SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
AKU DAN KAMU


__ADS_3

"Aku nggak tahu apa maksud mu berkata seperti itu." Dave berkata tanpa memandang mata lawan bicara nya. "Silahkan kau mencintai nya sesuka mu." ia menoleh ke samping yang ternyata Jonathan sudah memandangi nya. "Tapi hati orang nggak ada yang tahu." ia berhenti sebentar dan menatap Jonathan tajam. "...Siapa tahu dia mencintai orang lain." Dave tersenyum.


Kening Jonathan langsung berkerut, namun sebelum ia sempat berkata apa pun, Dave telah bangkit dari duduk nya. Tepat saat Kirana kembali sambil menyeret Adik nya yang jahil.


"Dad, Bu, aku ijin keluar." Dave berkata, membuat pasangan Suami Istri itu langsung menoleh ke arah nya.


"Tunggu Dave." Andreas bangkit berdiri di ikuti istri nya. "Kau setuju kan dengan usul kami tadi malam ?" tanya nya.


Dave terdiam.


"Mumpung ada Jon dan Kirana, di tanya kan saja sekalian." Ucap Marisa antusias seperti biasa.


Jonathan berdiri di samping Kirana yang telah melepaskan Kiandra.


"Ada apa ?" tanya Kirana tak mengerti. Ia dan Jonathan berdiri agak ke belakang dari tempat DVe berdiri dan saling berhadapan dengan orang tua nya.


"Aku ikut saja." Dave akhirnya menjawab. "Soal Angela nanti aku coba tanya kan, tapi seperti nya dia akan setuju." Dave tersenyum sesaat sebelum kemudian ia kembali pamit dan langsung berjalan pergi.


Kirana menatap punggung nya tak mengerti.


"Jadi Daddy dan Ibu berencana menikah kan kalian bersama." Marisa berkata sambil tersenyum lebar dan saling pandang ke arah Suami nya.


"Dengan Dave maksud nya ?!" mata Kirana melebar.


"Aku kurang mengerti." Jonathan masih kebingungan.


"Dave juga mempunyai Tunangan, Jon." Andreas berkata.


Mulut Jonathan langsung membentuk huruf O.


"Jadi kami berencana menikah kan kalian bersama-sama." Lalaki 55 tahun itu tertawa bangga dengan ide nya sendiri.


"Daddy !" bentak Kirana membuat kaget tidak hanya Ayah nya tapi juga semua yang ada di situ. "Aku nggak mau kalau harus menikah bersama !" kedua alis nya saling tertaut dan wajah nya sudah merah padam. "Kenapa Daddy dan Ibu memutuskan sesuatu tanpa meminta pertimbanva ku dulu ?!" ia berteriak.


"Kirana." Jonathan menarik lengan gadis itu, mencoba membuat nya sadar jika ia sudah bertindak berlebihan.


"Waktu itu kau sudah tidur, Kirana." Ibu nya masih terkejut dengan reaksi yang di perlihatkan anak gadis nya itu.


"Kau bisa menolak jika memang tidak mau." giliran Ayah nya berkata.


Kirana mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Mata nya meremang menatap kedua orang tua nya. Untuk menyetujui menikah dengan Jonathan saja ia masih ragu, di tambah harus melangsung kan pernikahan di hari yang sama dengan Dave.


Perlahan-lahan emosi Kirana menguap. Ia menghela nafas beberapa kali untuk menenangkan diri. Di tatap nya kedua orang tuanya yang tak mengerti apa-apa.


"Maaf Daddy, Ibu..." Kirana menyesal. "Tapi aku nggak mau kalau harus menikah bersama-sama dengan Dave." ia berucap.


Kedua Suami Istri itu saling pandang.

__ADS_1


"Baik lah kalau itu mau mu, Kirana." Ayah nya berkata sambil mengelus puncak kepala putri nya.


"Maaf kan kami ya, sudah seenak nya mengambil keputusan." Ibu nya yang selalu baik itu menunjukkan wajah menyesal.


"Enggak, Bu. Jangan minta maaf." Kirana tersenyum tak enak. "Aku cuma ingin pernikaha yang sesuai dengan yang aku mau." Kirana beralasan. "Dan pasti selera ku dan Tunangan Dave berbeda." ia berbohong.


"Kami mengerti, Nak." Marisa tersenyum penuh pengertian.


"Aku akan berbicara lagi dengan Dave soal Pernikahan kalian." Andreas berkata.


"Tolong Daddy jelaskan dengan baik." Kirana berucap. "Aku nggak mau Dave salah paham dan mengira aku menolak menikah bersama-sama karena nggak suka atau gimana..." wajah Kirana tampak cemas.


Jonathan yang berdiri di sisi nya hanya diam sambil menperhatikan ekspresi yang di tampilkan Kirana tiap kali gadis itu menyebut nama Dave.


BRAAKK !


Dengan kesal Dave menutup kencang pintu mobil Lamborghini Aventandor Lp 700-4 Roadster warna Marrone apus.


"Silahkan kau mencintai nya sesuka mu. Tapi hati orang nggak ada yang tahu, siapa tahu dia mencintai orang lain."


Dave teringat kata-kata nya sendiri.


"Apa yang kau lakukan, Dave ?" ia mengeram sambil menegadahkan kepalanya ke atas sambil menyisir rambut nya ke belakang. Ia tak habis pikir dengan diri nya sendiri. "Untuk apa kau berkata seperti itu ?" ia mengusap wajah ny kesal.


Ia mengelengkan kepala nya sendiri seperti berusha membuang jauh bayangan yang selalu menghantui nya. "Memang nggak seharus nya kau pulang." ucap nya pahit.


Ia menginjak pedal gas, membuat mobil mewah itu meluncur halus ke jalan setapak menuju gerbang utama Rumah Keluarga Martadinata.


Di lirik nya Kirana yang masih diam dengan wajah murung.


"Aku nggak menyangka kau bisa begitu emosi hanya karena nggak mau pernikahan kita di langsung kan bersama dengan pernikahan Dave." Jonathan membuka percakapan.


Udara membawa wangi bunga mawar putih dari Kebun yang harus nya seperti aroma terapi yang menenagkan, tapi tidak untuk hati Kirana yang kini tengah gundah.


"Aku hanya nggak mau." Kirana menjawab singkat.


Jonathan mengangkat satu alis nya. "Aku pikir kau membenci nya karena kejadian dulu." ia berucap.


Pandangan Kirana kian mengawang, mata cokelat terangnya tampak berkilau tertimpa cahaya matahari. "...Akan lebih baik jika aku membenci nya." Kirana bergumam pelan, membuat Jonatha yang tengah sibuk dengan panggilan masuk di ponsel nya tak begitu memperhatikan.


"Apa-apaan Shopie." Jonathan berdecak sambil mematikan ponsel nya.


"Kenapa ?" Kirana menoleh ke arah nya.


"Nggak tahu. Baru mau aku angkat, sudah di matikan." Jonathan berkata.


Kirana menghela nafas. "Walaupun Shopie selalu menyembunyikan, tapi aku tahu jika dia penggemar mu juga." Kirana berucap.

__ADS_1


"Pesona ku memang luar biasa." Jonathan pasang wajah narsis.


Kirana langsung melengos, membuat Jonathan tertawa terbahak.


"Ikut aku." tanpa meminta persetujuan Kirana, Jonathan langsung mengandeng tangannya.


"Mau ke mana ?" Dengan tergesa karena tidak biasa mengenakan dress panjang, Kirana mengikuti langkah kaki Jonathan.


"Beli gaun untuk Anniversary Perusahaan." Jonathan menoleh ke arah nya sesaat tanpa menghentikan langkah nya.


"Aku sudah punya banyak gaun." Tolak Kirana.


"Yang couple dengan ku kan belum" Jonathan terkekeh.


"Kalau begitu biar kan aku ganti baju dulu." Kirana berjalan tergopoh-gopoh sambil menjinjing dress putih nya.


Jonathan tertawa. "Aku ingin mengajak mu keluar karena kau terlihat cantik dengan baju itu." ia berhenti berjalan dan menatap ke arah nya.


"Memang sehari-hari aku nggak cantik ?" Kirana sebal.


Jonathan menutup mulut nya geli melihat raut wajah Kirana yang menurut nya lucu.


"Cantik, tapi kali ini lebih cantik." puji Jonathan sambil membuka pintu mobil untuk nya.


Pipi Kirana mengelembung, ia masuk ke dalam dengan kening yang tetap berkerut.


"Dasar anak manja Daddy." Jonathan terkekeh lalu menutup pintu mobil saat Kirana mendelik ke arah nya.


Sementara itu di sebuah Rumah mewah dengan gaya khas mediterania modern dengan pilar-pilar nya yang mirip kuil-kuil Romawi kuno.


Di taman bagian belakang yang terdapat kolam ikan koi berair jernih, Dave tengah duduk berdua dengan Angela yang bergelayut pada lengan dan menyandarkan kepala nya pada pundak Dave.


Kaki mereka bergelantung di atas kolam, membiat ikan-ikan koi itu mengira akan di beri makan.


"Aku senang Daddy mu mengundang ku ke acara Perusahaan nya." Angela berkata sambil memainkan jari-jari nya ke dada Dave dengan kepala nya yang masih ia sandarkan ke pundak Lelaki itu. "Padahal hubungan Daddy mu dengan Papa nggak begitu baik." Angela tersenyum. "Tapi beliau mengundang ku juga." ia terkekeh.


"Dad nggak pernah mempermasalah hal itu." Dave berkata. "Dad keras dalam hal pekerjaan, mungkin karena itu nggak begitu cocok dengan Papa mu. Tapi untuk hal yang lain Dad sangat penyayang." Ia menerangkan.


"Iya, iyaa..." Angela mengangkat kepala nya dari bahu Dave dan memandang nya. "Aku lupa kalau Sayang ku ini sangat menghormati Daddy nya." ia tersenyum penuh cinta.


Dave hanya tersenyum simpul sambil menunduk.


"Kenapa ?" tanya Angela. Ia merasa jika Dave tengah memikirkan sesuatu yang berat saat menatap wajah Dave yang tertunduk.


Wajah Angela berubah muram. Di pegangi nya pipi Tunangannya tersebut supaya melihat ke arah nya.


Mereka saling tatap.

__ADS_1


"Ada apa ?" tanya Angela lagi.


"..Nggak." Akhirnya Dave menjawab setelah hanya diam. Ia tersenyum, kemudian mengecup kening wanita baik hati tersebut.


__ADS_2