
Kirana diam tertunduk dengan wajah memerah dan air mata yang mengalir deras. "Aku nggak melakukan apa yang di beritakan." tangisnya sambil mengusap air matanya.
Jonathan telah pulang setelah sebelumnya bersitegang dengan Andreas. Yang untung saja segera di lerai oleh Marisa. Dari situ akhirnya Jonathan bisa menceritakan semua dan berakhir dengan Kirana yang di sidang kedua orang tuanya.
"Kirana.." Marisa memandang prihatin ke arah putrinya yang duduk di depannya.
"Sumpah demi apa pun, aku nggak berciuman apa lagi berselingkuh." Kirana meminta pengertian dari Ibunya dengan air mata yang meleleh dan hidung tersumbat karena terlalu banyak menangis. Seumur hidup tidak pernah privacy nya di usik. Wajahnya terpampang di media saja, dia sudah malu. Apa lagi kini di tambah berita yang tidak enak dan melukai harga dirinya.
"Blokir semua media online yang menayangkan berita sampah itu." Andreas berjalan mondar-mandir menelpon seseorang. Ia terlihat emosi. Baru kali ini scandal Keluarga Marthdanita menjadi konsumsi publik. "Cari penyebar pertama dan buat mereka membusuk di penjara !"
Marisa menoleh ke arah suaminya, terkejut, sekian tahun menikah, ini pertama kalinya suaminya marah sampai ingin memasukan orang ke penjara.
Dia kembali memandang putrinya yang masih menunduk menangis. Di genggamnya kedua tangan Kirana yang terpangku. "Kirana," ia berkata lembut.
Kirana mengangkat wajahnya. Masih terisak dengan wajah sembabnya yang mengundang iba. Marisa memelas memandangnya.
"Ibu percaya anak ibu tidak mungkin berbuat seperti itu." ucapnya sambil mengusap air mata di pipi putrinya.
Wajah Kirana berkerut sedih, air matanya kembali menetes. "Ibu.." Kirana mengengam erat tangan Ibunya. Dia menyesal, tak menyangka sedikit terlena oleh perasaannya bisa membuat nama keluarganya tercemar.
"Siapa, Kirana ?" Andreas duduk di hadapanya.
Dia menoleh ke arah Ayahnya. Kerutan di kening Ayahnya bertambah dan wajahnya sama merah nya dengan dirinya saat ini. Bedanya dia merah karena menangis, sedang Ayahnya karena marah.
"Siapa ?" Andreas mengulang pertanyanya.
Kirana tergagap, bingung harus menjawab apa.
Andreas mengepalkan tangannya. Matanya menyipit menatap putri satu-satunya yang terlihat seperti pencuri yang tertangkap.
"Siapa, Kirana ?" Ibu nya ikut bertanya.
__ADS_1
Kirana bimbang. Ia teringat bagaimana Ayahnya pernah memukul Dave karena salah paham dan berkata kasar pada Ibu nya. Wajah Kirana semakin berkerut sedih, tidak mungkin dia mengatakan itu Dave. Ingin mengarang kebohonganpun ia takut tak sesuai dengan yang nanti Dave katakan.
Kirana menangis. Tak tahu harus bagaimana dan berkata apa. "Batalkan saja pernikahanku..." tangisnya tersedu-sedu.
Kedua orang tuanya kaget mendengar perkataanya.
"Kau bukan anak kecil lagi, Kirana. Berhenti bersikap kekanakan." Ayahnya jengkel. "Kau harus menyelesaikan masalah ini, bukan malah menambah perkara."
Kirana semakin tertekan. Dia menundukkan wajah sambil mengigit bibir bawahnya. Berusaha untuk tak menangis, tapi air matanya terus mengalir.
"Jangan semudah itu mengatakan batal, Kirana." Marisa mengelus rambut panjang Kirana yang menutupi wajah dan menyelipkannya ke daun telingannya. "Apa kau tidak kasihan dengan Jon ? Dia sangat mencintaimu. Dia menunggu sekian lama untuk pernikahan ini." Marisa mencoba menasehati. "Setiap orang yang mau menikah pasti akan di beri ujian, dan ini hanya masalah kecil di awal perjalan panjang kalian nanti."
"Ini bukan ujian, Bu." tangis Kirana. "Sejak awal aku sudah menolak. Aku dan Jon.."
"Apa yang kurang dari Jon ?" potong Ayahnya makin emosi.
Air mata Kirana berjatuhan. "Nggak tahu.." suaranya serak karena tangis. Dia sendiri tidak tahu kenapa hatinya hanya terisi oleh Dave, yang bahkan melihat ke arahnya pun enggan.
"Semua nggak ada yang mengerti." hati Kirana merana. Untuk jujur tak bisa, apa lagi mengungkapkan. Kirana frustasi.
"Kau menyukai orang yang ada di foto itu ?" tanya Andreas, membuat mata Kirana membulat menatap Ayahnya.
"Nggak, Dad !" Kirana menjawab lantang.
Ayah dan Ibu nya saling pandang.
"Nggak ada yang aku sukai." Kirana berkata lagi. Jantungnya berpacu kencang, takut kedua orang tuanya mengetahui. "Ini hanya soal aku dan Jon, aku yang salah. Aku, aku akan belajar mencintai Jon." karena gugup Kirana mengatakan kalimat pertama yang terlintas di otaknya.
"Lalu siapa Lelaki itu ?" untuk kesekian kali Ayahnya bertanya.
Kirana kembali tertegun. Ia tidak pandai berbohong.
__ADS_1
"Jangan bermain api." Sorot mata Andreas menatap tajam. "Jika kau tidak peduli dengan harga dirimu, coba lah kau peduli dengan harga diri kedua orang tuamu."
Kirana kembali menangis mendengar perkataan Ayahnya.
"Kau lupa baiknya orang tua Jon padamu ?" Ayahnya kembali berkata. "Dan kau membalasnya dengan scandal memalukan seperti ini ?"
Kirana menangis kencang sambil menunduk dan menutupi wajahnya yang di penuhi air mata.
"Kirana, kami percaya padamu." ibu nya memeluknya. "Katakan siapa ?" tanyanya.
Kirana tetap tak mau menjawab. Hal itu membuat Ayahnya murka dan mem PHK semua karyawannya yang datang ke pesta dengan mengenakan setelan jas hitam dan memiliki tinggi kisaran 180 cm. Keputusan tak masuk akal yang bahkan membuat Istrinya hanya mengelus dada.
Dengan kekuatan uang dan kekuasaan yang di miliki Keluarga Marthadinata, memang bisa meredam penyebaran berita. Tapi jejak digital tak serta merta bisa di hapus. Beberapa fandom Jonathan di Jepang mengeluarkan somasi yang telah di tandatangani ribuan penggemarnya dan menyatakan menolak pernikahan Jonathan dengan Kirana.
Segala hujatan dan sumpah serapah memenuhi halaman media sosial Kirana yang langsung dia tutup dan makin membuat dia terpuruk.Bahkan Kirana sempat berpikir untuk bunuh diri saat membaca komentar-komentar pedas berbau rasis dan merendahkan dirinya sebagai seorang wanita.
Sudah hampir satu minggu Kirana mengurung diri di dalam kamar. Tidak mau makan atau melakukan apa pun kecuali hanya tidur dan menangis.
Ia membalikkan badan dan merapatkan selimut sampai hampir menutupi seluruh wajahnya ketika terdengar suara handel pintu kamarnya di buka dari luar. Kirana mengira, itu pastilah Ibu nya yang berusaha membujuknya makan seperti biasa.
Kirana merasakan seseorang duduk di pinggir ranjang. "Aku nggak mau makam, Bu." dia berkata tanpa menoleh ke belakang.
Tak ada suara ibunya yang merayu menyuruhnya makan.
Merasa aneh, Kirana menyibakkan selimut dan menoleh ke belakang. Kirana tersentak saat melihat Dave lah yang duduk di dekatnya dan tengah memandanginya.
"Mau apa ke sini ?" Kirana membuang muka. Ia benci pada Dave yang membawanya pada sistuasi tak mengenakan seperti ini.
"Kenapa nggak jujur kalau itu aku ?" tanyanya tetap dengan ekspresi datarnya yang biasa.
"Menurutmu karena apa ?" tanya Kirana hampir menangis, bukan karena sedih. Tapi karena kebodohannya. "Lihat wajahnya, nggak ada rasa bersalah sama sekali." Kirana mengumpat dalam hati. "Dan aku masih memikirkan patung es tak punya hati ini ?" Kirana meraung.
__ADS_1
Dave memalingkan muka. Sebenarnya hatinya sama kalutnya dengan Kirana saat ini. Dia memang pengecut, tak berani berterus terang karena terlalu memikirkan banyak hal. Tapi pemberitaan dan hujatan media online Jepang yang berasal dari fans fanatik Jonathan membuatnya tanpa sadar melangkah menemui Kirana.