. Tapi enggak tahu kapan.β Balasnya dengan tanpa melihat lawan bicaranya, perempuan itu fokus ke hadapannya sekarang, TV.
Astagfirullah, ini rumah siapa.
Kali aja mau jadi asisten tambahan, biar nggak nambahin beban. Enak banget posisi begitu ya, nggak tahu ada cacing kepanasan. Anin menatap kesal dan ingin melempar perempuan yang disebut teman kecilnya itu ke jurang dasar metamorfosis.
Weh salah, typo amat. Ke mantel bumi sekalian ditelan hidup.
βOh iya katanya Anin denger dari papah, hamil kamu nin? Beh berarti langsung jadi dong sama suami kamu.β Nadanya menggoda dan Anin menautkan alisnya.
Orang ini cengoh apa terlalu goblok sih.
Badannya saja agak buncit, bisa-bisanya baru sadar.
Anin hanya mengangguk, ia pun di samping suaminya. Suaminya masih setia menatap layar laptop di depannya, ia melihat data statistik perkembangan perusahaan rasanya cenat-cenut di kepala apa lagi suaminya yang sama setiap hari hanya melihat dokumen penting yang di map pasti banyak yang menumpuk.
__ADS_1
Maka dari itu ia lebih kasian. Kalau masalah kasian, ia kasian juga tiap hari diduakan nggak ada waktu sama istrinya jika suaminya saja menomorsatukan pekerjaannya.
βEhm, pakde sama bude nggak pulang?β melihat ini sudah agak petang, bukannya mengusir tapi rumah siapa yang jaga.
Takutnya di maling lagi.
βPakde nanti pulang, bude mau di sini nemenin ini temen kamu.β Jawab bude menuangkan air dari dalam teko yang berisi teh hangat dan menyeduhkan di gelas untuk dikasihkan ke pakde.
Pakde menyepakati setuju sementara Anin menatap tak percaya ke arah temannya itu.
Tak lain dari temannya bernama Andini Arischa Putri, ia sudah menjadi teman Anin sejak kecil sampai gebuk-gebukan pun sekarang masih terjalin komunikasinya walaupun Andini menanyakan lewat pakde dan bude. Sempat kontak terputus beberapa tahun, akhirnya papah Andini bisa menemukan kontak mereka.
βNdin mau nginep di sini?β Ekspresi yang ditampakkan Anin memang tidak menyukai keberadaan Andini ini yang diam-diam memerhatikan suaminya. Takut untuk diselingkuhi dengan temannya.
Hanya jaga-jaga sih.
βIya nin, emang ngapa? Hm, kamu nggak suka saya di sini?β tanya Andini dengan wajah di cemberutkan. Hilih, bikin Anin ingin mencakar wajah Andini.
Anin menepuk tangan suaminya, βYuk di kamar! Nggak betah aku,β ucap Anin mengajak suaminya untuk pindah ke kamar.
βNggak sopan, jangan begitu! Masih ada pakde sama bude.β Jawab Aksa membenarkan kacamatanya dan melepasnya. Ia meregangkan tubuhnya, menutup layar laptopnya.
βAku lagi males sama Andini,β cicitnya dengan sendu dan Anin menemplok di tangan suaminya.
Aksa menghela napas, βJangan gitu itu juga temen kamu!β protes Aksa, melihat itu mereka hanya menatap dan Andini menghirup udara dalam-dalam.
βYa sudah aku ke rumah pakde sama bude saja kalau aku di sini merepotkan,β kata Andini dan Anin mengangkat sudut mulutnya setengah mencibir.
Bude dan pakde saling mengode, βOke, baiklah sekarang kita pulang daripada berantem di sini. Ya udah bude sama pakde pulang ya nin, oh iya Ndin kamu ikut pulang pakde sama bude aja ya.β Putus Bude.
Bude dan pakde tidak mau jika masalah ini tercampur dengan rumah tangga mereka, mereka lebih memilih jalur aman saja.
Bude siap-siap, ia memasukkan handphonenya di dalam tas dan Anin hanya menatap orang tua yang sudah berumur itu.
Anin hanya menatap datar tanpa membalas atau apapun, dalam hati panas sebenarnya.
βIya sekalian tuh hati bude sama pakde lu templok kek lem.β Anin mencibir.
βHEH dosa! Nggak boleh gitu, siapa yang ngajarin?β Aksa menasehati dan menepuk pundak istrinya untuk bersabar.
Ia juga memaklumi kalau istrinya ini agak kurang mood dari pertama bocah perempuan itu ke sini.
Β
βIya. Gue bakal rebut kok, nggak pakai lama lagian.β Jawab Andini sembari terkekeh dan berjalan meninggalkan ruangan ini.
Mengambil koper serta ranselnya yang ada di kamar tamu, sedikit ada rasa kasian dengan mereka tapi Aksa tak bisa apa-apa.
Pakde dan bude tertawa melihat ponakannya seperti itu, agak sedikit kecewa juga sih dari mereka tapi mereka tahu jika ini bawaan dari bayi yang nggak mau berdekatan dengan Andini. Jika Anin nggak mengandung saja mungkin ia sekarang melupakan suaminya yang ada di sampingnya itu pasti akan disuruh-suruh.
βYa sudah kami pamit ya, jaga cucu bude sama pakde di sini!β ucap Bude berpesan kepadan Anin dan Anin menganggukan kepala.
__ADS_1
Ia masih melengkungkan bibirnya, karena itu bude merentangkan kedua tangannya agar ponakannya bisa memeluknya sebelum pergi.
Benar saja belum beberapa menit marahan, masih saja memeluk budenya tanpa rasa bersalah dan mulai terisak.
βKok nangis sih! Hayo katanya tadi disuruh pulang?β kekeh bude mengusap punggung ponakannya itu dan melepaskannya.
Sementara temannya itu menatap senyum, ia turut bahagia kalau perempuan hamil itu bahagia bukan berarti ia akan nikah dengan orang yang ia idamkan selama ini sampai kebawa ke Australia.
Ia akan mencari kalau masalah itu, jodoh tak akan kemana.
Mau merebut suami orang, ya kagak pantes type dia itu selera tinggi, jangan heran lagi pokoknya.
βYuk pulang!β seru Andini membuat Anin melepaskan pelukannya, ia menatap peluh dan melihat Andini yang merangkul lengan pakdenya seperti ayah sama anak.
Membuat dia iri, akh tidak dia memang di sini sudah dianggap sebagai anak bagi pakde tapi kalau Anin melebihi anak pokoknya. Anin tersenyum tipis, ia lantas menyalami tangan pakde serta budenya.
Melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan, awal menyakitkan tapi kebiasaan tidak apa-apa yang penting Andini bisa merasakan temannya satu ini baik, suka menolong rajin menabung.
βSabar ya! Jangan dipendem kelamaan, jadi takut emosinya meledak seketika.β Goda Aksa membuat wajah Anin bersemu merah, ia memukul dan mencubit lengan suaminya.
βHeh emang aku suka mendem, nggak ada ya!β
βSiapa tahu nanti aku jadi bahan taruhan.β Kelakar Aksa mencoba meraih tangan istrinya dan tidak kena, Aksa memberikan seringai miring.
βAku mau olahraga, saya-β
Anin menghela napa sudah, yang dipastikan Aksa memberhentikan omongannya.
βHusst nggak ada. Kasian anaknya nanti, kepenyet.β Kilah Anin dan Aksa tampak memudar senyumnya, tapi dari badannya serasa minta lebih.
Oke, ia sekarang harus main bola di kamar mandi jika istrinya tidak bisa memuaskan.
Anin tersenyum senang, hanya kolah tipu daya muslihatnya saja untuk menghindari dan Aksa diam-diam menatap Anin.
Pasti ini semua Anin sedang merencanakan sesuatu.
Bersambung...
Holla gimana gaissπ€£...
Hahah... gue nasibnya kok gini amat ya, males lagian...
Di sini sepertinya ada penghasilan π.
Wokeh jangan lupa follow IG Din
@dindafitriani0911
Biar dapet info up apa nggak π€.
Makasih, see you... bye-bye
__ADS_1
...