Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
– S2 – Episode 80. Ketemu


__ADS_3

Happy Reading 📖


Sesudah memasak, semuanya sudah siap di meja dan Anin mengelap keringat yang membasahi keningnya.


"Nin, kamu mandi dulu. Nanti kita ke pemakaman ibu mu, buat ziarah kubur sama sekalian mbah-mbah juga." Ucap Bude.


Anin membelok-belokkan badannya, serasa pegal dan basah keringat karena cuaca hari ini memang panas di ubun-ubun kepala sampai kaki.


"Iya bude, tadi udah beli bunganya?" tanya Anin, bude mengangguk dan Anin melangkah menuju kamar, melakukan rutinitas mandi dengan begitu pula Anin mendapati handphone berbunyi.


Dia mengeceknya terlebih dahulu, walaupun sedari tadi Pakde sudah siap dan masih menunggu dua perempuan itu.


"Siapa sih yang nelpon?" Dengan begitu Anin melihat layar handphone, tertera nama 'Bapak Aksa'.


"Aduh angkat nggak ya, lewat wa aja lah daripada aku nanti di sangka sama mereka pacaran lagi dan nggak jadi berangkat ziarah ke makam ibu." Ujar Anin dan mengetikkan sesuatu di layar handphone, ia kirimkan langsung ke Aksa.


Tanpa basa-basi Anin menonaktifkan datanya dan masuk ke kamar mandi, bisa habis di lalap jago bicara nanti sama Pakde dan Budenya.


***


Setelah siap semua, Anin berbalut gamis berwarna biru navy dan jilbab berwarna krem.


"Allhamdulilah, besok udah puasa meskipun ibu udah nggak ada tapi ada pelengkapnya mereka. Aku benar-benar mengucap syukur, karena masih banyak di luaran sana sama seperti aku dan tidak punya sanak saudara. Tinggalnya juga udah luntang-lantung di jalan, aku harus bersyukur dan karena Allah masih memberikan kesempatan untuk bertemu di Ramadhan kali ini." Ucap Anin, Anin menyibakkan jilbabnya dan mengegah menuju ke ruang TV.


Di sana Pakdenya yang membaca koran sambil meluntangkan sarungnya dan karena di tutupi rasa kesal sama bosan, menunggu dua perempuan yang sejak tadi tidak menunjukkan belang hidungnya.


"Anin," seru Pakde dan Anin mengambil minum di kulkas. "Iya, Pakde apa?"


"Mana bude mu kok nggak keluar-keluar?" tanya Pakde dan Anin mengangkat alisnya.


"Entah," jawab Anin dan siapa tau Bude lagi merendam diri di kamar mandi, ketiduran.


Pakde menunggu sampai beberapa menit, tapi bude tak kunjung keluar-keluar juga.


"Kamu hampiri bude kamu itu di kamar, jangan sampai ketiduran di kamar mandi!" Duga Pakde dan Anin menurut, langsung mendarat ke kamar Pakde sama budenya.


Anin mengetuk pintu kamar, tapi nggak di kunci. Anin masuk dan menengok sana ke mari.


Tidak ada siapapun.

__ADS_1


Kecuali kamar mandi yang masih terdengar kucuran air, wah Anin menggelengkan kepala.


"Ini mah jadi pemberitaan terhangat, bude... bude nggak biasanya bude seperti ini." Anin mengetuk pelan dan tidak ada jawaban dari dalam.


Pintunya juga nggak kekunci, apa ngelindur ini budenya. Pintu nggak di kunci dan malah ada pemandangan tak mengenakkan.


***


Setelah bude terbangun, akhirnya mereka sudah siap untuk pergi ke pemakaman. Menggunakan mobil dan bunga pun sudah siap juga di mobil. Tinggal menunggu bude, yang masih berdandan di kamar.


Lama sekali.


Pakde sampai mengoceh beberapa kali, tapi yang kena timpalannya Anin yang lagi mengecek bahan untuk di masak sahur besok.


"Ya Allah, bude kamu itu ke mana aja to?" ucap Pakde dan sampai mulut pakde berbusa sekali pun Anin tidak jawab.


Itu termasuk masalah Pakde bersama Bude. Bukan Anin yang menyelesaikan, mau bagaimana lagi budenya masalah berdandan memang sungguh lama sekali. Membutuhkan waktu berjam-jam.


Bude sudah siap, langsung menuju ke ruang TV. Dengan tersenyum berbinar dan matanya langsung kerlap-kerlip seperti bintang.


"Ibu, ke mana aja lho? Tidur ya. Apa balik lagi ke kamar mandi buat bersemayam diri?" Tanya Pakde dan bude berdecak.


Melihat mereka sering bertengkar apalagi nanti malam udah tarawih dan besok sudah menjalankan puasa ramadhan.


"Ayuk! Nanti telat lagi, bentar lagi sudah petang. Nah, mau punggahan 'kan?" Anin memberikan nasihat kepada mereka. Padahal mereka yang lebih tua dan mengerti semuanya.


Apalagi waktu dibuang-buang buat bertengkar, tidak baik. Anin mengajak mereka dan menggandeng mereka.


"Heh... Nggak boleh udah wudhu, bude sama kamu. Biar Pakde yang nyupir." Ucap Bude dengan menggandeng tangan Anin.


Pakde mengeluarkan kunci mobil dan menekan kuncinya/alarm untuk membuka pintu mobil.


"Sudah masuk! Jangan ngomong terus!" Pakde pun masuk ke dalam mobil dan mereka berdua juga sama.


Pakde menjalankan mobilnya dan gerbang sudah di buka tadi, "bu... Kamu keluar dulu gih, gerbang di kunci!" Ujar Pakde dan Anin yang keluar dari mobil.


Anin masuk kembali dan sampailah mereka semua melakukan perjalanan ke pemakaman ibunya Anin.


Setiap mau puasa orang-orang pasti ke makam, berziarah ke keluarganya masing-masing yang sudah lebih dulu mendahului mereka.

__ADS_1


***


Anin lebih keluar dahulu, Pakde dan budenya wudhu di masjid samping tempat pemakaman.


"Ramai juga ya udahan, allhamdulilah besok sudah mau puasa. Pingin kali ya, liat keluarga besar itu yang berkumpul dan memimpikan keluarganya menjadi keluarga sederhana maupun keluarga yang bahagia. Sedangkan, aku? Entah ke mana perginya ayah? Aku sebenarnya ingin sekali bertemu ayah, tapi hatiku masih tertutup untuk membahas masa lalu. Kata Pakde, masa lalu itu jangan di ungkit lagi. Biarkan menjadi pelajaran yang selalu di ingat dan di kenang. Jadikan di museum aja," ucap Anin dan Anin memandang sekitar.


Sepertinya ada Papahnya Rifa'i itu yang mengunjungi makam mamahnya Rifa'i.


Satu arah pemakaman karena yang minta adalah mamah Rifa'i sebelum ia di kebumikan dulu.


"Papah, kasian sekarang papah. Pasti Papah kesepian di rumah, karena ahhh... Rasanya pingin menghampiri Papah." Anin tanpa ioeua mendekati sang mantan mertua.


Papah kaget kalau Anin ada di sini, walaupun Anin mantan istrinya Rifa'i. Papah tetap menganggap Anin sebagai anaknya sendiri.


"Assalamu'alaikum mah... Pah," Anin menyalami jari-jari papah, dan mengelus papan nisan yang bernama mamahnya Rifa'i.


"Wa'alaikumsalam," sahut Papah dengan melongo dan terbeku karena Anin saja datang, sedangkan anaknya sendiri tidak datang untuk menemuinya.


"Pah, apa kabar?" tanya Anin, Papah pucat sekali dan sepertinya papah sakit.


"Iya begini lah nak, papah beberapa bulan di tinggal Rifa'i, papah enggak kuat untuk hidup ke depannya. Papah juga sudah mematangkan pemikiran papah untuk tidak ikut campur. Tapi, bagaimana pun papah harus tau keadaan Rifa'i di sana nak." Ucap lemas papah.


Anin mengelus bahu papah dan menatap papah.


"Sabar Pah, papah nggak usah memikirkan semuanya karena Allah akan selalu melindungi anak papah sendiri. Jika Papah selalu mendo'akan anak papah untuk selalu di lindungi dan di berikan kesehatan." Papah mengangguk dan tersenyum.


"Iya nak, makasih atas perhatiannya. Nak, kamu besok ke rumah papah ya. Papah kesepian di rumah, kamu mau 'kan?" Anin mau tapi apakah dia pantas kembali ke rumah mantan mertuanya, dan jarak antara kantor sama rumah mantan mertuanya cukup jauh. Makan waktu lama sekali sekitar paling nggak 2 jam'an lebih.


"Nanti Anin pikirkan lagi Pah," seperti jawaban yang kurang pas membuat Papah menyebikan bibirnya pelan tanpa di ketahui oleh Anin.


Bersambung...


🌺Jangan lupa Like dan Komennya


teman-teman🌺


Selamat berbuka teman-teman yang menjalankan ibadah puasa hari ke-2 ini 🌹🌹


Terima kasih 🙏💕

__ADS_1


__ADS_2