SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
MENYESAKKAN HATI


__ADS_3

Dave sudah duduk di ruang tunggu sebuah Akademi Balet terbaik dan tertua di Indonesia yang sudah di dirikan sejak 1956 tahun yang lalu oleh seorang Seniman Tari Indonesia yang sangat terkenal pada jamannya.


Dengan interior yang di penuhi kalimat motivasi dan lukisan Penari Balet, Akademi itu sering mengharum nama Indonesia di dunia Balet Internasional karena prestasinya yang luar biasa.


Wajahnya yang terarah ke pintu kaca besar yang memperlihatkan Siswa-siswa nya yang sedang berlatih dengan mengenakan leotard yaitu baju balet berbahan lentur dan harus melekat di badan supaya Instruktur atau Guru Balet bisa melihat gerakan otot dan postur tubuh Siswanya sudah benar atau tidak.


Wajah dan pandangan Dave memang ke arah situ, tapi pikirannya masih melayang pada perdebatan nya dengan Kirana beberapa saat lalu.


"Kau ingin mengatakan apa tentang Ibu ku ?!"


Di ingatnya Gadis berkuncir itu berkata dengan nada tinggi.


Ia masih belum mau menjawab, pandangannya tetap ke depan dengan kedua tangan yang mencengkeram kuat-kuat stir mobil nya untuk menahan gejolak emosinya yang makin meluap.


"Kau ingin mengatakan kalau Ibu ku yang merebut Daddy dari Ibu mu..??"


Kembali suara Kirana yang di penuhi emosi terdengar, membuat ia seketika banting setir ke pinggir jalan dan menghentikan laju mobilnya.


Ia tak peduli dengan mobil-mobil lain di belakang membunyikan klaksonnya keras-keras, karena ia yang berbelok mendadak.


"Apa kau gila ?!" Di dengarnya suara Kirana yang kaget membentaknya.


Ia tahu gadis itu takut terjadi kecelakaan, tapi ia tidak bisa menahan perasaan tertekannya lebih lama lagi.


"Coba kau tanyakan pada Ibu mu sendiri tentang kebenarannya ." Akhirnya Ia berkata setelah Mobil Lamborghini nya ia parkirkan di pinggir jalan yang agak sepi.


"Kenapa harus aku yang bertanya...?" Kau kan yang bicara aneh-aneh sampai menimbulkan persepsi negatif seperti itu."


Tanpa melihat ke arah nya, Ia tahu jika sekarang pasti Kirana sedang menatap nya dengan mata cokelat terangnya yang selalu membuat dadanya berdesir. Tapi ingatan akan Ibu terkasih nya yang saat ini tinggal di Paris sendirian membuat nya mengabaikan semua itu.


"Persepsi...??" Ia menoleh dan terkekeh ke arah gadis yang duduk di sampingnya itu.


Di lihatnya wajah Kirana yang memerah dan bibirnya yang bergetar.

__ADS_1


"Ibu ku baik sekali padamu , teganya kau tertawa dan menuduhnya seperti itu." Ucap Kirana dengan mata cokelat terangnya yang mulai memerah.


"Tega...? Menuduh...??" Ia tertawa hambar mengingat masa kecil nya yang hanya di isi dengan melihat wajah Ibu nya yang selalu di penuhi air mata.


"Kenapa kau tertawa seperti itu !" bentak Kirana membuat ia kembali menoleh ke arah nya.


" Kau mengatakan tega...?" ucapnya. " Lalu bagaimana dengan Mommy ku yang telah di tinggal oleh Dad karena Ibu mu...??" ia bertanya.


"Ibu bukan orang seperti itu !" bentak nya sengit.


Ia tahu dari raut wajah Kirana yang merah padam dan keningnya yang berkerut, Kirana pasti tidak terima dengan ucapnya. Sedikit rasa tidak tega kepada Gadis itu terlintas di benaknya.


" Selama ini kami hidup bahagia dengan Daddy yang begitu sayang dengan Ibu, dengan kami. Jadi nggak mungkin..."


"Selama itu juga Mom hidup menderita !" potong nya cepat begitu mendengar kata-kata Kirana yang membuat batinnya iri.


Bisa di lihatnya raut wajah kaget dari Gadis itu karena ia yang membentaknya dengan suara keras.


"Itu bukan asumsi, itu kenyataan yang selama ini aku cari dan aku kumpulkan info nya selama betahun-tahun." Ia berkata pasti.


"Aku tetap nggak percaya, pasti ada kesalahan." Gadis itu tetap ngotot membela Ibu nya.


"Lalu kenapa kau bisa lahir lebih cepat dari aku ?" tanya nya yang membuat bibir Kirana langsung terkatup dengan wajah merah padam.


Ia tahu, pasti Kirana tak yakin dengan omongannya sendiri. Sama dengan dia ketika tahu pertama kali tentang kebenarannya.


"Mau aku beri tahu, kenapa aku lebih muda dari mu padahal aku adalah anak dari mantan Istri pertama Dad...??" Ia berkata kembali sambil menatap sinis pada Gadis yang duduk di sampingnya.


Sebenarnya hati nurani nya melarang saat mata cokelat terang milik gadis itu membuat hatinya kembali bergetar. Tapi ingatan akan Ibu nya yang tenggelam dalam kesedihan dengan rambut panjagnya yang memutih begitu cepat, membuat nya bahkan bisa bertindak kejam pada siapa saja, termasuk kepada gadis yang saat ini masih menatapnya sengit.


"Aku nggak akan percaya omonganmu !" Kirana berkata ketus. " Harusnya aku nggak di antar oleh mu, aku bisa jalan sendiri !" Di lihatnya gadis berkuncir itu memalingkan muka dari nya dan hendak membuka pintu mobil.


"Dad memperkosa Ibu mu." Ucap nya. " ibu mu hamil dan Dad..."

__ADS_1


PLAAAKK...!!


"Dave..." sentuhan lembut di bahunya membuatnya tersadar dari lamunanya.


Dave menengadahkan wajahnya, di lihatnya Angela yang tampak cantik mengenakan leotard berwarna putih dengan skirts atau rok yang mengembang kaku memperlihatkan kaki jenjangnya yang berlapis tights atau stoking untuk membuat kaki Ballerina selalu hangat agar ototnya tetap lentur dan pointe shoes, sepatu khusus balet dengan kontruksi agar bisa menari di ujung jari kaki.


"Maaf membuat mu menunggu lama.." Angela berkata wajah menyesal.


Dave tersenyum. "Aku juga baru datang, nggak masalah." ucap nya.


Senyum di wajah Angela langsung terkembang. "Oya, coba lihat baju perfomance ku." ia berkata girang sambil memegang skirts bajunya sambil berputar-putar di depan Dave. "Cantik yaa..??" senyum nya makin lebar, manambah cantik wajahnya.


"Iya." Dave berkata sambil ikut tersenyum. "Kau pasti akan menjadi Odette tercantik dengan baju itu" lanjutnya yang langsung membuat Angela terkekeh dengan wajah memerah.


"Aku berlatih keras agar saat kau melihatnya nanti, akan membuat mu semakin jatuh cinta pada ku." Angela duduk di samping Dave sambil memeluk lengannya, dan menyandarkan kepalnya pada bahu lelaki yang telah menjadi tuangannya sejak beberapa tahun lalu tersebut.


Pandangan Dave kembali mengawang. "Jatuh cinta...??" ucapnya dalam hati.


Tanpa sadar ia memegangi pipi nya yang jika di perhatikan lebih dekat tampak memerah bekas tamparan.


Dave menelan ludah, ia tak pernah jatuh cinta. Selama ini ia hanya menjalankan apa yang menjadi tanggung jawab serta kewajibannya sebagai Tuan Muda di Keluarga Sanjaya yang terhormat.


Matahari telah tenggelam di gantikan bulan yang malam ini hanya membentuk segaris senyum di langit gelap tanpa bintang.


"Mau sampai kapan kau menangis...??" Shopie duduk di pinggir ranjang dengan Kirana yang tidur tengkurap membelakangi Shopie. "Kau nggak lapar...? Mama ku langsung masak banyak tuh, begitu tahu kau di sini." ucap nya.


Kirana yang saat itu berada di Kamar tidur Shopie hanya diam dengan sesekali masih terdengar suara isak tangisnya dengan wajah yang di benamkan pada bantal.


"Gawat...".Shopie yang saat ini memakai kaos tanpa lengan dan celana pendek di atas lutut memandang Kirana yang masih tetap dalam posisinya. "Dengan makanan dia sampai nggak tertarik..." ucapnya dalam hati sambil memijit keningnya.


...----------------...


__ADS_1


__ADS_2