Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
Episode 89. Kerja lagi


__ADS_3

Happy Reading 📖


Anin sudah siap, dengan balutan kain hijab yang menempel di kepalanya dan gamisnya yang berwarna coklat bata. Dengan make-up tipis, Anin menyiapkan piring serta buah-buahan, untuk pencuci mulutnya nanti.


"Allhamdulilah, sudah selesai. Minumannya nin di tuangin ya, jangan sampai nanti mereka yang nuangin airnya sendiri." Ujar Budenya dan Anin mengangguk. Anin mengembalikan posisi kerudungnya seperti semula.


Pakde sudah siap dan menonton TV, sambil menunggu mereka datang. Acara ceramah yang ingin di dengar dan seperti lantunan ayat suci Al-Quran yang setiap Ramadhan pasti di sambut dengan seperti ini keadaan yang sungguh amat memuliakan sekali. Pahala yang berlipat ganda maupun beribu-ribu pahala tetap saja kita harus melakukan sebagaimana yang di lakukan biasanya.


Allhamdulilah, Pakde mengucapkan hamdalah sebanyak-banyaknya. Karena sudah di pertemukan di bulan Ramadhan tahun ini. Dan sebentar lagi juga sudah menyambut hari raya idul fitri, harus di sambut penuh dengan kemenangan.


"Assalamu'alaikum," Yang ditunggu-tunggu orangnya pun datang. Anin membukakan pintu, terkejut pula si Aksa. Sebelumnya juga dia bertanya-tanya di dalam pikiran dan hatinya, seperti jalan yang sudah pernah ia lewati dan benar dugaannya jika ini rumah karyawannya.


Mau apa sebenarnya?


"Wa'alaikumsalam, eh---" Langsung menilik Aksa dan tetap tersenyum kepada Ayah dan Ibunya Aksa. Anin belum juga mau ngomong tapi Budenya sudah menyembulkan wajahnya ke ambang pintu.


"Wah, mbak apa kabar?" Bude menghamburkan pelukkan kepada Ibunya Aksa, dengan mata yang menggenang air mata. Sungguh benar penyiksaan yang begitu amat berat bagi Bude, teman satu bangku tetapi sudah berpisah selama bertahun-tahun.


"Allhamdulilah baik-baik mbak, mbak juga apa kabar?" dengan menangis tersedu-sedu dan Ibu Aksa mengelus punggung Bude.


"Iya, baik allhamdulilah." Anin terdiam sejenak dan Ayah Aksa melirik mereka berdua. Ayah Aksa mempunyai firasat jika anaknya dekat dengan ponakan teman istrinya ini.


"Em, kalian nggak kenalan?" tanya Ayah dan mereka menggeleng.


"Loh kenapa? Apa sudah kenal sebelumnya?" lanjut Ayah Aksa dan Ibu terkekeh.


"Iya, yah. Ehm, Anin adalah karyawan ku di kantor, jadi aku setiap hari ketemu dengannya. Walaupun pertamanya agak bertentangan." Ucap Aksa dengan jujur.


"Haha..." Mereka tertawa dan Bude mempersilakan mereka untuk masuk.


"Nggak pernah ketemu agak canggung ya mbak, suami mbak juga itu ganteng sekali. Cari dimana? Sepertinya ada darah bangsawannya gitu," tuduh Ibu Aksa.


"Alah, yang ada orang Jawa bukan darah bangsawan. Malah yang melekat adalah Jawanya mbak. Aku aja kadang heran dengan mas Edi," ujar Bude dan Ibu Aksa pun menahan tawa.


"Iya-iya, ya udah sekarang kita siap-siap buat buka bersama karena sebentar lagi akan mendekati waktu azan maghrib." Ucap Bude, Anin dan Aksa mengangguk.


"Kalian ini kok ngangguk-ngangguk doang, semangat lah. Karena bentar lagi juga mau lebaran, semangat lah. Jangan seperti orang yang nggak sehat gitu!" Goda Pakde, sedangkan Anin tertawa di dalam hati.


"Yang ada Pakde itu," Anin berdiri dan mereka menuju ke meja makan.

__ADS_1


"Wah, mewah sekali ini. Pasti buang-buang duit banyak ini, nanti juga nggak akan habis kalau makanan sebanyak ini mbak." Ucap Ibu Aksa yang tidak enak hati.


"Ehehehe nggak kok, nanti di kirain kita pelit kalau nggak banyak makanan." Jawab Bude, sedangkan Anin memainkan handphone. Dimana membalas chat dari Aksa sendiri.


Aksa [Kenapa buka bersama sama kamu?]


Anin [Iya, nggak taulah]


Aksa [Kok nggak tau, bukannya Bude kamu yang mengajak?]


Anin [Saya nggak tau Pak, itu juga permintaan mereka berdua 'kan]


Aksa [Sudahlah nanti kita di liatin mereka lagi.]


Ibu Aksa merasa heran sama mereka, dengan gelagat yang aneh. Mereka memainkan handphone bersama-sama di ruangan meja makan ini.


"Ehem ada apa ini? Kalian ini kok sepertinya ada hal yang di sembunyikan." Ucap Ibu Aksa, Ayah Aksa pun tersenyum.


"Sudah, makan dulu sekarang!" Ujar Pakde.


Mereka melakukan rutinitas makan bersama.


Anin dan Aksa saling bertatap sampai mereka pun tidak kedip, anehnya Anin melototi Aksa. Pingin ia cabik-cabik kulit Aksa sampai mengelupas.


\*\*\*


"Allhamdulilah kenyang, beberapa hari lagi lebaran mau tiba nih... Gimana kalau kita nanti kumpul-kumpul gitu? Ngadain acara makan bersama dengan anak yatim piatu nanti. Pas malam takbirannya, kasih uang amal gitu." Ucap Ibu Aksa, Aksa menatap ibunya dengan tatapan heran.


Tidak biasanya ibunya melakukan ini, apa jangan-jangan cuma semat-mata untuk menghormati ataupun cari muka di depan bude sama pakdenya Anin.


"Aduh tidak biasanya ibu macam begini, biasanya aja kalau uangnya keluar dikit aja udah ngebor-ngebor ke sana-ke mari." Batin Ayah Aksa, sebagai seorang suami pasti mengertilah.


"Boleh juga bu, itu 'kan baik apalagi kita bersedekah sambil menyuarakan takbiran bersama-sama." Balas Anin, semua sudah kumpul di ruang keluarga. Anin dan Aksa duduk di bawah, sedangkan para orang tua duduk di atas.


"Iya boleh," jawab bude.


"Sebaiknya kita kasihkan uangnya ke panti saja, ketimbang pakai acara-acaraan yang nggak bermanfaat. Kita serahkan langsung ke anak-anak panti, terus kita pulang. Gitu," ucap Ayah Aksa yang berbeda pendapat.


Ibu Aksa melirik Ayah, Ayah pun berani saja menentang pendapat istrinya.

__ADS_1


"Itu juga baik," ucap Pakde dan Bude bersama. Anin dan Aksa melirik, sampai mereka mau berdiskusi dan bisik-bisik.


"Sudah, nanti di pikirkan kembali. Silakan Pak, bu di makan!" Ucap Aksa.


\*\*\*


"Kami pamit pulang dulu ya mbak, karena ini saya minta maaf sebesar-besarnya jika membuat onar maupun itulah." Ucap ibu Aksa dengan memeluk bude.


Bude mengangguk dan mengelus punggung ibu Aksa. Ibu Aksa menyalami dan bude pun ikut menyalami juga.


"Assalamu'alaikum..." Ucap mereka dengan melambaikan tangan.


"Wa'alaikumsalam..." Jawab mereka serempak.


Setelah semuanya bubar, akhirnya Anin dan bude berberes kemudian melakukan sholat isya dan tarawih di rumah saja, karena sudah tertinggal oleh waktu yang ada di masjid.


Selesai sholat, Anin langsung ke kamarnya, menutup hordeng dan naik ke ranjang.


Mengambil handphone di atas nakas, dan mengecek whatsapp. Benar di luar dugaannya, Anin melotot.


Beberapa panggilan whatsapp tidak terjawab dari Aksa, beberapa menit yang lalu.


Anin pun langsung mengirim pesan.


Online, Anin menggeleng-geleng.


Aksa menelepon Anin dan Anin menjawabnya.


"Assalamu'alaikum mas..." Seru Anin.


"Wa'alaikumsalam, Nin besok berangkat kerja! Ada beberapa lembar yang harus kamu kerjakan..." Ucap Aksa dari seberang telepon.


"Hah edan kamu mas! Besok kan udah mulai libur, kok kamu kasih aku tugas lagi." Protes Anin.


"Lah kan kamu asisten ku, kenapa membantah perkataan ku?" Aksa tetap saja keras kepala.


"Iya oke, besok aku ke kantor." Anin pun mematikan sambungannya di telepon. Dan menggerutu sampai habis, mulutnya mau berbusa.


Anin pun tertidur, dan membuat pulau.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like dan komennya...


__ADS_2