Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
– S2 – Episode 70. Bantu bude


__ADS_3

Happy Reading 📖


Setelah makan malam, Anin memilih untuk di kamar mengerjakan pekerjaannya.


"Gimana yah ini 'kan kerjaannya si Ulfa. Masa iya mau aku doble." Anin memijit keningnya dan bude masuk secara tiba-tiba tanpa mengetuk pintunya.


Bude mengusap pundak Anin dengan pelan, Anin kaget dengan keberadaan budenya. "Bude, ada apa ke sini bude?" tanya Anin, bude tersenyum kepada Anin.


Mengambil kursi dan duduk di hadapan Anin.


"Maaf kalau bude mengganggu, apa kamu sebenarnya udah ada pilihan?" Anin bingung, maksudnya gimana?


"Pilihan--pilihan apa bude?" Bude seperti kikuk, tidak bisa menjawab.


"Hehe... Maaf mencampuri urusan kamu sih, bude sebenarnya udah ada calon nih. Anak dari Pak Brata itu, yang habis pulang dari Australia sono. Orangnya cakep terus---"


"Udah bude aku nggak mau menikah lagi, jugaan calon aja belum punya." Anin menyerbu ucapan budenya, dia tidak mau budenya ikut serta kegiatan yang ia ingin lakukan.


Dia mau bersenang-senang dahulu.


Tapi, bukan berarti harus membebani pakde dan budenya. Anin mengerti kalau budenya di belakang pasti ngomel-ngomel dan inginnya bude Anin segera mendapatkan suami yang terbaik dan bisa menerima dia apa adanya.


"Oh gitu," dengan nada tidak mengenakkan di hati, Anin mengangguk.


"Yaudah kalau begitu, bude mau keluar dulu. Besok jangan lupa bangun pagi! Awas nanti kalau masih molor kayak katok kolor." Ucap bude mengingatkan Anin agar Anin bangun pagi.


Besok harus menemani budenya ke pasar pagi-pagi, katanya ada orang yang pesan kue dan bisa di antarkan di pasar langsung.


Bertemu pembelinya.


"Iya-iya, nanti kalau masih molor, hehe... Tinggal kasih sumpelan kaos kaki bude," ujar Anin dengan cengengesan.


Bude menarik handle pintu dan ponsel Anin berbunyi, "handphone siapa itu yang bunyi?" tanya bude dengan merogohi dompetnya.


Handphone yang masih bisa di gunakan budenya nggak berbunyi, berarti ponsel Anin.


"Nin," panggil budenya.


Anin memeriksa ponselnya, ia kempit dengan bantal. Makanya bunyinya nggak terlalu keras.


"Nomer siapa lagi ini?" Bude kembali lagi dan merebut ponsel dari tangan Anin.


"Nah, udahlah ini orang nggak di kenal. Sekarang itu udah orang nyasar, nggak tau alamat terus dapet nomor kek gini gimana gitu?" Bude mematikan ponselnya dan Anin termenung.


"Sekarang kamu tidur! Ini udah malam, nggak baik buat kesehatan kalau begadang. Awas aja! Biar bude yang pegang ini handphone. Kamu tidur! Nggak boleh kalau nanti kamu buka-buka itu handphone," hah Anin melongo. Bisanya bude melarangnya untuk teleponan dengan orang lain.

__ADS_1


Lha, terus kalau tadi telepon nomernya pak Aksa gimana? Wah, bisa kacau seribu persen ini.


"Bude keluar dulu. Selamat beristirahat!" Dengan membanting pintunya dan Anin gelosor.


"Alah, gimana dong handphone itu?" Anin memiliki cara tapi caranya memang tidak masuk akal, bisa aja nanti membahayakan bude dan pakdenya kalau tau.


Apa nggak dianya.


Mending tidur aja daripada kisi'an ke sana-ke mari.


***


Pagi buta-buta, Anin bangun karena kena teriakan budenya. Dia membantu budenya membuat kue selesai membuat kue pun mengantarkan kuenya.


Seperti delivery aja.


Mana ongkirnya nggak di kasih, malah buat belanja ke pasar lagi.


"Ini taruh dimana bude?" tanya Anin dengan menata kuenya di kotak dan ia tata yang rapi.


"Taruh aja di situ, tapi nanti ke injek sama pakde kalau pakde udah bangun."


Bude menata kotak-kotaknya dan dia tata sampai ke atas isi sepuluh kotak, bude tali biar lebih enak bawanya.


"Udah selesai, kamu bawa motor itu. Di panasin dulu, terus baru keluar. Biar bude yang ngeluarin ini kotaknya. Bawa tas, jangan nggak bawa apa-apa." Ucap bude.


"Astagfirullah, kalian kenapa?"


"Nggak papa, bapak mau makan atau mau minum teh?" tanya bude dengan bersedia untuk di suruh apa-apa.


"Nggak, bapak mau sholat dulu." Pakde ke kamar mandi dan menuju ke kamar sholatan.


"Udahlah, berangkat sekarang!"


"Aiya bude. Aku mau ambil uang dulu ke kamar, buat beli barang yang ingin aku mau." Bude mengangguk.


Setelah semuanya selesai dan Anin mengantarkan kuenya ke pasar.


Sekalian belanja sayur mayur yang masih seger kalau pagi-pagi begini.


***


Rifa'i sudah siap-siap untuk berangkat kerja, dia turun ke bawah menatap istrinya yang memasak nasi goreng. Baunya menyengat, wangi khas bumbu dapur.


"Mas, udah bangun. Maaf tadi belum sempet menyiapkan baju kamu. Soalnya kata papah itu apa mamah mau berangkat ke bandara dan aku harus mengantarkan mereka tadi." Ujar Putri dengan meletakkan nasi gorengnya di atas piring.

__ADS_1


"Iya nggak papa, oh iya cantik banget kamu hari ini." Ucap Rifa'i dengan memuji kecantikan Putri, palingan juga matanya yang bilek'an.


Padahal cuma pakai daster dan bisa dikatakan cantik. Wah...


Karena kemarin pulang larut malam, menyelesaikan urusan yang sebelumnya belum ia selesaikan. Akhirnya bisa kelar urusannya, sampai lupa waktu.


Pulang jam setengah dua pagi.


"Masa, udahlah aku mau goreng telur dulu. Kamu mau apa? Goreng tahu apa goreng tempe, atau goreng telur?" tanya Putri dengan menata piring.


"Seterah kamu, aku mau ke ruang kerja dulu. Karena di sini bisa nggak betah aku," ucap Rifa'i dengan mengecup kening Putri yang sudah basah keringat.


Handphone Rifa'i berbunyi.


"Hah papah. Ada apa ya papah nelpon pagi-pagi begini?" Rifa'i pun mengangkatnya dan papah Rahmat membahas perusahaannya yang sekarang mengalami naik turun.


Kalah dengan perusahaan yang satunya, yang di pegang oleh Aksa.


"Kok bisa pah, la terus perusahaannya gimana?" Rifa'i tidak bisa membantu karena dia sekarang sudah memegang kendali perusahaan Putri.


"-------"


"Iya pah aku coba untuk berbicara dengan Putri untuk membantu perusahaan papah. Nanti aku akan hubungi lagi, assalamu'alaikum." Rifa'i mendesah dan mencoba rileks, tenang.


Rifa'i kembali ke meja makan.


Putri tersenyum hangat ke arahnya dan ia balas dengan kecupan hangat di pagi hari.


"Makan yuk mas! Hem, yang telepon siapa?"


Dengan mengambilkan nasi gorengnya dan lauknya. Putri tetap harus mematuhi sebagai istri, dia juga sudah melayani Rifa'i dengan penuh tulus dan hati.


"Papah,"


"Ada apa cerita aja!" melihat raut wajah Rifa'i sepertinya ada yang di bicarakan dan menyangkut hal perusahaan juga Putri sudah jago menangani hal sepele.


"Perusahaan papah itu turun." Jawab Rifa'i dengan nada memelas.


"Maksudnya turun gimana? Turun harganya atau masalah proyek." Putri memakan dengan sangat pelan dan mendengarkan penuturan sang suami.


Bersambung...


Jangan lupa like dan komennya yah gess 😊😊


Aku udah doble update nih... Mau mampir ke cerita lain, hihihi sekalian kasih semangat.

__ADS_1


Terima kasih 🙏💕


__ADS_2