
Tiga jenis masakan dari tempat berbeda terlihat aneh memang. Tapi berkat itu juga mereka bisa saling mencicipi dan tahu rasa dari masing-masing makanan yang jadi kegemaran satu sama lain.
Mereka makan dengan lahap, kecuali Dave dan Kirana yang masih saja bertukar kode.
"Tumben makan mu sedikit, Kirana ?" tanya Ibunya saat melihat seberapa kecil porsi makan Kirana di atas piring. Itu pun cuma dia korek-korek tanpa di makan.
"Umm..ta, tadi waktu membantu Dave memasak, aku berkali-kali mencomot makanan. Ja, jadi perutku sudah penuh dulu." Meski tak pandai berbohong. Tapi senyum Dave padanya menandakan aktingnya sudah cukup baik.
"Padahal cuma sayur bening. Tapi kenapa begini segar dan gurih ?" puji Marisa. Ia bahkan menambah satu mangkok sayur bayam bening tanpa nasi lagi.
Dave terkekeh, kemudian melanjutkan makan sambil sesekali ikut mengobrol bersama yang lain.
"Apa benar dia gugup ?" tanya Kirana dalam hati saat melihat Dave terlihat tenang-tenang saja. Dia teringat beberapa saat lalu saat mereka berbelanja membeli kebutuhan masakan.
"Aku gugup sekali, sampai rasanya mulas." ucap Dave kala itu.
Kirana mencibir. "Apanya yang sampai mulas ? Dasar, huh." ucap Kirana dalam hati.
"Ceritakan bagaimana kau bisa memasak rendang daging seempuk ini dengan bumbu yang meresap sempurna ?" Andreas terlihat bahagia karena bisa makan kenyang dengan lauk kegemarannya dengan rasa yang pas. "Ibu dan Mom mu saja dulu tidak bisa memasak rendang seenak ini." puji nya lagi yang langsung mendapat tatapan tajam dari dua wanita yang dulu sempat bermusuhan.
Spontan Hertoni dan Erika tertawa terbahak, karena mereka tahu, putri mereka Eva sama sekali tak berbakat dalam hal memasak.
Dave ikut terkekeh meskipun jemarinya terasa dingin dan punggungnya sampai berkeringat karena begitu tegang.
Setelah selesai makan, Dave di bantu Kirana membereskan piring-piring kotor dan sisa makanan. Baik Eva, Marisa dan bahkan Erika ingin ikut membantu. Tapi di tolak oleh Dave.
"Biar kami saja, kan kami yang mengundang." ucap Dave saat mereka hendak membantu membereskan meja makan dan mencuci piring kotor.
"Andre, apa kau tidak curiga ?" Marisa berbisik di telingan Suaminya saat Kirana baru saja menyuguhkan potongan buah dengan puding di atasnya, dan kini tengah membantu Dave mencuci piring.
"Curiga apa ?" Andreas tak mengerti.
"Kau ini benar-benar tidak peka." desis Marisa jengkel.
Andreas terkekeh melihat wajah kesal Istrinya.
"Kirana cuma makan sedikit, dan dia seperti sedang memikirkan sesuatu." Marisa kembali berbisik.
Andreas lebih mendekat ke istrinya. "Apa menurutmu Kirana masih trauma kejadian yang dulu ?" tanyanya serius.
"Erntahlah.." Marisa mengeleng dengan raut wajah cemas.
__ADS_1
Sementara itu di dapur. Dave sedang mencuci piring-piring kotor, sedangkan Kirana membantu mengkeringkan. Mereka bekerja tanpa bicara ataupun bercanda seperti tadi.
Saat gelas terakhir Dave berikan ke Kirana untuk di keringkan, mereka saling pandang, namun tak berkata apa pun.
Dave tahu Kirana takut, untuk itu ia berusaha bersikap biasa. Walaupun sebenarnya ia juga merasakan ketakutan itu.
Dave dan Kirana sama-sama duduk kembali ke tempatnya.
"Aroma daun pandannya kuat sekali, apa kau memasukan banyak daun pandan, Dave ?" tanya Erika setelah menghabiakan puding lembutnya.
"Enggak, Nek. Hanya saja air yang aku gunakan untuk puding berasal dari air rebusan daun pandan. Jadi aroma wanginya lebih tercium dari pada langsung di masukan bersama bubuk pudingnya." jawab Dave.
"Cucuku ini memang serba tahu." puji Erika.
Dave berusaha tersenyum sewajarnya.
Jantung Dave dan Kirana seperti berlomba-lomba menyuarakan genderangnya. Membuat perasaan tak nyaman pada keduanya karena rasa cemas, takut,gugup yang bercampur menjadi satu.
Jari-jari tangan Kirana terasa begitu dingin. Dia sangat tegang, sampai-sampai Marisa mengajak bicara tak ia dengar.
Dave menunggu dengan sabar para tamunya untuk menghabiskan makanan pencuci mulut yang telah ia buat sebelumnya.
"Kirana, ada apa ?" Marisa menyentuh pundak Kirana, membuat gadis itu melonjak kaget.
Dave yang dari tadi bingung memulainya dari mana, ikut kaget dengan teriakan Kirana yang tiba-tiba. Ia sampai tercengang melihat ke arah Kirana yang kini menutup mulutnya dengan kedua tangan dan memandangnya penuh penyesalan.
"..Mungkin maksud Kirana mencintai sebagai sesama saudara, iya, Kirana ?" Marisa mencoba mencairkan suasana.
"Atau mencintai masakan Dave ?" Eva terkekeh.
"Kami juga mencintai Dave, iya, kan Sayang ?" Erika ikut tertawa sambil memandangi Suaminya.
Meski kikuk, suasan berangsur normal. Tapi Andreas tak begitu. Ia memijit keningnya dengan tangan kanan yang bertumpu pada siku. Di pandanginya baik-baik raut wajah anak-anaknya yang sama sekali tak ikut tertawa atau berusaha menyanggah.
"Eemmm..begini." Dave berkata setelah berdehem beberapa kali. "Mom, Dad, Ibu, Kakek dan Nenek." Dave memandangi mereka satu persatu. Ia menghela nafas beberapa kali untuk menenagkan diri.
"Ada apa, Dave ?" tanya Eva. "Kau sampai berkeringat ?" Eva hendak mengusap keringat di kening Dave. Tapi ia menolak secara halus dan meminta Ibunya tersebut kembali duduk.
Sekali lagi Kirana dan Dave saling pandang, kemudian kembali melihat ke Keluarga mereka yang tengah menatap penuh tanda tanya.
"Seperti yang aku pernah bilang pada Ibu." Dave melihat ke arah Marisa. "Foto-foto yang tersebar di media online itu aku." Dave berkata.
__ADS_1
Semuanya langsung kaget.
"Kenapa kau tak bilang pada ku ?" tanya Andreas pada istrinya.
"Saat itu Kirana hilang. Aku sendiri bahkan sudah lupa jika Dave pernah mengatakan itu." Marisa memberi penjelasan.
"Apa maksudnya, Dave ?" Hertoni yang paling vokal.
"Coba jelaskan kenapa jadi kau ? Bukankah itu Kirana dan Tunangannya itu ?" Eva yang tinggal di Paris dan tak mengerti apa-apa ikut bicara.
"Ini nggak seperti yang di beritakan, sungguh aku dan Dave.." Kirana berusaha menjelaskan. Tapi di potong oleh Dave. Karena percuma, suara Kirana tak di dengar dan mereka sibuk dengan pertanyaan dan asumsi sendiri.
Dave menunggu sampai mereka selesai bicara. Baru ia kembali berkata.
"Di foto itu memang aku dan Kirana. Tapi soal berita yang mengatakan macam-macam tentang kami itu nggak benar." ucapnya sambil memandangi mereka semua.
Marisa memperhatikan di bawah meja, tangan Dave dan Kirana saling mengenggam. Hal itu membuat Marisa tak berani memikirkan apa yang hendak di katakan oleh anak-anaknya.
"Apa yang hendak kau bicarakan dengan kami, Dave ?" tanya Andreas tanpa basa-basi.
Semua terdiam. Tak terkecuali Dave dan Kirana yang jantungnya serasa ingin keluar dari rongga dada dengan telapak tangan yang berkeringat.
Di tatapnya lagi satu persatu orang-orang yang duduk mengelilinginya. Pandangan Dave terhenti pada Eva yang duduk di sampingnya dan di pisahkan sebuah kursi kosong.
"Mom," Dave mengenggam tangan Eva yang berada di atas meja.
Eva memandang tak mengerti.
Dave memejamkan mata sesaat, logikanya mencoba mempertimbangkan lagi. Tapi perasaanya menolak dan tetap menginginkan kejujuran hati dari pemiliknya.
"Ada apa, Dave ?" tanya Eva karena Dave hanya diam melihatnya.
Dave menghela nafas panjang. Di lepasnya pegangan tangannya dari Eva. Kemudian beralih ke Andreas dan Marisa.
Kembali Dave menghela nafas panjang walau rasanya begitu sulit karena ia begitu tegang. "Dad, Ibu.." ucap Dave sedikit bergetar.
Andreas dan Marisa menatapnya.
"..Maaf, kan aku.." Dave menelan ludah dengan susah payah sambil menunduk.
Andreas dan Marisa saling pandang, dan kembali melihat ke arah Dave yang terlihat gamang.
__ADS_1
"Minta maaf apa, Dave ?" Marisa yang bertanya.
"Aku mencintai putrimu, Ibu, dan ingin menikahinya." Dave mengangkat muka dan mendapati wajah terkejut keduanya.