SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
HILANG


__ADS_3

Dave terdiam mendengar kalimat yang Ibu nya ucapkan. Pandangannya mengawang menatap tanah makam luas yang tertata rapi dengan rumput jepangnya yang hijau tebal.


"Mom," Dave memanggil tanpa melihat ke arah Ibunya.


Eva menoleh ke arah Dave. "Ada apa, Dave ?" tanyanya.


Dave terdiam kembali. Perasaanya bimbang dan wajahnya terlihat kalut.


"Dave ?" Eva menepuk pundak anaknya yang kini lebih tinggi dari nya.


Dave menoleh ke samping.


"Ada apa ?" Eva kembali bertanya.


Dipandanginya wajah wanita yang melahirkannya itu. Kini kedua pipi itu terlihat lebih berseri, cekungan di bawah matanya pun sudah lenyap. Rambut hitam panjang yang membingkai wajahnya, membuat Dave bisa membayangkan secantik apa dulu Ibu kandungnya tersebut.


"Dave ?" Eva memegang pipi Dave dengan wajah khawatir. "Kau sakit ?" tanya nya karena air muka Dave yang tampak tak bersemangat.


Dave mengeleng sambil memegangi tangan yang dulu kurus bak ranting, sekarang sudah mengemuk dengan badan yang ikut berisi.


"Syukurlah Mom terlihat lebih baik." Dave berkata. "Aku sempat khawatir meninggalkan Mom sendirian di Paris. Tapi sepertinya Mom hidup dengan baik."


"Kau tidak perlu khawatir, Dave." Ia mengengam tangan anaknya. "Mom akan hidup sehat sampai nanti Mom mengendong Cucu dari mu." Eva tersenyum lebar.


Dave memandang Ibunya dengan kedua mata sayunya. "Asal Mom sehat dan bahagia," ucap Dave .


"Apa yang kau katakan, Dave ?" Ibunya terharu. Di peluk putra semata wayangnya dan di sandarkan kepalanya pada bahu yang tak ada bedanya dengan bahu orang yang selau ia rindukan. "Dengan melihatmu tumbuh dengan baik, itu sudah membuat Mom bahagia."


Dave memeluk Ibunya lebih erat dengan wajah pedih yang tidak di ketahui Eva.


"Maaf kan, Mom, ya Dave.." Eva berkata sambil mengusap lengan kokoh Dave yang melindunginya. "Selama bertahun-tahun Mom mengabaikanmu." raut wajah Eva berubah sedih. "Tapi kau tidak pernah mengeluh dan tetap tumbuh menjadi anak yang penyayang." Eva memejamkan mata, merasakan kenyaman tempatnya bersandar.

__ADS_1


"Sekarang harapan *Mo*m hanya satu. Melihatmu menikah dengan Angela, memiliki anak-anak yang lucu." Eva tersenyum. "Hal yang dulu tidak bisa Mom jalani. Mom ingin kau merasakan bahagianya hidup dengan memiliki Keluarga yang utuh."


Dave hanya diam dengan pandangan menatap lurus. Ia tak pernah mempermasalahkan masa lalu. Yang sekarang sedang ia pikirkan hanyalah tentang hatinya yang sulit untuk berkata jujur, meskipun ucapan sudah di ujung lidah. Tapi kata-kata dari Ibunya kembali membuatnya berada di persimpangan.


Dari kejauhan mereka tampak seperti sepasang kekasih yang saling memeluk dan menguatkan.


Bunga-bunga dari pohon kamboja berguguran tertiup angin, laksana hati yang di tinggal pergi oleh yang terkasih. Dave pun hanya bisa pasrah dengan hatinya.


Tapi kepasrahan Dave hilang pada malam harinya saat ia mendengar berita bangkai kucing dengan leher terpenggal di ruang kerja Kirana.


Kakinya tanpa dia bisa ajak kompromi melangkah untuk sekali lagi menemui Kirana, walaupun sebelumnya ia sudah meyakinkan diri untuk melupakan semua dan memilih tak peduli.


"Kirana nggak ada di kamar, Bu." Dave berkata setelah tadi dia ijin untuk menemui Kirana, dan Marisa mengatakan bahwa Kirana berada di kamarnya.


"Apa ?" Marisa yang sedang mengajari Kiandra belajar terkejut. Cepat-cepat dia berjalan berkeliling rumah di bantu para pelayannya. Tapi Kirana tetap tak di temukan.


Malam itu Andreas sedang berada di luar kota untuk keperluan bisnis. Andreas pergi pun setelah menunda-nunda karena lebih mementingkan keadaan putrinya. Tapi karena memang mendesak dan berpikir semua sudah kondusif, akhirnya baru sore nya dia bisa berangkat.


Dave yang berdiri di sebelahnya pun tak kalah cemas. Matanya berkeliling mengitarai kegelapan malam halaman Rumah Keluarga Marthadinata yang luas.


Beberapa bodyguard langsung di kerahkan untuk mencari ke luar rumah. Kondisi malam di Rumah mewah dengan gaya etnik nya itu seketika panik.


"Kirana hilang..." Marisa menelpon suaminya. Ia terisak sambil mendengar suara dari dalam ponsel. "Iya, iyah.." Marisa mencoba kuat sambil menghapus air matanya.


Kening Dave berkerut dalam. Mungkin jika tidak ada teror dari fans Jonathan sampai seperti itu, mereka tidak akan sepanik ini.


"Oba-san ?" suara lain terdengar.


Dave dan Marisa sama-sama menoleh ke sumber suara.


"Ada apa ? Mana Kirana ?" Jonathan yang baru saja sampai bandara langsung ingin menemui Kirana. Ia kaget saat mendengar kabar teror bangkai kucing yang di duga di lakukan fans fanatik nya pada Kirana.

__ADS_1


"Jon..." wanita 47 tahun itu kembali menangis.


"Oba-san, maaf kan aku." Jonathan memegangi kedua lengan Marisa prihatin.


"Jon, kami yang harusnya minta maaf." wajah Marisa memerah karena sedih. "Kami sudah membuat mu dan Keluarga Aoki malu. Tapi kau masih peduli dengan kami." ia kembali menghapus air matanya yang mengalir.


"Oba-san, jangan seperti ini." Jonathan tak enak. "Aku sudah berusaha. Tapi mungkin Kirana memang hanya bisa menganggap aku sebagai teman." Meski patah hati saat dulu Jonathan mendengar langsung dari Kirana yang ingin membatalkan pernikahan, namun bukan berarti Jonathan langsung bisa membenci. Dia sudah mencintai gadis itu selama bertahun-tahun, dan sulit rasanya jika langsung menghilangkan rasa cinta nya.


Malam ini dia terbang ke Jakarta pun setelah berdebat dengan Keluarganya yang masih sakit hati dengan pembatalan pernikhan, padahal mereka telah menyiapkan semua.


Dave yang melihat itu semakin merasa bersalah. Semua salahnya dan ia masih bisa tenang-tenang saja seperti ini. Dave mengusap rambutnya ke belakang, ia merasa menjadi orang paling pengecut di dunia.


"Ibu.." panggil Dave sambil berjalan mendekati Marisa.


Marisa dan Jonathan menoleh ke arahnya.


Wajah Dave berkerut dengan rasa sedih dan penyesalan.


"Ada apa, Dave ?" tanya Marisa tak mengerti.


Dave menghela nafas berat dan memandang wanita yang sudah di anggapnm sebagai Ibu sendiri. "Bu, maaf, kan aku.." ia berkata.


"Maaf apa Dave ?" tanya Marisa. Jonathan yang ada di sebelahnya pun ikut menyimak.


Malam itu mereka berada di halaman depan dengan banyak lampu taman berwarna kuning dan semua pegawai yang tengah sibuk mencari hilangnya Kirana.


Angin malam bertiup membuat rambut Dave menutupi kening dan matanya yang berair memamdang orang yang ia panggil Ibu baik-baik. "...Aku lelaki yang ada di foto itu." ia berucap.


Seketika mata Marisa membulat dengan tangan menutup mulutnya terkejut.


"Sudah aku duga." Jonathan langsung mencegkeram kerah baju Dave dan memukulnya.

__ADS_1


__ADS_2