SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
KAMU


__ADS_3

Tidak seperti yang Dave kira, orang-orang di Perusahaan Sanjaya Company sangat menghormatinya meskipun ia masih muda dan sudah bertugas memimpin mereka yang notabene berusia lebih tua.


Tentu saja, tak lain karena ia adalah Cucu satu-satunya Hertoni Sanjaya dan Pewaris Perusahaan tempat mereka bernaung. Bahkan dengan masuknya Dave menjadi Wakil Manager di Unit Penjualan, membuat mereka yang bekerja di bawahnya berlomba-lomba memuji dan meladeninyan layaknya Raja.


Dave bukannya tidak tahu mereka berusaha menjilatnya, meskipun bukan hal ini yang di harapkan Dave, karena sebenarnya Dave ingin mereka bekerja secara profesional dan menegurnya jika salah, karena kemampuan Dave di lapangan memang nol, meskipun dia menguasai semua materi secara lisan.


"Pak Dave, kami mengadakan pesta penyambutan kecil-kecilan untuk Anda." Ucap seorang wanita kisaran usia 35 tahun. Meskipun Dave masih muda, tapi semua karyawan di situ memang memanggilnya Pak.


"Pesta..?" Ia memandang ke arah wanita tersebut, kemudian melihat jam di dinding ruangannya yang menunjukkan pukul 5 sore.


"Kami tahu Anda tinggal lama di Paris, jadi kami berinisiatif memgadakan acara di sebuah Club yang sedang mengadakan tema Paris in Love di bulan Februari ini." Wanita berbaju setelan kerja warna cokelat muda itu tersenyum lebar.


"Tidak, sepertinya kau salah sangka." Ucap Dave sambil melihat ke arah Karyawanny tersebut. "Walaupun aku tinggal lama di Paris tapi aku tidak ke Club atau semacamnya." ia berkata sambil memasukan beberapa berkas ke dalam sebuah map.


Saat itu mereka sedang berada di ruang Kerja Dave, dengan Dave yang duduk di balik meja kerjanya dengan background langit sore dengan semburat warna orange nya.


"Ah, bukan seperti itu Pak." Wanita yang berdiri di depannya itu terlihat khawatir jika ia tersinggung. "Di sana hanya makan-makan, semata untuk menyambut Anda." ia berucap. "Kami sudah jauh-jauh hari berencana, ketika tahu Pak Dave akan menjadi bagian dari Tim kami." lanjutnya.


Dave terdiam dan berpikir sejenak sambil memandangi berkas-berkas di meja kerja nya yang telah ia rapikan. Ia tak pernah suka pergi ke Club, bau minuman beraklohol dan suara hentakan musik yang keras selalu menbuatnya pusing.


Ia melihat jam di tangannya, hampir pukul setengah enam, dan memang masih sore. Pandangannya teralih ke Karyawan wanitanya yang masih berdiri dengan wajah penuh harap.


"KIRANA..!" bentak Shopie sambil merebut gelas berisi Tequilla putih dari merk Jose Cuervo dari tangan Kirana.

__ADS_1


"Berikan Shopie..." Ucap Kirana dengan rambut panjangnya yang di gelung sembarangan. Dari cara nya bicara dan wajah yang memerah, di sertai pandangan matanya yang tidak fokus, bisa di pastikan jika ia sedang mabuk.


"Gila yaa !!" sekali lagi Shopie membentaknya, ia meletakkan jauh-jauh gelas kaca yang masih setengah terisi minuman yang hanya terlihat seperti air mineral biasa itu.


Kirana masih berusaha mengambil gelas yang Shopie singkirkan, tapi dengan cekatan gadis berambut pendek yang di cat warna pirang itu mendorong tubuhnya yang memang sudah oleng karena mabuk sampai jatuh terjungkal ke sofa kulit hitam yang mereka duduki.


"Gila, tahu gini aku nggak mau mengajak mu ke sini !" ucap Shopie dengan suara lantang, karena harus menyaingi suara keras dari hentakan musik DJ di Club Malam Red Rabbit tempat mereka kini berada.


Suara sorak-sorai serta tawa dan musik yang keras beradu dalam ruangan yang di dominasi warna merah remang-remang dengan sorot lampu warna-warni dari lantai dansa yang terletak di tengah ruangan.


"Kau ini sebenarnya kenapa haah..?? Sudah tahu nggak bisa minum, kenapa malah setengah botol jose cuervo kau habiskan ?!" Omel Shopie pada Kirana yang masih belum mau beranjak dari sofa tempatnya jatuh telentang, bahkan kini ia menaikkan kedua kakinya dan tidur melingkar di ruangan club malam yang berisik dengan suara gelak tawa orang-orang dan musik yang di mix seorang Dj.


Ia masih ingin mengomeli teman baiknya itu ketika dering ponselnya berkali-kali menganggu aktifitasnya, di ambil ponsel nya dari saku celananya. "Nah, pas banget !" ucap Shopie saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Halo..? Halo...?" Shopie berkata sambil menempelkan ponselnya itu di telingan kanannya. "Nggak denger, halo..??" Ia kesusahan mendengar suara dari dalam ponsel meskioun Volume nya sudab ia naikkan, karena tertutup suara musik yang sedemikian keras.


Untuk kesekian kali Dave menghembuskan asap rokoknya menjadi kepulan asap yang menghilang di udara. Ia yang sudah melipat lengan kemeja putih nya sampai siku, dan menanggalkan jas serta dasi hitam nya di mobil. Kini berdiri sambil bersandar pada tembok tidak jauh dari pintu belakang yang menghubungakn dengan tempat parkir mobil.


Setelah makan malam dan di lanjut acara senang-senang dengan berkaraoke ria dan menegak minuman keras, Dave diam-diam meninggalkan Para Karyawannya itu.


"Dasar, apa nya yang bukan acara seperti itu..??" ucap nya dalam hati sambil menyesap kembali rokoknya. "Mereka bahkan nggak ingat dengan anak istri nya yang menunggu di rumah." Dave mencibir saat mengingat beberapa karyawan laki-lakinya berciuman dengan Para Wanita penghibur yang di pekerjakan club tersebut.


Beberapa wanita berbaju seksi yang baru saja keluar dari mobil dan berjalan di depannya, mengedipkan sebelah matanya, membuat wajah Dave mengeras. Masih di dengarnya wanita-wanita itu tertawa cekikian sambil melirik ke arahnya, sebelum masuk ke pintu Club yang berada di bagian belakang.

__ADS_1


"Dasar nggak punya harga diri, di pikir aku suka model seperti mereka..??" kening Dave berkerut. Ia menjatuhkan rokoknya yang tinggal separuh dan menginjaknya dengan kesal.


Dave bermaksud untuk pulang ketika di dengarnya suara orang muntah-muntah. Ia menghentikan langkahnya untuk masuk ke mobil dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat parkir mobil yang luas dengan penerangan minim.


Mata Dave memicing ketika di lihatnya dari kejauhan Kirana yang jongkok di dekat Pohon dan sedang muntah-muntah. Dave mengucek matanya, ia seperti tak yakin.


Di lihatnya beberapa orang lewat di dekat Kirana, namun mereka hanya mengacuhkannya, karena hal seperi itu sangat umum terjadi di club malam, muntah karena kebanyakan minum.


Dave menghela nafas kesal ketika ia menyadari bahwa itu benar-benar saudara lain Ibu nya. Dengan cepat ia berjalan menghampirinya.


"Kirana !" Dave memegangi kedua lengan Kirana agar gadis itu berdiri, namun kembali gadis yang beberapa waktu lalu masih tersenyum lebar itu memuntahkan segala isi perutnya, membuat Dave langsung memalingkan muka karena bau tak sedapnya.


"...Aaaa...ada Dave saudara ku..." Kirana meracau, ia betul-betul mabuk berat, bahkan untuk berdiri pun berkali-kali ia hampir jatuh.


Dengan sigap Dave memapahnya. "Kau bau sekali." Ucap Dave sambil merogoh saku celana nya untuk mangambil sapu tangan, sedangkan tangan yang satu ia gunakakan untuk menahan tubuh Kirana yang bersandar padanya.


"Iya...iyaaah...aku bau..aku kumal...aku bodoh...aku jorok...nggak tahu maluu..." Kirana tetawa terkekeh dengan mata setengah terpejam dan tubuh nya yang lagi-lagi akan jatuh jika tidak di topang lengan Dave.


Dave berdecak dengan kening yang berkerut dalam mendengar yang apa yang Kirana katakan. Di usapnya sisa-sisa muntahan yang terdapat di sekitar mulut dan baju bagian depan gadis yang tengah mabuk tersebut dengan sapu tangannya.


Beberapa Pelanggan Club lewat di dekat mereka, membuat Dave mendengus kesal, ia tidak nyaman berada di pinggir jalan seperti ini.


"Kau ke sini sama siapa ? Bukannya kau menginap di rumah temanmu ??" tanya Dave sambil menguncang bahu Kirana.

__ADS_1


Namun gadis tersebut hanya terkekeh dengan mata terpejam.


Kedua alis tebal Dave saling tertaut, ia menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap melihat body guard Kirana yang biasanya mengikuti. Namun nihil, orang yang dia cari tak terlihat di gelapnya area parkir mobil tersebut.


__ADS_2