SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
MEMUTAR WAKTU


__ADS_3

"Nona..."


Bayang wajah dan suara nya saat memanggil masih begitu terasa jelas dan nyata meski pun kini orang nya telah tiada.


Eva memejamkan mata bersamaan dengan air matanya yang meleleh turun menetes membasahi tangannya yang tergenggan di pangkuannya.


Ia menghela nafas panjang dan menghembuskannya. Di hapusnya sisa-sisa air mata di pipi dengan sapu tangan yang sedari tadi ia remas.


"...Kami tidak memiliki hubungan apa pun." Eva berkata dengan nada tegas setelah berhasil menenagkan diri. Ia mengangkat wajah dan menoleh ke arah Ayah dan Ibu nya. "Dia hanya menuntut pengakuan dari ku atas kebenaran Dave adalah benar anak nya." kembali ia memotong kalimatnya sendiri, lalu menelan ludah.


Berat untuknya bercerita, karena hanya seperti mempertegas penyesalan akan kesalahannya. Namun biar lah semua menjadi jelas, toh hidupnya tak akan lama lagi. Dia sudah lelah, dia ingin tenang tanpa di bayangi oleh masa lalu yang menyakitkan.


"Tapi seperti yang Papa ajarkan dan Keluarga ini junjung." Eva mengangkat sedikit kepalanya, gaya congkak nya yang seperti biasa dengan tatapan sombong penuh ke angkuhan. "Siapa dia sampai aku harus mengatakan bahwa benar Dave adalah anak nya ?" ia berkata dengan ekspresi seolah tak percaya. "Bukankah aku Evangeline Sanjaya yang terhormat, sudah sepantasnya kan anak yang aku lahirkan dari keturunan yang terhormat pula seperti Andreas Marthadinata ?"


Wajah tua Hertoni makin berkerut saat menatap wajah putrinya yang sudah memerah menahan tangis namun ekspresi wajahnya masih menunjukkan ke angkuhan yang luar biasa.


Seolah mengejek dirinya, bahwa yang ia ajarkan hanya lah soal kesombongan dan keangkuhan.


"Saya mohon, anda hanya perlu mengangguk jika memang iya ini seperti yang saya duga."


Wajah memelas Lelaki itu kembali membayang, membuat lelehan air mata wanita 50 tahun itu kembali turun membasahi pipi nya yang mulai di makan usia.


"Jadi kau tenang saja Pah..." Eva kembali berkata. "Sampai dia mati, dia tidak tahu kalau Dave adalah anak...uhuk...uhuk..." kata -kata Eva terhenti oleh batuk hebat yang tiba-tiba menyerang. Membuat Pasangan Suami-Istri itu panik dan langsung berdiri menolongnya.


Dave yang baru datang terkejut melihat keadaan Ibu nya yang sudah terbatuk tiada henti.


"Mom !" ia berteriak histeris. Secepat kilat ia berlari ke arah Ibunya yang tengah di tolong oleh kedua orang tua nya.


Eva merasa sakit pada bagian dadanya, sesak sampai sulit untuk bernafas dan nyeri di tiap ia menghirup udara untuk bernafas.


"Eva ?!" wajah tua Lelaki itu ketakutan saat kembali Eva mengeluarkan darah pada sapu tangan yang ia tutupkan ke mulut ketika batuk.

__ADS_1


"Evaaa..." tangis Ibunya sambil memeluknya.


Kening Eva sudah berpeluh dengan wajah yang semakin pucat, di tatapnya noda darah pada sapu tangannya seperti orang yang terpaku akan sesuatu.


"Mom ?" Dave menguncang bahu Ibu nya yang hanya diam mematung.


Eva menoleh ke arah anak semata wayangnya, wajahnya tampannya menunjukan kekhawatiran dengan mata yang berkaca-kaca.


"...Kau pasti sangat membenci ku, ya...?" ucap nya sambil tersenyum dan mengelus pipi anak Lelakiny itu dengan tangan yang satu nya.


Dave tak mengerti, namun pertanyaannya itu hanya bisa sampai di kerongkongan saat melihat Ibu nya sudah meluncur turun, yang untung nya oleh Kakeknya segera di topang bahunya dan di peluknya. Kerudung ibu nya merosot, memperlihatkan rambut panjangnya yang tergelung dan berwarna putih.


Membuat Hertoni dan Erika semakin memelas dengan keadaan Putri mereka.


"Evaa..." Di peluknya erat putri semata wayangnga.


Untuk pertama kalinya hati Hertoni merasa teriris melihat darah daging nya yang terlihat begitu melarat. Padahal kurang apa mereka ? Tidak ada hal apa pun yang tidak bisa mereka beli.


Ia mendidik Putri nya dengan harga diri seorang Sanjaya yang terhormat, mesti nya Putri nya itu menjadi wanita paling beruntung karena terlahir cantik dengan harta yang membuat siapa pun iri.


Mereka begitu panik melihat keadaan Eva yang entah pingsan atau apa, karena matanya sedikit membuka dengan pandangan kosong namun tak merespon walaupun sudah di panggil-panggil nama nya dan di tepuk-tepuk pipi nya.


Beberapa Pelayan dan bodyguard datang untuk ikut membantu, tapi Dave tidak mengijinkan ketika seorang bodyguard laki-laki ingin membantu memindahkan Eva.


Dave lah yang membopong tubuh kurus ibu nya itu, sementara Erika sudah berteriak-teriak menyuruh mengambil air putih, obat gosok dan Dokter Keluarga. Sangking paniknya, wanita berusia 80 tahunan tersebut sampai mengulang-ulang kalimatnya.


Eva merasa seperti di awang-awang, dan saat ia membuka mata ia kembali muda seperti saat berusia 30 tahun.


Ia terkejut ketika menoleh dan mendapati dirinya di balkon sebuah gedung bertingkat dengan pemandangan malam yang luar biasa indah karena langit yang berbintang dan bagian bawah di penuhi lampu kota dan kendaraan yang berseliweran di malam yang mesti nya gelap.


Angin malam berhembus menyibak-nyibak rambut panjangnya yang hitam berkilau indah, membuat wajah cantik mulus nya yang tanpa keriput atau lingkar hitam di bawah mata menoleh ke samping.

__ADS_1


Lelaki yang mirip sekali dengan Dave itu di sana, berdiri di sampingnya dengan posisi yang berlawanan arah dengannga. Ia memakai jas hitam dan kemeja putih nya yang seperti biasa, menyandarkan punggungnya pada tembok balkon. Dengan rambut hitam nya yang tersisir rapi dan ingin sekali-kali Eva mengacak nya karena gemas dengan sikap nya yang terlalu over dalam hal kerapian.


Ia menoleh dan tersenyum ke arah wanita yang masih memandangnya dengan mata nanar yang berkaca-kaca.


"Kau tahu, Ren...aku selalu berharap kita akan bisa di pertemukan lagi dalam keadaan yang berbeda. Di mana saat itu tidak ada lagi perbedaan di antara kita..."


Langit malam dengan banyaknya bintang yang terlihat jauh lebih indah dari permata berkilau mana pun menjadi latar kedua orang yang berdiri bersandar pada balkon dalam posisi berlawanan arah, namun saling pandang dan tersenyum.


"Maaf kan aku yang egois, maaf kan aku yang terlambat menyandari..."


Angin malam kembali berhembus membuat gaun malam berwarna hitam yang di pakai Eva dengan bagian punggungnya yang terbuka dan tanpa lengan berkibar. Lelaki itu maju, membuka jas hitam nya, lalu memakaikan pada nya agar tidak kedinginan.


Eva melihat ke arah nya, wajah Lelaki itu terlihat masih sama seperti saat terakhir yang ia ingat.


"Jika saja aku tahu akan secepat ini..."


Air mata Eva luruh menatap nya. Mereka berdiri saling berhadapan dengan tangan Lelaki itu yang masih merapatkan jas hitam nya yang kini telah ia pakai.


Ia tersenyum dan sesaat sosoknya mulai samar, membuat wajah Eva berkerut memerah dengan air matanya yang semakin berderai.


Dan ketika angin malam kembali berhembus, seperti butiran pasir, sosok itu ikut terbang dan menghilang.


"AKU MENCINTAI MU REENN...!!!" tangis nya keras-keras.


Penyesalan terbesar seorang manusia adalah kematian. Saat semua sudah terlambat, entah bagimana kita menyesal, minta maaf atau apa pun itu tidak akan bisa merubah takdir.


...----------------...



...----------------...

__ADS_1


Maaf tidak jadi Up malam 🙏😭


-🍀-


__ADS_2