SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
HUJAN


__ADS_3

"Kau nggak lapar ?" Dave kembali menoleh ke arah Kirana yang masih tak bergerak di depan pintu kamar.


"Eh, i, iya." Kirana tergagap. Dengan rikuh dia duduk di kursi meja makan yang sudah terhidang omelet mie dengan taburan bawang merah di atasnya. Kirana menelan ludah memandanginya, sedang Dave berada persis di sebelahnya masih sibuk memasak entah apa.


Di luar suasana masih gelap padahal jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Suara hujan angin masih terdengar jelas dan sesekali terdengar guntur mengelegar.


Kirana memeluk dirinya sendiri, meski di situ tidak ada pendingin ruangan, Kirana tetap merasa kedinginan. Di liriknya lagi Dave yang bertelanjang dada dengan celana jenas nya yang sedikit basah pada beberapa bagian.


"Apa dia nggak merasa dingin ?" tanya Kirana dalam hati. Di pandanginya tatto berbentuk manusia dengan sayap lebar yang tengah menunduk seperti sedang bersedih. Pandangan mata Kirana menjadi sayu, kemudian tertunduk. "Apa dia membuat tatto itu saat sedang tertekan ?" dia bertanya dalam hati.


"Kau nggak suka ?" tanya Dave sambil meletakkan semangkuk mi kuah panas dengan telur dan potongan wortel.


Kirana terkejut.


"Kau mau yang berkuah ?" Dave menawarkan semangkuk mi yang baru saja ia buat, lalu duduk berhadap-hadapan dengan Kirana di meja makan kecil berbentuk segiempat. "Ada wortel dan beberapa bumbu dapur, jadi aku mencampurkannya." ia menerangkan.


Kirana masih merasa sungkan melihat Dave yang tidak memakai baju. Wajahnya sudah memerah dan ia berusah untuk tak memandang Dave. Tapi matanya selalu mengarah pada dada bidang dan otot perut Dave yang tak pernah di perlihatkan sebelumnya.


"Aku sudah menelpon Ibu dan Mom. Tapi seperti yang kita tahu, ada tanah longsor dan longsorannya sampai menutup akses jalan." Dave berkata sambil menyuapkan potongan omelette mie ke mulutnya. "Dan dengan cuaca seperti ini, kemungkinan malam atau paling cepat sore mereka baru datang menjemput.


Kedua tangan Kirana yang berada di bawah meja saling meremas dengan jari-jarinya yang terasa dingin.


"Kirana ?" panggil Dave karena Kirana tak merepon ucapannya.


"Ya, ya Dave ?" lagi-lagi Kirana tergagap.


"Kau masih takut ?" wajah Dave terlihat khawatir.


"Eng, enggak..." Kirana mengeleng. Dilihatnya mangkuk mi di hadapanya yang masih mengepulkan asap. Karena terlalu fokus pada Dave, Kirana sampai tidak bisa mencium aroma wangi dari mi instan favorite nya ini.


Tiba-tiba Kirana teringat sesuatu. "Dave, waktu aku sakit dan kau mengantarkan makanan untukku. A, apa itu buatanmu ?" tanya Kirana ragu.

__ADS_1


Kali ini Dave yang terkejut. Ia memalingkan muka dan berdehem beberapa kali. "Itu sudah lama sekali, aku nggak ingat." Dave menutupi malu.


Kirana terkekeh mendengarnya. "Aku sempat berpikir mana mungkin Ibu mau membuatkan mi instan untukku." kata Kirana sambil tersenyum dan mulai menyendokkan mi yang telah hangat itu ke mulutnya. Di kunyahnya mi itu beberapa saat. Kuah gurihnya menghangatkan tenggorokan dan membuat lidah Kirana yang awalnya pahit menjadi lebih baik. "Lalu aku berpikir, mungkin Ibu mau membuatkan karena di campur dengan sayuran dan bumbu instannya di ganti." Kirana tersenyum ke arah Dave.


"Bumbunya nggak aku ganti, hanya aku tambahi." ralat Dave.


Kirana tertawa. "Jadi benar kau yang membuatnya dan masih ingat, kan ?" ucapnya.


Wajah Dave kian merah. Tapi seperti biasa, ia akan menyembunyikan rasa malunya dengan sikap sok dinginnya.


Dan bagi Kirana yang sudah paham sifat Dave, hanya tertawa geli melihat sikapnya.


Tinggal di Villa sederhana dan hanya makan mi instan. Mereka berdua makan dengan lahap sambil sesekali melontarkan gurauan atau sekedar berbagi cerita. Pagi yang mestinya dingin dan kejadian bak film thriller yang baru saja mereka alami, serasa tak pernah terjadi saat Kirana dan Dave bisa saling terbuka seperti sekarang.


"Mom pasti bangga padamu." ucap Kirana setelah menyelesaikan makannya. Bahkan tadi Kirana sempat bersendawa yang membuatnya langsung menutup mulut dan Dave hanya geleng-geleng kepala sambil menahan nafas.


Dave memandangnya tak mengerti.


"Setiap orang punya kelebihan sendiri-sendiri." Dave akhirnya berkata dengan sungguh-sungguh.


Kirana memperhatikannya dengan serius. "Apa menurutmu aku punya kelebihan ?" tanyanya.


"Tentu." jawab Dave pasti.


"Apa ?" mata cokelat terang Kirana berbinar menatapnya.


Dave mengulum senyum. "Makan." ucapnya geli.


Wajah Kirana yang sudah siap mendengar pujian dari Dave langsung berubah masam. "Daaavee..!" Kirana bangkit dan memukul Dave yang tertawa melihat wajah kesal Kirana yang terlihat lucu di matanya.


"Itu kenyataan, kan ?" Dave masih tertawa sambil memegangi kedua lengan Kirana yang terus berusaha memukulnya.

__ADS_1


Mungkin karena berada di tempat asing yang orang tak mengenal siapa mereka. Dan di situ pun hanya ada mereka berdua, membuat baik Dave maupun Kirana lebih leluasa bersikap.


"Aku sudah nggak seperti dulu, kok." Kirana membela diri. Dia tak tahu Dave akan menyinggung soal nafsu makannya yang besar. Dan itu membaut Kirana malu.


"Lebih banyak makan dari yang dulu maksudnya ?" Dave berkata di susul dengan tawa.


"Aku suka dia tertawa, tapi kenapa kali ini terdengar mengesalkan ?" Kirana berkata dalam hati dengan kening berkerut dan wajah semakin berkerut. Mereka terlihat seperti dua anak kecil yang sedang bertengkar, dengan posisi Dave masih duduk dan Kirana yang berdiri di depannya.


Seperti tak ada batasan. Dave terlihat bahagia meskipun Kirana berkali-kali ingin memukulnya. Sebaliknya Kirana, meskipun sebal, namun tidak bisa di pungkiri jika dalam hati, ia merasa senang dengan kebersamaannya bersama Dave.


BRAAAK !


Kursi plastik yang di duduki Dave patah salah satu kakinya, membuat Dave terduduk di lantai dan Kirana terjatuh di atasnya.


Mereka berdua saling pandang dengan raut wajah terkejut.


Jantung keduanya seketika berpacu lebih kencang dengan Dave yang setengah tertidur di lantai dan Kirana berada persis di atasnya.


Kirana tertegun saat menyadari kedua tangannya bertumpu pada dada bidang Dave yang terbuka. Dari telapak tangannya juga Kirana bisa merasakan detak jantung Dave yang sama kencangnya dengan dirinya.


Mata hitam Dave menatap satu-satunya wanita yang berhasil mencairkan hatinya yang beku dan hanya memikirkan tentang Ibunya. Membuat hidupnya yang dulu hanya di isi oleh bagaimana menjadi sosok sempura agar memperoleh pengakuan Ayahnya. Kini mulai di penuhi oleh sebuah nama, Kirana.


Tanpa sadar tangan Dave terjulur dan memegang pipi Kirana.


Kirana sedikit terkejut. Tapi kemudian ia tersenyum tipis sambil memegangi pergelangan tangan Dave yang berada di pipinya.


Mereka masih saling pandang. Tapi kali ini mata cokelat terang milik Kirana sudah berair, saat menyadari cintanya tak mungkin bisa bersama.


Dengan jempol tanganya Dave mengelus pelan pinggir pipi Kirana yang terluka. Hatinya ikut sakit. Seandainya ia datang lebih cepat. Pastilah wajah Kirana tak akan seperti ini.


Menyadari Dave melihat ke arah lukanya, membuat Kirana rendah diri. Ia menunduk, mencoba menutupi luka dengan rambut panjangnya dan hendak bangkit berdiri. Saat tangan Dave yang lain memeluk pinggang Kirana dan merapatkan pada dirinya.

__ADS_1


Hujan turun begitu deras seolah tak mau berhenti. Dan bagi Dave maupun Kirana berharap dalam hati, semoga hujan memang tak akan berhenti saat bibir mereka saling bertemu.


__ADS_2