Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
– S2 – Episode 36. Warisan.


__ADS_3

Happy Reading


Anin yang sebelumnya mau tidur, pintu kamarnya di ketuk oleh Bude Wati. Anin membuka pintunya dan Bude Wati membawa air minum untuk Anin.


"Nak ini minum buat kamu nanti kalau haus apa gimana?Soalnya nanti kamu malam-malam keluar dari kamar nggak baik, nanti kamu jerit-jerit lagi." Bude Wati masuk ke kamar Anin dan meletakkan gelasnya di nakas.


"Makasih Bude, maaf merepotkan."


"Nggak papa. Kamu sekarang tidur ya, Bude juga mau tidur." Bude Wati mencium kening Anin dan menggiring Anin untuk naik ranjang.


"Assalamu'alaikum, mimpi indah ya nak."


"Waalaikumsalam Bude."


Anin menarik selimutnya dan menjelajahi dunia mimpi, Bude Wati mematikan lampunya dan menutup pintunya.


"Gimana bu?" Ucap Pakde yang menengok kamar Anin, Bude tersenyum dan mengangguk.


"Udah bapak sekarang tidur, InsyaAllah nggak papa ponakan kita Pak." Pakde Edi menggendong tubuh Bude Wati sampai ke kamar mereka berdua.


Mimpilah Indah...


***


Pagi hari pun tiba, selesai sholat shubuh, Anin mencuci bajunya dan menjemur bajunya di belakang rumah, di sana ada orang yang berlalu lalang pergi ke sawah, ada juga yang memandikan kerbau di sungai kecil, dan ada juga orang yang pergi ke pasar. Sebenarnya masih desa dan kampung, tapi udah kayak tempat orang yang ramai begitu.


Di sini tidak di perbolehkan untuk membangun kawasan proyek dan membuat kantor, pokoknya harus aman untuk peninjauan tempat proyek begitulah.


Orang di sini hidupnya sederhana, cuma Pakde sama beberapa orang saja yang mempunyai keadaan mampu.


"Wah, ada ponakannya Pak Edi nih, kenapa mbak pulang?"


Sebenarnya rumah Ibu Anin dan Bude Wati beda Desa, tapi itu perbatasan dengan jalan depan gang itu. Jadinya, melangkah sudah tiba.


"Nggak papa, cuma nginap aja." Orang sini memang terkenal ramah dan kalau ada cerita buruk dan baiknya orang itu pasti di ceritakan di hadapan orangnya langsung, nggak kayak di rumah Ibu.


"La suaminya mana mbak?"


"Suami saya kerja di luar kota, jadinya saya nginap di sini."


"Oalah begitu, samawa terus ya mbak sampai kakek, nenek. Kalau begitu kami permisi,"


Apa? Ya Allah, kenapa luka itu tiba-tiba datang lagi?


"Semua memang udah ujian dan cobaan, tetapi aku harus semangat. Apa aku ke rumah dulu ya, buat memberikan kabar ini?"


Anin membuang air perasan dari dalam ember dan memasukkan embernya ke kamar mandi.


Anin melangkah ke dapur dan Bude nya lagi mengoseng bumbu.


"Masak apa Bude?" Anin mendekati Bude nya dan melihat ada nangka muda yang sudah di irisi kecil-kecil sesuai ukurannya sama tempe.


"Sayur nangka ndok. Sama nanti goreng tahu terus ada sambel terasinya."


"Yaudah kalau begitu, aku ke warung beli tahu sama tomat, terasi ya Bude."


"Iya ndok, sekalian jalan-jalan. Nanti bisa sehat dan berkembang bayi yang ada di perut kamu."

__ADS_1


"Assalamu'alaikum." Pakde yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam, Pakde. Darimana Pakde? Kok, aku dari tadi nggak ngeliat."


"Biasa Pakde tadi habis sholat subuh di masjid terus olahraga." Pakde mengambil kerupuk dan mengambil piring kecil, dia meletakkan bubuk sambal. Dia mencuci tangannya terlebih dahulu dan menyantap kerupuknya.


"Yaudah Bude aku berangkat.


Assalamu'alaikum,"


"Waalaikumsalam, Bu tadi aku ketemu sama pengacara di jalan. Katanya nanti sidang perceraiannya akan di lanjut, karena pihak pengacarnya Rifa'i dia tetep harus melakukan perceraian ini." Pakde yang Kriukk-kriuk makan kerupuk, Bude menatapnya. Seraya pingin juga memakan kerupuknya.


"Hah, kok bisa? Itu anak nggak bisa di percaya,"


Bude memasukkan santan dan membesarkan api kompornya agar cepat mendidih.


***


Anin yang ke warung, dia memilih untuk memikirkan ke rumah Rifa'i.


"Apa aku harus ke rumah Rifa'i ya, oke aku ke sana aja lah, tapi nanti kalau Bude bingung gimana? Nggak papa, nanti tanggung sendiri akibatnya." Anin memberhentikan angkot dan memasuki angkot tersebut.


"Kemana mbak?" Tanya sang sopir


"Jalan Sudirman Nomer empat belas ya pak,"


"itu jauh mbak. Kita cuma mau di dekat sini aja, kalau mbak mau tunggu, itu angkot arah kota mbak."


"Emangnya nggak bisa ya Pak, kalau ke kota?"


"Yaudah kalau begitu. Kalau angkot kota itu berangkatnya jam berapa kira-kira Pak?"


"Sebentar lagi juga datang mbak, tadi udah pada berangkat semua."


Anin keluar dari angkotnya dan angkotnya jalan begitu saja, Anin menunggu angkotnya.


Akhirnya ada angkot kota yang lewat dan Anin melambaikan tangannya untuk meminta berhenti.


Angkot pun berhenti dan Anin masuk ke angkotnya.


"Mau kemana mbak?" Tanya si sopir dengan menjalankan angkotnya.


"Mau ke jalan Sudirman nomer empat belas ya Pak. Soalnya saya mau pulang ke rumah itu."


"Baik mbak."


Penumpang lain pada menatap Anin dengan tersenyum dan ada juga yang melengos, fokus dengan handphone.


Beberapa menit telah berjalan, sampailah di rumah yang menjulang tinggi dan penumpang lain terkejut dengan Anin.


"Mbak yang bener?"


"Ada apa Pak, emangnya?"


"Ini rumah mbak."


"Iya,"

__ADS_1


"Ya Allah mbak, ini kan orang yang terkenal di kota ini mbak. Pebisnis handal sampai orang di kota aja tau kalau rumah ini, rumahnya Pak Rahmat itu."


"Iya itu mertua saya."


"Apa mbak? Boleh kita minta foto mbak?"


"Maaf saya nggak ada waktu." Anin menjauh dan membayar angkotnya, nah ini kayaknya para netizen yang suka julid nanti.


Anin memencet belnya dan gerbangnya di buka oleh satpam, dia pun memasuki kawasan rumah Papah Rahmat dengan cepat, agar netizen yang sukanya nyinyirin orang itu, nggak mewawancarai Anin.


Satpam di kerubungi orang dan di bantu oleh pengawal lain, menutup gerbangnya.


"Ehm, maaf pak, papah ada?"


"Ada Nona, mari saya antarkan ke dalam!"


"Makasih, tapi nggak usah."


"Baik Nona, kalau begitu hati-hati."


"Iya."


Anin masuk ke dalam rumah dan di sana ada Rifa'i yang di wawancarai dengan pengacara sama papah Rahmat.


"Assalamu'alaikum pah."


Semua orang terkejut dan menatap Anin dengan pandangan tak biasa, kecuali Rifa'i.


"Nak, kamu kapan ke sini?" Papah Rahmat mendekati Anin dan Anin menyalami tangan papah Rahmat.


"Maaf Pah, tadi aku mau ke rumah tapi aku pikir-pikir ke sini aja."


"Duduk dulu nak. Kenalkan ini Pak Robby, dia pengacara papah."


"Saya Anin." Anin menyalaminya dan tersenyum.


Anin duduk di sofa kecil dan melirik Rifa'i yang termenung, entah melamunkan apa?


"Bagaimana Pak?"


"Jadi, saya akan menjatuhkan warisan ini kepada tangan istri dari Rifa'i, yaitu Anin Fitri Ani."


"Apa pah? Nggak bisa gitu dong pah, aku ini anak papah. Aku nggak papah anggap anak papah gitu, pah aku anak kandung papah sendiri, kenapa warisan jatuh ke tangan Anin Pah?"


" Semuanya udah papah urus, kalau kamu tetap tidak merubah keputusanmu, papah juga tidak akan merubah keputusan papah juga. Silakan Pak tolong tulis tadi, dan saya akan tanda tangani materai itu Pak!"


"Ini Pak!"


"Nggak papa daripada sama perempuan ini, mending aku buang jauh-jauh itu warisan. Jugaan nggak ada gunanya." Ucap Rifa'i di dalam hati dengan melirik Anin begitu kejam.


Bersambung...


Nih author ngebut, lagi enaknya mikir sampai jari author pegel...


Jangan lupa Like, Komentar Positif, dan Beri bintang 5 ya ☺☺☺


Terima kasih 🙏💕

__ADS_1


__ADS_2