SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
AKU EGOIS


__ADS_3

"Ada hal yang nggak perlu harus di ungkap jika itu hanya akan memperburuk keadaan, Kirana." ucap Dave sambil memalingkan muka.


"Baik, Dave. Aku mengerti." Kirana mengapus air matanya dan mencoba tegar.


Dave menghela nafas panjang. Beginilah seharusnya. Ia bersyukur Kirana mau mengerti. Meski berat, memang tak seharusnya gadis itu tahu isi hatinya.


"Aku akan membatalkan pernikahanku."


Dave baru saja membalikkan badan dan hendak membuka handle pintu, saat Kirana mengeluarkan kalimat yang membuatnya terkejut.


"Apa ?" Dave lamgsung menoleh ke arahnya. Tak yakin dengan apa yang di dengar.


"Kita hanya hidup sekali, Dave. Aku nggak ingin menyesal." Kirana berkata.


"Apa maksudmu ?" kening Dave berkerut. "Apa kau sudah gila ?" wajahnya yang biasanya tenang, kini seperti kain kusut. "Apa aku mengatakan hal yang salah ?" Dave bertanya dalam hati. Mengira-ngira bagian mananya yang membuat gadis itu bisa segambalang ini berkata.


"Ini nggak ada hubungannya denganmu." Kirana menatapnya. " Aku ini egois, aku nggal bisa seperti mu yang memikirkan semua. Aku nggak bisa berpura-pura bahagia dengan orang yang nggak aku cintai."


"Pernikahanmu sudah di depan mata. Jangan bertindak gegabah hanya karena scandal dan berita-berita yang menyudutkan ini." Dave menekankan. "Kita bisa menyelesaikan ini. Aku akan mengaku. Kita bisa bekerja sama untuk memulihkan keadaan." Dave menjelaskan.


"Ini nggak ada hubungannya denganmu, Dave." Kirana mengulang kalimatnya. Tidak biasanya dia bisa berkata setenang ini. "Ini murni keputusan ku sendiri."lanjutnya.


Dave mengusap rambutnya kebelakang. "Pikirkan Dad, Ibu. Dan Jonathan, dia sangat mencintaimu." Dave mencoba membujuk. Tak mengerti kenapa tiba-tiba Kirana berubah seperti ini.


"Sudah aku bilang, aku ini egois." mata cokelat terang Kirana menatap Dave lekat-lekat. "Aku nggak bisa membuat semua senang sedangkan aku sendiri tak bahagia." mata itu kembali berkaca-kaca. "Selamanya aku nggak akan bisa di bandingkan dengan Angela yang baik dan lembut." dia menelan ludah. "Selamanya juga aku nggak akan mungkin bisa membalas kebaikan Jon dan waktu yang telah kita habiskan bersama dalam rentan pertemanku dengannya."


Dave terdiam memandangnya dengan raut wajah getir.


"Tapi hatiku nggal bisa bohong." air mata Kirana membayang. "Mungkin suatu saat aku akan menyesali keputusan ku ini, tapi itu lebih baik dari pada aku menyesal tanpa berbuat apa pun."


"Kirana." Dave mencoba menghalangi langkah gadis itu yang hendak ke pintu.


Mereka saling tatap dengan mata berkaca-kaca. Tapi Kirana, meskipun jelas-jelas ia menangis tapi wajahnya terlihat teguh menatap Dave.


"Kau nggak perlu melakuka apa-apa." ia tersenyum. "Kau tetap bisa melanjutkan hubunganmu dengan Angela. Aku akan turut bahagia jika yang bersanding di sisi mu adalah seorang berhati malaikat seperti Angela."

__ADS_1


Dave meraih lengan Kirana saat gadis itu kembali akan membuka handle pintu. "Jangan seperti ini, Kirana." Dave memohon. "Pikirkan baik-baik. Untuk apa kau melakukan hal ini ? Nggak ada masa untuk hubungan kita."


Wajah Kirana memelas menatapnya. "Hubungan kita memang nggak punya masa depan Dave." Kirana tersenyum getir. "Bukankah hanya aku yang egois ?"


Dave tersentak mendengar pernyataan Kirana. Kali ini ia hanya diam saat gadis itu berjalan mewatinya dan membuka handle pintu dan pergi.


Dave diam tak bergerak menatap punggung kecil dengan rambut panjangnya yang terkuncir sederhana dan bergerak berayun seirama langkah kakinya yang ringan.


"Apa lihat-lihat ?"


Dave teringat pertama kali bertemu dengannya. Seorang gadis berpenampilan tomboy dengan rambut panjangnya yang berantakan. Seorang yang langsung membuatnya terpana dengan kedua mata indahnya yang menatap galak padanya.


"Ma, maaf...yang ini aku mengaku salah..."


Kebetulan yang kedua, gadis dengan baju tak modis itu memandangnya takut-takut saat tak sengaja menjadi penyebab mobil kesayangannya bergesekan dengan trotoar jalan.


"Aku kan sudah minta maaf !" Ucap Kirana lantang. "Bahkan aku mau mengantinya, kenapa kau malah seperti mengejek ku...??"


Tidak tahukah, jika saat itu hati Dave pun bergetar saat memandangnya.


Dave teringat saat tak sengaja bertemu Kirana di sebuah Mall dan Angela memperkenalkannya sebagai Tuangannya.


"Setelah lulus Kuliah, kami akan menikah."


Untuk pertama kalinya Dave ingin membentak Angela dan menyuruhnya diam karena mata cokelat terang Kirana yang menatapnya pilu.


Dave mengusap rambutnya dengan kedua tangan frustasi. Tidak tahukah jika saat mereka kembali bertemu dan saling tubruk di kampus Dave cemburu melihatnya bersama Jonathan.


"Coba tanyakan pada Tunaganmu itu, berapa kali dia menabrakku."


Kata-kata pedas yang Dave lontarkan pada Jonathan saat itu.


"Kau masih ingat mobil ku kan..?"


Kembali saat itu Dave berkata sinis pada Kirana yang wajahnya memelas menatapnya.

__ADS_1


Malam panas mereka yang hampir menjadi dosa terbesar dalam hidup Dave.


"Ternyata aku memang mencintai mu, Dave.."


Dave mengerang sambil mengusap rambutnya berkali-kali mengigat Kirana yang berada di bawahnya pasrah dan memegangi kedua pipinya.


Dia sanggup menyimpan semua sendiri selama bertahun-tahun. Perasaan samar yang bukannya menghilang seiring berjalannya waktu tapi malah semakin jelas dan kuat. Bercokol di hatinyan yang kelabu. Meminta bersanding dengan belahan hatinya yang lain. Kini semakin Dave menekan perasaanya, gejolaknya makin hebat.


"Kirana." Dave membenturkan keningnya ke tembok. Mengerang dan mengacak rambutnya sendiri. "Seandainya cinta ini tak ada.." ia menutupi wajahnya yang menangis dengan kedua telapak tangannya. Gundah memilih antara kehormatan wanita yang melahirkannya atau wanita yang di cintainya.


"Kirana, mana Dave ? Tadi dia mencarimu." Marisa berkata saat putrinya itu datang dan duduk di sebalahnya.


Kirana diam sambil melihat Ayah dan Ibu nya bergantian. "..Aku ingin membatalkan pernikahanku." ia berkata.


"Apaa..?" mata Marisa membulat.


"Apa lagi ini, Kirana ?" Ayahnya langsung melipat koran yang tengah ia baca.


Kirana menunduk saat Ibunya memanggil seorang Pelayan agar mengajak Kiandra yang saat itu tengah menyusul puzzle di ruang keluarga menemaninya main ke luar.


Sedikit protes Kiandra waktu si Pelayan mengandang tangannya dan mengajak bermain ke halaman belakang. Tapi Kiandra yang cerdas tahu saat melihat wajah sembab Kakak perempuannya dan memilih segera pergi.


"Maaf Daddy, Ibu." Kirana berkata perlahan. "Tapi aku nggak bisa melajutkan pernikahan ini." Ia mengangkat wajahnya yang memerah bekas air mata. "Aku akan bertanggung jawab, aku akan minta maaf kepada orang tua Jon." ia mengigit bibir bawahnya dan kembali menunduk.


"Kau hanya sedang tertekan dengan segala pemberitaan yang menyudutkanmu, Kirana." Marisa mencoba menguatkan.


Sedang Andreas menatap putrinya tajam. Ia sudah geram dengan masalah yang di tumbulkan anaknya itu, dan sekarang di tambah pernyataannya yang membuatnya makin kecewa.


"Maafkan aku..." mata Kirana kembali memanas.


"Tidak cukup kau membuat keluargamu malu, Kirana ?!" suara Ayahnya yang bernada tinggi membuat wajah Kirana berkerut sedih. "Susah payah Daddy mu menutupi scandal mu ini dan kau tanpa memikirkan kami bisa mengucapkan hal itu ?" Andreas benar-benar marah.


"Ada apa sebenarnya Kirana ?" Marisa memegangi kedua pundak anaknya agar wajahnya terangkat.


"Maaf Daddy, Ibu..." Kirana terisak menatap kedua orang tuanya. "Tapi aku ingin seperti Daddy dan Ibu, hidup bahagia di samping orang yang di cintai."

__ADS_1


__ADS_2