Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
– S2 – Episode 25. Firasat Yang Tidak Baik


__ADS_3

Happy Reading


Rifa'i membawa tas dan di masukkan ke dalam bagasi mobil. Akhirnya dia pun melambaikan tangan kepada nenek dan Raihan.


“ Bang jangan lupa bawa nenek ke Jakarta buat ketemu sama papah sama mamah! ”


“ Udah nanti di usahakan. ”


“ Iya. Nanti nenek sama Raihan ke sana kalau itu pun nenek masih hidup, takdir tidak ada yang mengetahui kecuali Allah sendiri. ”


Ucap nenek dengan memeluk Raihan.


Akhirnya mobil di bunyikan klaksonnya dan meninggalkan rumah nenek Sarifah.


“ Mas kok kayaknya tadi nenek Sarifah ngomongnya gitu, emangnya nenek punya penyakit apa? ”


“ Nggak tau yang, ”


“ Aneh ya, kayak ada yang di tutup-tutupi. ”


“ Bener. ”


Mobil sudah melesat jauh dari rumah nenek Sarifah. Rifa'i melihat istrinya yang sedang tidur dengan mengangguk-ngangguk.


Rifa'i memberhentikan mobilnya.


“ Eh ini masih di jalan, udah lah nanti. ”


Akhirnya mobil di lajukan kembali dan menuju ke daerah Bandung.


Beberapa jam kemudian, akhirnya sampai di hotel dan Rifa'i ingin menggendong Anin, tetapi istrinya nanti marah.


“ Yang... ” Ucap Rifa'i dengan mengelus pelan wajah Anin dan Anin menggeliat.


“ Astagfirullah... ”


Anin terkejut dan hampir aja menampar pipi Rifa'i.


“ Ahh. ”


“ Udah sampai yang, mau turun nggak? ”


“ Iya. Mau langsung tidur, ”


Akhirnya Rifa'i turun, mengambil tas yang berisi baju kotor.


Anin turun dengan langkah sayup-sayup, matanya udah nempel jadi satu dengan kelopak matanya.


Akhirnya sampailah di kamar mereka, Anin langsung naik ke ranjang dan menarik selimutnya.


“ Ahh... Gimana ini? Istri udah tidur, aku harus melakukan itu, tapi kasihan udah tidur, capek sama lelah. Tapi, aku butuh di layani. ”


Rifa'i pun meletakkan tasnya dan mengganti bajunya dengan baju berlengan pendek dan celana pendek.


Rifa'i mondar-mandir dan ingin sekali keluar, akhirnya Rifa'i memutuskan untuk keluar dari kamarnya.


“ Astagfirullahalazim, ”


“ Maaf saya nggak sengaja. ”


Rifa'i tertabrak dengan perempuan yang bersama dengan anak kecil di gendongannya, tetapi Rifa'i tidak melihatnya dengan jelas.


“ Iya nggak papa, saya permisi dulu. ”


“ Ya. ” Jawab perempuan yang cantik itu dengan membawa anaknya pergi.


“ Siapa tadi ya? Kayak aku pernah liat dari badannya aja. ” Ucap Rifa'i dan melangkah ke dapur.


“ Selamat malam Pak? ” Ucap Rifa'i.


“ Malam, ada yang bisa kami bantu? ”


“ Begini, buatkan saya kopi sama makanan ya, Pak. ”


“ Baik Pak, silakan menunggu! ”

__ADS_1


“ Di ruang VVIP masih ada? ”


“ Masih Pak, kalau mau boleh saya antarkan. ”


“ Nggak usah Pak. Saya bisa sendiri, ”


“ Baik Pak. ”


Rifa'i membuka pintu di ruang VVIP, akhirnya dia menunggu sambil membuka handphonenya.


“ Astaga banyak bener notifikasinya, di tinggal sehari aja udah ratusan lebih chatnya. ”


Akhirnya Rifa'i membuka chat dari papahnya, kalau mamahnya penyakit jantungnya kambuh lagi.


“ Hah... Mamah di rumah sakit sekarang. Ya Allah kenapa seperti ini keadaannya? ”


“ Mau pulang, tapi udah malem. Gimana? Oke, besok pagi harus pulang pokoknya.


Akhirnya Rifa'i pun membatalkan pesanan kopinya dan memilih untuk berlari ke kamarnya.


Dia pun langsung merangkak ke ranjang dan memeluk tubuh Anin.


“ Selamat bermimpi indah yang. Amiin, ”


Rifa'i mengecup kening Anin dan akhirnya menarik selimut, melanjutkan mimpinya.


Pagi yang masih petang, Rifa'i membereskan bajunya dan istrinya. Dia tidak mau mengganggu tidur Anin, dengan langkah cepat dan pakaian pun amburadul tidak karu-karuan.


Sebelumnya dia mengurus surat-surat hotel yang dia tidak jadi semingu di hotel ini.


“ Aku nunggu adzan subuh sama sholat subuh, setelah sholat subuh langsung berangkat ke Jakarta. ”


“ Yang... ”


Rifa'i membangunkan Anin, Anin menggeliat dan menguap, lebar-lebar. Rifa'i pun menutup mulutnya dengan tangannya.


“ Hehehe... Kenapa mas? ”


“ Ehm, gini yang... Maaf sekali kalau honeymoon di bandung cuma dua hari... Mamah masuk ruang ICU karena serangan jantung mendadak. ”


“ Innalillahi... Ya Allah mas, kita harus pulang mas. ”


“ Hati-hati yang... ”


“ Iya mas, maaf. ”


Akhirnya mereka sudah mandi dan menunggu adzan shubuh berkumandang, sebelum adzan shubuh berkumandang, Rifa'i dan Anin mengaji bersama.


Adzan shubuh berkumandang, Anin dan Rifa'i melaksanakan sholat subuh berjamaah.


Setelah sholat subuh, Rifa'i melanjutkan do'a untuk mamahnya yang ada di Jakarta.


Agar melewati masa kritisnya.


Suara deringan handphone berbunyi, Anin pun membuka mukenanya dan handphone Rifa'i berbunyi.


Terpampang jelas nama Rayhan.


“ Ada apa Rayhan menelpon? ”


Batin Anin dan Anin pun memencet tombol hijau.


“ Assalamu'alaikum bang. ”


“ Waalaikumsalam Rif. Maaf Rif aku mengabarkan kalau nenek meninggal Rif, ”


“ Innalillahi WA Innalillahi Roji'un. Ya Allah bang.


Mas, ”


Kaki Anin lemas dan tidak berdaya. Telepon jatuh dari genggamannya, Rifa'i terkejut seketika. Dan meloncat dari sajadahnya.


“ Ada apa yang? ”


Rifa'i sama lemas dan dingin tangannya.

__ADS_1


“ Mas... Nenek, nenek... Nenek, me-ni-nggal mas. ”


“ Nenek siapa? ”


“ Nenek Sarifah mas. ”


“ Innalillahi Wa Innalillahi Roji'un. Ya Allah, ”


Rifa'i terduduk di atas lantai dan beberapa jam yang lalu, dia tertawa dan melihat nenek Sarifah yang sehat dan mengeluarkan senyumannya.


“ Ya Allah, kenapa? Di saat mamah di ruang ICU, tiba-tiba di kabarkan seperti ini. Aku harus pilih yang mana? ”


“ Udah mas. Kita pulang dulu, nanti kita ke sini lagi, kalau udah keadaannya membaik. ”


“ Iya yang... ”


Akhirnya Anin mengusap tangisannya Rifa'i, yang baru saja keluar dari matanya.


“ Ayuk mas. Kasihan nanti mamah, di sana menunggu kamu, mas. ”


Anin membantu Rifa'i berdiri dan Anin meletakkan peci bersama mukenanya di koper.


“ Mas kamu udah urus kepulangan kita kan? ”


“ Udah. Tadi pagi aku urus semuanya, ”


Anin membantu Rifa'i berjalan dan akhirnya yang membawa koper pun Anin.


“ Bagaimana ini? Bisa-bisa nanti di jalan ada apa-apa. Kalau keadaan mas Rifa'i seperti ini, aku nggak mau seperti itu. ”


“ Mas apa kita suruh orang buat nyopir mobil kita mas? ”


“ Nggak usah yang. Aku masih bisa, ” jawab Rifa'i dengan lemas dan tetap saja tidak mengalihkan pandangannya.


Melamun....


“ Mas katanya bisa. Tapi kamu ngelamun aja, nanti kalau di jalan, terjadi yang nggak-nggak gimana? ”


Membuat emosi Rifa'i seketika naik, karena perkataan Anin.


“ Kalau kamu nggak mau, yaudah kamu pulang aja sendiri. Aku mau pulang dulu, ”


Rifa'i meninggalkan Anin dan Anin terkejut.


“ Astagfirullahalazim... Kan gimana ini? ”


Anin bingung dengan keadaan Rifa'i, emosi yang sudah tidak bisa di kontrol kalau lagi keadaan yang nggak membaik.


Anin melangkah ke resepsionis hotel.


“ Selamat pagi mbak? ”


“ Pagi, ada yang bisa kami bantu? ”


“ Maaf di sini apa ada jasa pengantaran penumpang untuk pulang mbak? ”


“ Emangnya kenapa bu? ”


“ Begini saya tertinggal, jadinya saya nggak ada pilihan. Mau numpang siapa? ”


“ Baik mbak kalau mbak bener-bener butuh, kami akan segera mengurusnya. ”


“ Tujuannya kemana? ” Lanjut resepsionis


“ Jakarta Pusat mbak, ”


“ Yaudah kalau gitu. Kami bantu, silakan mbak tunggu di depan. Sebentar lagi, mobil akan ke sini. ”


“ Baik mbak. ”


Bersambung...


Kasihan bang Rifa'i... Udah di tinggal nenek Sarifah lagi, yang beberapa jam masih bertemu...


Uh, siap yang tau takdir. Hanya Allah yang tau itu semua.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ya ❤️❤️❤️


Maaf nggak bisa nahan emosi bang Rifa'i-nya, ya jelas kalau keadaan susah malah di tambah kacau.


__ADS_2