
Happy Reading
Selama beberapa bulan pernikahannya, Anin masih merasakan kalau suaminya benar-benar marah sekarang. Dia tidak bisa merasakan kehangatan suaminya sekarang.
“ Ya Allah lindungilah mas Rifa'i. ” Ucap Anin di dalam hati. Karena Anin tidak mau kalau ada apa-apa dengan Rifa'i.
“ Kenapa seperti ini keadaannya? Walaupun hati ku sakit tadi, aku masih bisa menerima mu mas. Karena keadaan yang tidak memungkinkan membuat mu jadi terbawa emosi. ” Anin memikirkan caranya untuk tidak mengikuti kesedihan yang berlarut-larut.
Anin akhirnya tidur, tetapi tidak bisa karena masih terbayang-bayang wajah mamah Hajar yang di ruang ICU sekarang, bagaimana keadaannya?
“ Astagfirullahalazim. Ya Allah, ”
Anin mengusap wajahnya dengan kasar dan Anin sadar kalau ada yang menelponnya.
Suaminya, Rifa'i.
“ Ada apa mas Rifa'i menelpon? ”
Anin akhirnya mengangkat teleponnya dan ada suara Rifa'i.
“ Assalamu'alaikum. ” Ucap Rifa'i dengan nada penyesalan.
“ Waalaikumsalam mas. Ada apa? ”
“ Maaf yang, tadi meninggalkan kamu. Aku baru tau kalau tadi, aku kebawa emosi aja. ”
“ Iya mas. Nggak papa, aku udah maafkan mas. Aku juga salah tadi, ”
“ Nggak. Kamu nggak salah, kamu ada dimana sekarang? ”
“ Aku lagi di dalam mobil mas, mau ke Jakarta. La kamu emang ada dimana? ”
“ Aku lagi ada di daerah Bandung ini. Kalau kamu mau, di jalan ZXY ya. Aku tunggu kamu di sini. ”
“ Oh masih di situ, yaudah ini juga nggak jauh dari tempat kamu. ”
“ Iya yang. Suruh hati-hati yang bawa mobilnya. Nanti kalau ada apa-apa, sopirnya harus berurusan sama aku pokoknya. ”
“ Hm, iya mas. Kalau gitu aku tutup dulu. Assalamu'alaikum, ”
“ Waalaikumsalam. ”
“ Pak berhenti di jalan ZXY ya Pak, suami saya nunggu di sana. ”
“ Baik bu. ”
Akhirnya mobil melesat di jalan tersebut, Rifa'i menunggu seperti orang ling-lung. Melamun terus pikirannya, campur aduk.
Jadinya Es Campur....
“ Ini Pak uangnya. ” Anin menyerahkan uang lembaran merah tiga.
“ Eh. Maaf Bu, bukannya saya nggak mau, tetapi ini udah kewajiban kami, untuk mengantarkan orang yang nggak tau alamatnya ataupun itu. Jadinya, harap di balikan di tas lagi ya, bu. ”
“ Tapi Pak. Yaudah kalau begitu, terima kasih banyak udah mengantarkan saya. ”
Anin pun keluar dari mobil dan melangkah dimana Rifa'i berada?
“ Assalamu'alaikum mas. ”
Anin mendekati Rifa'i dan Rifa'i terkejut.
“ Waalaikumsalam. Kamu ini, ngagetin aja. Untung nggak punya penyakit jantung lagi, ”
“ Alah kumat penyakit e. Mesti kudu kepiye? Mas... Mas, enek-enek wae. Kamu ini, ”
(Alah kambuh penyakitnya. Mesti harus gimana? Mas... Mas, ada-ada aja. )
" Yaudah sekarang kita lanjut perjalanan.
“ Hm. ”
Rifa'i membukakan pintu untuk Anin dan Rifa'i memutar arah, membuka pintu mobil yang sampingnya.
__ADS_1
Rifa'i menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang dan Rifa'i melirik Anin. Yang dari tadi diam.
“ Yang. Kamu ngapa kok gitu? ”
“ Nggak papa mas. Lemes aja, ”
“ kayaknya tadi pagi kamu belum makan ya? ”
“ Hehehe iya mas. Maaf tadi sempet bangun agak siang, jadinya nggak makan. ”
Hah.... Anin kamu ngelindur apa gimana?
“ Oke kita mampir ke warung dulu. Makan baru kita lanjut perjalanan. ”
Akhirnya Rifa'i memberhentikan mobilnya di depan warung.
Mereka keluar dan Rifa'i memesankan makanan untuk dia makan bersama istrinya.
Handphone Rifa'i berbunyi, palingan juga dari temannya.
“ Mas. Handphone kamu bunyi beberapa kali itu. Nggak tau siapa? ”
“ Eeh aku lupa. Tadi, suruh jemput Mang Jalal ke sini. Buat supirin mobil yang, ”
“ Oalah gitu, iya bener juga. Nanti kamu di jalan, nggak fokus jugaan. ”
Rifa'i dan Anin pun makan bersama, mang Jalal keluar dari mobil yang sudah di siapkan oleh papah Rahmat, sedangkan orang yang satunya menyopir mobil yang mang Jalal naiki tadi.
“ Assalamu'alaikum den. ”
“ Waalaikumsalam mang. Mang makan dulu, ”
“ Nggak usah den. Mamang udah makan tadi, ”
“ Bentar ya mang. Tunggu aja di mobil. ”
“ Baik Aden. ”
“ Allhamdulilah. ”
Anin keluar dari toilet dan menabrak perempuan yang membawa anaknya.
“ Maaf mbak. Saya minta maaf, kalau udah nabrak mbak. ”
“ Iya nggak papa. Saya mau ke toilet dulu, anak saya lagi pup gitu. Jadinya terburu-buru, ”
“ Yaudah mbak. Silakan kalau mau ke toilet! ”
Anin tersenyum dengan perempuan yang dia tabrak, mengurus dengan telaten dan sebagai seorang ibu harus mempunyai kesabaran tingkat tinggi.
Anin melanjutkan langkahannya ke mejanya.
“ Mas. Yuk kita pulang! Kasihan mang Jalal nunggu di mobil, kelamaan. ”
“ Iya. ”
Akhirnya Rifa'i dan Anin masuk ke dalam mobil.
Mang Jalal menjalankan mobilnya dan di ikuti mobil satunya.
’ Drtd... Drttt... '
Handphone Rifa'i berbunyi dan Rifa'i pun mengangkatnya.
Telepon dari papahnya.
“ Assalamu'alaikum Pah. ”
“ Waalaikumsalam nak. Papah mau mengabari kalau mamah sekarang koma nak. ”
“ Astagfirullahalazim. Ya Allah mah, terus katanya dokter gimana? ”
“ Kita harus menunggu perkembangannya dulu nak. Kita harus do'akan mamah supaya cepet sembuh dari komanya nak. ”
__ADS_1
“ Iya Pah. Aku dan Istriku akan mendo'akan mamah biar sembuh dari koma. ”
“ Yaudah papah matikan dulu ya, nak. ”
“ Assalamu'alaikum Pah. ”
“ Waalaikumsalam nak. ”
Rifa'i memijat pelipisnya dan mengacak-acak rambutnya.
“ Kenapa mamah bisa koma? ”
Rifa'i menangis histeris, mendengar kabar dari papahnya.
Mama koma, orang yang koma pasti diambang kematian dan kehidupan. Kalau Allah SWT bisa mengembalikan kesembuhannya, suatu keajaiban.
Kalau Allah lebih menyayangi mamanya, harus ikhlas dan legowo, menerima semua kenyataan yang ada.
Anin bisanya diam bungkam dan mengelus-elus punggung Rifa'i.
Dia tidak mau kejadian tadi, mengulangnya kembali. Dia hatinya terluka, bagaimana tidak seorang anak bisa menangis karena ibunya?
Ibu yang melahirkan dan mengandung selama sembilan bulan, belum juga Ibu harus menerima semua kenyataannya.
Melahirkan, melihat darah dan tulang yang remuk redam untuk melahirkan anaknya.
Pasti ibu memilih untuk mati, menyelamatkan anaknya untuk keluar dari perutnya.
Semuanya di bayar dengan pahala yang berlipat ganda. Ibu yang berjuang untuk melahirkan anaknya dan meninggal pada saat anaknya keluar di dunia.
Pasti dari kata Allah akan memudahkan jalan untuk seorang ibu yang meninggal dalam keadaan melahirkan.
Berjuang agar sang anak bisa melihat dunia.
Hatinya sekarang miris, Anin menangis.
Ingat dulu, kalau ibunya menyuapinya sampai dia sekarang benar-benar sudah menikah, dan di lepas untuk laki-laki yang bisa menerimanya dan mencintainya.
Mang Jalal juga diam, melihat Rifa'i yang keadaannya acak-acakan seperti orang luntang-lantung.
“ Sabar den. Kalau Aden berdo'a dan berdo'a, terus aja berdo'a. Allah akan mengasih jalan dan keajaiban untuk nyonya, Aden. ”
“ Iya mas. Bener kata mang Jalal. ”
Anin memeluk Rifa'i dan memberi dukungan untuk tetap kuat sama menerima semua kenyatannya.
Bersambung...
Jangan lupa like dan komen positif ya ❤❤❤
Mampir ke cerita KBM App yuk!
Ceritanya dari lapak sebelah yang judulnya
' Suka Duka Bahagia '
Judulnya yang di KBM App
Judulnya MENIKAH DENGAN DOKTER
Nama pena-nya itu ya ☺☺☺
Kalau mau mampir ke instagram boleh. Di sana nanti kalau ada info up atau tidaknya.
Walaupun kadang nggak bikin story, menghilang entah kemana 😂😂😂
Bisa crazy up nanti, aku usahakan buat gantinya.
Hahaha nggak janji ya 🤣🤣🤣
Cemu-ngut 😂😂😂
__ADS_1