SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
JONATHAN DAN KIRANA


__ADS_3

"Kenapa wajah ku bisa ada di majalah ?" Dengan kesal gadis dengan rambut panjang tergerai sepunggung itu melempar artikel majalah gosip berbahasa jepang yang untung nya langsung di tangkap oleh lelaki bermata sipit yang malah tersenyum lebar menaggapi kemarahan gadis tersebut.


"Syukurlah..jadi aku nggak perlu repot-repot memperkenalkan calon istri ku." ia terkekeh sambil membuka artikel yang di lempar tadi dan menyeruput teh hangat nya sesaat dan meletakannya kembali ke atas meja.


"Iiihh..." gadis itu mengeretakkan gigi-gigi nya gemas. "Penggemar mu itu mengerikan, Jon !" gadis itu kesal dengan sikap santai Jonathan yang pagi ini terlihat menawan walaupun hanya dengan kemeja merah maroon dan celana jeans hitam.


"Kau lebih mengerikan kalau marah Kirana-chan." Jonathan yang semakin matang dan tampan dalam usia nya yang kini menginjak 28 tahun tertawa tak mampu menyembunyikan rasa geli nya.


"Jangan panggil aku dengan embel-embel chan !" wajah Kirana sudah masam. "Usia ku sudah 25 tahun, akan terdengar lucu jika kau masih memanggi ku seperti itu." lanjut nya.


"Di Jepang panggilan itu untuk menunjukkan rasa sayang, tidak ada hubungannya dengan usia." Jonathan menerangkan.


"Ini di Indonesia dan orang sini yang mendengar nya akan merasa lucu." Kirana berdiri di dekat Jonathan duduk sambil melipat kedua tanganny di dada.


"Lalu mau aku panggil apa ? My Wife ?" ia menatap Kirana dengan senyum mengoda.


Wajah Kirana langsung merah padam. "Pulang sana !" usir Kirana kesal untuk menutupi rasa malu nya. "Kau menganggu waktu kerja ku." Kirana membuang muka.


"iyaa...yang sekarang sukses jadi wanita karir dan membanggkan Ibu dan Daddy." kalimat yang di keluarkan Jonathan memang pujian, tapi nada bicaranya terdengar di buat-buat. Apa lagi saat Kirana mendengar tawa kecil Jonathan di akhir kalimat.


"Kau ke sini memamg bukan untuk mengucap kan selamat, tapi hanya ingin mengoda ku." Meskipun sudah berusia 25 tahun, tapi kebiasaan Kirana jika marah mengelembungkan kedua pipi nya itu membuat wajah nya terlihat lucu, dan itu membuat Jonathan tidak bisa lagi menyembunyikan tawa nya.


Bibir Kirana yang di poles lipstik warna pink muda itu mengerucut dan kedua alis nya yang terbentuk sempurna itu saling tertaut melihat Jonathan yang tertawa sampai wajah nya merah padam.


"Dia memang menyebal kan." umpat Kirana dalam hati.


Di ambil nya bantal sofa yang ada di sampinv Jonathan cepat dan langsung di lempar kan ke Lelaki berkebangsaan Jepang itu.


BUUK !

__ADS_1


Bantal itu tepat mengenai muka Jonathan, membuat Kirana tertawa kencang sampai kedua mata nya menyipit. "Rasakan hahahahaa..." Kirana berkata di sela tawa nya saat melihat kulit wajah Jonathan yang memerah dan wajah terkejut nya.


Tapi tawa Kirana tidak lah lama, sebelum Jonathan bangkit dari duduk nya lalu meraih lengan Kirana dan menarik nya sampai gadis itu tersentak dan terjatuh ke pelukannya.


Kirana menjerit, ia kaget dan berusaha untuk bangun dengan bertopan pada dada Jonathan. Tapi sepatu dengan heels 7 cm nya kembali membuat nya ambruk memeluk Jonathan karena kaki nya yang untuk pijakan terkilir heels tersebut.


"Bilang dong kalau mintak peluk." Jonathan terkekeh saat wajah Kirana yang terkesiap menatap nya dalam jarak dekat.


"Apaa ??" Kirana tidak terima. Ia kembali bangkit, namun Jonathan sudah melingkar kan kedua lengannya dan mengurung Kirana dalam dekapannya.


Kini dengan posisi Jonathan yang duduk dan Kirana berada di atas nya dan tengah ia peluk, membuat kedua nya terlihat intim.


"Lepaskan, aku malu." Kirana memalingkan muka dengan wajah merah. Sedagkan kedua tangannya masih ia gunakan untuk menjaga jarak agar dada nya tidak menempel langsung pada Jonathan.


"Marah-marah terus, sih." Jonathan masih menatap nya dan belum mau melepas kungkungannya walaupun Kirana sudah berusaha melepaskan diri.


"Karena aku kesal pada mu !" kali ini Kirana balas melihat lawan bicaranya, sedangkan tangannya yang lain sibuk menurun-nurunkan rok kerja model span nya yang tertekuk ke atas karena Jonathan yang tiba-tiba menarik nya tadi. "Perjanjiannya kan jangan sampai wajah ku tereskpos media." kening nya berkerut.


"Kau kan tahu sejak mendapat Award tahun lalu popularitas ku makin menanjak, hal seperti ini di luar kendali ku kan ?" ia berkata lembut.


"Itu lah yang aku nggak suka." wajah Kirana masih masam. "Bahkan bodyguard dari Daddy yang bertugas menjaga ku saja aku suruh jauh-jauh agar aku punya privacy. Ini malah wajah ku yang dengan jelas terpampang di media." ucap Kirana marah.


"Itu resiko mempunya calon Suami dari kalangan Selebriti, kan ?" Jonathan kembali tertawa kecil.


"Kau nggak serius menaggapi ku !" Kirana makin jengkel. Kembali ia mencoba melepaskan diri dari pelukan Jonathan, tapi lagi-lagi lelaki itu tidak menginjinkan.


"Aku serius semua tentang mu Kirana, kau tahu itu." ucap Jonathan serius.


Kirana mengatup kan bibir nya dengan kening nya yang makin berkerut tapi kedua pipi nya sudah merona.

__ADS_1


"Sebagai seorang publik figure tidak mudah mempertankan eksistensi tanpa gosip dan sensasi." Kembali Jonathan berkata. " Tapi aku bersih dari semua itu dan tetap eksis sampai sekarang."


Mata cokelat terang milik Kirana terlihat sangat indah dalam pandangan Jonathan. Di rapatkan nya lagi pelukannya pada pinggang kecil Kirana yang mulai longgar, membuat gadis itu tersentak dan wajah nya kembali menunjukkan ekspresi waspada.


Jonathan tersenyum geli melihat nya. Dari dulu, ia suka semua hal tentang Kirana. Mau di perlakukan seperti apa pun oleh gadis itu, ia akan rela. Sebodoh itu dirinya jika sudah menyangkut gadis yang di cintai nya itu.


"Itu kan karena memang nggak ada yang mau dengan mu." Kirana memalingkan muka, ia malu di tatap seperti itu dalam jarak dekat.


"Bukannya tidak ada yang mau, tapi karena aku tidak mau membuat mu cemburu." Jonathan yang biasanya bercanda kini nada bicaranya terdengar serius.


Kirana kembali melihat ke arah nya, menatap wajah Jonathan yang terlihat sungguh-sungguh.


"Jangan marah-marah lagi." Jonathan berkata lembut.


Jantung Kirana berpacu lebih cepat.


"Di tengah jadwal ku yang padat aku selalu menyempatkan ke sini hanya untuk melihat mu tersenyum dan mengobati kangen ku." Mata sipit khas Asia Timur milik Jonathan itu memancarkan kejujuran, membuat Kirana menunduk malu.


Tidak bisa di pungkiri, Jonathan itu sangat tampan dan ia beruntung mendapatkan hati dari Lelaki yang banyak di impikan banyak wanita Penggemar nya tersebut.


Tapi sampai lima tahun berlalu pun bayang-bayang dari Dave masih terlintas kendati tak sekali pun Kirana melihat nya lagi sejak perpisahannya di Bandara.


Sesekali kedua orang tuanya mendapat telpon atau di telpon oleh Lelaki itu, tapi tak sekalipun Kirana ikut berbicara. Tiap kali ingin ikut mengobrol di telpon seperti kedua orang tua dan Adik nya, selalu ada rasa tak enak yang Kirana sendiri tak mengerti sebab nya.


"...baik kita membicarakan tentang rencana pernikahan kita."


Ucapan Jonathan samar-samar karena ia melamun, namun begitu mendengar kata permikahan, Kirana seperti bangun dari tidur.


"Aku tidak sabar menghabiskan malam dengan mu sebagi Istri ku." Jonathan yang tak sadar jika Kirana melamun terkekeh.

__ADS_1


"Kau ini mesum sekali !" Kali ini Kirana benar-benar malu dan gugup dengan kalimat yang di lontarkan Jonathan.


Di dorong nya kuat pundak Jonathan agar menjauh dari nya, tapi bukannya menjauh tapi Lelaki itu malah menyringai dan langsung mencium bibir Kirana tanpa gadis itu bisa mengelak.


__ADS_2