Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
– S2 – Episode 29. Ujian Yang Memilukan


__ADS_3

Happy Reading


Anin mengambil kue dan ia makan, dia butuh nutrisi untuk tenaganya.


“ Maaf Nona, kata mang Darso sama mang Jalal, Tuan Rahmat sekarang berteriak-teriak sendiri di kamar Nona. Mereka butuh bantuan Nona, tolong panggilkan Tuan Rifa'i, Non. ”


Anin memberhentikan makannya dengan cepat memakai sandalnya dan agak sedikit terpeleset.


Untung tidak jatuh.


Anin membisikkan ucapannya ke dalam telinga Rifa'i agar tidak kedengaran oleh orang yang takziah.


“ Maaf Pak... Bu, saya tinggal dulu ya, sebentar. Kalau mau pulang nanti pamitan sama pelayan saya aja ya. ” Ucap Rifa'i dengan bergegas ke kamar papah Rahmat.


Rifa'i membuka pintu kamarnya dan Buggg...


Pukulan yang dia terima karena pintu kamar terbuka lebar-lebar.


“ Ya Allah... ” Rifa'i meringis kesakitan dan tangannya di tarik oleh papah Rahmat.


“ Kamu laki-laki baj***an, awas saja, aku akan balas dendam sama kamu. Tunggu pembalasanku! ”


Papah Rahmat langsung membogem Rifa'i dengan kepalan tangannya.


Mang Darso tidak mau kena pukulan, tetapi dia harus berjaga-jaga karena pukulan papah Rahmat lebih kuat daripada orang yang pernah dia temui.


“ Mas kamu yang nangkep ya. Aku nggak bisa, aku nggak mau. Aku udah pernah kena pukulannya. ” Ucap Mang Jalal dengan memohon dan berusaha mengecilkan suaranya.


“ Hah... Apa? ” Mang Darso langsung melototkan matanya, menutup mulutnya dan Papah Rahmat melirik mang Darso dengan tajam.


“ Kalian mau apa? ” Ucap Papah Rahmat dengan keras dan ingin memukul Mang Darso sama Mang Jalal.


Rifa'i langsung mencegah tangan papahnya.


“ Pah. Jangan pukul mereka, mereka nggak salah! Jangan sampai papah memukul orang yang nggak bersalah pah! Kasian pah mereka. ”


Papah Rahmat langsung menghempaskan tangan Rifa'i dan melayangkan pukulan beberapa kali di perut Rifa'i, itulah kelemahan Rifa'i. Dia nggak bisa melakukan lawanan karena itu orang yang dia sayang, dia harus menjaganya dengan baik-baik. “ Apa mau kamu? Sampai bikin mamah kamu meninggal, hah? Papah nggak habis pikir sama kamu, otakmu itu di letakkan dimana? ”


“ Maksud papah? ” Rifa'i tidak tau kalau meninggalnya mamah Hajar itu akibatnya.


“ Jangan nggak pura-pura nggak tau sama budeg kamu! Kamu itu pikirannya kemana? Pinter kamu di pakai kemana sekarang? ”


Rifa'i di tampar beberapa kali sampai dia lemah dan nggak berdaya sekarang.


Mang Jalal ingin melakukan perlawanan, tetapi dia melirik Rifa'i,


jangan melakukan itu?

__ADS_1


Itulah dari tatapan mata Rifa'i dan gelengan kepala Rifa'i.


Anin sedari tadi dia pingin masuk dan menghindari perkelahian antara suaminya dan papah mertuanya.


“ Pak... Tolong suami saya di dalam, kasian di pukul sama papahnya sendiri. ”


“ Tapi, Non. Kita nggak berani Non, kita udah beberapa kali kena itunya Non. ”


“ Ya Allah. Saya aja yang masuk kalau begitu. Kalian itu di gaji, terus kalian makan gaji buta gitu. ”


Anin sudah emosi dan dia langsung masuk begitu saja.


“ Ya Allah. ” Anin menghampiri suaminya yang babak belur kayak telur.


Rifa'i menggeleng pelan dan menarik tubuh Anin untuk di belakang tubuhnya.


“ Mas. Kamu apa-apaan? ”


‘ Prok-prok...’ Suara tepukan tangan dari papah Rahmat.


“ Jangan pernah kamu dekati laki-laki bajingan itu! Kamu bisa aja sakit lebih dari ini. ” Ucap papah Rahmat dengan menarik tubuh Anin dan mendorong tubuh Anin begitu saja.


“ Ya Allah... Sakit banget, ”


Rifa'i melihat Anin yang jatuh, akhirnya mendekati Anin, papah Rahmat langsung menendang perut Rifa'i dan memukul wajah Rifa'i.


“ Jangan sentuh perempuan yang nggak pernah salah! tetapi, kamu itu laki-laki yang nggak punya o**k tau, mana kepala mu itu? ”


Mang Jalal dan mang Darso menggeleng lemah. Mereka berdua meringis dan melihat ingin menangis sekeras-kerasnya.


Mereka berpelukan dan menangis, akhirnya.


“ Hwaaaa... Hwaaaa... Tuan jangan pukul sama tendang aden, Tuan. Kasian aden Tuan, Hwaaaa...


Kasian Tuan... Hwaaaa Aaaaa... ” Ucap Mang Jalal dan Mang Darso dengan ketakutan.


Mereka berpelukan dengan erat dan peluh dengan keringat.


Papah Rahmat langsung menarik tubuh mereka dua dan menampar pipi mereka.


Dengan begitu mereka di lempar, akhirnya mereka di samping Rifa'i.


" Huwaaaa... Mamak e, tolong! ” Ucap Mang Jalal dengan berteriak.


“ Kalian itu semua pengecut, tidak bisa memilih. Apa kalian mau saya masukkan ke kandang buaya? ”


“ Jangan Tuan, ampun! ” Dengan begitu mereka menarik kaki papah Rahmat untuk meminta ampunan kepada papah Rahmat.

__ADS_1


“ Lepas! ” Papah Rahmat langsung menginjak tangan Mang Jalal.


“ Ya Allah. ” Ucap Anin dengan meringis kesakitan.


“ Pah udah lah, kasian mereka. Jangan sakiti mereka! Aku juga nggak papa. ” Ucap Rifa'i dengan lemah dan Anin langsung memeluk Rifa'i.


Anin menangis dalam pelukan Rifa'i dan papah Rahmat membanting barang yang ada di kamarnya.


“ Mas ini gimana? ” Tanya Mang Jalal dengan ketakutan dan keringatnya sudah banyak yang keluar.


“ Ahhhhh... ” teriak Papah Rahmat dan langsung mengacak-acak kamarnya dan mendekati Rifa'i.


Anin langsung memeluk Rifa'i dengan erat, agar bisa melindungi Rifa'i.


Sekarang Rifa'i langsung di tarik begitu saja dengan kuat dan tubuhnya limbung begitu saja.


“ Ya Allah mas. Pah apa salahnya suami aku? Pah, apa salahnya? Ha. ” Anin tidak terima dan emosi yang di dalamnya.


“ Ini anak papah, darah daging papah. Apa salahnya? Apa pah? Mamah udah berpesan kepada papah kan, untuk menjaga anak papah sendiri? Papah lupa? Pah, jangan salahkan semuanya kepada mas Rifa'i, orang meninggal itu takdir pah. Bukan apa-apa, papah itu nggak pikir dulu sebelum bertindak! ” Anin memberi kode sama Mang Jalal dan Mang Darso untuk membawa Rifa'i keluar.


“ Kamu itu nggak tau apa-apa. ” Ucap papah Rahmat dengan dingin dan mengecilkan suaranya.


“ Apa masalahnya Pah? Aku butuh penjelasan bukan papah main bertindak begitu saja. Pah cepet ngomong, jelaskan! ” Ucap Anin dengan berteriak.


“ Kalian mau bawa kemana? ” Tanya papah Rahmat dengan dingin kepada Mang Darso yang mengangkat tubuh Rifa'i.


“ Plakkkk... ” Tangan Anin menampar pipi papah Rahmat dan papah Rahmat langsung melotot tajam ke arah bola mata Anin.


Anin menatap papah Rahmat dengan benci dan dendam.


“ Apa kamu nggak salah? ” Papah Rahmat langsung berteriak dan menampar balik pipi Anin, tetapi Mang Jalal yang mencegahnya.


“ Tuan, jangan seperti itu! Ini menantu Tuan, jangan lakukan seperti itu! Bukan darah daging Tuan sendiri, jangan lakukan Tuan! Kalau Tuan melakukan itu, apa kata orang nanti? Orang tuanya aja belum pernah namanya melakukan kekerasan kepada anaknya, sedangkan Tuan, Tuan cuma orang lain aja dan itu sebagai statusnya cuma mertua Tuan. ” Mang Jalal langsung menasehati papah Rahmat dan papah Rahmat langsung memberhentikan perbuatannya dan melangkah ke kamar mandi.


“ Nggak apa-apa kan Non? ” Tanya mang Jalal dengan melihat keadaan Anin yang seketika lemas begitu saja dan pingsan.


“ Ya Allah Non. ” Untung saja mang Jalal langsung menerima tubuh Anin dan bi Ijah langsung masuk ke dalam kamar papah Rahmat.


“ Pak langsung bawa ke rumah sakit aja! ”


“ Iya bu. ” Mang Jalal langsung memapah tubuh Anin bersama bi Ijah.


Bersambung...


Ya Allah nggak kebayang kalau di dunia nyata


😭😭😭😢😢😢

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen positif


❤️❤️❤️


__ADS_2