
Happy Reading
Membuat Anin menatap orang itu dari bawah sampai ke atas. Ada penampilan yang berbeda dari orang-orang yang sempurna. Yaitu matanya dan wajahnya.
"Maaf ini ss-ii-apa Pak?" Ucap Anin dengan terbata-bata, Ulfa dari tadi tidak bisa mengungkapkan isi unek-unek hatinya, sampai Anin yang bicara.
"Hem, ini restoran sudah saya cancel semua Pak. Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu." Ucap pemilik restoran itu.
Aksa duduk, "Silakan duduk mas!"
Orang itu duduk di samping Aksa. Aksa membenarkan dasinya dan melepas jasnya.
"Gimana Aksa?" Tanya orang itu, membuat Anin menyenggol lengan Ulfa.
"Oke, kenalkan ini karyawan saya... Kami di sini ingin membahas soal bisnis, ini orang kenalkan dia pebisnis hebat dan bisa di katakan di luar kebatasannya dia mampu menggalakkan semua perusahaan maupun di bidang kecil sama besar. Nah, saya harap kalian mengerti maksud saya! Saya ingin kalian belajar dari kehidupan bapak Ali ini." Ujar Aksa dengan tersenyum.
"Iya, kenalkan saya Anin Pak..." Anin menyenggol Ulfa, Anin melototi tajam ke arah Ulfa.
"Iyah, saya Ulfa Pak. Maaf saya sebenarnya agak heran dengan bapak, bapak itu kenapa ya?" Tanya Ulfa dengan asal ceplos tanpa memikirkan apa perkataannya itu benar atau salah.
"Nggak papa, ini juga saya habis kecelakaan. Kena luka bakar dan saya sudah melakukan operasi plastik, itu udah jauh-jauh hari saya lakukan ke Amerika. Semuanya gagal, katanya dokter pun muka saya emang udah kayak gini nantinya. Awalnya saya nggak terima, tapi mau gimana pun saya harus menerima. Saya juga ragu dengan hasil saya selama ini, udah bangga dengan karya saya dan pertama itu saya malu dengan keadaan saya sebenarnya. Saya sekarang sudah mulai berani untuk menatap dunia dan apapun keadaannya, mau orang mengolok-olok saya. Saya terima, emang sudah takdir saya begini." Ucap orang itu, membuat hati orang berdua itu momplong dan terenyuh mendengar perkataan orang yang mereka tidak kenal.
"Subhanallah..." Teriak Ulfa, dia benar-benar kagum sampai mulutnya berbentuk O.
"Ya Allah ini benar-benar keajaiban apa yang aku dapat? Ada juga seseorang yang masih ada di bawah dan ini orangnya nggak pantang menyerah, apalagi tadi Pak Aksa bicara kalau orang ini pebisnis sukses." Ucap Anin di dalam hatinya.
"Ya sudah kalau gitu kalian boleh memesan makanan kalau lapar."
"Hahaha... Iya Pak, saya juga lapar ini." Jawab Ulfa.
Ulfa pun melirik Anin yang sejak tadi meliriknya dengan tajam.
"Boleh, soal biaya nanti saya tanggung."
"Eh, kok di tanggung Pak. Biarkan kita yang akan bayar dengan sendirinya Pak, kan kita yang makan masa bapak yang akan bayarin." Anin berdecak sekali lagi, ini teman pura-pura pingin deket sama Pak Aksa apa gimana?
__ADS_1
Cari muka, padahal jelas wajahnya sudah ada semburat merahnya kek gitu. Tandanya jatuh cinta ini.
"Udah biar saya saja, saya yang mengajak kalian di sini dan seharusnya saya yang bayari makan kalian." Aksa menatap Anin dengan mengulas senyuman, sepertinya pandangan pertama udah di mata Anin.
Akhirnya semuanya makan dan bercanda tawa di sana, sampai lupa waktu. Anin pulang pun dihantarkan oleh bosnya sendiri.
***
"Apa?" Ucap Bude dengan sinis, masalah yang datang di Pakde, Bude yang menerkam seperti harimau hutan.
"Nggak papa, ibu itu jangan marah! Sebaiknya ibu buatkan bapak minuman atau apa gitu. Bapak laper bu, coba saja Anin udah pulang. Bisa menyuruh dia buat makanan bapak Bu." Panas-panas, udah hawanya panas di buat panas kembali oleh suami sendiri.
"Assalam---" Pakde pun membuka pintunya, Anin mau ketuk pintunya dan mengatakan salam. Pakde langsung menjawabnya,
"Wa'alaikumsalam... Udah pulang? Nin, buatin Pakde kopi sama pisang goreng ya!"
Pakde membukakan pintu lebar-lebar, Anin masuk ke dalam.
"Ada Bude 'kan? Emangnya Pakde ada masalah apa sama Bude? Kok nyuruh Anin buatkan kopi sama pisang goreng." Ucap Anin meletakkan tas yang berisi berkas dan tas yang berisi barang pribadinya.
"Hem, iya Anin buatkan sekalian mau buat jus biar segerin badan. Badan panas, tadi saja masuk angin sampai pingsan." Adu Anin, dia membocorkan rahasia tadi siang.
"Hahhhhh... Kamu bener tadi siang masuk angin? Terus, di kantor gimana tadi?" Bude melolong mendekati Anin yang berdiri.
Dengan mengecek suhu tubuh Anin dan Anin sampai bingung mau melakukan apa. Anin menerima pasrah, dia pun ke kamarnya dengan membawa tasnya kembali. Setelah itu, mereka berdua sama-sama diam.
"Kalau gitu Bude buatkan jamu saja, biar badannya lebih enak sedikit." Bude berjalan ke dapur, Pakde menguntit di belakang.
"Sekalian buatkan pisang goreng sama kopi." Ucap Pakde di dekat telinga Bude, Bude merinding dengar perkataan Pakde.
"Iya... Tapi, besok uang arisan Ibu di tambahi pokoknya, dari tunjangan hari raya sampai tahun baru lagi." Ucap Bude tanpa rasa bersalah. Mentang-mentang gaji Pakde akan di naikkan dua kali lipat bulan depan.
"Okeeee... Jadi, istri itu yang baik bukan berarti harus menginjak-injak harga diri seorang suami. Mentang-mentang bapak bulan depan naik gaji, ibu meminta sampai dua kali lipat dari biasanya. Bu, inget kita itu harus nabung, nggak setiap orang kaya terus. Ada juga yang gulung tikar terus memecat karyawan tanpa pesangon. Apa ibu akan mau seperti itu?" Ucap Pakde dengan menerima uluran kopi dari tangan Bude.
"Ibu tau itu, itu juga yang setengahnya kita bagikan ke orang yang nggak punya. Terus, yang lainnya kita akan gunakan sendiri. Ibu juga udah tau masalah kek gini, kecil Pak. Ibu ini gini-gini juga nabung di arisan, kalau dapet berarti beruntung." Ucap Bude, mengambil pisau dan pisang yang sudah matang di kulkas. Membuka bungkusan plastik nya.
__ADS_1
Membuat seperti resep biasanya.
***
Anin di dalam kamar mengingat-ingat ucapan Aksa tadi siang dan sepertinya Aksa sejak siang tadi, jatuh cinta pada pandangan pertama sama Anin.
"Kayaknya sih ya, kalau salah ya gimana lagi?"
Anin memegang berkasnya, membuka handphone dari pemberian Pakdenya.
Isinya pesan whatsapp semua, dia pun membuka pesannya satu persatu di grup, sampai ada 600 pesan lebih yang belum dia baca.
Ulfa : [Wih, aku tadi ketemu sama CEO perusahaan kita lho.]
Si Danu : [Yang bener lu?]
Sang Pujangga : [Lu ngadi-ngadi?]
Ulfa : [Tanya saja sama Anin!]
Sofi : [Preeeettttttdeeeet.]
Ulfa : [Alah kalau nggak percaya tanya Anin itu, dia juga sama aku tadi. Pada ngiri semua yah, apalagi tadi makan-makan terus di bayarin lagi sama CEO ganteng... Ihh, pingin gue cubit tadi.]
Noh, isi pesannya Ulfa sama si pujangganya semua. Padahal Ulfa itu udah punya pacar terus dia memutuskan untuk memilih sang pujangganya buat menambatkan hati Ulfa sendiri.
Sampai ratusan pesan Anin baca, ada juga yang mengolok dari segi penampilan dan itu-itu lah pokoknya. Emang ini grup pembawa apa-apa. Kalau nggak di balas pasti berpanjangan masalahnya.
Anin keluar dari sisi semunya, dia membalas satu-satu pesannya. Wah, keluar semua itu para tetangga sebelah dan para ketua-ketua.
Bersambung...
Jangan lupa like dan komentar positifnya 🍃🍃
Terima aksih 🙏🤗
__ADS_1