
Untuk beberapa saat Kirana masih melihat Jonathan yang di kerubuti wanita-wanita Penggemarnya dari jauh. Awalnya hanya 5 orang, kemudian menjadi 7, 10 dan tiba-tiba saja sudah mencapai puluhan Penggemar wanita yang mencoba memfoto dan berusaha memegangnya.
Kirana terkekeh melihat Jonthan yang mulai kewalahan, bahkan matanya mulai menyiratkan kecemasan saat melihat ke arahnya, yang sayang nya cuma di balas Kirana dengan menaikkan bahu dan gelengan kepala.
Keadaan makin tak terkenali dengan teriakan histeris serta kata pujian yang sarat kekaguman dari wanita-wanita Penggemar Jonathan yang bagai lebah yang sedang berkumpul.
Tawa Kirana makin kencang sampai ia terbungkuk dan memegangi perutnya, saat di lihatnya dari kejauhan pipi Jonathan yang di vium seorang Ibu-ibu.
Karena semakin banyak kerumumannya, akhirnya 2 orang Satpam datang bersamaan dengan 3 orang Bodyguard Kirana yang diam-diam selalu mengawasinya dari arah berlawanan dan berusaha mengamankan Jonathan.
Melihat nya Kirana segera beranjak pergi dari situ. Tak lupa ia melayangkan kecupan dari jarak jauh kepada Jonathan yang hendak memanggil dan berjalan ke arahnya tapi terhalang Penggemarnya sendiri.
Kirana tertawa terbahak, akhirnya ia bisa lepas dari Jonathan.
"Tahu rasa sekaran." Kirana berkata seorang diri sambil memegangi tali tas nya dan berjalan dengan riang seperti biasa. "Nggak tahu fanatiknya emak-emak Indo kalau sudah suka sesuatu sih..." ia terkekeh.
Ia sudah berjalan ke pintu keluar, ketika tiba-tiba ia terbungkuk sambil memegangi perutnya.
"Duuuh...kebanyakan makan niih..." keluhnya sambil berjongkok dan memegangi perutnya.
Beberapa orang yang berjalan di sekitarnya melihat sekilas ke arahnya, namun Kirana tak mempedulikan itu.
Saat di rasanya perutnya benar-benar mulas sampai pinggangnya keram, ia segera berlari ke mencari Toilet terdekat.
"Sakiit..." keluh Kirana dalam hati.
Wajah pucatnya menjadi cerah ketika di lihatnya tulisan Rest Area-Toilet yang terpasang di atas belokan tidak jauh dari nya.
Kirana mempercepat lari nya, berbelok menuju Toilet Mall dan,
BRUUK !
Terdengar jerit seorang wanita, Kirana langsung terduduk ke lantai. Ia mengerang memegangi pinggangnya yang semakin sakit. Ia baru saja bertubrukan dengan seorang wanita.
"Kau tidak apa-apa...??" Wanita berwajah cantik dengan make up minimalis yang menambah cantik wajahnya itu mengulurkan tangannya.
Sebenarnya wanita itu juga hampir saja jatuh terduduk di lantai seperti Kirana, hanya saja pasangan nya yang berada di belakangnya dengan sigap memegangi nya.
"Maaf kan aku." Ucap Kirana menerima uluran tangan dari wanita itu lalu bangkit berdiri. "Aku terburu-buru tadi..." lanjutnya tak enak.
__ADS_1
"Ahh...tidak apa-apa.." Wanita itu berucap lembut.
Pipi Kirana merona melihat penampilan dari wanita sesusianya itu, dia terlihat sangat cantik dan feminim dengan baju terusan warna dusty pink yang membalut tubuh langsingnya. Dan wajahnya terlihat ramah dengan suaranya yang lembut.
Ia sampai terbengong karena begitu terpesona akan penampilan wanita yang masih melihatnya dengan senyum nya tersebut.
"Kau memang punya hobi menubrukkan diri yaa...??" suara seorang Laki-laki yang beberapa hari ini sering memenuhi pikirannya terdengar.
Kirana mendongkakkan wajahnya, di lihatnya Dave yang berdiri di belakang wanita cantik itu.
"..Kau....??" suara Kirana tercekat sambil menunjuk Laki-laki yang kali ini pun terlihat sangat tampan di mata Kirana dengan hanya kaos warna cokelat tua dan celan jeans hitam.
Di tangan kanannya menjinjing beberapa papperbag dari beberapa merk terkenal, sepertinya Dave dan wanita itu sedang berjalan-jalan dan shopping di Mall tersebut.
Dave memiringkan kepalanya dengan pandangan tak suka, ia teringat bagaimana 2 kali bertemu Gadis itu dan berakhir dengan torehan panjang pada mobil kesayangannya.
"Kau kenal dia Dave..?" wanita itu bertanya sambil memandang ke arah Laki-laki yang berdiri di sisinya.
"Tidak." Dave menjawab singkat, ia melihat kearah Kirana yang pipi nya langsung mengelembung dengan kening yang berkerut. Kebiasaan Kirana jika tidak suka akan sesuatu.
Perut Kirana yang mulas menjadi keram, ia memegangi perutnya untuk menahan sakit, dan langsung berjalan maju untuk menuju toilet.
Sebenarnya Dave juga sudah melangkah pergi bersama wanita tersebut. Tapi saat si wanita menoleh ke belakang, dan melihat bagian belakang dari sosok Kirana, ia langsung mengambil salah satu papperbag nya dari tangan Dave.
"Tunggu sebentar yaa..." ia menjawab singkat lalu berjalan cepat menyusul Kirana yang sudah berbelok menuju toilet dengan membawa papperbag nya.
"Hei.." Wanita itu menepuk pundak Kirana.
Saat itu mereka sudah berada di dalam Toilet Mall dengan beberapa orang wanita yang sudah lebih dulu mengantri untuk menggunakan toilet.
Kirana memandang tak mengerti. "Ada apa..??" tanya Kirana. "Aku sudah minta maaf kan...?" ucapnya. Ia agak kesal dengan sikap Dave yang dengan ketus mengatakan jika tidak mengenalnya, walaupun memang sebenarnya mereka belum saling kenal.
Wanita itu tersenyum. "Apa kau sedang datang bulan...?" tanyanya.
"Haah..??!" Mata Kirana membulat.
Wanita itu memutar tubuh Kirana membelakangi cermin besar yang ada di dalam toilet Mall tersebut. Wajah Kirana langsung memerah saat di lihatnya celana bagian pantatnya telah bernoda.
"Bodoh banget sampai nggak tahu kalau bocor...!" Kirana mengerang berkata dalam hati. Tenyata rasa mulas sampai perutnya keram itu karena dia datang bulan.
__ADS_1
Kirana mulai panik, karena ia tidak membawa baik pembalut wanita ataupun baju ganti.
"Ini." wanita itu sudah mengeluarkan bungkusan palstik kecil dari dalam tas nya. "Kebetulan hari ini aku juga sedang dapat." ia tersenyum.
"Terimakasih." Kirana langsung mengambil nya dan tersenyum penuh syukur pada wanita cantik dengan rambutnya yang di kuncir rapi.
"Pakailah ini juga." ia memberikan papperbag nya yang ternyata beisi baju yang tadi ia beli.
"Nggak usah, ini masih baru..." Kirana menolak sambil mengerak-gerakkan telapak tangan kirinya.
"Kau akan malu jika tetap memaki baju itu." wanita itu memaksa.
Kiran terdiam sesaat, ia menunduk sambil melihat isi dalam papperbag yang sekarang berada di tangannya itu.
"Kau baik sekali..." Kirana tersenyum, mata cokelat terangnya berbinar-binar menatap si wanita yang juga memandangnya dengan senyum tulus.
Dengan malu-malu Kirana yang memakai dress terusan sampai bawah lutut dengan warna kuning cerah itu keluar dari pintu toilet.
"Waah...kau terlihat cantik." Wanita yang menunggui nya di samping pintu dengan membawakan tas slempangnya itu tersenyum lebar padanya.
"A, apa iyaa...??" dengan kikuk ia berkata. Ia yang sehari-hari mengenakan celana dan kaos longgar merasa tak nyaman dengan dress yang ia kenakan. Berkali-kali ia menyisipkan anak-anak rambutnya yang terjulur ke depan dan menyisipkannya di belakang telingan.
"Sungguh, kau cantik." Pujinya jujur.
Kirana memang sebenarnya sangat cantik, dengan Ayahnya yang berdarah Jepang-Korea-Belanda-Indonesia, dengan Ibu nya yang Indonesia asli. Percampuran ras Asia dan Eropa, yang pasti nya menghasilkan fisik yang sempurna. Tapi sayang nya Kirana yang tomboy dan lebih suka berpakaian laki-laki menutupi itu semua.
"Boleh aku minta nomor ponsel mu ?" tanya Kirana. "Akan aku kembali kan setelah di cuci." lanjutnya.
"Tentu saja boleh." jawab Wanita yang di wajahnya selalu tersungging senyum ramah.
Segera mereka bertukar nomor ponsel.
"Oya, Angela..." ucap Wanita itu sambil mengulurkan tangannya.
Kirana menyalami wanita itu. "Kirana." ia berkata sambil tersenyum lebar dengan kedua matanya yang tinggal segaris. "Kau baik seperti namamu." pujinya.
Angela tersipu sambil menutup mulutnya dengan tangan.
...----------------...
__ADS_1
ANGELA ELVIRA ADAM