Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
Season 3- Episode 74


__ADS_3

...Hallo.......


...Apa kabar?...


...Nyapa lagi....


...Hm typo komen ya!...


...Jan lupa Komen dan Like!...


...Errr......


...***...


...Happy Reading......


Perempuan hamil itu kini sedang berada di depan warung bakso dan menunggu antrean yang begitu menumpuk di sana, banyak orang yang menunggu untuk bisa makan.


Aksa, pria itu sudah lama menunggu bisa-bisanya ia kepikiran buat nunggu sebenarnya ia bisa beli satu gerobaknya sekalian. Berapa sih, eh nggak boleh ngeremehin mau seberapa itu nggak akan pernah disombongin mau jualan itu sepenting halal.


“Nin, kamu nanti capek lho. Kasian aku,”


Aksa masih menatap Anin yang kini sudah duduk dengan lamanya dan pasti punggungnya berasa kretek-kretek.


Anin menghela napas kasar, “Iya sih aku udah capek tapi pesenan ku gimana?” tanya Anin melihat antrean yang masih panjang. Ia saja untung-untungan masih bisa tempat duduk, banyak anak muda yang nongkrong di motor masing-masing.


Aksa menyunggingkan senyumnya ketika istrinya berdiri. “Mau pulang?” Anin menatap suaminya yang tersenyum tipis. Ia sebenarnya tak rela sudah mengantre sejak satu jam yang lalu. Punggungnya serasa mau cepot ditempat.


“Tapi gimana baksonya?” Wanita hamil itu masih meyayangkan baksonya dan Aksa menatap istrinya pasrah, ia memikirkan siapa orang yang bisa menunggu antrean baksonya ini dan ia pasti ketemu jawabannya.


“Oke, pengawal ku nanti ke sini. Buat ambil baksonya,” putus Aksa. Ia sudah tak tertahan buat menahan lapar dari rumah sakit sampai ke sini, ia benar-benar haus sekali.


Orang bakso kek gini kok ya diincar gitu lho, sempet heran Aksa. Sampe tujuh keliling buat cari, blusukan lagi tempatnya. Bersih, indah itulah tempat yang diciptakan suasana di sini.


“Hah beneran?” Anin memastikan, ia tak mau diberi harapan palsu lagi.


“Iya, kalau nggak nanti nggak usah ini apa ya---” Aksa memikirkan dirinya jika tidak menepati janjinya dan Anin menjawabnya segera.


“Nanti malam nggak usah bareng seranjang.”


“Hah?” beo Aksa yang meloloskan pandangannya ke istrinya yang berjalan ke arah mobil berada, di sana sopir sedang menunggu.


Anin merasa jika ini majikan benar-benar kejam amat, masa iya dari tadi nggak keluar dari mobil dan Anin mendekat ke mobil, baru saja sopir buka pintu mobil kemudi.


Sopir membukakan pintu mobil tengah.

__ADS_1


“Pak, kalau nggak betah buat mengabdi mending ngundurin diri aja. Ketimbang bapak tertekan kerja sama pak Aksa, yang nggak tahu diri.” Recok Anin, ia kasihan kalau seperti itu Anin nggak bisa bertindak. Ia bukan siapa-siapa, hanya saja menyandang gelar Nyonya muda. Namun, ia sudah memiliki anak masih pantas emangnya dipanggil Nyonya?


Oke, ia tidak suka dipanggil seperti itu. Memang ia bosnya, jawabannya pasti bukan.


“Anin, istri ku sayang. Bisa nego nggak?” Aksa menghampiri Anin dan berkata seperti itu.


Oh tidak tahu malu nih orang.


Ia saja sempat malu tadi mengatakan seperti itu, hanya saja tertekan dengan Aksa yang merengek pulang. Pria itu beralasan jika dirinya capek lah, kasian bayinya lah.


Astaga ia lupa tadi bawa kuncritan dirinya yang tidak pernah dicuci selama setahun dan baunya, Masya Allah. Bikin candu pokoknya, apa nggak Aksa disuruh naik motor.


Biasanya pria itu selalu menolak dengan beribu macam alasan.


“Nego, enak banget. Janjian awal sudah begitu, ya sudah lah. Nah satu lagi kalau kamu tidak itu menepati maka jika kamu melewati, sekalian deh angkat kaki dari rumah. Eh salah aku inget kalau rumah itu bukan rumah ku jadinya aku agak sungkan buat ngomong.” Ucap Anin panjang dan Aksa mengangguk pasrah.


Ia saja mukanya sudah digelung begitu tandanya masih kurang puas dengan janji Anin yang agak rumit buat dirinya yang tidak bisa menahan rindu istrinya.


“Good kalau gitu, yuk pulang! Sekali lagi titip buat oengawal kamu nanti, belanjain semuanya sekalian. Mau apa terserah,” kata Anin bikin Aksa mengerjap polos.


Hatinya bergejolak ingin menolak mengingat kalau istri ngidam harus dituruti.


“Iya deh iya, aku bakal belanjain mereka sekalian.”


“Iya dong, secara kamu banyak duit masa ngeluarin uang dikit buat beli nggak cukup.” Hina istrinya yang memasuki kereta besinya dan Aksa menyusul wanita buncit itu yang sama sedang menahan napasnya.


“Iya Pak saya mau tanya, setelah ini mau kemana lagi?” tanya sopirnya.


Aksa sedang mengeluarkan handphonenya dan Anin yang melihatnya bikin gemash sendiri.


“Kalau ditanya dijawab!” Anin mengeluarkan suara agak sedikit tinggi kepada suaminya dan Aksa menoleh mendengar ia sedikit terjengkit kaget tadi.


“Nggak sopan tahu! Itu bapak, jangan pakek segala diukur dengan uang! Sebisanya kamu memperlakukan seenaknya.” Gerutu Anin, Aksa lantas memasukkan kembali handphonenya dan meraih tangan wanita di sampingnya ini. Sedang mengerucutkan bibirnya tanpa sadar Aksa menciumnya lembut.


Anin matanya melebar, ia menggigit bibir Aksa. Aksa mengaduh pelan, ia mengusap bibirnya.


“Kalau marah bumil jadi gini ya, iya nanti bapaknya mau apa. Aku beliin,” bapak sopir di depan hanya menyimak mereka yang sedang melakukan perdebatan karenanya.


Bisa aja, ia saja begini sudah hidupnya tidak ada beban apalagi majikannya tambah melakukan dirinya sebagai orang yang bisa diandalkan untuk kehidupannya, dipercaya sama seperti orang tua majikannya.


“Iya terus kalau marah mau kek harimau gitu,” geram Anin dan Aksa semakin tertawa keras.


Anin melipat bibirnya, memukul lengan Aksa dan Aksa pura-pura kesakitan.


Atas tindakan pidana kdrt istri, Aksa akan urus itu nanti.

__ADS_1


“Kamu maunya kemana? Aku sudah nurutin,” Ulang Aksa mengacak kerudung Anin yang menjadi berantakan.


Aksa membenarkan, “Pada akhirnya ngacak sendiri. Benerin sendiri, agak kurang kerjaan ya mas?” tanya Anin yang keheranan dan Aksa mengelus pipi Anin yang semakin hari pipinya seperti bakpao ngembang.


Aksa mendengus pelan. “Kerjaan di kantor banyak, aku di sini mau nemenin istri ku dulu baru kerjaan. Demi calon dede bayi sama maknya yang kini masih ngambek.” Goda Aksa dan Anin membentuk senyuman yang terukir di bibirnya.


Ia menggigit bibirnya, “Oke Pak suami. Makasih ya, heheh yang bentar lagi jadi calon ayah.” Ucap Anin dan Aksa tersenyum tipis.


“Nggak ada niatan buat manggil daddy gitu, biar kek klop gitu lho.” Aksa sepertinya masih mode ingin, dan Anin mengerutkan dahinya.


“Kek orang inggres aja, enak amat dipanggil daddy. Risih kali,”


Aksa tampak berpikir keras, teman-teman seperjuangan. Anaknya berhasil memanggil sebutan variasi sampai Aksa pingin belajar dari teman-teman seperjuangannya yang kala itu berkumpul membahas keluarganya masing-masing hanya saja ada beberapa orang yang belum terpikir untuk menikah.


“Nggak harusnya daddy lebih apik kalau didengar.”


“Orang semugeh kek Sultan banget, oh iya merasa sombong pantes emang kalau didenger! Nggak ada, yang pantes itu bapak sama ibu apa nggak ayah dan ibu gitu doang. Simpel pasti tense.” Ucap Anin yang terakhirnya membahas tentang pelajaran bahasa Inggris mungkin ia akan membahas ulang kembali.


“Maksudnya? Nggak ngerti apaan itu,”


“Iya ngertinya apa itu tentang ekonomi ya bos, pasti nggak ada yang namanya bahasa Inggris.” Sela Anin yang mulai ngelantur pembicaraannya kali ini.


“Udah lah males aku,” Aksa meletakkan tangannya di depan dada dan memikirkan bakso yang tadi belum terambil nomer antreannya dan Aksa mengeluarkan handphonenya, mengetikkan sesuatu untuk pengawal yang akan ke sana, mengambil pesanannya. Ia tadi sedikit berbincang lebih lama dengan penjualnya.


Pada akhirnya janjian yang awalnya menunggu lama itu berbuah hasil, dengan sogokan Aksa yang berlipat jumlahnya.


Huh, kenapa dari Aksa dan Anin ke sana harusnya Aksa meng-handle semuanya, bisa saja Anin memakan sepuasnya sebab Aksa menyewa satu hari.


Aksa mematikan handphonenya dan handphonenya diletakkan di kursi. Ia pun memejamkan matanya, ia masih ingin liburan sebenarnya tapi tidak untuk istrinya yang tengah mengandung buah hatinya.


Akhirnya Aksa tertidur beneran di dalam mobil setiap perjalanan Anin hanya menatap suaminya dan Anin terganggu ketika handphone Aksa berdering.


“Hm, mas...” Panggil Anin yang mendengar suara dari handphone Aksa yang berdering beberapa kali, Aksa masih terpejam. Mungkin kelelahan jadi seperti ini.


Anin mengambil handphone Aksa, mengeja setiap nama yang tertera di handphone.


“Revino, siapa orang ini? Sepertinya nggak pernah denger, tapi sempat pernah berkabar jika orang ini sama pengaruh besarnya di kehidupan bisnis. Berarti partner kerja sama mas Aksa dong.” Anin bingung hanya menebak-nebak, mau memencet ikon hijau. Namun, mata Aksa mengedar ke arah Anin yang ingin memencet dan Aksa mengambil handphonenya.


Aksa tersenyum, ia memilih untuk mematikan handphonenya dan menghidupkan mode pesawat agar terhindar tatapan intimidasi dari istrinya. Hawa-hawa yang dikeluarkan Anin seperti orang yang butuh tanda jawaban.


Bersambung...


Okee, makasih buat yang dah mampir🤗.


See you next episode ya...

__ADS_1


Jangan lupa follow IG Din buat dapet info up apa nggak ☺.


@dindafitriani0911


__ADS_2