
Anin sudah siap, dengan balutan kain hijab yang menempel di kepalanya dan gamisnya yang berwarna coklat bata. Dengan make-up tipis, Anin menyiapkan piring serta buah-buahan, untuk pencuci mulutnya nanti.
"Allhamdulilah, sudah selesai. Minumannya nin di tuangin ya, jangan sampai nanti mereka yang nuangin airnya sendiri." Ujar Budenya dan Anin mengangguk. Anin mengembalikan posisi kerudungnya seperti semula.
Pakde sudah siap dan menonton TV, sambil menunggu mereka datang. Acara ceramah yang ingin di dengar dan seperti lantunan ayat suci Al-Quran yang setiap Ramadhan pasti di sambut dengan seperti ini keadaan yang sungguh amat memuliakan sekali. Pahala yang berlipat ganda maupun beribu-ribu pahala tetap saja kita harus melakukan sebagaimana yang di lakukan biasanya.
Allhamdulilah, Pakde mengucapkan hamdalah sebanyak-banyaknya. Karena sudah di pertemukan di bulan Ramadhan tahun ini. Dan sebentar lagi juga sudah menyambut hari raya idul fitri, harus di sambut penuh dengan kemenangan.
"Assalamu'alaikum," Yang ditunggu-tunggu orangnya pun datang. Anin membukakan pintu, terkejut pula si Aksa. Sebelumnya juga dia bertanya-tanya di dalam pikiran dan hatinya, seperti jalan yang sudah pernah ia lewati dan benar dugaannya jika ini rumah karyawannya.
Mau apa sebenarnya?
"Wa'alaikumsalam, eh---" Langsung menilik Aksa dan tetap tersenyum kepada Ayah dan Ibunya Aksa. Anin belum juga mau ngomong tapi Budenya sudah menyembulkan wajahnya ke ambang pintu.
"Wah, mbak apa kabar?" Bude menghamburkan pelukkan kepada Ibunya Aksa, dengan mata yang menggenang air mata. Sungguh benar penyiksaan yang begitu amat berat bagi Bude, teman satu bangku tetapi sudah berpisah selama bertahun-tahun.
Allhamdulilah baik-baik mbak, mbak juga apa kabar?" dengan menangis tersedu-sedu dan Ibu Aksa mengelus punggung Bude.
"Iya, baik allhamdulilah." Anin terdiam sejenak dan Ayah Aksa melirik mereka berdua. Ayah Aksa mempunyai firasat jika anaknya dekat dengan ponakan teman istrinya ini.
"Em, kalian nggak kenalan?" tanya Ayah dan mereka menggeleng.
"Loh kenapa? Apa sudah kenal sebelumnya?" lanjut Ayah Aksa dan Ibu terkekeh.
"Iya, yah. Ehm, Anin adalah karyawan ku di kantor, jadi aku setiap hari ketemu dengannya. Walaupun pertamanya agak bertentangan." Ucap Aksa dengan jujur.
"Haha..." Mereka tertawa dan Bude mempersilakan mereka untuk masuk.
"Nggak pernah ketemu agak canggung ya mbak, suami mbak juga itu ganteng sekali. Cari dimana? Sepertinya ada darah bangsawannya gitu," tuduh Ibu Aksa.
__ADS_1
"Alah, yang ada orang Jawa bukan darah bangsawan. Malah yang melekat adalah Jawanya mbak. Aku aja kadang heran dengan mas Edi," ujar Bude dan Ibu Aksa pun menahan tawa.
"Iya-iya, ya udah sekarang kita siap-siap buat buka bersama karena sebentar lagi akan mendekati waktu azan maghrib." Ucap Bude, Anin dan Aksa mengangguk.
"Kalian ini kok ngangguk-ngangguk doang, semangat lah. Karena bentar lagi juga mau lebaran, semangat lah. Jangan seperti orang yang nggak sehat gitu!" Goda Pakde, sedangkan Anin tertawa di dalam hati.
"Yang ada Pakde itu," Anin berdiri dan mereka menuju ke meja makan.
"Wah, mewah sekali ini. Pasti buang-buang duit banyak ini, nanti juga nggak akan habis kalau makanan sebanyak ini mbak." Ucap Ibu Aksa yang tidak enak hati.
"Ehehehe nggak kok, nanti di kirain kita pelit kalau nggak banyak makanan." Jawab Bude, sedangkan Anin memainkan handphone. Dimana membalas chat dari Aksa sendiri.
Aksa [Kenapa buka bersama sama kamu?]
Anin [Iya, nggak taulah]
Anin [Saya nggak tau Pak, itu juga permintaan mereka berdua 'kan]
Aksa [Sudahlah nanti kita di liatin mereka lagi.]
Anin menyeleh handphonenya dan menatap kembali mereka, mereka bersenda gurau kembali mengingat-ingat zaman dahulu. Seperti ada yang di kacangin ini. Nggak ada yang mengajak ngobrol apa gimana?
Anin mengetuk-ngetuk meja makan, Ayah Aksa mengalihkan perhatiannya.
"Oh iya, ibu tadi lupa makanannya sekalian bawa ke sini. Tadi, Aksa pesan makanan online terus sudah sampai dan jika di buang kan sayang. Aksa, coba kamu ambil sama ponakan Bude sama Pakde ini. Namanya siapa nak?" Tanya lembut sang ayah Aksa, jati diri Ayah Aksa keluar jika mengeluarkan jurus untuk meluluhkan hati perempuan, jagonya beliau. Tak kalah sama orang-orang yang juga menyayangi keluarganya.
"Baik Pak," Jawab Anin. Anin menyalami dulu dan Aksa membuntuti Anin, dengan cepat Aksa menarik tangan Anin. Anin hampir saja kesempret sama gamisnya.
"Bapak, tolong ya jaga tangan bapak itu! Kita puasa nggak boleh gitu, apalagi bukan suami istri. Hukumnya saja haram tau." Ucap Anin dengan menyuarakan di samping telinga Aksa.
__ADS_1
"Kamu juga nggak sopan sama saya, saya atasan kamu." Ujar Aksa dengan menunjuk-nunjuk bola mata Anin. Dengan tangan di tenteng di pinggang, Anin bersiap-siap untuk melawan Aksa.
"Ho... Ho, kamu mau apa? Tidak ada yang namanya begitu, puasa ingat! Kita mau ambil makanan di dalam mobil. Bukan mau memecahkan eksperimen!" Aksa membuka pintu mobil dan mengambil beberapa kotak makanan, ia berikan kepada Anin.
"Wei... Ini berat tau, nggak peka apa? Astagfirullah... Bapak ini gara-garanya. Saya jadi marah-marah sama bapak. Maaf Pak, saya kadang agak sedikit nyelekit kalau ngomong." Tau diri juga ini orang... Batin Aksa di dalam hati.
"Tau diri juga lu." Akhirnya Aksa berbicara dengan jujur sesuai isi hatinya.
"Iya, saya juga tau diri. Ya udah masuk! Keburu azan maghrib nanti." Pas saja di depan ambang pintu, azan magrib berkumandang untuk sekitar daerah ini dan Anin mengucapkan hamdalah sebanyak-banyaknya.
Pakde memulai do'a berbuka puasanya dan mulai di siapkan juga makanannya.
"Allhamdulilah, sekarang sudah puasa full, dan tidak ada suatu halangan apapun. Mudah-mudahan kita di berikan kesehatan untuk puasa ramadhan selanjutnya. Aamiin ya robbal aalamiin..." Ucap Pakde dan Anin mau saja menyentong nasi, tetapi Aksa juga berdiri dan sama-sama memegang centong nasi.
"Ehem... Ehem, udah ada yang mau deket ini. Bentar lagi dapet cucu," Lagu dari sang Ayah Aksa dan Ibunya Aksa tertawa.
"Sudah... Sudah nanti keburu maghribnya habis, kita buka dulu dengan hidangan kecil-kecil dulu baru di sambung dengan acara nanti." Ucap Bude dengan menasehati, Ibunya Aksa mengangguk setuju.
"Iya sudah kalian boleh kok mau ngapain yang penting nggak boleh ini itu, jika melebih kebatasan maka kita akan nikahkan kalian secara langsung." Ucap Pakde dan Ayah Aksa menyenggol tangan Aksa.
Menawarkan permintaan Pakde Anin, haha... Lucu sekali mereka.
Selesai berbuka di lanjutkan sholat maghrib berjama'ah di mushola rumah. Dan yang mengimami Aksa, suaranya cukup menyentuh dan menggetarkan hati.
"Assalamu'alaikum warohmatuloh.. Assalamu'alaikum warohmatuloh..." Dengan mengucapkan salam dan langsung menyerukan do'a-do'a yang di pimpin oleh Ayah Aksa. Suaranya sama-sama bergetah dan terenyuh. Membuat Anin takjub dan matanya pun berbinar.
Bude sampai melongo, hampir air liur membasahi lantai yang masih bersih dan mau di buatkan pulau. Buat selulup-selulup, ngelangi (renang).
Bude melepas mukenanya dan menyenggol bahu Anin.
"Gimana nin? Cantikkan suaranya, melebihi pakdemu lho nin. Ngerti agama juga, nggak kayak yang sebelumnya. Polisi gadungan bukan polisi asli," Ucap Bude dengan memanas-manaskan bair kompornya sekalian meleduk.
Bersambung...
Jangan lupa like dan komennya gaisss 🤗🤗
Terima kasih 😌🙏
__ADS_1