SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
HANYA KARENA


__ADS_3

Eva berjalan mendekati ranjang anaknya. Wanita berusai 50 tahun yang selalu berbaju dan berkerudung hitam itu seolah sedang menghadiri sebuah pemakaman itu terlihat emosional.


"Kenapa berbicara seperti itu ?" wajahnya sudah merah padam. "Ayah kandung mu memang bukan keturunan siapa-siapa, tapi dia orang yang baik..." kedua tangannya yang berada di lengan Dave bergetar. Mata mereka saling bertemu, bisa Dave lihat kedua mata Ibu nya itu sudah berkaca-kaca.


Erika terisak, ia sudah menangis. Membuat Eva melepas pegangangannya pada Dave dan melihat ke arah Ibu nya yang sudab tua.


"Benar, Dave anak Rendy." ucap nya tegas sambil menghapus ujung mata ny yang mengalirkan air mata. Wajahnya masih tetap angkuh seperti biasa, tegar meskipun wajahnya sudah memerah dengan air mata yang siap membanjiri pipi nya.


"Kenapa tidak jujur sejak awal ?" Erika bangkit dari duduknya. "Papa mu tertekan." wanita tua itu kembali menangis.


"Lalu bagaimana dengan aku ?" Eva tak kalah emosi. Ingatannya selalu mengarah pada Laki-laki yang akan tetap muda, meksipun kini usianya sudah setengah abad. Satu-satunya laki-laki yang bisa mengetrakan hati dan melepas topeng munafiknya. Laki-laki yang dia benci sekaligus cintai.


Dave tak lagi bicara, ia diam menunduk. Menyesal mengatakan hal yang membuat Ibu nya menangis dan kini tengah bertengkar dengan Neneknya.


"Kalau aku jujur, apa Papa akan menerima ?" Eva masih terlihat emosi. "Apa yang akan Papa lakukan pada Rendy kalau tahu aku hamil anak nya ?" air matanya sudah mengalir, namun kembali di usap nya. "Yang selalu Papa pikirkan hanya nama besar, jika Papa tahu Dave bukan anak Andre, apa kalian akan tetap menganggap nya Cucu ?!" tangisnya.


"Mom, please..." Dave sudah bangkit dari ranjanganya lalu memeluk erat Ibu yang amat di di kasihi nya itu. "Maaf kan aku, jangan menangis lagi..." ia membingkai wajah Ibu nya yang di mata Dave akan selalu yang tercantik meskipun kini di penuhi kerut kesedihan dan lingkar di bawah mata yang menghitam.


Di tatapnya anak lelakinya yang kini jauh lebih tinggi dari nya. Anak lelaki yang jika dia bersedih, pasti ia akan lebih sedih. Anak lelaki yang sama sekali tidak mirip dirinya walaupun dia yang mengandung dan melahirkan.


"Aku nggak akan membahasnya lagi, aku akan diam. Jadi aku mohon jangan marah apa lagi menangis lagi..." wajah pucat Dave memelas dengan jari-jari tangannya yang mengelus kedua pipi Ibu nya.


"Ayah kandung mu orang yang baik, Mom lah yang jahat karena egois dan tidak mau mengakui..." bibir Eva bergetar, air matanya kembali mengalir dengan tangan yang memegangi pergelangan tangan Anaknya yang membingkai wajah nya.

__ADS_1


"Iya, iyaa..." Dave menganguk-anguk cepat, tak mau melihat air mata di wajah itu lagi.


Erika jadi merasa bersalah, ia dan Sumainya selama ini memang selalu menjunjung tinggi nama baik Keluarga. Dan seperti yanv Eva bilang, seamdainya saat itu mereka tahu Dave bukan anak Andreas, mungkin saja Suaminya itu sudah murka dan tidak akan mau mengakui Cucu nya tersebut.


"Walaupun status Ayah kandung mu hanya anak angkat, tapi dia cerdas dan menduduki posisi sebagai Wakil Daddy mu. Dia tidak pernah di beda-bedakan, malahan dia lebih di segani bawahan karena dia lah yang aktif bergerak memajukan Perusahaan." Eva terus meracau dengan mata membulat menatap lurus ke anak Lelakinya dengan wajah nya yang sembab.


Wajah Dave berkerut sedih melihat nya, di topangnya tubuh Ibu nya yang begitu kurus. Ia terluka, harga diri nya jatuh dan nalarnya masih tidak percaya. Seribu satu luka dalam hati nya, namun ia akan lebih sakit hati, lebih terluka dan harga dirinya tidak ada artinya jika itu membuat wanita yang telah melahirkannya ini menangis.


"Wajahnya...seandainya kau tahu seberapa menyebalkan wajah nya jika dia tersenyum padahl hati nya gamang karena Mom yang berkali-kali mengelak saat dia berusah untuk tahu tentang dirimu.." Eva masih menatap Dave, namun kali ini air mata nya kembali meleleh.


"Mom..sudah..." Dave semakin sakit melihat nya.


Wajah Eva semakin berkerut menahan air mata, cintanya yang tidak mungkin di ungkap dan perasaan menyesal yang menghantui hidupnya membuat ia lelah dengan semua.


Seandainya waktu bisa di putar ulang, tentu ia akan membuang jauh sifat angkuh nya. Kadanv dalam mimpi-mimpinya ia membayagkan hidup nya yang indah bersama Dave dan juga orang yang menjadi Ayah kandung anaknya, orang yang ia tolak keberadaanya hanya karena status keturunan.


Erika dan Dave panik. Bahkan Dave langsung menarik jarum infus yang masih tertancap di punggung tangannya karena selang kecil nya yang membatasi gerak nya.


Erika dan Dave berusaha menolong, tapi Eva terus terbatuk dan ketika ia membuka telapak tangan yang menutup mulutnya, tangan dan pinggir mulutnya telah kotor dengan darah.


"Evaa.." Erika menangis. Di peluk putri nya yang entah sejak kapan selalu memakai baju warna hitam.


Dave meraih tangan Ibu nya yang bernoda darah "Di mana obat nya, Mom ?" tanya nya khawatir.

__ADS_1


Eva hanya diam dan bersikap tenang seperti biasa.


"Kenapa tidak berobat ?" di guncang pundak kurus anak nya yang tengah membersihkan darah pada telapak tangannya dengan tisu yang berada di atas nakas. "Kita bisa mencari Dokter terbaik !"


Eva masih tak menjawab, ia baru bereaksi saat melihat punggung tangan Dave yang menaglir darah bekas jarum infus.


"Kenapa infusnya lepas ?" ia meraih tangan Dave dan langsung menutup lukaa nya dengan tisu. "Panggil Perawat !" ucap nya panik. ia langsung meraih tombol di atas nakas untuk memanggil Perawat.


Dave membiarkan Ibu nya mendudukkanya di pinggir ranjang, wajahnya muram.


"Kenapa Ev ?" Erika masih menunggu jawabnya. Kedua tangannya saling mengenggam di dada dan wajahnya di penuhi rasa cemas. "Kenapa bisa sampai separah itu ? Bukankah di Paris banyak Dokter hebat...?" tanyanya.


Eva yang saat itu membelakangi ibu nya dan masih menghadap Dave menelan ludah.


"Apa kau mencintai Rendy, Ev...?"


Pertanyaan Ibu nya membuat mata Eva membulat, dan Dave bisa melihat perubahan itu.


"Selama ini kami mengira kau tidak mau pulang ke Jakarta karena masih sakit hati dengan Andreas, tapi melihat sikap mu barusan sepertinya kami salah." ucap Erika.


"Sudah lah Mah..." Eva membalikkan badan menghadap Ibu nya. "Semua sudah berlalu, dan yang terpenting untukku sekarang adalah Dave." ucapnnya. "Jika Papa tidak mau mengakui Dave lagi sebagai Cucu nya karena hal ini, itu akan lebih baik."


Ucapan Eva membuat Erika terkejut, sedang Dave sendiri hanya diam menunduk dengan ekspresi tak terbaca.

__ADS_1


"Lebih baik Dave hidup denganku di Paris." ucap nya lagi. "Jauh dari Keluarga Sanjaya dan didikan Papa yang mengagungkan nama baik dan keturunan." tangannya terkepal ketika mengatakan itu.


Bersamaan dengan itu seorang Perawat masuk, ia heran dengan suasana tegang dan ekspresi dari orang-orang di dalam nya. Namun ia tak berkata apa-apa dan hanya menunduk dan memasangkan lagi cairan infus yang entah sudah berapa lama menetes-netes ke lantai ke dalam punggung tangan Dave kembali.


__ADS_2