SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
KEBENARAN


__ADS_3

Setelah mengantar Angela dan Neneknya pulang, sekitar jam 8 malam Dave sudah kembali sampai di Rumah Daddy nya.


Ia menjalankan Mobil Lamborghini Huracan EVO warna grey nya pelan saat menelusuri jalan aspal sejauh hampir 1/2 km dari gerbang utama pintu masuk ke halaman Rumah orang tuanya yang luas.


"Tapi Dad nggak pernah sedikit pun peduli dengan keadaan ku atau Mom selama bertahun-tahun."


Dave mengingat pembicaraannya tadi dengan Neneknya ketika mereka berdua duduk di bangku VVIP dan tengah melihat pertunjukan balet Angela.


"Mom sakit-sakitan, penyakit paru-paru mengerogoti tubuhnya, dan rambutnya...." Mata nya berkaca-kaca menatap Neneknya, ia tak bisa melanjutkan kalimatnya saat mengingat rambut panjang Ibunya yang telah beruban seluruhnya.


Dalam keremangan tempat duduk penonton, ia bisa melihat wajah Neneknya yang berkerut sedih dengan mata memerah menahan tangis. "Itu pilihan Mommy mu Dave..." Di tangkupkan telapak tangan Neneknya tersebut ke pipi nya.


Ia tahu, Neneknya berusaha meredam gejolak emosi nya yang mulai naik.


"Melihat Mommy mu sperti itu, apa kau pikir Nenek tidak sakit hati...??"


Ucapan Neneknya yang di barengi suaranya yang terdengar serak karena menahan tangis kembali terngiang dalam ingatan.


"Nenek Ibu nya."


Ia melihat Neneknya itu menekan suaranya agar tidak ada seorang pun yang mendengar.


"Di bandingkan Kakekmu yang selalu meledak-ledak tiap kali nama Daddy mu di sebut, Nenek lah yang lebih marah karena Mommy mu, putri Nenek satu-satunya, menjadi seorang yang merana seperti itu akibat perceraiannya..."


Dave mencengkram kuat-kuat strir mobilnya saat mengingat Neneknya yang sampai menitikan air mata saat menceritakan Ibu nya, membuat amarahnya kian terbakar.


"Dave....ternyata aku memang mencintaimu..."


Kembali kelebatan wajah sendu Kirana yang berada di bawahnya dan menagkup kedua pipi nya membayang, membuat Dave mengusap kasar wajahnya sendiri.


"Apa yang kau pikrkan...??" Dave memukul stir mobilnya kesal, kemudian memacu mobilnya agar lebih cepat sampai ke beranda rumah utama.

__ADS_1


Berpikir ia akan memakai mobil itu esok paginya, Dave hanya memarkirkannya di pinggir beranda rumah Ayahnya yang luas. Dan ketika seorang Pelayan Laki-laki yang bertugas memarkirkan mobil nya ke garasi samping, ia menolak dan tetap membawa kunci mobil nya sendiri.


"Pulang ke rumah dalam keadaan mabuk, dan sekang kau tidak mau berbicara kepada orang tua mu sendiri ??" Suara Andreas meninggi.


Kirana yang duduk di atas tempat tidur memaligkan muka dengan kening yang bekerut dalam, sementara Jonathan masih berada di sampingnya.


"Andre, sudahlah...mungkin Kirana butuh waktu sendiri, dia baru saja sembuh." istrinya yang berdiri di sampingnya mencoba menyabarkannya.


Padahal seharusnya Istrinya itu lah yang marah, karena sudab repot-repot membawakan makanan ke kamar anaknya tersebut, tapi bahkan Kirana tidak mau menoleh ke arah nya.


"Dia sakit juga karena dia mabuk-mabukan." Suaminya berkata. "Entah apa lagi yang dia lakukan di club sana, sampai dia pulang dengan tanda merah di dadanya."


Mata Kirana membulat mendengar kata-kara Ayahnya, ia membelakangi Jonathan dan menarik kerah nya ke bawah. Di situ dia bisa melihat ada tanda merah keunguan yang berapa kali pun dia usap tapi tetap tidak mau hilang.


"Andre !" Marisa menatap Suaminya dengan kening yang berkerut. "Kenapa membahas itu saat ada Jon...??" ia berkata, memandang Suamunya meminta pengertian dan kesabarannya dalam menghadapi putri mereka.


Kirana langsung melihat ke arah Jonathan, mereka saling tatap dengan mata Kirana yang seolah ia pun tak percaya, kenapa ada kissmark di dadanya.


"Aku nggak seperti itu !" Kirana langsung turun dari ranjangnya. "Aku masih ingat, di sana aku cuma minum, nggak lebih." ucapnya. "Jon, aku nggak melakukan apa-apa !" ia menoleh ke arah Jonathan yang ikut berdiri di dekat ranjang dengan wajah gusar.


"Setelah kau minum, kau ingat apa yang terjadi...?" tanya Ayahnya membuat Kirana terhenyak kaget.


Ia yang saat ini sudah berganti pakaian dari piyama ke kaos dan celana pendek selutut dengan selang infus yang telah di lepas, mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi setelahnya. Tapi ia benar-benar tidak bisa mengingatnya.


"Aku nggak tahu kenapa ada tanda ini, tapi aku benar-benar nggak melakukannya." Kirana terlihat emosional. Ia melihat ke arah Jonathan, ada perasaan tidak enak saat Lelaki bermata sipit itu hanya menatapnya kemudian menunduk.


"Daddy kecewa pada mu Kirana, bisa-bisa nya kau mabuk-mabukan seperti itu dan..." Andreas tidak tahu lagi bagaiman mengungkapkan perasaanya yang gagal mendidik anaknya sendiri.


Kirana kesal semua orang menuduhnya, mata nya sudah berkaca-kaca, ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ia berusaha menahan gejolak hatinya, tapi tidak bisa. "Kenapa Daddy nggak menanyakan kenapa aku sampai mabuk seperti itu...??" tanya nya dengan suara bergetar.


Semua yang berada di situ saling pandang.

__ADS_1


"Kirana..." Marisa maju dan hendak memeluk putrinya yang berdiri gemetar dengan air matanya yang sudah mengalir. Namun Kirana mundur dan menolak pelukan dari Ibu nya tersebut.


"Kirana !" bentak Ayahnya tak suka dengan sikap nya yang menolak pelukan istrinya.


Sesaat Kirana melihat ke arah Jonathan, ia malu ada Jonathan di sini. Tapi berhari-hari ia menahannya dan itu membuat pikirannya semakin tak karuan.


"...kenapa Dave lebih muda dari ku...?" ia berucap perlahan, membuat Ayah dan Ibu nya terkejut. "Bukankah...seharusnya Dave lebih tua dari ku...?" ia bertanya. "Dia anak dari pernikahan Daddy sebelum nya kan..??"


Andreas kaget, ia tidak menyangka Kirana akan menanyakan hal itu.


Kirana melihat ke arah Ibu nya yang terlihat syok, membuat perasaan Kirana teriris karena itu seperti menegaskan jika apa yang Dave katakan selama ini benar. "Katakan Bu..." ucap nya dengan suara gemetar menahan kesedihan. "Apa aku anak yang nggak ibu inginkan sebelumnya..??"


Wajah Marisa nanar menatap anak Gadisnya yang kini telah beranjak dewasa.


"Kenapa semuanya jadi diam...??" Kirana tertawa hambar, ia mengusap air matanya yang mengalir dari sudut matanya. "Daddy nggak suka aku mabuk-mabukan kan...??" kali ini Kirana melihat ke arah Ayahnya yang wajahny di liputi kekalutan. "Pemabuk, pemakai...free sex..."


Mata Andreas membulat.


"Berapa botol yang Daddy habiskan dalam satu malam...?" Kirana berucap pahit.


Jonathan terdiam, tak menyangka akan mendengar semua ini.


"Kirana." tegur Ibu nya saat Suaminya itu tak mampu berkata atas apa yang anaknya tuduhkan.


"Apa Ibu benar-benat mencintai Daddy...??" gantian Kirana melihat ke arah wanita berusia 43 tahun tersebut.


"Bicara apa kau Nak..??" mata Marisa sudah berkaca-kaca. "Tentu saja Ibu sangat mencintai Daddy mu." ucap nya.


Kirana terisak, ia memegangi dadanya yang terasa ngilu. Ia yang sebelum nya menuduh Dave berbohong, sepertinya harus menelan pil pahit atas reaksi kedua orang tuanya.


"...Jujurlah Bu.." ucapnya di sela tangisnya. "...Apa aku ini anak hasil perkosaan...??" tanyanya membuat semua yang berada di situ terkejut dan melihat ke arah nya.

__ADS_1


__ADS_2