
Happy Reading
Anin menuangkan air putih dan meminumnya. Mamah Hajar memotong-motong buah apel dan di letakkan di piring. “ Mah, papah kemana? Katanya tadi mau ngumpul sama temen papah, mah. ” Anin tidak melihat batang hidung papah Rahmat.
“ Papah lagi meeting katanya, ” Mamah Hajar berdiri dan menyimpan kulit apelnya di kulkas.
“ Eh mah, emang kulitnya kenapa kok di simpan lagi di kulkas? Bukannya langsung di makan saja mah. ” Anin tidak mengerti dan mamah Hajar menghela napasnya.
“ Nggak papa nak, mamah mau olah jadi keripik nantinya. ” Mamah Hajar kembali lagi ke tempat duduk seperti semula.
*********
Rifa'i dari garasi mobil, keluar dan menuju ke dalam rumah. Ada seseorang yang memanggilnya, “ Tuan. ” Pengawal tersebut berlari dan Rifa'i berhenti.
“ Ya ada apa pak? ” Tanya Rifa'i dengan menghadap ke belakang.
“ Itu Tuan, saya mau tanya nanti kalau ke Bandung, saya nggak bisa mengantarkan Tuan. Maaf Tuan, saya ada kepentingan yang tidak bisa saya tinggalkan, Tuan. Saya sekali lagi, minta maaf Tuan. ” Pengawal tersebut meminta maaf dan Rifa'i terkejut.
“ Maaf sekali lagi Pak, sebelumnya saya nggak pernah menyuruh bapak, tetapi kenapa bapak bisa tau kalau saya mau ke Bandung? ” Rifa'i tidak pernah berbicara dengan pengawal tersebut.
“ Eh tapi Tuan, saya di suruh Tuan begitu. Saya nggak tau, jugaan. ” Rifa'i menarik kursi dan duduk di kursi.
“ Maaf sekali lagi, Pak. Tapi, saya bener-bener nggak menyuruh bapak untuk mengantar saya bersama istri saya, ke Bandung. ” Rifa'i semakin bingung.
“ Saya juga nggak tau, Tuan. ” Pengawal tersebut mengalah dan mundur selangkah demi selangkah.
Akhirnya pengawal itu, keluar dan berhasil kabur. Rifa'i baru menyadari kalau bapak tadi berhasil membohonginya.
“ Ada-ada saja bapak tadi, ” Rifa'i melangkah masuk ke dalam rumah dan melangkah ke dapur.
__ADS_1
“ Assalamu'alaikum mah, ” Rifa'i menyalami tangan mamah Hajar dan langsung berpindah tempat. Rifa'i mengecup singkat pipi Anin,
“ Weh, mata mamah ternodai ini. Aduh kalian ini, kalau mau gituan bilang. Jangan main nyosor kayak bebek aja. ” Anin melototkan matanya dan mencubit tangan Rifa'i.
“ Papah-papah kemana dirimu, pah? Ini lho mata mamah ternodai, sama anak papah sendiri. ” Mamah Hajar berteriak-teriak dan memanggil papah Rahmat di lantai atas.
Rifa'i tertawa pelan dan menengok Anin yang merah pipinya, dengan gemas Rifa'i mencubitnya.
“ Kamu ini mas, emang nggak bisa apa itu mulut di kendalikan. Ini masih kawasan umum, jadi jangan harap buat cium aku di tempat umum. ”
Rifa'i mengangguk dan meninggalkan Anin di sana sendirian. “ Huh pada kemana ini? Kok ya, dasar padaan. Mending makan sate aja, ” Anin membuka bungkus satenya dan meletakkannya di piring.
“ Enak juga ini, makan lagi biar gendut. Hahaha, apa mas Rifa'i masih mau emang. ” Anin mengambil satenya dan memotong lontongnya.
Anin mengambil sendok dan mengambil acarnya. Sampai mulut Anin, memerah karena pedas antara sambal kacang dan cabai yang ada di acar.
Anin sampai matanya memerah dan ingusnya mulai keluar, dengan keringat bercucuran.
“ Aduh tambah pedes lagi, bikin susu ajalah. ” Anin mengambil susu bubuk dan menuangkan air hangat di gelasnya. Anin mengaduknya dan menambahkan air dingin, dengan mata merah, mulut merah, dan wajah merah. Dengan begitu, Anin meminumnya dan masih saja terasa pedasnya.
“ Ya Allah kenapa ini? ” Anin mengambil gula dan memakannya. Tetap saja pedasnya tidak berkurang,
Anin juga mencoba biskuit, roti, garam, yogurt, nasi, sama makan pisang sudah dia lakukan, tetapi hasilnya tetap sama.
Anin sudah tiga kali keluar-masuk kamar mandi, sampe dia lelah. “ Ya Allah kenapa ini? ” Anin masuk lagi ke kamar mandi.
“ Aduh, bu. Ibu, aku nggak tahan ini. ” Anin sudah pasrah dan minum susu dengan banyak, tetapi tidak kunjung sembuh pedasnya.
Keringat dingin juga sudah dia rasakan dan perutnya terasa mules sekali. “ Kenapa ini? ”
__ADS_1
“ Mas-mas, ” Teriaknya dengan nada pelan karena tidak ada tenaganya lagi.
Bi Ijah yang baru saja lewat dan melangkah ke dapur. “ Astaghfirullahalazim, non. ” Sampai wajan berbunyi dengan nyaring. Membuat semua orang di dalam rumah menuju ke dapur,
Rifa'i terkejut dan dengan cepat membawa Anin ke rumah sakit untuk di tindak lanjuti oleh dokter.
“ Ya Allah, kok bisa gitu nak? Kenapa? ” Mamah Hajar memeluk papah Rahmat dengan menangis.
Papah Rahmat mengelus-elus pelan punggung istrinya dan Rifa'i mengacak-acak rambutnya.
Akhirnya pintu UGD terbuka dan munculah dokter Edi membawa sebuah amplop berwarna putih.
“ Selamat siang Tuan, Nyonya, dan Tuan Muda. Begini saya mau menjelaskan kalau Nona muda, sebenarnya punya penyakit maag dan itu semua, dari hasil laboratorium. Menjelaskan kalau hasilnya cabai dari itunya mempunyai kandungan yang berbahaya. Membuat semuanya yang buat menyembuhkan pedasnya itu tidak kunjung membaik, begitu Tuan Muda. ”
Jelas Dokter Edi dengan menyerahkan hasil laboratorium.
“ Jadi, begini Tuan Muda. Sebaiknya, Nona harus menjalankan rawat jalan saja di rumah.
Saya sudah menuliskan resep obatnya dan yang harus di hindari, Tuan muda. Jadi, Tuan muda ambil saja sama suster saya, ” Dokter Edi pun pergi dan Rifa'i melangkah bersama susternya Dokter Edi.
Bersambung
Cukup dulu ya, ini jugaan belum penuh kapasitasnya. Mau gimana lagi?
Hahaha, masa bisa gitu aja? Apakah dokter Edi akan berbohong atau tidak?
Besok, ya!!
Mampir ke instagram :
__ADS_1
@dindafitriani0911