
Happy Reading
Setelah beberapa jam menghabiskan waktu di kamar mandi, sekarang pun sudah jam sepuluh lebih. Akhirnya Anin keluar dari kamar mandi dengan langkah tertatih-tatih. Dengan begitu, Rifa'i menggendong Anin.
“ Masih sakit, yang. ”
Anin mengangguk dan Rifa'i meletakkan tubuh Anin di pusaran ranjang.
“ Yaudah, mau aku ambilkan bajunya. ”
“ Nggak usah mas, aku bisa kok. Mas aku laper, boleh pesen makan dulu. ”
“ Tapi kamu gimana? Kayaknya aku nggak yakin bisa berdiri, ”
“ Bisa tapi jalannya pelan. Cepet lah pesen makanan, perut udah keroncongan ini. ”
“ Hm, tapi hati-hati ya, ”
Sebenarnya Rifa'i belum tega meninggalkan Anin sendiri, Rifa'i melangkah ke telepon yang sudah di sediakan oleh pihak hotel dan menelpon pelayan untuk membawakan makanan ke kamar mereka.
“ Udah, ”
“ Cepet amat mas. Bukannya tadi masih di sini, tapi tiba-tiba udah nongol lagi. ” Ucap Anin mengambil baju dan untung saja Rifa'i dengan sigap menerima tubuh Anin karena Anin tidak kuat untuk berdiri.
“ Kamu mau ambil baju? Biar mas ambilkan, ”
Rifa'i melangkah dan mengambil baju Anin di lemari. Setelah itu, melangkah mendekati Anin dan menyerahkan bajunya.
“ Mas bantu pakai bajunya ya, biar agak sedikit ringan. ”
“ Nggak usah mas, InsyaAllah bisa kok. ”
Anin pun ganti baju dan akhirnya suara ketukan pintu, membuat Rifa'i melangkah dan membuka pintu.
“ Selamat malam Pak, maaf atas keterlambatannya, mengantarkan makanan dan minumannya. ” Ucap pelayan tersebut dengan menyerahkan nampan kepada Rifa'i.
“ Nggak papa, saya juga udah malem kalau pesan makanannya. ”
“ Kalau begitu selamat menikmati Pak, saya permisi dulu Pak. Nanti kalau sudah selesai makannya, panggil saja petugas kebersihan nanti. ” Ucap pelayan tersebut dengan mendorong troli makanan.
Rifa'i menutup pintunya kembali dan membawa nampannya. Rifa'i meletakkan nampannya di meja,
“ Yuk yang makan! Udah dateng ini, ”
Rifa'i duduk dan membuka tudung sajinya.
Anin mendekati Rifa'i dan Anin duduk di kursi.
Akhirnya mereka makan bersama,
“ mas, besok kita mau kemana? ” Di sela-sela makan Anin bertanya dan Rifa'i menghentikan makannya.
“ Nggak kemana-mana, paling nanti kemana gitu? Mengunjungi tempat wisata. ” Ucap Rifa'i mengambil gelas yang sudah berisi air putih dan meminumnya.
Rifa'i mengelap ujung mulutnya dengan sapu tangannya dan Rifa'i sudah kenyang.
“ Udah kenyang mas, ”
“ Udah. Kayaknya masuk angin ini, ”
“ Ha masuk angin, kok bisa. ”
__ADS_1
“ Nggak tau, tadi sempat minum air bak mandi. Karena itu, masuk angin kayaknya. ”
“ Ya udah kerokan aja, biar masuk anginnya reda. ”
“ Nggak lah sayang, nggak mau. Aku trauma dengan kerokan itu, sakit banget rasanya. Bikin nggak nagih lagi, ” Rifa'i membayangkan dirinya sedang di keroki dengan linggis sampai kulitnya mengelupas.
“ Ha beneran mas, ”
Rifa'i tidak menjawab dan Anin tertawa terpingkal-pingkal. Anin mengambil minyak kayu putih dan uang koin,
“ Baring kamu mas, telungkup ngerti. ” Ucap Anin sedikit keras.
“ Nggak lah, nggak mau pokoknya. Beli tolak angin aja ngapa, nanti juga sembuh. ”
Rifa'i pun berlari dan naik ke ranjang
Rifa'i tetap saja menolak dan menutup tubuhnya di dalam selimut.
“ Ealah mas, kamu ini kayak anak kecil aja. Udah aku pelan-pelan, kalau nanti keras tinggal bilang aja. ”
Anin pun naik keranjang juga dan akhirnya Rifa'i mau,
“ Lepas bajunya dulu. Biar enak, ”
Rifa'i melepas bajunya dan tidur kembali.
Anin membuka tutup minyak kayu putih dan mengoleskan di kulit punggung Rifa'i.
Anin mulai mengerok kulit Rifa'i dengan pelan sampai benar-benar kulitnya ungu. Sekitar lima menitan satu baris saja, sedangkan Rifa'i tertidur karena kerokan yang begitu butuh kesabaran.
Hahaha... Butuh kesabaran,
“ Uhh... Kalau bukan suami aja bisa aku kelupas kulitnya, sampai bener-bener hitam itu kulit. ” Ucap Anin yang terdengar di telinga Rifa'i.
Anin membetulkan badan Rifa'i dan menyelimutkan tubuh Rifa'i dengan selimut.
Anin turun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi. Dengan mencuci tangannya dan membasuh wajahnya.
Anin membuka pintu kamar mandi dan melihat jam,
“ Hah sekarang udah jam setengah dua belas, huh begadang lagi gara-gara suami masuk angin. ”
Anin membuka kerudungnya dan meletakkan di hanger.
Anin pun naik ke ranjang dan membuka selimut,
Anin duduk di ranjang. Melihat gerak-gerik Rifa'i yang sedikit mendengkur,
“ Apa efek kelelahan perjalanan ya? Nggak biasanya mendengkur kayak gini, ” Ucap Anin di dalam hati.
Anin pun menidurkan tubuhnya dan menarik selimutnya.
*******
Jam setengah lima pagi, Anin pun bangun.
Anin melangkah ke kamar mandi untuk menggosok giginya dan mengambil wudhu.
“ Hm, gimana ya? Nanti. ”
Anin tidak memikirkan jauh-jauh dan melangkah, mengucurkan krannya.
__ADS_1
Setelah selesai wudhu, Anin mengelap wajahnya dengan handuk.
Anin melangkah keluar dari kamar mandi dan mengambil mukena sama sajadahnya di lemari.
Anin memanggil Rifa'i,
“ Mas... Bangun, udah subuh. ” Ucap Anin dengan membangunkan Rifa'i.
“ Euuh.. ” Rifa'i memoletkan tubuhnya sampai akhirnya dia mengecup bibir istrinya, dan Anin jatuh di atas perut Rifa'i.
“ Ah... Kamu ini mas, udah tau baru aja wudhu... Sekarang udah batal lagi, ” desah Anin.
“ Maaf yang, nggak tau. ”
Rifa'i memandang kalau dia tidak memakai baju,
“ Eehh.. Kok nggak pake baju ini, kemana bajunya? ”
Rifa'i menoleh kesana dan kemari, tidak ada.
“ Bajunya itu, jatuh. Kemaren kerokan nggak inget. Sampe beberapa jam lagi ngerok kamu itu, ini tangan sampe keriputan. ”
“ Yaudah aku ikhlas udahan, mas mandi dulu. Kalau nggak mandi, langsung sikat gigi sama wudhu. Aku mau ambil wudhu dulu sama siapkan baju kamu mas, ”
Anin mengambil wudhu kembali dan Rifa'i mandi. Anin mengambilkan baju di lemari untuk Rifa'i, akhirnya ketemu baju koko dan sarungnya.
Anin meletakkan di atas ranjang, Anin membeberkan sajadahnya dan Anin menunggu Rifa'i.
Rifa'i selesai mandi dan akhirnya keluar, memakai bajunya dengan sarungnya di ruang ganti.
Sekarang pun mereka sholat berjamaah.
Setelah sholat subuh berjamaah, akhirnya Rifa'i berenang di kolam renang di belakang kamar untuk pribadi.
Anin setelah sholat subuh melanjutkan dengan mengaji, sampai matahari ufuk dari arah timur memunculkan sinarnya.
Anin melepaskan mukenanya dan membereskan sajadahnya, di sampirkan di kursi.
“ Allhamdulilah, ” Anin berdiri dan melepaskan penatnya.
“ Kemana mas Rifa'i? ”
Anin membuka jendelanya dan Anin membelalakkan matanya karena Rifa'i bertelanjang dada di pinggiran kolam renang.
“ Hm, nggak usah kesana lah. Mending jalan-jalan keluar, cari angin. Tapi nanti dia mencari lagi, pake surat aja. Eeh... Nggak lah aku nanti hilang lagi, nggak tau arahnya jugaan. Mana luas lagi ini hotel, bisa kesasar nanti. ”
Anin membuka pintu dan melangkah, mendekati Rifa'i. Tetapi, dia ragu karena masih pagi.
“ Assalamu'alaikum mas, ”
“ Waalaikumsalam, ” Jawab Rifa'i.
“ Oh iya mas, aku mau keluar mas. Mau cari angin aja, ” Ucap Anin dengan duduk di kursi yang ada di sana.
“ Mau kemana, hm? ” Tanya Rifa'i yang begitu lembut dengan memegang handphonenya di tangan.
Bersambung...
Deng.. Deng,
Bunyi alarm berbunyi, Eet dah bikin orang keju-keju nih tangan... Itu orang pacaran, tapi author jomblo nih... Hahaha, 😂😂😂
__ADS_1