
Hari ini, Anin dan Aksa akan pergi bersama untuk mencari mahar nikah, karena maharnya belum tentu bisa dapat hari ini. Menurut, suruhannya Pakde katanya tiga hari lagi jika pingin mendapatkan mahar tersebut. Entah nanti dapat atau tidak, karena yang di cari pun sudah melebihi dari segalanya.
Uang kuno. Yang akan menjadi koleksi untuk di pajang di tengah-tengah rumah.
"Iya, nanti kita ketemu di kafe... Jangan lupa bawa bukti transaksinya!" Ucap Pakde dari telepon, Pakde menelepon suruhannya, agar hari ini segera mendapatkan itu mahar.
"Baik, Pak." Jawab seseorang suruhannya Pakde. Pakde menghela napas, ada-ada saja mahar itu harganya mahal pula.
Tidak di bandingkan sama mahar uang yang zaman sekarang, lah zaman kuno mana ada yang menyimpannya.
"Gimana, Pak?" Bude membawa kopi untuk Pakde, dan di letakkan di atas meja.
Pakde tersenyum tipis, "Iya. Bapak sudah suruh tadi, dan ketemu uang kunonya bukan yang kertas, tapi koin." Jawab Pakde.
"Coba tanya sama Anin dan Aksa dulu, Pak. Mereka masih beli cincin, buat mahar nikah mereka di toko berlian sana." Timpal Bude, Pakde mengangguk setuju.
Mencari-cari nama yang tertera di layar handphone, Pakde akhirnya menelepon Anin.
"Halo, nin..."
"Halo Pakde, ada apa?" Suara dari handphone terdengar ramai sekali, berarti benar ada di toko berlian.
"Iya, nin katanya suruhan Pakde, adanya maharnya uang koin. Nggak papa 'kan?" Pakde menggaruk hidungnya.
"Yang penting mahar lah Pakde, kalau nggak ada nggak papa... Kita sudah ikhlas, dan bisa menggantinya nanti." Ucap Anin dari balik telepon.
"Sudah di carikan, malah jawabnya gitu. Pakde nggak suka kamu menyerah, nggak ada namanya mahar itu di serahkan kepada orang lain, karena mahar itu adalah barang yang menjadi kenang-kenangan sehidup, semati. Ya, barangnya nggak penting, tapi itu di cari dengan hasil jerih payah untuk mendapatkannya, itu susah..." Pakde tidak menerima jika Anin menyerah begitu saja.
"Iya, Pakde. Ada barang lain yang bisa menggantikan... Nggak harus itu,"
"Kamu ini, emangnya mau kamu calon suami mu itu pindah haluan, katanya ada yang menggantikan kekosongan hatinya dan istrinya itu malah melakukannya semena-mena, apa nggak miris liatnya?" Untuk mengejar deadline waktu, dan membuat Pakde mati karena memperjuangkan, untuk mendapatkan uang koin ternyata susah.
Harus melewati beberapa ujian dulu.
"Amit-amit dah, ya-- aku akan ke tempat sekarang. Di mana emangnya mau
ketemuannya?" Kata Anin.
Sepertinya suara Aksa sudah ada di sana, sebelumnya belum ada rayuan yang terdengar dari telinga Pakde, walau samar-samar pasti terdengar.
"Iya, di kafe itu... Biasanya,"
"Lah, yang mana? Biasanya di rumah kalau ngopi, nggak ke tempat yang nyaman." Jawab Anin, membuat kepala Pakde serasa mendidih ketika Anin menguji kesabarannya.
"Ya sudah, nanti Pakde chat kamu saja. Pakde mau siap-siap dulu, soalnya belum mandi habis saja tertidur dari semalam."
__ADS_1
"Hah.... Hahaha... Pakde-Pakde, sudah sana! Aku mau beli yang akan di butuhkan. Sampai jumpa nanti, Pakde." Anin mengucapkan salam, lalu Bude yang ada di dekatnya merangkul Pakde.
"Gimana, Pak? Anin mau?"
"Iya, mau... Sebenarnya nggak penting-penting amat, tapi sudah terburu di beli, mau bagaimana lagi? Anin... Anin, Pakde bingung sama kamu itu, Bu, aku mau mandi dulu." Ucap Pakde dengan berjalan ke kamar, Bude di sana terpaku.
"Ada yang salah?"
Bude menghela napas panjang, dan menggusak wajahnya, membenarkan kerudung rumahan.
***
Anin bersama Aksa, ada di perjalanan menuju kafe yang akan di tuju oleh mereka.
Sampailah di sana, sudah ada Pakde dan teman-temannya, yang di suruh untuk mencari mahar menikah.
"Ada kesulitan?" tanya Aksa.
Mereka mengangguk, memberikan kantong plastik hitam dan menyerahkannya kepada Aksa, berat sekali ini.
"Kenapa kok banyak sekali ini? Nggak sekalian lima ratus juta, gitu." Protes Aksa.
"Kurang banyak memangnya? Sampai kita di gebukin para warga, dan ini mencarinya sampai desa pelosok, kita aja nggak betah nginap satu hari di sana. Malah minta lagi," Ucap salah satu di antara mereka yang menjadi suruhannya Pakde.
"Ooo, ya... Ya, maaf saya terlalu bersemangat, mana bukti transaksinya?" tanya Aksa, mengecek isi kantong plastiknya, benar sesuai permintaan.
"What? Sebanyak ini," Pakde membelalakkan matanya, tidak percaya jika itu uang koin mahal sekali harganya.
"Ehem, nanti saya akan transfer uangnya ke rekening kalian... Dan ada jumlah bonusnya nanti, silakan mau pesan makanan apapun boleh! Nanti saya bayarkan sekalian." Ucap Aksa, Anin mengintip jumlah nominal yang tertulis di situ.
Anin menggeleng, benar saja itu uang di gunakan untuk mahar nikah.
Belum lagi, emasnya tadi, dan rumah yang di berikan Aksa untuk mahar nikah.
"Bagaimana hotelnya nak?" tanya Pakde.
"Lancar semua, Pakde. Sudah kami serahkan kepada orang yang lebih paham dengan begituan. Tunggu saja nanti, mau makan apa? Biar aku pesankan." Anin mulai membuka buku menu makanan, sambil menutup wajahnya dengan buku. Dengan gumam-gumaman kecil, Anin tidak pernah membayangkan jika Aksa memberikan dengan banyak sekali.
Lantas, sepemikirannya dan mengingat masa lalu, mahar nikah saja kain kafan.
Bagaimana janjinya?
Kain kafan itu terbuang sia-sia.
Janjinya adalah jika kita meninggal, maka kain kafan itu akan di gunakan.
__ADS_1
Benarkah dirinya telah melanggar janji, karena melanggar janji artinya penghianat?
"Nin..." Panggil Aksa sejak tadi, menyaut-nautkan nama 'Anin'.
"Eh, iya... Maaf mas,"
Aksa mengangguk. Sampai makanan sudah sedia di atas meja. Melamun 'kan apaan dia? Tidak, masa lalu harus di buang jauh bukannya di ungkit kembali.
"Kamu maunya ini atau aku pesankan lagi?" Benar, makanan yang di atas meja ada makanan kesukaan Anin.
Padahal baru kenal beberapa hari, tapi Aksa sudah hafal dengan makanan kesukaan Anin.
"Nggak usah mas... Ini saja sudah cukup kok," Jawab Anin dan Pakdenya tersenyum ke arahnya.
"Hai, Aksa..." Sapa perempuan yang berbalut hijab itu yang menjumpai Aksa.
"Eh, kamu... Desi," Aksa membungkukkan sedikit badannya, tanda salaman.
"Iya, Aksa... Kamu ke sini ngapain? Bukannya, kamu ini sekarang sudah menjadi CEO dari perusahaan yang maju sekarang ini?" Tanya perempuan yang bernama 'Desi'.
Anin menatap tidak suka, apalagi Desi ini bernampilan layaknya seorang model. Pastinya Aksa lebih tertarik kepada Desi... Desi ini.
"Iya... Oh iya, Pakde, Anin... Perkenalkan ini Desi, teman dari segala teman, dari kecil sampai sekarang..." Ucap Aksa, Anin bersalaman kepada Desi.
Kemudian, Desi menyalami Pakde.
Pakde tersenyum tipis.
"Sayang... Kemana saja kamu ini? Aku dari tadi cari-cari kamu..." Ucap laki-laki ke arahnya, dan Desi tersenyum lebar.
"Lah ini suaminya, berarti nggak jadi dong--" Anin menggeleng pelan, nggak pikirannya nggak boleh aneh-aneh.
"Aksa..." Suaminya Desi itu pun menyalami Aksa.
"Bagaimana mas, kabarnya?"
"Baik, allhamdulilah... Kamu gimana? Aku jarang banget sekarang ketemu sama kamu..."
"Iya, mas. Lagi sibuk ngurusin kantor, jadinya agak pusing lah mikirin kantor."
"Pusing apanya, yang ada sekarang kantor dia makin berkembang, dan maju. Tanpa bantuan dari ayahnya pula, biasanya 'kan anak itu akan menjadi pewaris... Melanjutkan bisnis dari ayahnya.." Ucap Desi memuji kesuksesan Aksa.
Bersambung.
Jangan lupa like dan komennya 🤗
__ADS_1
Terima kasih.