SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
JON AOKI


__ADS_3

"Kenyang sekali." Kirana duduk di atas sebuah kursi kayu di samping Jonathan sambil mengelus perutnya yang membuncit.


"Aku tahu kan apa yang kau suka ?" Nada bicara Jonathan terdengar bangga, membuat bibir Kirana mengerucut dengan mata sipitnya yang mendelik ke arahnya. Yang sayangnya hanya membuat tawa Jonathan bertambah kencang.


"Dari mana kau tahu tempat ini ?" tanya Kirana beberapa saat kemudian. Tangannya masih membawa satu bungkus keripik yang terbuat dari singkong yang di iris tipis dan di goreng lalu di beri garam dan bumbu penyedap.


"Aku cari di goggle tahu." Jonathan mengambil keripik singkong yang di bawa Kirana dan memasukannya ke mulut.


"Aku pikir kau pernah ke sini." Kirana berkata santai dengan mulut yang tidak berhenti mengunyah sambil melihat Para pengunjung pasar dari kejauhan.


"Setelah aku cek di medsos, aku ke sini dulu sendiri. Sesuai atau nggak dengan yang di foto." Jonthan menyudahi kegiatan mencomot keripik singkong milik Kirana, lalu meneguk air mineral yang tadi ia beli sebelum nya. "Aku pikir kau pasti akan menyukai tempat yang banyak makanan seperti ini." Jonthan memandang gadis kesayangannya itu dari samping.


Suasana di situ sangat teduh dengan banyaknya pohon bambu yang tinggi, membuat matahari siang yang mestinya terik tertutup oleh dahan-dahannya. Udara di situ pun bersih karena jauh dari Kota dan minim polusi.


Angin lembut berhembus menyibak-nyibak kan rambut panjang Kirana, membuat Jonathan tanpa sadar tersenyum melihat semakin cantik nya Kirana dengan wajah putih mulus nya yang tanpa make up apa pun. Hidungnya tidak terlalu mancung tapi pas, bulu-bulu matanya yang lentik alami dan yang paling sempurna menurut Jonathan adalah bentuk alis nya yang seperti di ukir.


Jangan lupa dengan bibir nya yang selalu manyun tiap kali bersamanya, bibir yang pernah ia rasakan manisnya dan ingin ia ulang. Tapi takut dengan pemiliknya yang galak. Mengingat itu Jonathan terkekeh sendiri.


"Kenapa melihatku sambil tertawa ?" Kirana sudah melihat ke arahnya dengan kening yang berkerut. "Mau mengejekku karena makan ku banyak ya ?" tanya nya ketus.


"Untuk apa aku mengejek mu soal makanan ?" Jonathan balik bertanya. "Bukankah sejak kecil makan mu sudah banyak ?" ia tertawa, membuat Kirana makin kesal.


Mereka kembali terdiam dengan pandangan lurus melihat dari kejauhan keramaian pasar kecil yang kini di jadikan salah satu destinasi wisata di Kota tersebut.


"...Maaf." ucap Kirana pelan sambil menundukkan kepalanya.


"Tumben minta maaf." Jonathan tertawa.


Biasanya Kirana pasti akan memukul atau pasang wajah sebal, tapi kali ini gadis itu masih tertunduk dengan kedua tangan yang meremas plastik bungkus keripik singkong yang telah mereka habiskan.


"Kau...jadi tahu tentang keburukan Keluarga ku." ia menoleh memandangi Lelaki yang sebetulnya sangat tampan jika saja Kirana mau sedikit saja memperhatikan. "Tentang masa lalu Daddy yang buruk, juga tentang hubungan orang tua ku dan Dave yang rumit." Kirana kembali menunduk.

__ADS_1


"Lalu apa hubungannya ?" Jonathan berkata dengan nada santai, membuat Kirana menoleh ke arah nya. "Yang aku sukai kan kau, bukan Oji-san atau Keluarga mu yang lain. Jadi kenapa kau harus minta maaf ?" ia tersenyum sambil bertopang dagu memamdang Kirana.


"Tapi..."


"Kalau soal Keburukan Keluarga, kau nggak ingat kedua orang tua ku yang selalu penuh scandal dan berita sensasional tentang mereka ?" Jonathan tertawa.


Kirana tak menjawab, kedua orang tua Jonathan adalah pasangan Sutradara dan aktris besar di jepang yang tentu saja banyak sekali gosip yang mengelililingi mereka. Tapi tampaknya bagi Jonathan yang di besarkan dalam lingkungan selebritas sudah kebal akan semua gosip-gosip tersebut.


"Sudahlah jangan di pikirkan lagi, aku mengajak mu jauh-jauh sampai sini supaya kau senang." ia berkata.


Sesaat Kirana melihat ke arah teman masa kecilnya tersebut. Teman yang dari dulu selalu mendengarkan keluh kesah dan tangisnya. Dan sekarang pun, dia ada di sini untuknya.


Diam-diam terselip rasa menyesal karena hanya karena mendengar Jonathan akan di tunangkan dengannya, ia bersikap memusuhi.


"Doomo Arigatoo." Ucap Kirana pelan, Jonathan sedikit terkejut Kirana mengucap kan terimakasih dalam bahasanya.


"Doo itashi mashite Kirana-chan." Jonathan berkata.


"Kenapa panggil nya pakai chan lagi ?" Wajah Kirana berubah sebal.


Kirana baru saja memgangkat tangannya untuk memukul Jonathan karena sudah membuatnya malu, ketika seorang pengunjung wanita seusianya sudah berdiri di dekat mereka.


"Maaf, apa Anda Jon Aoki ?" ia bertanya.


Kirana dan Jonathan saling pandang.


Wanita itu sesaat seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. "Anata wa Jon Aoki desu ka ?" kembali ia bertanya.


"Iya, dia memang Jon Aoki." tunjuk Kirana sambil tersenyum jahil. Wanita itu berteriak sambil menutup mulutnya tak percaya.


"Kirana..." jonathan mendesis kesal. Namun sayang, sebelum dia sempat berkata-kata lagi, wanita itu sudah meminta selfie dengannya. Dan tidak membutuhkan waktu lama, seperti kejadian beberapa waktu lalu di mall Jonathan sudah di kerubuti banyak orang, membuat dia dengan terpaksa mengikuti kerumunan itu menjauh dari Kirana yang masih duduk di tempat sambil tertawa geli melihatnya.

__ADS_1


"Awas kau Kirana." Jonathan berucap dalam hati. Namun seperti sudah terbiasa, Jonathan mampu bersikap profesional dengan melayani Para Penggenarnya itu berfoto, meminta tanda tangan bahkan ada yang meminta di elus perut nya yang sedang hamil.


"Aku berharap, kelak anak yang akan lahir ini mirip dengan mu Jon." ucap Ibu muda dengan perutnya yang buncit itu.


"Mana mungkin, yang ada mirip sama Suami mu." Ucap Jonathan dalam hati, namun di turutinya juga permintaan Ibu muda tersebut.


Sementra Para pedangan yang notabene adalah warga lokal dan tidak tahu menahu tentang Aktor Luar Negeri tersebut hanya menonton dari tempat mereka berjualan dan merasa senang karena tempay berdagang mereka yang kian ramai.


...***...


Beberapa hari telah berlalu, kondisi Dave sudah berangsur membaik. Bahkan perban yang melilit kepalanya sudah di lepas dan hanya menyisakan luka memanjang di kepala sebelah kanannya yang masih harus terus rutin di obati.


"Syukurlah besok kau sudah boleh pulang." Erika berucap sambil duduk di kursi pinggir ranjang dan memandangi wajah Cucu nya yang terlihat lebih tirus dari saat terakhir melihatnya.


"Di mana Kakek ?" tanya Dave dengan sikap tenangnya seperti biasa.


Erika terlihat gusar, namun ia berusah menyembunyikannya. "Kakek sedang banyak pekerjaan, setelah semua selesai, tentu dia akan menjenguk mu." jawab Wanita berusia 80 tahunan tersebut.


"...Dulu hanya karena mendengar ku demam Kakek bisa membatalkan semua jadwalnya, bahkan sampai mengambil cuti hanya untuk menemani ku sampai sembuh." Dave berkata setelah terdiam beberap saat. "Sekarang aku kecelakaan sampai hampir meninggal, tapi Kakek bahkan nggak menelpom atau menanyakan kabar ku ??" Dave memandang Nenek nya tersebut. "Kenapa Nenek nggak bicara terang terang jika Kakek kecewa."


"Kecewa apa Dave ?" Erika masih berusaha bicara senormal mungkin, namun itu hanya membuat Dave jengah dan semakin merana akan kenyataan pahit yang harus ia telan.


"Kecewa karena aku bukan anak kandung Andreas Marthadinata seperti yang selama ini Kakek kira." Dave berkata lantang.


Mata Erika membulat mendengarnya.


"Bahwa aku hanya keturunan dari seorang yang nggak jelas asal-usulnya." Suara Dave bergetar. "Anak yang lahir karena sebuah kebetulan dari hubungan tanpa ikatan apa pun."


"DAVE !!" bentak Eva yang telah berdiri di ambang pintu.


...----------------...

__ADS_1



Anggap saja Kirana lagi ngilatin Jon yaa...😅


__ADS_2